NovelToon NovelToon
Romance After Marriage

Romance After Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:246.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: icha azzahra

Sinopsis :
Mulanya Delvin ingin melamar Ines dan berencana menikah dengan gadis itu. Ines Ratulia adalah gadis yang sudah lama dipacari Delvin. 8 tahun bukan lah waktu yang singkat untuk memadu kasih. Serius, Dalvin pun ingin kisah cintanya dengan Ines bisa berakhir bahagia.

Nahas, apa yang dia harapkan tak terlaksana. Nyatanya Ines mendadak meminta putus dari Dalvin dan selang seminggu dari peristiwa itu terdengar kabar kalau gadis itu akan menikah dengan pria lain yang katanya jauh lebih tajir dari Dalvin.

Di sisi lain Kyra sedang panas dingin akibat melihat orang yang diam-diam dia taksir semenjak SMP, si cinta pertamanya, Bang Ezra sedang terlibat cinlok dengan lawan main di FTV-nya. Huh!

Delvin, Kyra dan Ezra adalah tetangga komplek. Mereka tinggal bersebelahan ada pula yang tinggal di depan rumah persis. Delvin yang emang tau perasaan hati Kyra pun akhirnya punya siasat. Dia masih kesal sama mantannya itu. Gimana pun dia nggak akan mau kalah dari mantannya. Akhirnya dia mencetuskan hal gila!

Iya, gila. Karena tiba-tiba si Delvin ngajak Kyra buat nikah!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon icha azzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.6 : Kesungguhan

Delvin -

Seminggu ini Kyra menghindari aku.

Itu satu keyakinan. Keyakinan atas dia yang belum juga bisa kulihat batang hidungnya semingguan ini. Ah, nggak, bahkan lebih dari itu! Sampai hari ini, sudah masuk hari kesepuluh semenjak hari itu. Hari terakhir kami bertatap muka, sepulangnya kami dari Lembang. Betul, hari di mana aku menegaskan kalimatku itu lagi padanya!

ARGH!

Aku mendengus keras-keras. Bukan karena menyesali perkataanku sendiri, tapi lebih untuk menyesali karena aku nggak bisa mengawasi gerak-geriknya selama sepuluh hari ini tersebab dia yang nggak terjangkau dari pandangan mataku. Mengapa? Ya, jelas, aku ingin tahu sebagaimana dahsyatkah reaksinya terhadap kalimatku yang nggak main-main itu? Apa dia malu-malu seperti halnya malam itu, atau malah... Ah, yang jelas, aku amat sangat penasaran tentang apa jawabannya setelah mendengarku berbicara seserius itu!

Aku menggigit bibir, menatap lurus-lurus jendela yang sedang terbuka lebar di depan mataku. Kini, ingatanku kembali terpatri pada hari itu. Tepat setelah aku menegaskan kalimatku padanya. Membuatnya hanya terdiam membisu dengan tatapan bimbang kala menatapku yang berada tepat di depannya.

Jadi, hari itu...

Dia menganggapku bercanda, persis seperti yang kuperkirakan sejak awal. Bahkan setelah nadaku yang sebisa mungkin kubuat intens tanpa senyum alih-alih cengiran cengengesan seperti diriku yang biasanya, dan dengan tatapan yang sebegitu dalamnya dia masih meragukan keaslian ucapanku.

"Gue nggak bercanda, Kyra. Yang semalam itu, gue serius tanya sama lo... lo mau nikah sama gue? Gue siap berjuang bareng-bareng buat saling mencintai seperti harapan lo."

Dengan segenap keberanian yang datang entah dari mana itu, akhirnya aku mengatakannya lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih bersungguh-sungguh daripada yang sebelumnya. Bahkan, itu pun sukses membuatnya terdiam dan hanya mampu melongo menatapku.

Dari reaksinya yang dia perlihatkan padaku saat ini, aku yakin, Kira-kira pasti paham kalau apa yang kukatakan itu bukanlah sekadar candaan semata. Bukti nyata yang amat jelas telah kuberikan, kalau aku nggak pernah main-main dengan ucapanku seperti yang selama ini dia pikir.

Dia diam beberapa lama hanya untuk menatapku tepat pada manik mata. Manik mata hitam legamnya menyorotku dengan beragam kecurigaan. Tapi yang sengaja aku tunjukkan padanya, tentu akan membuatnya semakin yakin kalau apa yang kukatakan tadi adalah kesungguhan!

Hei, aku memang nggak pernah main-main dengan ucapanku yang seperti itu ya!

"Jadi..." baru saja aku hendak bicara. Menagih jawabannya atau sekadar reaksi kecil selayaknya harapanku yang sudah terreka di otakku ini, namun dia malah berreaksi sebaliknya. Membuatku berteriak kesal sendiri dalam hati.

"Gue mau cuci tangan dulu. Tangan gue panas nih, bekas kena sambel!" Serunya yang kemudian dengan sekonyong-konyongnya malah pergi meninggalkanku duduk sendirian selayaknya orang bodoh lengkap dengan tampang bego yang mendominasi.

Sungguh, saat ini juga sebetulnya aku ingin memaki dirinya hanya aja aku tahan-tahan biar nggak keluar betulan dari mulutku ini. Demi kesungguhan yang baru kuucap beberapa saat lalu, aku akan menahan sabarku sebagaimana sikapku seharusnya. Bertekad, bahwa mulai sekarang aku akan belajar menjadi manis untuknya. Selayaknya pekataanku yang mengajaknya berjuang bersama demi membangun perasaan itu. Perasaan yang selama ini hanya dia agungkan untuk sang cinta pertama.

Lalu, beberapa saat kemudian Kyra pun kembali duduk di depan mukaku. Meminum sisa es teh manis dari pinggiran gelas yang mana telah dia buang sedotannya, menandaskannya dengan amat cepat hingga tetes terakhir. Sementara aku masih dengan setia menunggunya melanjutkan pembicaraan kami. Karena sebagian akal sehatku mengatakan bahwa mungkin saja dia gugup dengan ucapan tadi dan setelah itu dia pasti akan menjawab ajakanku itu dengan jelas.

Namun, apa yang dilakukannya kemudian membuatku senyum sabarku tersurut habis. Rasanya aku kembali ingin membuang rasa sabar di dunia ini untuk bisa memakinya!

Karena dia, dengan seenak jidatnya malah mencangklongkan kembali tali tasnya di kedua pundak, lalu berdiri dari duduknya seolah sedang bersiap-siap beranjak hendak pergi meninggalkan tempat ini segera. Melupakan apa yang telah kukatakan padanya begitu saja.

Aku masih mencoba bersabar. Mendiamkannya, pura-pura nggak peka dengan gelagat yang dia tunjukkan.

Merapihkan anak rambutnya, dia yang sedang mengemut es batu sisa dari gelasnya malah menatapku datar. Lalu, mengerut kening menatapku.

"Ngapain malah diam aja di situ? Bayar gih makanannya. Gue tunggu di parkiran, oke!" Itu deklarasi. Aku paham betul nada yang dia ucapkan itu. Malah jadi makin jelas setelah dia dengan buru-burunya pergi meninggalkanku tanpa ragu.

[...]

Kalau ingat hal itu. Sungguh ya, si Kira-kira itu emang menyebalkan abis!

Setelah mendengar semua yang kuucap, dia malah pergi begitu aja tanpa ada jawaban. Tanpa pertimbangan. Ah, jangankan pertimbangan, cewek itu malah pergi seolah-olah nggak pernah mendengar apapun. Sialan.

Mataku menyipit tajam dengan tangan kanan yang terus melempar dan menangkap bola tenis di genggaman. Fokusku hanya pada satu hal. Pada pagar pembatas balkon kamarku yang kelihatan sepi senyap.

"Sengaja... dia pasti sengaja," begitulah keyakinanku setelah mengingat reaksinya hari itu. Dan keyakinan itu kian bertambah sejak kusadari bahwa dia memang telah menghindariku setelahnya.

Bahkan, kalau diingat-ingat lagi. Saat kami sampai rumah dengan selamat setelah perjalanan panjang nan membisu dari Lembang ke Jakarta, dia pun bertingkah seolah biasa aja di depanku. Wajahnya pun biasa aja. Nggak ada rona kegugupan seperti malam itu. Kenapa? Aku terus bertanya-tanya. Pertanyaan yang nggak kunjung kutemukan jawabannya!

Melirik jam digital di atas nakas sekilas. Pukul 20.20 WIB, masih belum terlambat untukku memulai perang sekarang. Aku berdiri dari dudukku, beranjak dengan bola tenis yang masih di genggaman tangan. Langkahku lurus menuju atas lantai balkon itu berada. Berhenti, menatap pintu balkon sebelah rumah yang masih juga tertutup rapat.

Dengan lampu yang menyala terang seperti itu, pemiliknya pasti ada di dalam. Benar, dia hanya nggak mau menemuiku makanya dia bersembunyi begitu!

Tatapan sengitku kutujukan pada pintu balkon tertutupnya. Emosi hatiku mendadak berteriak marah. Harus ya dia pura-pura nggak dengar begitu? Padahal aku aja susah payah buat serius mengatakannya!

"Bisa-bisanya bikin gue jadi kelihatan bego selama seminggu!"

"TAK!" Bola tenis itu tepat sasaran mengenai kaca pintu balkonnya. Lalu terpantul-pantul membuat gerakan cepat lalu makin melambat seiring waktu berlalu.

Aku mendengus keras saat dirasanya gertakkanku masih belum cukup untuk bisa mengeluarkannya paksa dari sarang. Dia masih diam di tempatnya. Entah dengar atau nggak, tapi tekadku udah bulat untuk bisa membuatnya mengeluarkan batang hitungnya di hadapanku sekarang juga!

Aku tertawa sinis. "Lihat aja Kyra, siapa yang bakal kalah di sini!"

Lalu berbalik pergi tuk mengambil sesuatu, sebelum akhirnya kembali dan menjalankan sebuah siasat.

Setelah ini aku pasti menang atasnya. Aku yakin!

___________________

Kasih aku kesan-kesan kalian selama baca cerita ini dong?!

Dan, apa harapan kalian ke depannya buat aku.

(Dijawab yaa! Rayu aku dengan kata kalian biar aku kasih CRAZY UP segera!! ahahahhaha)

1
ayoe
/Brokenheart//Brokenheart/ tak bs berkata²
Nersi Ika nilasari
gas ken 💃
Nersi Ika nilasari
pernikahan kontrak ya
Nersi Ika nilasari
tinggal bilang yes I do gitu aja kira kira😁
Sugermi Yanti
seru bgt njirrr
Ocaa Windarma
aku masih menantimu kak icha😍
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
ga up lg ini tuh tor
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
setahun yang lalu baru up lg tor
Dwi Wahyu Indriati
kok nggantung sih....lanjutnya gimana?
I C A
kaka pindah lapak ya, gak dilanjutin lagi ya ceritanya
I C A
masih nungguin lanjutannya. lama banget gak pernah muncul lagi
Syakila-melly
lanjut Thor...
Neng Bintang
kaaaa ichaaaa ini mana yaaa lanjutan nyaaa,,,lagi seru 2 nya ini...Moga KK sehat yaaaa
Ai Farida
kaaak udah lama banget ini GK update, up lagi dong kaaak 🙏
semoga sehat selalu ya kak
Meliana Soepomo
Kapan Up lagi Thor....🤗
mumtaza
kk icha... mana lanjutannya
mumtaza
kok q ikut nyes ya Ines sedih
Meliana Soepomo
Sekarang udah paham Thor, kenapa Delvin sampai semarah itu ....😄👍
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
intinya klo dengan pasangan itu segala sesuatu hrs dibicarakan, dengan melihat sikon nya.
Catoeer AeLaach
lagi..lagi...lagi...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!