NovelToon NovelToon
Through My Eyes

Through My Eyes

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:640.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tirza

"Kata orang, cinta itu berawal dari mata, kemudian turun ke hati. Namun, itu tidak berlaku bagi kami. Cinta kami bermula dari getaran yang timbul di dalam hati, sementara mata hanyalah buktinya."- Yuri

Yuanri Agatha, atau yang biasa disapa dengan sebutan Yuri, adalah seorang perempuan dengan paras cantik serta bentuk tubuh yang sempurna. Meski begitu kisah hidupnya tidak seindah penampilan fisiknya.

Ada satu masa dimana perempuan itu akhirnya berpikir untuk mengakhiri hidup karena tidak tahan dengan hinaan warga sekitar, yang terus melabelnya sebagai wanita penggoda. Padahal, kenyataannya adalah bahwa Yuri selalu menjaga kehormatannya.

Keputusan mengakhiri hidup itu ia urungkan saat melihat seorang laki-laki terbaring dalam kondisi tidak sadarkan diri di atas sebuah karang, yang lokasinya tidak jauh dari tempat, yang sudah ia rencanakan untuk mengakhiri hidup.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Segera favoritkan kisah ini dan nantikan kelanjutan kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertukar Posisi

*Satu Hari Pasca Operasi*

"Aku mencintaimu Abraham Adiputera. Berbahagialah!" Seorang perempuan berambut panjang dengan wajah yang tidak terlihat jelas mengatakan kalimat itu di dalam mimpi Bram sambil menangis.

"Aaarrggghh.......Hah.. hah...hah..." Bram bangun dalam kondisi napas yang tersengal dan langsung duduk karena terkejut.

"Mas!! Mimpi buruk?" Rosalie yang sejak kemarin menunggui laki-laki itu seorang diri di dalam ruang perawatan menjadi panik karena teriakan Bram.

"Dimana aku?" Bram bertanya kepada Rosalie.

"Di Rumah Sakit. Di dalam ruang perawatan. Bukankah kemarin Mas sudah siuman. Kenapa bisa lupa?" Rosalie menjelaskan dengan perlahan-lahan kepada kekasihnya sambil menyentuh pundak laki-laki itu.

"Dimana Yuri?" Bram menggenggam pergelangan tangan Rosalie. Sementara Rosalie terkejut saat Bram tiba-tiba menanyakan gadis itu.

"Untuk apa kau mencarinya? Bukankah kau membencinya?" ucap Radit yang baru saja memasuki pintu kamar perawatan Bram, saat laki-laki itu menyebutkan nama Yuri.

"Aku hanya ingin memastikan apakah dia memenuhi janjinya mendampingiku selama proses operasi. Tetapi, dia sudah menerima uangku. Pasti perempuan itu sedang bersenang-senang sekarang," tutur Bram dengan nada yang dingin.

"Kau benar! Yuri sedang bersenang-senang di atas air matanya sendiri," gumam Radit di dalam hati.

"Kau melarangnya mendampingimu di Rumah Sakit pasca memberikan uang itu. Aku mengingatkanmu jikalau kau lupa," kata Radit dengan nada sinis kepada Bram.

"Sudahlah! Aku tidak ingin membahasnya lagi." Bram kemudian mencoba menghentikan pembicaraan mereka tentang Yuri.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Radit berkata sambil membaca laporan kesehatan Bram.

"Aku tidak pernah merasa lebih baik dari ini," jawab Bram sambil tersenyum bahagia.

"Jika tidak ada kendala yang berarti, nanti siang kami akan melepas perban untuk mengecek kondisi matamu. Awalnya pasti akan ada rasa sakit, perih di sekitar mata dan pusing, terutama saat matamu menerima cahaya yang cukup terang seperti sekarang untuk pertama kalinya." Radit memberi tahu efek samping yang biasanya dialami oleh pasien pasca menjalani operasi transplantasi kornea mata.

"Tidak masalah bagiku selama itu adalah proses yang bisa membuatku melihat lagi." Bram menanggapi Radit dengan santai.

"Aku harap kau lebih menghargai hidupmu mulai sekarang. Kau dan si pendonor itu sebenarnya sedang bertukar posisi. Kini ia merasakan apa yang kau rasakan dulu, meski sebenarnya penderitaanmu tidak sebanding dengannya. Dulu kau memang buta, namun kau kaya dan memiliki orang-orang yang mencintaimu, sementara dia adalah orang yang miskin, sebatang kara. Kebutaan ini tentu menambah penderitaan hidupnya," tutur Raditya membayangkan betapa menyedihkannya nasib Yuri.

"Apakah menurutmu uang yang kujanjikan sebagai tanda ucapan terima kasih itu kurang? Sebab aku tidak keberatan jika harus menambahnya," kata Bram meminta pendapat Radit.

"Aku rasa tidak perlu. Aku justru meragukan bahwa si bodoh itu akan menggunakan uang pemberianmu," gumam Radit dengan intonasi yang tidak jelas di kalimat terakhirnya.

"Apa? Aku tidak dengar. Bisa diulangi?" Bram meminta Radit mengulang ucapannya.

"Lupakan saja! Tidak penting," ucap Radit karena enggan mengulangi kalimatnya.

"Baiklah aku rasa, aku harus melanjutkan visitasiku ke pasien berikutnya. Sampai jumpa nanti siang," imbuhnya lagi sambil melangkah meninggalkan Bram dan Rosalie sendiri di dalam kamar.

------------------ 

"Selamat pagi, Yuri!" Raditya memasuki ruangan perawatan Yuri, berusaha berbicara dengan lembut untuk tidak mengagetkan perempuan itu.

"Halo, kak Radit." Yuri membalas ucapan Dokter muda itu.

"Kau langsung mengenali suaraku? Aku jadi terharu," goda Raditya kepada Yuri.

"Berlebihan sekali." Yuri tertawa mendengar tanggapan Radit.

"Kondisimu sangat baik. Semuanya stabil. Jika tidak ada masalah, besok kamu sudah bisa pulang. Siang ini perbanmu akan kami buka." Raditya mengecek kondisi Yuri dari laporan perkembangan kesehatannya.

"Bagaimana kondisi Mas Bram, apa ia baik-baik saja? Nona Rosalie terus mendampinginya kan?" Yuri bertanya penasaran.

"Kau masih memikirkan laki-laki itu? Dia bahagia berkatmu. Dia berhutang padamu seumur hidupnya." Radit menepuk lembut pundak Yuri dua kali.

"Aku tidak merasa begitu. Aku hanya berusaha menolongnya sebagai sesama manusia," jawab Yuri.

"Kata-katamu belum lengkap. Kamu menolongnya sebagai manusia yang mencintainya. Sementara, laki-laki itu justru membenci orang yang menolongnya. Dia mendapatkan dunia sementara dirimu kehilangan semua." Raditya menggelengkan kepala lalu menatap wajah gadis yang ada di hadapannya dengan pandangan iba.

"Kau salah kak! Bukankah sudah pernah kusampaikan padamu di telepon waktu itu? Aku juga mendapat keuntungan dari hal ini. Sekarang, aku semakin yakin bahwa Awan tidak akan bersedia menikahiku lagi. Kondisi ini jauh lebih baik daripada aku harus menghabiskan seumur hidupku untuk tinggal bersama dengan laki-laki yang tidak aku cintai," ujar Yuri dengan lirih.

"Aku akan menemui laki-laki itu untukmu. Besok saat kau sudah diijinkan pulang, aku akan mengantarmu sekaligus menemuinya." Raditya memiliki firasat yang tidak enak di dalam hatinya. Ia merasa harus mendampingi Yuri untuk menyelesaikan masalah gadis itu.

"Tidak perlu kak. Ini masalahku dengan Awan. Aku tidak ingin kakak menambah beban dengan mengurusi masalahku," tolak gadis itu dengan halus. Ia merasa Raditya sudah banyak menolongnya. Yuri tidak ingin merepotkannya lagi.

"Tidak ada beban Yuri. Aku mau membantumu karena kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri." Raditya mendudukkan tubuhnya di samping ranjang Yuri.

"Terima kasih kak. Tapi sungguh aku masih bisa mengatasinya seorang diri. Jika aku tidak sanggup, kak Radit adalah orang pertama yang akan ku mintai pertolongan," ujar Yuri bersikeras menolak bantuan Radit.

"Aku akan tetap mengawasimu, Nona. Suka atau tidak aku akan tetap mengawasimu. Ya sudah, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik, hmm?" Raditya mengusap puncak kepala Yuri beberapa kali sebelum meninggalkan ruang perawatan gadis itu.

Setelah kepergian Radit, Yuri menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia sebenarnya merasa takut dengan kehidupannya yang sekarang.

Kegelapan itu kini menemaninya setiap hari. Ia hanya berharap, semoga setelah melihat kondisinya, Awan akan membatalkan niatnya.

Yuri tidak sanggup membayangkan seperti apa rasanya jika pernikahan mereka tetap terjadi. Mungkin lebih baik baginya untuk mengakhiri hidup dari pada harus menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai.

 ----------------

"Tuan Abraham! Apa anda bisa melihat sesuatu?" Dokter mata Bram baru saja membuka perban laki-laki itu.

Bram tidak menjawab. Ia hanya mengerjapkan matanya beberapa kali. Laki-laki itu kemudian berniat mengusap matanya dengan tangannya.

"Jangan diusap! Bisa infeksi." Dokter mata itu seketika langsung memegang tangan Bram dengan cepat sebelum laki-laki itu menyentuh matanya.

"Katakan saja apa anda melihat cahaya?" Dokter itu bertanya lagi.

"Iya, Dokter. Meski rasanya mata ini seperti berkabut namun saya bisa melihat cahaya." Bram kembali mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya yang ada di dalam kamar itu. Laki-laki itu langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Rosalie!" Bram menyebut nama kekasihnya.

"Mas?" Rosalie berjalan menghampiri laki-laki itu dengan perlahan.

Bram kemudian mengangkat tangannya. Ia menyentuh pipi kekasihnya dan mengusapnya dengan lembut.

"Kau bisa melihatku?" Rosalie tidak kuasa menahan tangisnya.

"Samar, tapi aku masih bisa melihatmu mawar merahku." Rosalie seketika memeluk Bram dengan erat. Tangisannya semakin pecah dipelukan laki-laki itu. Sebuah tangisan kebahagiaan.

 ---------------

*Keesokan harinya*

Tok!! Tok!! Tok!!

Saat ini Yuri sudah berada di dalam rumahnya. Ia pulang lebih dulu dan tidak menunggu Radit karena tidak ingin merepotkan laki-laki itu.

Untuk bisa sampai ke rumahnya, Yuri meminta bantuan perawat untuk memesankan Taxi baginya dan membayarkan sejumlah uang sesuai tarif yang tersedia. Yuri masih belum terbiasa dan peka untuk membedakan nominal uang. Untung saja perawat di Rumah Sakit itu sangat ramah dan mau membantunya.

"Tunggu sebentar!" Yuri berjalan menuju ke sumber suara. Dengan tongkat yang dulu digunakan oleh Bram, gadis itu melangkah perlahan-lahan menuju ke pintu.

Tok!! Tok!! Tok!!

Nampaknya si pengunjung sudah tidak sabar lagi. Suara ketukan pintu itu pun semakin mengeras.

Ceklek!

"Siapa?" Yuri membuka pintunya. Ia kemudian menanyakan siapa yang sedang mengunjunginya sekarang.

"Kau menghilang selama beberapa hari. Aku pikir kau akan kabur dariku," ucap seorang laki-laki yang suaranya cukup familiar. Laki-laki itu mungkin juga belum menyadari perubahan yang terjadi pada Yuri.

"A-awan?" Tubuh Yuri menegang. Ia tidak menyangka bahwa tamu itu adalah orang yang paling ingin ia hindari.

‐-----------------------

Selamat membaca! Teman-teman yang manis, ijinkan saya mengucapkan terima kasih atas dukungan teman-teman pada cerita ini. Semua komentar, like, vote, rate, saya terima dengan sukacita dan hati yang terbuka. Maaf jika belum bisa membalas komentar teman-teman satu persatu. Tetap nantikan kelanjutan kisah Yuri ya! Sampai jumpa di episode selanjutnya.

1
Fi Fin
kapan ada sinar bahagia yuri 😭😭😭
Rinisa
Novel yg sangat bagus & menyentuh...👍🏻👍🏻👍🏻
Rinisa
best
Rinisa
Beneran bram masih hidup ....
Rinisa
Next read
Sri Widjiastuti
pasrah amat yahh??
Rinisa
Akhirnya...
Rinisa
Next
Rinisa
Cinta Yuri begitu besar kepada Bram...
Rinisa
Bram Cemburu...😍
Rinisa
So sweet...🤗😍
Rinisa
Novel ke 1 & 2 sangat bagus, saya yakin yg ke 3 ini juga pasti bagus...👍🏻🤗
Gendhuk sri
kerennn
Gendhuk sri
deg degan 😭
Gendhuk sri
bram bertahan y yuri juga bertahan demi kamu
Gendhuk sri
bram bram katanya orang berpendidikan pangkat juga tinggi tp mulutmu itu lo pingin gw gampar
Gendhuk sri
cemburu ya
Gendhuk sri
ok kaka novelmu bagus2
Ratna Yuni
kak tirza karya mu emang beda syuka deh
Becky D'lafonte
mulai posesif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!