Pernikahan di depan mata batal begitu saja saat mempelai pria malah melarikan diri karena dia memutuskan untuk menikah dengan wanita lain. Hal itu membuat Deviana Dewi menaruh dendam pada mantan calon suaminya itu.
Deviana Dewi tidak menyangka bahwa laki-laki yang ia jadikan penebus dosa mantannya malah membuat dia jatuh hati. Syafiq Mahadewa dengan ikhlas menggantikan posisi saudaranya untuk menikah dengan Deviana. Dengan sabar ia menghadapi kelakuan calon mantan kakak iparnya yang sekarang menjadi istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komandan Naga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Dua
Masih pagi hari Deviana sudah bersiap-siap pergi ke rumah mertuanya untuk bertemu dengan Syafiq. Dia tidak akan melepaskan lelaki itu begitu saja sebelum ia merasa puas dengan dendamnya.
"Syafiq kemana sih?! Dari semalam nggak angkat telpon!"
Deviana begitu kesal kepada suaminya karena sangat susah untuk dihubungi. Begitu wanita itu keluar dari dalam kamar, ia berhadapan dengan adik lelakinya.
"Kakak mau kemana?"
"Mau ketemu Syafiq."
"Kakak udah baikan sama Abang?"
"Ini makanya Kakak mau ke rumah, Umi. Kakak mau temuin dia."
Agung menggeleng pelan sambil tersenyum simpul. "Menyesal karena udah bikin Abang hampir mati?"
"Enggak! Kakak nggak akan lepasin dia. Dendam Kakak masih belum puas."
"Astaga, Kakak ... Tega banget Kakak berpikiran seperti itu." Ujar Agung.
"Dia salah! Kakak seperti ini bukan kemauan Kakak. Kalau aja—"
"Kak ... Jangan sampai suatu saat Kakak bakalan menyesal. Abang begitu baik sama Kakak. Bahkan saat Kakak hampir membunuhnya pun, Abang tetap bersikap lembut."
"Itu karena ada kamu. Kemarin-kemarin kami cuma berdua dia terus menghina Kakak."
"Kakak benar-benar nggak punya hati. Kepala Abang berdarah, hidungnya juga. Kakak mau mempermalukan keluarga kita dengan cara melukai suami sendiri?"
"Ha! Maksud kamu apa? Hidung Syafiq berdarah?"
"Lihat ... Sekarang Kakak yang bersandiwara di depan Agung. Padahal Agung udah saksikan semuanya tadi malam."
Deviana mengabaikan ucapan saudaranya itu, kemudian ia melangkah ke arah luar. Segera mungkin wanita itu pergi dari sana menuju rumah mertuanya.
[] [] []
Ditempat lain seorang pria terus saja menyiapkan tisu di genggamnya. Kali ini sakitnya sudah tidak main-main lagi.
"Jadi keputusan mu gimana?"
"Kita akan pergi sambil menunggu mertuaku datang," jawab Syafiq.
"Kamu yakin mau bercerai?"
Syafiq terdiam dan kembali mengusap noda darah yang keluar dari dalam hidungnya.
"Dari tadi malam darahnya susah berhenti. Sepertinya itu efek dari pukulan di kepala kamu juga."
Lelaki itu menggeleng dengan perlahan. "Hidup ku memang buruk ya. Bahkan ketika aku sedang makan pun, aku nggak pernah merasakan ketenangan."
"Kamu yang salah! Kalau aja kamu ceritakan kondisi kamu sama Umi dan Ayah, mungkin kamu akan merasakan bahagia yang kamu inginkan. Bahkan Emir pun pasti nggak akan melakukan kesalahan untuk mu." Ungkap wanita itu. "Kamu diam dan nggak peduli sama kesehatan mu ... Kamu bercerita sama Ana sedangkan kamu tau dia nggak mencintai mu. Kamu berharap dia peduli 'kan, tapi Apa? Dia bahkan mau membunuh mu!"
"Aku pikir ... Setelah aku ceritakan tentang penyakit ku, dia akan mencintai ku. Nyatanya enggak, dia masih membenciku."
"Kamu cinta sama Ana?" tanya wanita itu.
Syafiq menganggukkan kepalanya. "Karena itu aku nggak mau mati di tangan istriku. Aku sayang sama dia."
"Secepat itu?"
Lelaki itu mengedikan bahunya, lagi dan lagi ia mengusap noda darah yang ada pada hidungnya.
"Aku nggak tau pastinya kapan. Tapi semenjak dia mengajak aku berhubungan, aku merasa punya ikatan batin sama dia."
Wanita itu pun mengulurkan tangannya untuk menggenggam telapak tangan Syafiq. "Aku akan selalu menemani kamu ... Kamu enggak ingat? Semenjak kuliah dulu aku selalu menemani kamu untuk check up."
"Ya ... Karena itu sampai sekarang aku mempercayai kamu untuk menjaga rahasia ini."
"Rahasia itu udah kamu bongkar di depan, Ana."
"Tapi dia enggak percaya." Lirih Syafiq. "Kalau saatnya tiba, dan aku udah nggak ada di dunia ini. Aku mau kamu perhatikan Ana dari kejauhan. Aku nggak mau terjadi sesuatu sama dia."
"Untukmu pasti akan aku lakukan."
Deg!
Lelaki itu pingsan secara tiba membuat teman mengobrolnya panik seketika.
[] [] []
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ..."
"Lho, menantu Umi datang. Syafiq di mana?" tanya Putri.
Deviana heran dengan pertanyaan ibu mertuanya, itu artinya sang suami tidak ada di sana. "Bukannya Syafiq di sini, Umi?"
"Enggak ..."
"Kenapa kamu nanyain Syafiq?" tanya seorang lelaki menghampiri Deviana di ruang tamu. "Apa yang udah kamu lakukan sama dia?"
"Umi, aku bertengkar sama Syafiq. Aku pikir tadi malam dia ke sini."
"Ya Tuhan ... Bertengkar? Gara-gara apa?"
"Pasti wanita itu macam-macam sama Syafiq."
"Emir diam!" Ucap Andro. "Sekarang ceritakan sama kami. Kenapa kalian bertengkar?"
"Aku minta maaf. Aku memang salah!" Ungkap wanita itu. "Aku ... Aku terbayang sama perlakuan Emir, tiba-tiba saat melihat Syafiq aku langsung mau membunuhnya. Maafin aku, Umi, Ayah."
"Kamu mau membunuh adikku?" Syemir hendak mendekat namun sang istri segera menahan lengannya.
"Jangan, Mas."
"Kenapa sampai seperti ini sayang?" tanya Putri yang mencoba menahan sedihnya. "Kalau pernikahan kalian nggak ada harapan, bilang sama Umi. Umi nggak akan paksa kamu."
"Enggak, Umi ... Aku nggak mau cerai sama Syafiq. Aku benar-benar merasa bersalah dengan kejadian tadi malam."
"Jangan percaya! Dia bohong, Umi. Dia cuma mau balas dendam karena itu dia nggak mau cerai."
"Kamu tenang dulu. Ayah akan cari Syafiq. Tapi janji sama kami kalau kamu memang ingin mempertahankan rumah tangga kalian."
"Iya, Ayah ... Aku nggak mau cerai. Aku mau bersama Syafiq selamanya." Ucap Deviana berbohong, bahkan air mata yang kini ia keluarkan semuanya palsu.
"Kamu ikut ya. Kita cari Syafiq." ajak Andro pada istrinya.
"Mau cari kemana, Mas?" tanya Putri kepada suaminya.
"Ke rumah temen-temennya. Kita cari diam-diam."
"Aku nggak bisa ikut, Ayah. Aku mau nunggu Syafiq pulang."
"Iya, enggak apa-apa. Tapi kamu harus kabarin kami ya."
"Iya, Ayah." Balas Deviana.
Putri dan Andro segera berangkat, mereka pun juga mengkhawatirkan Syafiq. Karena lelaki itu sering melakukan hal tersebut, menghilangkan diri ketika sedang ada masalah.
Syemir mengernyitkan keningnya saat Deviana menghapus air mata sambil tersenyum.
"Gimana, Emir? Akting ku bagus?"
"Ana," lirih Luna.
Dia tidak percaya bahwa ucapan suaminya hari yang lalu benar-benar ia saksikan sendiri. Hanya beberapa detik saja Deviana bisa berubah sikap.
"Kamu lihat 'kan apa yang aku bilang kemarin ... Ini dia, Deviana Dewi. Perempuan murahan yang hampir aku nikahi."
Deviana mulai emosi saat Syemir berkata seperti itu lagi. Ketika hendak menampar wajah mantan calon suaminya itu, Luna segera menahannya.
"Jangan sentuh suami ku! Kemaren mungkin aku membela kamu, tapi melihat sikap kamu sekarang aku jadi nggak heran kenapa Emir bisa membatalkan pernikahan kalian."
"Mentang-mentang udah hamil sekarang berani? Merasa puas ya karena udah mengandung anak Emir?"
"Iya lah ... Dia 'kan suamiku, udah jelas aku puas. Sedangkan kamu?" Luna menaikkan sebelah alis matanya. "Udah nikah, udah berhubungan tapi nggak hamil juga. Mandul ya?"
"Jaga ucapan kamu!"
"Oh, aku selalu jaga ucapan ku. Tapi sikap kamu yang seperti ini membuat aku harus angkat bicara."
"Kehamilan mu itu nggak akan lama. Ingat itu!" Ucap Deviana memperingati Luna dan Syafiq.
"Dan kamu nggak akan pernah hamil karena udah menyiksa suami sendiri." Balas wanita hamil itu.
"Syafiq bukan saumi ku!" Deviana pun pergi dari sana.