lanjutan novel Tuan Tiada Tanding
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tidak terduga
Suherman segera mengambil ponselnya, "ba-- baik akan aku kabari semuanya!" Ucap Suherman.
Mawar menganggukan kepalanya kemudian mawar berucap, "baiklah saatnya untuk mengikat bajingan itu!" Ucap Mawar kemudian berjalan menuju Maheswari.
Namun saat dia berjongkok dan hendak meringkus Maheswari tiba-tiba Maheswari bangkit, tidak hanya itu dia juga langsung menendang Mawar.
Bang!
Mawar kembali terlempar kebelakang, Maheswari berdiri sambil memegangi kepalanya yang hampir pecah ini, "awas kamu! Lain kali aku akan berurusan denganmu!" Ucap Maheswari.
Tanpa gara-hara Maheswari langsung kabur dari tempat ini meskipun dengan langkah sempoyongan.
"Keparat!!!" Teriak Mawar dengan marah ketika melihat Maheswari masih memiliki kemampuan untuk melawan dan kabur.
Suherman terlihat gelisah, "a-- apa yang harus kita lakukan, nona?" Tanya Suherman.
"Kejar! Dia sedang sekarat! Dia pasti tidak akan bisa kabur jauh dari tempat ini!" Jawab Mawar.
"Terlebih lagi aku sudah melukai kepalanya dengan sangat serius, mungkin tadi dia bisa menenangkan dan membuatku mundur sejenak karena dia memiliki trik kecil!"
"Kejar! Malam hari ini kita harus menangkapnya!"
***
Sementara itu di Desa bernama petung sewu.
Terlihat Pak Man duduk di teras rumah saudaranya. Rumah itu berada di tengah kebun cukup terpencil dan cukup sepi.
"Hehe, kalau di sini tidak mungkin ada pembunuh berantai itu!"
"Para aparat sudah mengepung Sumbersekar sangat mustahil bagi penjahat itu untuk bisa sampai di tempat ini!" Ucap Pak Man.
Pak Man kemudian duduk dan berbaring di sebuah kursi dengan malas. Siapa sangka pak man tertidur di kursi itu. Mungkin ini kebiasaannya karena sering tertidur saat menjaga toko kelontong.
Apa yang tidak di ketahui oleh Pak Man yang sedang tertidur ini, dari rimbunnya ilalang muncul seorang wanita muda dengan pedang yang tersarung di pinggangnya.
"Huft di mana bajingan itu?" Tanya Mawar dalam hati sambil mengatur nafasnya. Sambil menyeka darah di bibirnya dia mencoba melihat suasana sekitar dia ingin memastikan bahwa di sini ada Psikopat Pengambil Wajah atau tidak.
"Loh ada orang?" Ucap Mawar yang sedikit kaget karena melihat ada pria paruh baya yang tertidur di kursi.
Ketika mawar hendak pergi dari tempat ini dari kejauhan muncul seorang wanita dengan kepala benjol dan pupur tebal di wajahnya. Sosok itu berjalan sempoyongan.
Meskipun berjalan sempoyongan namun tatapan matanya masih sangat tajam.
"Aku benar-benar bosan! Kamu seperti kecoa yang muncul di mana saja! Aku sudah memberikannya kesempatan untuk pergi dan jangan mengikutiku, namun kamu selalu mengikutiku!" Ucap Maheswari.
"Aku benar benar ingin membunuhmu!"
Mawar menyeringai, "apakah kamu sudah bosan aku ikuti? Kalau sudah bosan mengapa kamu tidak pasrah saja aku tangkap? Apakah kamu ingin merasakan serangannya yang berikutnya?" Tanya Mawar sambil memainkan sebuah batu yang dia pungut dari bawah.
Maheswari memandangi Mawar dengan aneh dia tidak habis pikir mengapa Mawar mengambil batu di tanah. Apakah mawar pikir batu bisa melukainya?
Maheswari menghirup nafas panjang meskipun kepalanya sakit karena serangan misterius yang kemungkinan berasal dari Tuan Penjaga toko kelontong namun Maheswari tidak bisa berhenti di sini..
Di harus kabur!
Ketika Maheswari hendak menyerang Mawar tiba-tiba matanya menangkap pemandangan yang selalu ingin dia hindari!
Pemandangan tuan penjaga toko kelontong.
"I... itu!!" Ucap Maheswari yang gugup sambil memandangi Pak Man yang tertidur di teras rumah.
Maheswari seketika itu juga menelan ludahnya dengan ekspresi ketakutan, "ma.. mati aku!"
Karena posisi rumah saudara pak man yang berada di belakang Mawar membuat mawar salah paham, dia berpikir bahwa Psikopat Pengambil Wajah sedang takut kepadanya.
Mawar menyeringai, "kekeke! Jadi kamu sudah menyadari betapa memberikannya lemparan batuku ini? Apakah kamu sudah trauma dengan kekuatan sejatiku?"
"Kalau kamu tidak tunduk dan menyerang, maka jangan salahkan aku apabila aku melempar batu ini!" Ucap Mawar.
Tanpa basa basi lagi Maheswari langsung membalikkan badannya dan melesat pergi dari tempat ini, dia tidak mau berurusan dengan tuan penjaga toko kelontong itu.
Mawar menyeringai, "rasakan ini!" Ucap Mawar sambil melemparkan batu di tangannya. Namun lemparan Mawar meleset sangat jauh dari target.
"Sialan meleset! Andai saja kena pasti mati kamu!" Ucap Mawar dengan ekspresi kecewa kemudian dengan cepat dia langsung mengejar Maheswari.
Ketika mawar sudah pergi meninggalkan tempat ini. Secara perlahan Pak Man membuka matanya.
"Um... sepertinya tadi ada yang mengobrol?" Tanya Pak Man sambil clingak-clinguk memandangi pemandangan di sekitarnya. Kemudian pak man kembali berbaring di kursi malas dan melanjutkan tidurnya.
***
Waktu berjalan dengan sangat cepat, Siapa sangka pada saat ini waktu menunjukan dini hari, sebentar lagi malam akan habis.
Terlihat seorang wanita yang terseok seok tiba di sebuah jalan yang sangat sepi.
"Loh? Mengapa aku kembali kesini?" Orang itu tidak lain tidak bukan adalah Maheswari. Dia kembali teringat ini adalah jalanan sepi di Sumbersekar, tidak jauh dari toko kelontong yang berada di perempatan. Tempat tinggal tuan penjaga toko kelontong itu.
"A.. aku harus segera pergi dari tempat ini!" Ucap Maheswari. Dia tidak mungkin berada di jalanan ini, meskipun tuan penjaga toko kelontong tadi berada di desa petung sewu sedikit jauh dari tempat ini, namun tidak ada yang menjamin tuan itu akan muncul di tempat ini secara tiba tiba.
Bagaimana pun juga tuan itu memiliki kesaktian yang sangat tinggi.
"Aku benar benar tidak menyangka membunuh satu warga Sumbersekar bisa membuatku semenyedihkan ini!" Ucap Maheswari sambil tersenyum kecut.
Kalau seumpama dia tahu membunuh warga desa Sumbersekar akan berakhir seperti ini, mungkin Maheswari akan mencari korban di desa lain saja.
Ketika Maheswari hendak pergi dari tempat ini, manik matanya secara tidak sengaja menangkap garasi yang terbuka di sebuah toko barang antik.
Bau masakan yang harum tercium dari tempat Maheswari berdiri, "bukankah ini rumah milik pemuda yang bisa melihat wajahku tempo hari yang lalu?"
Maheswari memandangi toko barang antik ini dengan seksama, "Benar tidak salah lagi!" Ucap Maheswari.
Bau aroma masakan tercium sangat menyengat. Dari baunya saja Maheswari bisa menebak bahwa ini masakan ena yang sangat menggugah selera.
Entah mengapa saat ini Maheswari merasa lapar, mungkin efek dari dia yang selalu kabur dari kejaran mawar sehingga energinya habis.
Maheswari menyeringai, "lebih baik aku mampir sebentar..."