NovelToon NovelToon
Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa

Status: tamat
Genre:Misteri / Tamat
Popularitas:505.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eko Hartono

Novel ini berkisah tentang Melani, seorang gadis muda yang mengalami pemerkosaan oleh orang tak dikenal di ruang toilet kantor tempatnya bekerja. Sayang, dia tak bisa melihat wajah sang pemerkosa karena lampu padam. Akibat pemerkosaan itu dia menderita depresi berat. Ketika dia melaporkan kejadian ini pada polisi malah berakibat buruk. Dia dimusuhi dan dicemooh rekan-rekan kerjanya. Sementara sang pemerkosa meneror Melani melalui SMS dan telepon. Hidup Melani jadi tidak tenang. Sang pemerkosa meminta agar Melani bersedia melayaninya lagi, karena bila tidak mau adik perempuan Melani akan dijadikan sasaran. Karena polisi tak juga menemukan si pelaku, akhirnya Melani memberanikan diri menghadapi sendiri sang pemerkosa. Dia mengikuti permainan sang pemerkosa. Hingga akhirnya Melani bisa berhadapan langsung dengan si pemerkosa. Siapakah dia? Kenapa dia memperkosa Melani? Ikuti kisahnya hingga selesai. Sangat mencekam dan penuh misteri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eko Hartono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlawanan Melani

Tiba-tiba sambungan dimatikan. Melani terkesiap.

“Halo.. halooo…?!” teriak Melani.

Tapi percuma. Sepertinya si peneror ingin memprmainkan perasaannya. Tangan Melani yang memegang gagang telepon terkulai lemas. Melani melampiaskan kekesalannya dengan berteriak sambil memegangi kepalanya.

“Tidaakkk..!”

Tiba-tiba muncul ibunya yang baru pulang dari warung. Wanita itu kaget karena tadi sempat mendengar teriakan putrinya di luar, sehingga dia bergegas masuk. Dan dilihatnya Melani terduduk di lantai dekat meja telepon.

“Ada apa, Melani? Kenapa kamu?”

Melani hanya menangis dan memeluk ibunya. Bu Marni mencoba menenangkan putrinya. Dia sepertinya tahu, pelaku telah meneror Melani.

“Sudah, sudah, sayang. Nggak ada yang perlu ditakutkan. Ayo kita ke kamar,” kata Bu Marni kemudian membimbing Melani kembali ke dalam kamar.

Melani duduk di tepi ranjang. Bu Marni mengambilkan segelas air putih. Melani meminumnya barang seteguk. Setelah dirasa cukup tenang, Bu Marni lalu menanyainya.

“Apakah orang itu menerormu lagi?”

Melani hanya mengangguk. Bu Marni menghela nafas dengan wajah sendu.

“Apa yang dikatakannya?”

“Dia mengancam akan mengincar Nina jika aku tidak mau memenuhi keinginannya menikah dengannya…” jawab Melani.

“Apa?!” Bu Marni terkejut bukan main. “Gila! Orang itu benar-benar gila. Ya, Allah, kenapa ada manusia jahat seperti itu.”

Bu Marni tak bisa menahan rasa kesal dan marahnya. “Sebaiknya kita laporkan ke polisi, Mel. Kita minta bantuan untuk menjaga Nina,” cetus Bu Marni jadi khawatir.

“Polisi sudah menyelidiki kasus ini, Bu. Mereka juga sudah menempatkan intel untuk mengawasi rumah kita. Mereka tidak mungkin menjaga Nina duapuluh empat jam,” tukas Melani.

“Terus apa yang harus kita lakukan untuk menjaga Nina?”

“Kita beritahu Nina agar dia lebih berhati-hati. Jangan biarkan dia pergi sendirian. Kita minta Doni mengawalnya.”

“Tapi Doni masih kecil. Biar nanti ibu minta tolong Bang Ipang, untuk mengantar jemput Nina ke sekolah atau ke mana saja.”

“Ya, baiknya begitu, Bu.”

“Dan buat kamu, apa nggak ada baiknya kalau kamu jangan masuk kantor dulu.”

“Tidak, Bu. Aku tidak bisa terus berdiam di rumah. Aku sudah cukup kuat kok, Bu. Justru jika aku hanya di rumah saja, orang itu akan menganggapku lemah dan akan terus menerorku.”

“Tapi ibu khawatir bila nanti dia menyerang kamu di jalan. Atau saat kamu sendirian.”

“Aku sudah siapkan semprotan mrica dan alat setrum di tas, Bu. Aku sudah diajari polisi bagaimana cara melawan penjahat yang berniat memperkosa. Aku sudah siap melawan dia jika sewaktu-waktu muncul…” jelas Melani.

“Tapi, mel…?” Bu Marni masih khawatir.

“Ibu tenang saja. Kita tidak bisa hanya diam menghadapi ini. Kita harus melawan!” tegas Melani.

Bu Marni menghela nafas. Mencoba meyakini keputusan putrinya.

 

 

Melani memang tidak akan diam saja menghadapi ancaman sang pemerkosa. Dia akan melakukan perlawanan jika dia berani muncul di hadapannya. Melani sudah sangat muak dan benci dengan pelaku. Jiwa keberaniannya memberontak keluar. Ketika seseorang ditekan dan diintimidasi sedemikian rupa, maka lama-lama akan muncul keberanian untuk melawan. Semut kecil saja jika diinjak gajah akan menggigit, apalagi manusia.

Melani lalu memberitahu adiknya untuk berhati-hati dan akan dikawal oleh Ipang. Tukang ojek yang biasa mangkal di pengkolan itu sudah ditemui Melani dan diberitahu untuk mengawal Nina. Nanti Melani akan memberinya upah setiap minggunya. Ipang setuju. Sementara Nina sendiri jadi ketakutan ketika diberitahu ada ancaman terhadap dirinya. Nina malah tidak mau masuk sekolah. Melani melarangnya.

“Kamu harus tetap masuk sekolah, Nin. Kakak nggak mau kamu nanti ketinggalan pelajaran,” kata Melani.

“Tapi aku takut, Kak,” Nina merajuk.

“Jangan takut. Ada bang Ipang yang akan mengawalmu. Dia jago silat. Percayalah, dia akan melindungimu.”

“Tapi sampai kapan ini, Kak?”

“Jika penjahat itu sudah tertangkap.”

“Tapi kapan itu, Kak?”

Melani sejenak terdiam. Dia sendiri tidak tahu, kapan penjahat itu akan tertangkap. Karena ini kewenangan polisi. Mengingat begitu lamanya kepolisian mengusut kasus ini kadang muncul rasa pesimis. Tapi Melani mencoba meyakini cepat atau lambat, penjahat itu akan tertangkap.

“Percayalah, polisi pasti akan segera menangkapnya,” ujar Melani.

“Kalau tidak segera tertangkap, bagaimana?”

“Maka, kakak sendiri yang akan menghabisinya!” tegas Melani.

Setelah dibujuk dan diyakinkan, Nina akhirnya mau berangkat ke sekolah. Ipang sendiri meyakinkan Nina dan Melani akan menjaga Nina. Hati Melani sedikit lega. Setidaknya satu masalah telah teratasi.

Melani sendiri tidak ingin dihantui kecemasan dan ketakutan lagi. Rasa cemas dan takut justru melemahkan jiwanya. Melani tidak mau terus menerus mengurung diri di rumah. Penjahat itu pasti telah mengawasi dan memantaunya dari kejauhan. Dia sepertinya tahu, kapan Melani sedang sendirian atau berada di rumah, sehingga dia begitu mudahnya melancarkan serangan dan intimidasi. Dia tidak ubahnya seekor kucing yang sedang mengejar tikus. Si tikus akan terus ditindas dan dicabik-cabik jika tidak berani melawan.

Karena itu Melani perlu keluar untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak takut. Mentalnya tidak sekerdil tikus. Melani memutuskan kembali ke kantor. Dia ingin tetap bekerja seperti biasa. Dia tidak mau dikasihani dan dirundung kesedihan berkepanjangan. Rekan-rekannya sempat kaget dan khawatir. Tapi Melani meyakinkan mereka bahwa dirinya baik-baik saja.  Mereka malah kagum dan bersimpati pada ketegaran Melani. Mereka pun memberikan support pada Melani.

Peristiwa yang menimpa Melani justru menumbuhkan solidaritas dan semakin menguatkan kebersamaan di kantor. Semua karyawan kini saling peduli dan menjaga satu sama lain. Para petugas security yang biasanya hanya sekadar melaksanakan tugas berjaga di posnya masing-masing kini jadi lebih aktif mengontrol setiap sudut untuk memastikan keamanan para karyawan. Jika ada karyawan lembur sampai malam, salah satu petugas security merelakan diri berjaga dekat ruangan karyawan yang sedang lembur.

Begitu pun petugas security memberikan penjagaan ekstra pada Melani. Hampir setiap beberapa menit mereka bergantian mendatangi ruangan Melani sekedar memastikan dirinya baik-baik saja. Melani sebenarnya agak tidak enak juga, tapi dia bisa menghargai perhatian dan kepedulian mereka. Justru tumbuh rasa aman dan membuat semua karyawan enjoy dalam bekerja. Selain itu sekarang karyawan di kantor itu juga tak segan melaporkan ke pos security jika ada orang asing dan mencurigakan memasuki kantor. Caranya mereka akan memotret orang itu lalu mengirim ke grup whatsapp karyawan.

Jika tidak ada satupun staf dan karyawan yang mengenalinya, maka bisa segera dilakukan tindakan. Pihak security akan menangkap orang itu dan menginterograsinya. Metode early warning security ini sempat menimbulkan kejadian lucu dan konyol. Suatu hari ada seorang cowok menyelinap memasuki kantor sambil membawa bunga. Karena tidak ada yang mengenalnya dan tidak bawa ID card, langsung saja diringkus dan diinterograsi. Si cowok itu mengaku hendak bikin surprise pada teman wanitanya yang dikenalnya lewat medsos.

Rupanya si cowok salah alamat. Cewek kenalannya bukan bekerja di kantor ini, tapi di gedung kantor sebelah. Dia pun dilepaskan setelah cewek kenalannya ditelepon dan datang untuk membebaskannya. Kejadian ini pun jadi bahan lelucon para karyawan. Mereka jadi tertawa geli. Melani hanya tersenyum kecut. Tadinya dia juga berharap cowok penyelinap itu adalah si pemerkosa. Tapi ternyata bukan. Dan Melani baru menyadari beberapa hari ini si pemerkosa tidak pernah menerornya lagi, baik secara langsung atau lewat telepon.

Tapi sore itu ketika selesai jam kantor dan akan pulang, Melani terkejut dicegat Deni di depan pintu gerbang. Penampilannya terlihat kucel dan muram. Melani yang tak respek lagi pada Deni karena telah menyakiti hatinya dan hati Diah, mencoba menghindar.

“Melani, aku ingin bicara penting denganmu,” kata Deni.

“Aku tahu, siapa kamu sebenarnya. Jadi tolong jauhi aku dan Diah!” tegas Melani seraya melangkah pergi.

“Aku tahu siapa yang memperkosamu!” ujar Deni membuat Melani menghentikan langkahnya.

Melani berbalik dan menatap Deni tajam. Wajahnya diliputi ketegangan dan penasaran.

1
Andra
secara hukum melani tetap bersalah. dia memang berencana membunuh si pemerkosa dengan menyiapkan pisau dari rumah.

waktu mendapat telepon untuk datang ke hotel melani menyanggupinya dengan kesadaran penuh, padahal dia bisa memilih opsi untuk melapor ke polisi tentang posisi pelaku.

melani juga memberikan keterangan palsu mengenai wajah pelaku yang berimbas pada salah tangkap.
Andra
faktanya melani mempersiapkan pisau itu dari rumah memang dimaksudkan untuk membunuh.
Andra
biar bagaimanapun melani tetap bersalah. apalagi ada unsur pembunuhan berencana di sini.
Andra
berarti benar kalau lelaki bertato yang menyerang melani di toilet resto dan yang menyerang nina adalah manipulasi deni.
Andra
aku merasa kejadian ini hasil manipulasi deni saja. apakah denilah penjahat sebenarnya ?
Andra
kalau tidak yakin lebih baik bilang saja. tambah ruwet nanti kalau sampai salah tangkap orang .
Andra
apakah omongan deni masih bisa dipercaya mengingat reputasinya selama ini ?
Andra
terkadang, masyarakat kecil terpaksa main hakim sendiri. tanya kenapa ? 😥
Andra
jika masih ada jejak sperm di tubuh melani atau di pakaian dalamnya, bisa dilakukan analisis dna untuk mengungkap pelakunya.
Andra
dan selama hampir empat tahun, deni berhasil mengelabui diah.
Andra
kalau bekas kekasih berarti tidak selingkuh.
Andra
cek cctv kantor dan cctv gedung sekitar kantor
Andra
seharusnya bisa. karena kepolisian pasti memiliki tim cyber.
Andra
bukankah melani tidak memiliki saudara kandung laki2 ? 🤔
Andra
menghampiri diah
Andra
dikerucutkan saja berdasar ciri fisiknya.
Ibu Dewi
apa kata ku juga aku curiga sama si deni bener kan ayah ku dulu bekas sutra dara jdi sedikit bsnyaknya aku bisa menevak nya kan bukan so tspi aku sering menebak cerita yang rumit sll benar aneh aku juga
Ibu Dewi
toni kaya nya orang ny jujur biar pun sipatnya urakan tpi kaya nya dia bener2 mencintai melani jdi tidak mungkindia akan nenyakiti orang yng di cintai nya klo sku curiga sama deni klo rikco ts mungkinmelakuksn nyasedang ida itu pacarnya ida tida akan menyuruh pacarnya intuk mrmperkosa cewe lsin biar pun dia membenci melani ksn
Ibu Dewi
ko aku jdi curiga sama si deni y sial nya barusan nlp ke hp nya mel udah tau yang ngangkat diah dia jdi pura2 bilanh nya mau jemput gitu
Ibu Dewi
y betul harus nya itu baju buat barang bukti nnti ahir barang kali bisa jdi bukti untuk mengetahui siapa pelaku nya klo didimkan keenakan bisa2 dia mengulang lgi perbuatan bejat nya itu karena mel tida nencari tau malah diam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!