Alea, wanita tangguh berusia 25 tahun, dikenal sebagai bos mafia paling ditakuti di Itali. Dingin, kejam, dan cerdas—tak ada yang bisa menyentuhnya. Namun, sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya. Saat terbangun, Alea menemukan dirinya terjebak dalam tubuh seorang gadis SMA berusia 16 tahun bernama Jasmine—gadis cupu, pendiam, dan selalu menjadi korban perundungan di sekolah.
Jasmine sendiri mengalami kecelakaan yang sama... namun jiwanya menghilang entah ke mana. Kini, tubuh rapuh Jasmine dihuni oleh jiwa Alea sang bos mafia.
Dihadapkan pada dunia remaja yang asing dan penuh drama sekolah, Alea harus belajar menjadi "lemah"—sementara sisi kelam dan insting mematikan dalam dirinya tak bisa begitu saja dikubur. Satu per satu rahasia kelam tentang kehidupan Jasmine mulai terkuak—dan sepertinya, kecelakaan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Apakah Alea bisa bertahan di tubuh yang tak lagi kuat seperti dulu? Atau justru Jasmine akan mendapatkan kekuatan kedua untuk membalas semua lu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hinata Ochie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 – Balapan Waktu
"Baiklah kalau begitu" Alea mengangkat pipa besi dan siap menghujam kan pada Velyra. Nemuin Alea mengurungkan niatnya, ia melihat pipa besi di tangannya dan melihat ke arah Velyra secara bergantian, lalu dengan kasar Alea melemparkan pipa besi itu ke samping Velyra, sebagai peralihan untuk berlari menuju inti Nexus. Alea sengaja tak membunuh Velyra saat itu, karena keterbatasan waktu yang mereka miliki.
"Kenapa kau tak jadi membunuh nya Alea" protes Jasmine saat Alea memutuskan untuk berlari ke inti Nexus.
“Hidup dulu. Balas dendam bisa nanti.” Dengan dingin Alea berkata pada Jasmine, walaupun takut Jasmine akhirnya mengangguk dalam hati. Setelah melemparkan pipa besi itu, Alea berlari menuju lorong Nexus. Ia meminta Jasmine untuk bekerja sama dengannya saat berlari menuju inti Nexus. Karena jalur yang akan mereka lalui pasti berbeda, di sebabkan retakan yang mengakibatkan ledakan pada sistem Nexus.
Jalan menuju Nexus sekarang menjadi lorong penuh dengan puing dan juga kabel kabel bergelantungan, percikan api dari kabel yang terkelupas dan juga genangan air dari pipa yang bocor dapat menimbulkan ledakan kecil. Ini bukanlah rintangan yang amat mudah untuk di lalui, salah langkah sedikit saja mereka bisa mati terpanggang oleh kabel listrik yang terkelupas. Mereka memutuskan untuk membagi tugas dalam hal ini.
Alea fokus mengarahkan strategi, Jasmine bergerak dengan lincah melompat ke kanan dan kiri menghindari reruntuhan puing pada lorong. Dalam kepala mereka saling berbisik, menguatkan satu sama lain, Jasmine yang semula ketakutan kini menjadi lebih bersemangat darii sebelumnya. Ia bergerak amat lincah, juga menikmati sensasi berlari dengan sekuat tenaga.
"Aku belum pernah berlari sekuat ini, wah rasanya seperti terbang bebas" Jasmine tertawa bahagia.
"Jangan terlena, kita belum keluar dari neraka" ucap Alea.
"Maaf, aku terlalu senang" Jasmine merasa bersalah.
"Tak apa, aku suka semangat mu" puji Alea.
"Terima kasih, kau sudah percaya padaku" sahut Jasmine.
"Justru aku yang seharusnya berterimakasih padamu Jasmine, kau bisa saja menolak ku atau membenci ku, namun kau lebih memilih untuk ikut bersama ku dan mempercayai ku" ucap Alea.
"Karena kau memberiku banyak pelajaran dalam hidup ini, agar tak menjadi lemah dan selalu pasrah saat di tindas, kau mengajarkan ku cara melawan" Alea tersenyum, ia yakin Jasmine tau bahwa ia sangat berterimakasih pada gadis cupu itu.
...****************...
Velyra yang masih hidup belum mau menyerah, ia bangkit dan mengambil belati miliknya, ia berlari dengan darah yang menetes pada bahunya, Velyra hanya menutup lukanya dengan sobekan baju. Ia harus menghentikan Alea menghancurkan Nexus sepenuhnya. Jika Velyra tak bisa memiliki tubuh dengan dua jiwa itu, maka ia akan membunuh mereka di tempat ini.
"Tak akan ku biarkan mereka lolos, jalang itu milik ku, akan ku cincang jalang hidup hidup" gumam Velyra.
Velyra manfaatkan jalur alternatif yang ia ketahui, dengan menggunakan jalur itu ia dapat mengejar Alea dan tim nya. Ia berlari sekuat tenaga, sambil menggenggam belati di tangan kanan nya. Jalur yang ia lalui akan mempermudah nya menghadang Alea di sisi lain. Dan benar saja ia pun dapat memotong jalan Alea dengan sangat mudah.
"Kau tak akan bisa lolos kali ini Alea, menyerah lah atau mati" Velyra memandang Alea dengan tatapan penuh kemenangan, ia mengambil senjata cadangannya, sebuah pistol laras panjang yang ia arahkan tepat pada dada Alea.
"Menyerah padamu, cih itu tak akan terjadi. Kau lah yang akan mati di sini Dr. Velyra" teriak Alea.
"Kau bukan tandingan ku Alea, lihatlah dirimu sekarang, kau hanya gadis SMA yang lemah dan tak berguna" Maki Velyra.
"Kau salah Velyra, Jasmine bukanlah gadis lemah, ia lebih kuat dari ku, dan dari yang kau kira, maka bersiaplah untuk kematian mu Velyra" teriak Alea. Ia memasang kuda kuda untuk siap menyerang, tanpa aba aba lagi Velyra dengan tatapan predator menarik pelatuk pada senjatanya dan siap untuk menembak.
"Alea aku takut" bisik Jasmine.
"Tetap tenang dan fokus, ingat salah gerakan saja kita berdua akan mati" sahut Alea.
Pada saat itu datang lah Cecilia dari balik puing-puing reruntuhan yang penuh dengan debu dan juga asap. Ia membawa bom rakitan kecil dengan wajah penuh debu akibat ledakan Nexus.
Cecilia melemparkan bom asap rakitan miliknya ke arah Velyra, agar memberi kesempatan pada Alea untuk lari ke pusat kendali Nexus. Asap mengepul di seluruh lorong, membuat pandangan Velyra terbatas, ia mengibaskan tangannya agar bisa melihat Alea. Namun asap itu terlalu tebal menutupi seluruh lorong.
"Alea cepatlah pergi, aku yang akan menghadapi Dr. gila ini" teriak Cecilia.
"Tapi Cecile dia sangat berbahaya, kau tak akan sanggup melawannya sendirian" Sahur Alea.
"Sudahlah tak ada waktu lagi cepat pergi sekarang" Alea ingin menolak nya namun Jasmine dengan lembut mengatakan untuk mempercayakan semua pada Cecilia. Sebenarnya Alea tak ingin meninggalkan sekutunya namun jika ia tak segera pergi mereka bisa mati di tempat itu.
"Cepatlah, jalan menuju inti. Nexus ke arah sini, cepat Alea sebelum asap ini memudar" Alea akhirnya berlari menuju jalur yang telah di tunjukan oleh Cecilia. Ia berlari sekuat tenaga agar sampai di inti Nexus tepat waktu. Alea tak ingin menyia-nyiakan pengorbanan tim nya.
Alea berlari sambil menahan rasa sakit pada luka di bahunya, Semakin lama lorong yang ia lalui semakin panas, keringat membasahi seluruh tubuh Alea. Ini menandakan bahwa inti Nexus sudah dekat. Dan sayup sayup terdengar suara mesin berdetak mirip suara jantung raksasa yang menggema di seluruh lorong.
"Kita hampir sampai Alea, sedikit lagi, tinggal sedikit lagi" bisik Jasmine dalam kepala Alea.
"Kau benar, kita pasti berhasil, kita harus berhasil" sahut Alea.
Namun saat mereka hampir sampai tiba-tiba Jasmine merasa seperti ada yang menariknya dari tubuh itu. Tarikan aneh dari atas kepalanya semakin kuat, seakan Nexus mencoba untuk menyedot nya kembali ke dalam Nexus. Jasmine berteriak kesakitan, Alea berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar Jasmine tak tersedot dari tubuhnya.
"Tolong aku Alea, aaaaahh sakit sekali" teriak Jasmine.
"Tidak Jasmine, kau tak boleh keluar, jika kau keluar kita keluar bersama" sahut Alea.
Akhirnya mereka dapat masuk ke ruangan inti Nexus yang sesungguhnya, dalam ruangan itu terdapat sebuah ruangan raksasa dengan bola energi bercahaya biru terang yang berdenyut, dikelilingi pilar logam yang retak dan bergetar. Nexus terlihat seperti jantung dunia yang sangat indah namun mengerikan, Alea memandangi Nexus dengan mengepalkan tangannya.
"Alea ini sangat menakutkan" bisik Jasmine.
"Kau sudah lebih baik" tanya Alea.
"Hmm, tapi jika kita berlama-lama di sini, bisa jadi kita berdua akan tersedot masuk ke dalam" sahut Jasmine.
Alea diam, wajahnya nampak serius memandang Nexus.
“Inilah akar semua sialan yang kita alami. Kita hancurkan sekarang… atau selamanya jadi tawanan.” Bisik Alea.