NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

Status: tamat
Genre:Cerai / Penyesalan Suami / Selingkuh / Konflik etika / Tamat
Popularitas:192.1k
Nilai: 5
Nama Author: Triyani

Gendis merasa jika hidupnya sudah hancur setelah mengetahui jika suaminya berselingkuh dengan teman semasa sekolah suaminya, dulu.

Gendis yang tidak terima dengan pengkhianatan itu pun akhirnya menggugat cerai Arya. Namun, disaat proses perceraian itu sedang berjalan. Arya baru menyadari jika dia sangatlah mencintai Gendis dan takut kehilangan istrinya itu.

Sehingga, Arya pun berusaha berbagai cara agar Gendis mau memaafkan nya dan kembali rujuk dengan nya.

Sayang, Gendis yang terlanjur kecewa dan sakit hati karena telah dikhianati pun tetap melanjutkan perceraian itu.

Hingga suatu hari, Gendis pun mendapatkan kabar yang mengejutkan. Dimana, dirinya dinyatakan hamil anak ketiga.

Lalu, apa yang akan Gendis lakukan? Akankah dia tetap melanjutkan perceraian itu? Atau memberikan Arya kesempatan kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.32

Gendis menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kaki melewati ambang pintu. Kamar itu masih terasa asing baginya, tapi aroma cat baru bercampur dengan aroma lembut bunga yang entah dari mana asalnya cukup membuat hati Gendis menghangat.

Sebuah ranjang berukuran besar dengan sprei berwarna putih bersih tertata rapi di tengah ruangan. Di sisi kanan dan kiri ranjang, terdapat nakas dengan lampu tidur yang sesuai dengan selera Gendis saat menata interior rumah.

Sebuah lemari pakaian besar berdiri kokoh di sudut ruangan, dan di dekat jendela, terdapat dua buah sofa bed dengan meja kecil di depannya.

Arya menutup pintu perlahan, menciptakan keheningan yang canggung di antara mereka. Gendis berdiri terpaku di tengah ruangan, mengamati setiap sudut kamar baru mereka.

"Bagaimana. Kamu suka?" tanya Arya pelan, mendekat dengan hati-hati.

Gendis mengalihkan pandangannya pada Arya. Ada guratan penyesalan yang jelas terpancar dari sorot mata pria itu. Ia tahu, Arya sedang berusaha. Tapi, usahanya saja tidak cukup untuk menghapus rasa sakit yang telah ia torehkan.

"Lumayan," jawab Gendis singkat, berusaha menyembunyikan gejolak emosi di dalam dirinya.

Ia belum siap untuk memberikan jawaban yang lebih jujur. Ia masih membutuhkan waktu untuk mencerna semua ini, untuk memutuskan apakah ia bisa benar-benar memberikan Arya kesempatan kedua. Atau, sudah tidak ada lagi kata maaf untuk pria itu.

Yang jelas, saat ini, Gendis merasa masih berada di persimpangan jalan. Antara memberikan Arya kesempatan atau menutup kisah mereka setelah bayi yang dikandung olehnya lahir ke dunia.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, hanya dipecah oleh suara napas mereka sendiri. Di kamar baru ini, di bawah sinar matahari siang yang menembus jendela yang terhalang gorden tipis, babak baru dalam hubungan Arya dan Gendis baru saja akan dimulai. Babak yang penuh dengan keraguan, harapan, dan luka yang belum sepenuhnya mengering.

“Syukurlah kalau kamu suka. Istirahatlah, aku keluar dulu.” ucap Arya, memecah keheningan. Suaranya lembut, namun terasa sedikit terburu-buru.

Gendis menatap suaminya yang kini mulai beranjak menuju pintu. Senyum tipis yang menghias bibirnya beberapa saat lalu perlahan memudar, berganti dengan kerut halus di dahinya.

“Mas, mau kemana?” tanya Gendis, ada nada penasaran bercampur sedikit kekhawatiran dalam intonasi suaranya.

Arya menghentikan langkahnya yang sudah berada di depan pintu kamar. Ia menoleh, lalu senyum kecil kembali terukir di wajahnya saat Gendis terlihat mencemaskannya.

“Mas tidak akan kemana mana, sayang. Mas hanya akan ke ruangan kerja. Ada pekerjaan yang harus Mas selesaikan,” jawab Arya.

“Kenapa menyelesaikan pekerjaan di rumah? Mas tidak ke kantor?” tanya Gendis lagi. Dengan dahi yang mengkerut, penuh selidik.

“Tidak,” jawab Arya singkat, lalu menghela nafas pelan.

“Sudah beberapa hari ini, Mas tidak ke kantor karena Mas merasa jauh lebih nyaman bekerja di rumah,” jelas Arya. Membuat alis Gendis semakin bertaut.

“Lalu, bagaimana dengan perusahaan, kalau Mas tidak ke kantor?”

Pertanyaan itu terlontar begitu saja, membuktikan kalau Gendis masih mengkhawatirkan suaminya.

Arya adalah seorang direktur utama di perusahaan keluarga yang cukup besar. Absensinya selama beberapa hari tentu bukan hal yang biasa.

Melihat kekhawatiran disorot mata Gendis. Arya berusaha tersenyum meyakinkan istrinya, jika semua akan baik baik saja, meski dia tidak ada di kantor.

“Ada Sandi. Kamu tahu Sandi kan? Dia bisa diandalkan. Ya sudah, kalau gitu, Mas ke ruang kerja dulu, ya. Kalau ada yang kamu butuhkan, jangan ragu untuk mengatakannya kepada Mas,”

“Baiklah. Terima kasih.” jawab Gendis pelan.

Ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjal di dalam hatinya. Namun, Gendis mencoba menahan diri untuk tidak mendesak Arya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia layangkan.

Arya kembali beranjak, meninggalkan kamar dan juga Gendis seorang diri di kamar itu. Gendis menatap pintu yang tertutup rapat. Perasaan tidak nyaman yang sejak awal menggerogotinya perlahan menguap seiring dengan perlakuan Arya yang hangat.

Namun, dibalik sikap hangatnya, ada sesuatu yang berbeda dalam sikap Arya kali ini. Ia menjadi lebih pendiam dan terlihat begitu berhati-hati saat berucap.

Sementara itu, ruang kerjanya, Arya tidak langsung berkutat dengan dokumen-dokumen yang menumpuk di mejanya. Ia duduk terdiam di kursi kerjanya, pandangannya menerawang jauh ke luar jendela.

Pikiran Arya dipenuhi oleh berbagai macam hal. Pekerjaan di kantor memang sedang cukup padat, namun itu bukanlah alasan utama mengapa ia lebih memilih bekerja di rumah.

Ada masalah lain yang lebih mengganggunya, yang sampai detik ini, belum terselesaikan dengan tuntas. Arya menghela nafas panjang, mencoba meredakan kegelisahan yang melanda hatinya.

Pandangannya kini tertuju pada foto pernikahannya dengan Gendis yang terpajang di meja kerjanya. Senyum bahagia Gendis dalam foto itu seolah menusuk hatinya.

Ia merasa sangat bersalah karena telah mengkhianati Gendis dengan berselingkuh dengan Sharon. Arya meraih pigura foto itu, mengusap lembut wajah Gendis di dalamnya.

“Aku janji, Sayang,” bisiknya lirih,

“Mulai sekarang, aku akan benar benar berubah dan akan aku pastikan kalau semuanya akan kembali seperti dulu.”

Tidak ingin larut dalam kemelut hatinya. Arya pun akhirnya mengalihkan perhatiannya pada pekerjaannya. Ia tidak ingin meninggalkan Gendis terlalu lama.

Arya bertekad untuk segera menuntaskan pekerjaannya. Bayangan wajah Gendis yang masih terlihat sedikit pucat saat ia tinggalkan di kamar menjadi motivasi untuknya agar segera menyelesaikan tumpukan dokumen yang ada diatas meja.

Ia ingin segera kembali, menemani dan memastikan istrinya merasa nyaman di rumah baru mereka. Karena itulah, Arya pun mulai fokus pada dokumen-dokumen dan layar komputer yang menampilkan deretan angka dan laporan.

Sesekali, ia menghela nafas panjang, mencoba mengusir rasa khawatir yang masih menyelimuti benaknya.

Sementara itu, di dalam kamar yang masih terasa asing. Gendis terlihat kebingungan. Entah apa yang harus dia lakukan dan dia kerjakan saat ini.

Menghela nafas pelan, Gendis akhirnya memutuskan untuk bangkit. Berdiam diri di kamar hanya akan membuatnya semakin merasa tidak nyaman. Ia butuh melakukan sesuatu, mencari kesibukan untuk mengusir rasa tidak nyaman yang terus menyelimuti hatinya.

Dengan langkah pelan, ia keluar dari kamar dan menyusuri lorong rumah yang masih sunyi, karena kedua anaknya belum dijemput untuk ikut tinggal disana.

Insting membawanya menuju ke arah dapur. Ruangan itu tampak modern dan lengkap dengan berbagai peralatan memasak yang canggih.

Sebuah meja makan kayu besar berdiri kokoh di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi-kursi kayu yang kokoh dengan desain yang elegan.

Gendis mengamati sekeliling dapur. Ia ingat betul, dulu, dapur adalah tempat favoritnya saat berada di rumah lama mereka. Disanalah ia sering bereksperimen dengan berbagai resep masakan, untuk memanjakan lidah suami dan kedua anaknya.

Kenangan itu tiba-tiba menyeruak, menghadirkan sebersit senyum di bibirnya yang tipis. Ia berjalan mendekati meja dapur, mengusap permukaannya yang halus.

Matanya tertumbuk pada sebuah vas bunga berisi beberapa tangkai anggrek bulan yang tertata indah di sudut meja. Aroma lembut bunga itu memenuhi ruangan, memberikan sedikit ketenangan pada hatinya yang gundah.

Tiba-tiba, matanya tak sengaja menangkap tumpukan buku resep di salah satu rak yang ada disana.

Ia meraih salah satunya, membuka halamannya secara acak. Berbagai macam gambar makanan dan minuman yang lezat terpampang di sana. Tanpa sadar, ia mulai membolak-balik halaman buku itu, tenggelam dalam dunia kuliner yang dulu sangat ia cintai.

Kegiatan sederhana itu sedikit mengalihkan perhatiannya dari rasa canggung yang masih menyelimutinya. Ia mulai membayangkan berbagai macam masakan yang bisa ia coba di dapur baru ini.

Mungkin, dengan memasak, ia bisa mengalihkan rasa sakit yang dia rasakan karena pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya.

1
TRIDIAH SETIOWATI
bagusss
Uba Muhammad Al-varo
bagus 👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
Gisya......... kenapa kamu nggak mencaci maki Sharon dan papa penghianat supaya mereka kena syok mental
Tira Aneri
suuukaaa
puji hastuti
thor...harusnya jangan munculkan angga dulu,bikin Gendis "beracting"...bikin gendis menjadi wanita tangguh
Sapna Anah
sekuat kuatnya perempuan ga mungkin mengalakan kekuatan laki lski
Sapna Anah
sinting istri pergi dari rmh bukanya d cari Mala membawa lacurnya kerumh😭😭
Sapna Anah
Uda tau mau ketemu klien Mala nganu"
ichapurie
patut dibaca sama laki2 yg ingin selingkuh, biar dimaafin 🤭
pipi gemoy
seharusnya Arya juga kena karma, yang berbuat berdua jgn cuma Sharon yg sial👻🤔
pipi gemoy
👍🏼🙏🏼🌹
pipi gemoy
setres ini laki kepergok nya sdh 1 bulan lebih, katanya khilaf waktu ketahuan kenapa baru putus sekarang gebleknya 🤦🤦🤦🤦
pipi gemoy
si Arya ini anak buah bergerombol dekat ruangannya nga di suruh bubar🤔🤔🤔
plin plan bgt JD bos nga tegas sama anak buah
pipi gemoy
idih jijay si Arya ada niat ketemu lagi sama selingkuhan 👻😂
pipi gemoy
orang selingkuh akan preettttt pada waktunya 👻
pipi gemoy
begitu lah perselingkuhan terlena pada saat belum ketahuan 👻👻👻
setelah kepergok maka dimulailah ketidak tenangan, dan ujung ujungnya mengaku khilaf, coba nga ketahuan beh serasa diri pasangan selingkuh paling bahagia 👻👻👻👻👻👻
pipi gemoy
mampir Thor
Sari Nilam
siapa yang kasih tahu sharon ?
Sari Nilam
pelakor mmg hebat triknya ...dan lelakinya juga bodoh
RiJi08
panggilannya ayah ibu atau mama papa seh???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!