Di jebak oleh sahabatnya sendiri?
Setelah melewati malam panas dengan Jenderal Hang, Jie Xieye mengandung anak dari suami sahabatnya sendiri —Hang Tianyu.
***
Tak kunjung hamil, membuat Le Chieli frustasi, karena selalu mendapat tekanan dari keluarga Hang. Hingga, kemudian ia menjebak suami dan sahabatnya sendiri.
Namun, yang tidak Le Chieli ketahui, jika dia telah menghancurkan kehidupan sahabatnya.
Ini bukan hanya tentang menjadi selir terabaikan, tapi juga tentang cinta dari musuh suaminya.
Lantas, bagaimana kehidupan Jie Xieye sebagai selir tak di anggap?
Follow akun Author.
ig: bella_bungloon
fb : XCheryy Bella
TIDAK SUKA BISA DI SKIP YA KAKAK-KAKAK ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Bungloon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Angin berhembus lembut membawa aroma bunga musim semi yang mulai bermekaran. Di bawah langit cerah, seorang wanita berwajah tenang dengan sorot mata tajam terus melangkah mantap, di ikuti para pengawal dan pelayan nya.
Do Jinyi, wanita itu terus melangkah menyusuri koridor panjang menuju Paviliun putranya.
Melihat kedatangan dirinya, kasim yang bertugas di tempat tinggal putranya itu segera membungkuk hormat.
"Di mana pangeran pertama?" Tanya Do Jinyi dengan sorot mata menyisir halaman tempat tinggal putranya yang sepi dan sunyi.
"Yang Mulia, Pangeran belum kembali sejak kemarin malam." Jawab kasim tersebut.
Dahi wanita itu berkerut, ia lalu mengetuk pintu kayu di depannya, berharap putranya ada menyahut. Tapi tidak ada sahutan sama sekali.
Tanpa berkata apapun, Do Jinyi berbalik dan melangkah pergi, membuat para pelayannya harus mempercepat langkah untuk mengikuti dirinya.
...
Menghela napas kasar, Do Jinyi memijat pelipisnya pelan. "Kemana sebenarnya anak itu pergi?" Gumamnya tak mampu menyembunyikan keresahan.
Terlalu larut dalam pemikirannya tentang keberadaan sang anak, saat berbelok, Selir Do Jinyi menabrak seseorang .
Brak!
Wanita itu terjatuh, dan beberapa buku serta gulungan yang di bawa seseorang yang ia tabrak nyaris mengenai dirinya. Saat ia mendongak melihat siapa yang berani menghalangi jalannya, ia seketika tersenyum yang begitu jelas di paksakan.
"Pangeran ke enam rupanya."
Denga bantuan pelayan nya, wanita itu bangun berdiri dan sedikit membungkuk memberi hormat pada pemuda yang ia tabrak.
"Maaf atas kecerobohan saya, pangeran, " lanjut Do Jinyi kemudian.
Tersenyum tipis, Yu Lifeng mengambil alih buku-buku serta gulungan yang di bereskan pelayan selir Do Jinyi. "Tidak masalah, selir Do, salahku juga terlalu terburu-buru melangkah,"
"... Baiklah, aku harus pergi lebih dulu, ayahanda kaisar telah memberikan tugas untukku. Sampai jumpa, selir Do."
Tanpa menunggu jawaban wanita di hadapannya, pemuda itu melenggang pergi dengan senyum tipis di wajahnya. Selir Do hanya tersenyum paksa sembari membungkuk.
"Apa yang dia bawa?" Tanyanya kemudian pada pelayan yang tadi membereskan barang yang di bawa pangeran ke enam.
"Menjawab, buku-buku yang di bawa pangeran ke enam tentang politik negara dan kemiliteran."
Membuang muka, selir Do Jinyi benar-benar terlihat kesal. Ia kembali merutuki putranya yang tidak terlihat di istana.
"Kemana anak itu sebenarnya?!" Gerutunya kesal. "Sampai-sampai pangeran piatu itu bisa mencuri perhatian Kaisar!"
...***...
"Ketahuan yaa?"
Rui muncul dari kegelapan sembari menurunkan tudungnya dan menatap Wuxi dengan senyum miring di wajahnya.
Wuxi tidak menjawab, pemuda itu hanya menatap datar ke arah Rui. Mendapat tatapan dingin dari Wuxi yang seolah mempertanyakan keberadaannya saat ini membuat pemuda itu segera melangkah mendekat ke arah Wuxi.
"Woo, tenang Wuxi," pemuda itu mencoba menyentuh bahu Wuxi, tapi segera di tepis sang empu.
"Aku hanya sedang memastikan sesuatu," suara itu begitu tenang tapi menusuk di telinga Wuxi. "Ada seseorang yang sudah sangat lama tidak memberi kabar pada Tuannya,"
"... Sepertinya seseorang itu telah melupakan tugasnya." Imbuh Rui dengan sorot mata yang perlahan menggelap.
Wuxi memalingkan pandangannya, jelas dia tahu apa yang di maksud Rui. "Aku tidak pernah meninggalkan tugasku."
"Benarkah?" Rui menarik sudut bibirnya. Sinis. "Dengan membantu selir Jie melanggar peraturan Jenderal? Kau bahkan tidak pernah memberi informasi apapun lagi pada Jenderal."
Wuxi tidak langsung menjawab. Karena apa yang di katakan Rui adalah benar.
Melihat ke terdiaman pria di depannya. Rui tertawa sinis. "Aku tidak pernah menyangka. Wuxi yang selalu taat aturan, yang selalu mengingatkanku rekan lain tentang kedisiplinan, kini justru berada di jalan yang bertentangan."
Tersenyum tipis. Wuxi menepuk bahu Rui dan berbalik membelakangi pemuda tersebut. Sorot matanya sedikit menyala dengan senyum tipis yang terlihat jelas di wajahnya.
"Sejak jenderal mengirimku ke sisi Selir Jie, dan memintaku untuk menjadi orang dan menjaga keselamatan selir Jie. Aku telah menjadi orangnya,"
"... Aku tidak pernah meninggalkan tugasku. Aku di sisi Selir Jie bukan untuk memata-matai, melainkan melindunginya."
Setelah mengatakan itu, Wuxi melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Rui yang berdiri di tempatnya terdiam.
Namun sudut bibirnya segera terangkat membentuk sebuah senyum tipis.
Helaan napas berat terdengar dari nya. Ia lalu melompat kembali ke kegelapan.
"... Lalu apa yang harus aku laporkan pada Jenderal?
...***...
Melewati jalanan berbatu, Do Jinyi yang masih kesal setelah bertemu pangeran ke enam, menghentikan langkahnya saat sebuah suara tawa terdengar dari arah danau istana.
Wanita itu mengernyitkan dahi, lalu mengangkat sebelah tangan, membuat pelayan yang berdiri di belakang nya maju selangkah dengan kepala tertunduk.
"Selir, di gazebo dekat danau istana, beberapa selir sedang minum teh bersama." Ucap pelayan tersebut.
Do Jinyi mengangguk. Ia lalu memberi kode rombongan nya untuk berbelok menuju danau istana.
Semakin dekat melangkah, semakin jelas terdengar tawa para wanita yang tampak bercanda ria di sebuah gazebo.
Tawa mereka begitu ringan, bahkan wajah mereka penuh dengan senyum. Namun tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya berada di balik canda tawa tersebut.
"Kakak Do."
Tawa mereka berhenti begitu menyadari keberadaan Do Jinyi, mereka segera bangkit untuk memberi salam.
Do Jinyi hanya tersenyum tipis, ia duduk dengan anggun dan sedikit mengibaskan sedikit tangan kanannya memberi isyarat agar mereka kembali duduk.
"Tidak perlu berlebihan," nada suaranya terdengar tenang. "Kita semua adalah saudari."
Para selir saling melirik sekilas, saling tersenyum lalu kembali duduk di tempat mereka masing-masing.
"Ayo lanjutkan, tidak mengapa bukan jika aku ikut bergabung?"
Selir Wu Zhiao, ibu pangeran kedua itu tersenyum dari balik kipasnya sembari berkata. "Tentu tidak mengapa, kakak."
"Benar, kami sedang membicarakan gelar selir agung yang masih kosong. Kami semua yakin, jika kakak yang paling pantas mendudukinya,"
"... Apalagi kakak adalah ibu dari pangeran pertama." Imbuh selir Nu Xao. Ibu pangeran ke empat.
Selir Do Jinyi hanya tersenyum tipis. Ia lalu menyesap teh yang di tuangkan oleh pelayannya. "Menjadi ibu pangeran tidak menjamin apapun di istana ini."
Kata-kata yang keluar itu mungkin terdengar ringan, tapi semua selir tahu jelas, itu adalah sindiran.
"Ada benarnya apa yang di katakan Kak Do Jinyi," Selir Fu yang sejak tadi diam, ikut berbicara dengan tubuh sedikit di condongkan. "Lihat saja apa yang terjadi pada Selir Agung Ru,"
"... Orang yang bermain di belakang tirai itu benar-benar sangat berani menjebak selir kesayangan Kaisar. Jika Jenderal Shen tidak datang waktu itu, selir Ru mungkin...."
Selir Fu tidak menyelesaikan perkataannya. Wanita itu menggeleng pelan tidak sanggup membayangkan hukuman yang akan di terima Selir Ru jika waktu itu Jenderal Shen tidak datang.
Perkataan selir Fu jelas membuat mereka yang berada di sana terdiam. Terutama Do Jinyi, dia juga masih penasaran, siapa seseorang itu sebenarnya? Jika selir agung Ru saja mudah di singkirkan, apalagi dirinya?
"Maaf, tapi menurutku selir Agung selanjutnya mungkin jauh pada adik Ji Meimei. Selain berasal dari keluarga bangsawan terpelajar, adik Ji sudah di percaya menggantikan selir Ru mengasuh para pangeran kecil."
Ucapan selir Wu Zhiao itu membuat semua mata beralih menatap Ji Meimei, selir yang baru di angkat oleh Kaisar.
Ji Meimei yang namanya di sebut, menundukkan kepalanya sedikit sembari tersenyum tipis.
"Aku hanya melakukan apa yang di perintahkan Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri." Nada bicara wanita muda itu terdengar manja dan lembut.
Namun, dalam hati wanita muda itu tersenyum miring. Siapa yang tidak tahu kehidupan istana? Penuh siasat licik. Dan para wanita di depannya ini adalah wanita yang paling harus di waspadai.
Hang Yo Ri, wanita yang sejak tadi diam menyimak pembicaraan para selir lainnya hanya tersenyum kecil, lalu dengan anggun menuangkan teh untuk semua seri, mencoba mencairkan suasana.
"Terima kasih, kakak." Ucap Ji Meimei setelah Hang Yo Ri menyeduhkan teh untuknya.
Hang Yo Ri hanya tersenyum lembut sembari kembali duduk di tempat nya. "Bodoh sekali mereka, yang paling pantas menjadi selir agung hanyalah aku! Hang Yo Ri."
Suasana kembali tenang, mereka mulai menikmati teh. Tapi tak lama kemudian suara langkah kaki perlahan terdengar, para pelayan segera memberi tahu jika Permaisuri datang.
Mereka segera bangkit dan saat sosok wanita Permaisuri terlihat mendekat, mereka segera membungkuk memberi hormat.
"Salam Yang Mulia Permaisuri,"
Permaisuri tersenyum tipis, tangan kanannya terangkat. "Duduklah."
"Aku senang melihat keharmonisan harem pagi ini." Ucap permaisuri kemudian setelah duduk di kursi yang sudah di siapkan pelayan.
"Yang Mulia, mohon izin,"
Semua mata menatap Hang Yo Ri yang bangkit dan membungkuk di hadapan Permaisuri.
"Beberapa hari lagi adalah hari ulang tahun Bibi Hang, jadi hamba meminta izin untuk pulang beberapa hari ke kediaman Hang."
Permaisuri mengangguk dengan anggun. "Silahkan, Selir Yo Ri, sampaikan salamku pada Nyonya Agung Hang, maaf karena aku dan Kaisar tidak bisa hadir. Terlebih saat ini Kaisar dalam perjalanan ke desa Jinniang."
"Terima kasih Yang Mulia."
Di saat Selir Hang Yo Ri senang karena telah mendapatkan izin. Tidak dengan Do Jinyi yang seperti membeku saat mendengar kata 'Jinniang'.
"Jangan jangan anak itu—"
...***...
Setelah Permaisuri pergi, selir Do Jinyi juga ikut meninggalkan gazebo. Dengan napas yang memburu, ia melangkah cepat ke Paviliun sang anak.
Melihat kehadiran dirinya, kasim penjaga yang hendak membungkuk memberi hormat, segera di tahan oleh Do Jinyi.
"Di mana Pangeran?"
"Y-yang Mulia pangeran belum juga kembali, hamba tidak tahu ke mana beliau pergi...." Jawab Kasim tersebut gemetar.
"Bod0h!" Desis Do Jinyi dengan mata melotot tajam.
Namun, tepat saat itu, orang kepercayaan Pangeran Yu Chengyi muncul sembari membawa beberapa buntalan di punggung nya.
"Memberi sa—"
"Di mana pangeran?" Belum sempat Sani— orang kepercayaan Pangeran Yu Chengyi memberi salam, Selir Do Jinyi lebih dulu melayangkan pertanyaan.
"Yang Mulia pangeran dalam perjalanan menuju desa Jinniang, Selir. Namun ada beberapa barang yang tertinggal, jadi—"
"BOD0H!"
Sani dan sang Kasim memejamkan mata terkejut saat Do Jinyi memaki keras.
"Cepat kejar pangeran, bawa dia kembqli secepat mungkin! Kaisar dan Jenderal Hang sedang menuju desa Jinniang!"
Sani dan Kasim penjaga melebarkan pupul mata. Dengan pucat, Sani mengangguk dan segera pergi setelah memberi hormat.
"Celaka! jika kaisar melihat Chengyi ada di sana...." Do Jinyi memijat pelipisnya, sorot matanya menyala dingin dengan wajah mulai menggelap. "Lebih gawat lagi jika kaisar menemukan sesuatu di sana."
...***...
Rombongan Menteri Tan akhirnya memasuki desa Jinniang. Seorang pria bertubuh gemuk dengan wajah penuh minyak menyambut mereka sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Hang Tianyu, Cao Xiao, dan Tanyan berdiri agak jauh, memerhatikan dengan wajah datar. Namun mata mereka tajam menyapu desa itu.
Desa Jinniang terasa sepi dan sunyi.
Rumah-rumah tertutup rapat. Pintu hanya terbuka selebar celah. Setiap kali mata salah satu warga bertemu pandang dengan mereka, wajah itu langsung pucat, kepala menunduk dalam-dalam seperti ketakutan.
Aura ketakutan begitu kentara.
“Ini bukan desa yang normal,” gumam Tanyan.
Hang Tianyu mengangguk setuju.
Di saat ketiganya terus mengawasi sekeliling mereka. Seorang pengawal menghampiri ketiganya. "Kalian bertiga! Ikut!”
Ketiganya saling menatap sekilas, lalu tanpa bicara mereka bertiga mengikuti pengawal itu, masuk semakin dalam ke wilayah desa, hingga akhirnya mencapai hutan bambu yang lebat dan lembap.
Baru beberapa langkah setelah memasuki hutan bambu, ketiganya terkejut melihat seorang pengawal menyeret seseorang.
Yaitu seorang wanita muda berwajah pucat, baju lusuh, serta tubuh yang gemetar ketakutan. Ia di tarik paksa oleh seorang pengawal. Lalu di lempar ke tanah tepat di depan pria gemuk yang tadi menyambut Menteri Tan.
Ho Chen.
Ho Chen berjongkok dan membelai pipi wanita itu seperti menilai barang dagangan. Wajahnya tersenyum mesum dengan terus membe lai pipi dan bibir gadis muda tersebut. “Sayang sekali… aku tak punya waktu menikmatimu.”
Wanita itu menggeleng kuat, air mata terus turun membasahi pipinya, dan tanpa aba-aba ia menggigit tangan Ho Chen yang membe lai bibirnya. Membuat pia itu menjerit, murka, lalu menamparnya keras hingga tubuh wanita itu terhuyung dan tak sadarkan diri.
“Dasar jal4ng sial4n! Berani sekali kau menggigit ku!" Teriaknya kasar.
"Kalian, bawa dia ke markas!” teriak Ho Chen kemudian ke arah Hang Tianyu dan yang lainnya. “Dan cari gadis lain lagi! Cepat!”
Hang Tianyu, Cao Xiao, dan Tanyan hanya mengangguk singkat.
Setelah itu Ho Chen pergi bersama salah satu pengawalnya yang tadi meny*ret gadis muda tersebut.
Setelah Ho Chen dan Pengawal tadi tak terlihat dari balik bambu-bambu. Pengawal yang bersama Hang Tianyu menunjuk dagu ke arah gadis yang masih tak sadarkan diri.
“Kau,” katanya pada Cao Xiao. “Angkat dia.”
Cao Xiao mendecak, tapi menunduk untuk mengngkat gadis yang pingsan. Namun...
Srek!
Sebuah anak panah melesat cepat dan nyaris menembus le hernya jika tangan Hang Tianyu tidak menariknya ke belakang.
“Serangan!” Teriak pengawal tadi.
Pengawal itu lalu mengeluarkan tombak bersiap menyerang Dan dari balik rumpun bambu, sosok berjubah merah melompat keluar, gerakannya cepat dan gesit. Hanya butuh beberapa serangan untuk membuat pengawal itu tumbang, tersungkur tak sadarkan diri.
Sosok berjubah merah itu beralih menyerang Hang Tianyu, Cao Xiao, dan Tanyan. Mereka bertiga segera melompat mundur dan berusaha menghindar dari segala serangan sosok berjubah merah yang menyerang dengan pedang.
Merasa sulit melawan dua pria berbahu lebar, sosok berjubah merah itu menyerang ke arah Cao Xiao yang memang memiliki tubuh lebih kecil daripada Hang Tianyu dan Tanyan.
Merasa di permainkan karena lawannya tidak menyerang balik, sosok itu melompat dan bersiap menyerang ke arah Cao Xiao.
Namun, Cao Xiao yang terus mundur mendadak nyaris terpeleset hingga tangannya reflek menggenggam sesuatu yang sebisanya di gapai.
Tap.
Dan Cao Xiao tak sengaja menggenggam sesuatu yang membuat sosok berjubah merah itu merah padam. Sosok itu seketika berhenti bergerak sejenak, dengan bola matanya terbelalak.
“SI4LAN KAU! DASAR MESUMM!!”
Suara itu jelas suara wanita.
Sosok berjubah merah itu mundur dengan napas memburu, murka seperti api membara. "Kalian bandit! Aku tidak akan membiarkan sampah seperti kalian menghancurkan desaku!”
“A-aku bukan bandit!” Cao Xiao mencoba menjelaskan, wajahnya memerah habis-habisan. “Tadi itu tidak seng—”
Wanita itu tidak mau dengar, ia terus menerjang Cao Xiao.
Membuat Hang Tianyu segera turun tangan. Ia dengan gerakan cepat menangkap bahu wanita itu dari belakang, menghentikan gerakannya. “Cukup.”
Wanita itu meronta makin keras. “Lepaskan! Jika Kaisar tahu perbuatan kalian, kalian tidak akan dimaafkan!”
Tanyan mengembuskan napas panjang, ia sudah kehilangan kesabaran.
“Kaisar sudah tahu,” ucapnya dengan datar. “Kami di sini atas perintah Kaisar. Dan saat ini Jenderal Hang sedang menyelidiki situasi desa Jinniang.”
Gerakan wanita itu seketika terhenti.
Ia menatap pria yang menahan bahunya. Pupil mata seketika mengecil, dan ia langsung jatuh berlutut.
“J-Jenderal Hang…” suaranya bergetar. “Ampuni hamba! Tolong ampuni kelancangan hamba."
Hang Tianyu mengangkat tangan, memintanya berdiri. “Jelaskan.”
Wanita itu mengambil napas gemetar. “Nama hamba Shain Liu… anak kepala desa. Sejak kecil hamba pergi berlatih di militer. Dan saat kembali ke desa, ayah hamba telah menghilang. Orang-orang yang menamakan diri mereka bandit itu datang… mereka menculik para wanita dan gadis-gadis di desa ini. Mereka melakukan apa pun yang mereka mau…."
Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia mengusap air matanya yang perlahan turun. "Hamba pernah berniat untuk mencari bantuan dari luar, tapi begitu sulit keluar dari desa ini karena banyak penjaga yang bersembunyi.
Cao Xiao mengepalkan tangan, rahangnya tegang.
“Busuk sekali perbuatan mereka.…”
Hang Tianyu segera menahan bahu Cao Xiao agar tidak meledak.
Kening itu lalu mengernyit. Ia ingat percakapan menteri Tan dan Ho Chen soal “markas”.
“Apa ada tempat mencurigakan?” tanyanya.
Shain Liu mengangguk cepat. “Di bukit belakang desa… ada pergerakan aneh. Tidak ada warga berani mendekat, dan penjagaan di sana sangat ketat.”
Mereka lalu terdiam dan saling menatap.
Di saat itu pengawal yang tumbang tadi mengerang, perlahan ia mulai sadar. Baru bangun berdiri, Tanyan yang tanpa berpikir panjang memukvl tengkuknya hingga ia pingsan lagi.
"Jenderal, lalu apa langkah selanjutnya? Tolong selamatkan kami..." Mohon Shain Liu.
Hang Tianyu terdiam sejenak, ia menatap sekeliling, lali mengalihkan pandangan ke wanita pingsan yang tadi diseret.
Ia lalu menatap Tanyan yang juga tengah menatap nya, keduanya lalu menatap Shain Liu yang terlihat bingung tapi seolah langsung mengerti maksud Hang Tianyu.
Ketiganya lalu menatap ke arah Cao Xiao.
Cao Xiao yang di tatap langsung gelagapan. "Apa? Mengapa kalian menatapku seperti itu?"
Hang Tianyu tersenyum tipis. “Kita perlu menyusup ke markas mereka Xiao. Dan kebetulan mereka sedang mencari gadis. Kau paham maksud ku bukan?"
Cao Xiao mengerutkan kening tidak mengerti. Tapi kemudian ia bisa menangkap maksud sahabatnya.
“Tidak. Tidak mungkin! Aku tidak setuju idemu itu, Tianyu! Lagipulaa sudah ada dia dan gadis itu." Ujar Cao Xiao menunjuk Shain Liu dan gadis. yang pingsan
"Jangan bercanda, Xiao."
"Aku tidak mau! Lagipula apakah mereka akan tertipu jika aku menyamar menjadi wanita? Mengapa tidak kau atau Tanyan saja?"
Hang Tianyu menghela napas dengan lelah, "Aku dan Tanyan tidak mungkin menyamar sebagai wanita. Lihat tubuh kami. Lagipula wajahu itu lebih cocok.”
“Aku tidak mau, Tianyu!" Ucap Cao Xiao mencoba mengikuti Hang Tianyu dan Tanyan yang mendekati pengawal yang pingsan
Namun tiba-tiba Shain Liu menarik kerah belakangnya dengan kasar.
"Hey, kau mesum. Kita akan pergi ke markas sebagai wanita penghibur." Ucap Shain Liu sembari melepaskan kerah belakang Cao Xiao dan berjalan melewati pria tersebut.
"Aku tida— siapa yang kau panggil mesum?!" Cao Xiao tidak jadi menghampiri Hang Tianyu dan Tanyan, ia mengikuti Shain Liu yang terus tak mendengarkan ocehannya yang mencoba menjelaskan situasi tadi.
Sementara itu, Hang Tianyu dan Tanyan sudah selesai mengikat pengawal yang pingsan.
Sorot mata pria itu menatap lurus gadis yang masih pingsan. Pakaian nya lusuh dan beberapa bagian robek, wajahnya pucat dan penuh ketakutan. Seketika mengingatkan nya pada satu wanita di sana. Jie Xieye.
"Tabib Jie, bagaimana keadaanmu sekarang?"
semoga Husnul khotima
untk keluarga yg ditinggalkan semoga sabar lapang Dada, ikhlas agar sang almrhumm pergi dengan damai
aamiin
🤲🤲🤲
dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran
aamiin
semangat Thor
terima kasih