Gaharu Raga Argantara, harus pasrah menerima hukuman dari Papinya. Raga harus tinggal di desa tempat tinggal Kakek Nenek nya selama 6 bulan.
Dan ternyata disana ia terpikat oleh gadis cantik, sekaligus putri dari supir keluarga nya di kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
minder
****
Sepanjang di tempat acara nikahan anak tetangga nya, sesekali Raga melirik ke arah perempuan berhijab peach yang duduk di depan tapi masih bisa terlihat wajahnya dari samping, karena sesekali perempuan tersebut melirik ke arah lain membuat Raga bisa melihat wajahnya.
selama tinggal disini Raga sudah sering bertemu dengan anak muda, mau yang masih sekolah ataupun yang sudah bekerja, sampai ia sedikit kenal.
Tapi untuk perempuan didepan sana baru kali ini Raga melihat,
“pulang sekarang yuk” ajak kek Dani.
nek intan menatap kesal suaminya, “Mas ini setiap ke kondangan suka gitu, makanan habis langsung minta pulang”
“ya terus harus ngapain lagi? atau mau ikut nyawer atas panggung” kek Dani mengarahkan dagunya ke arah panggung, ada beberapa juga yang ikut memberikan saweran pada biduan.
untuk pakaian artis nya sendiri tidak terlalu terbuka, malah mereka pada pakai celana jeans.
“jangan pada berantem, biar gak malu-malu amat diam dulu sebentar habis itu ngasih amplop terus pulang” ucap Raga.
Lagian ia juga malu lah kalau baru selesai makan langsung naik ke atas pelaminan ngasih amplop terus pulang.
Raga sempat tanya-tanya soal isi amplop nya di isi berapa, katanya biasanya paling besar saratus ribu sama lima puluh ribu, tapi kebanyakan rata tiga puluh lima ribu, kalau yang gak punya rasa malu ada juga yang isi dua puluh ribu.
Raga di suruh isi seratus ribu, padahal sebelum nya sempat mau isi tiga ratus ribu.
“udah sepuluh menit,” ucap kek Dani.
“lagi foto-foto pengantin nya juga” balas nek intan.
“kita kan mau ngasih amplop nya juga bukan sama mereka tapi orang tuanya” ucap kek Dani.
“ya memang, tapi seenggaknya kita juga harus pamit sama pengantin nya”
nek intan mati-matian nahan rasa kesal, suami nya ini selalu tidak sabaran. Kemarin nek intan sempat ngasih saran kalau suaminya kondangannya pas malam minggu nya, biasanya bapak-bapak disana suka malam Minggu kondangan nya. Tapi kek Dani malah gak mau dan pengennya bareng nek intan sama Raga.
Mereka terus memperhatikan didepan sana, setelah melihat kedua pengantin nya sudah selesai sesi Poto nya, baru mereka beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke depan.
tidak lama, hanya memberikan amplop dan nek intan basa-basi sebentar setelah itu mereka turun lagi.
eh sekarang malah kek Dani yang berhenti di dekat sepasang suami istri paruh baya, dan entah kenapa raga merasa jantungnya berdetak kencang ketika jarak dirinya dengan perempuan berhijab tadi lumayan dekat.
“Assalamualaikum pak kiyai, bu hajah”
“Waaaikumsalam juragan, Masyaallah saya baru ketemu lagi sama juragan” ucap kiyai Ahmad.
kek Dani terkekeh, “Iya kiyai, soalnya sekarang saya sudah jarang ke desa sebelah makannya kita jarang ketemu”
kek Dani menyalami tangan kiyai Ahmad, dan menangkupkan kedua tangannya kepada bu dan satu perempuan muda. begitu juga dengan Raga dan nek intan, kalau nek intan sih sebalik nya.
“Ini cucunya juragan?” tanya Bu Hajah Ainun.
Kek Dani menarik tangan Raga membuat Raga rasanya ingin protes, tapi ia tahan.
“Iya Bu Hajah, ini cucu kedua saya, sekarang lagi tinggal disini untuk bantu-bantu di gudang sama di kebun”
“Kalau ini Cucu saya juga, namanya Fatimah” ucap Bu hajah Ainun.
Raga mencolek pinggang kakeknya dari belakang, malu rasanya berhenti disana karena banyak yang melihat. Sekarang mereka seperti jadi bahan tontonan para tamu undangan.
kek Dani melirik sekilas, lalu menatap kedua paruh baya yang sering di sebut pak kiyai dan bu hajah itu.
“sepertinya kita tidak bisa berlama-lama, soalnya masih ada keperluan, nanti kapan-kapan kalau ke desa ini lagi mampir ya,” ucap kek Dani.
“juragan juga sama kalau ke desa sebelah harus mampir ke rumah kami” balas pak kiyai Ahmad.
“kalau gitu kami duluan ya, mari, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”
ketiganya keluar dari tempat acara tersebut, tapi sebelum benar-benar pergi dari sana, kek Dani malah berhenti lagi, kali ini berhenti nya di tempat bagian meja nulis nama di buku tamu undangan, kek Dani minta permen kepada dua orang perempuan disana. Setelah itu baru benar-benar pulang.
“Cantik kan cucunya pak kiyai” ucap nek intan.
“hemm” balas Raga,
“iya cantik” raga hanya bisa menjawab cantik dari dalam hatinya.
“Fatimah itu kalau gak salah baru pulang kuliah S2 di Mesir, S1 nya di Arab, di umurnya baru 9 tahun udah jadi Hafidzah, Fatimah sama kayak kamu, cucu terakhir, orang tuanya sudah meninggal empat tahun lalu, meninggal nya beda tiga bulan, sama-sama sakit.” ucap nek intan.
Raga hanya diam, tapi ada rasa aneh dalam hatinya.
“Jadi minder,” gumam Raga dalam hatinya.
paling bener sih raga sama bulan