Sequel dari Pesona Setelah Menjadi Janda
(Mohon untuk membaca novel sebelum nya agar kalian tidak bingung)
***
Arra, gadis berusia delapan belas tahun yang baru saja melangkah ke dunia perkuliahan, tengah menghadapi berbagai perubahan dalam hidupnya. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah—keberadaan Leo Rexander.
Leo mengaku sebagai pacarnya. Arra tidak pernah mengiyakan. Namun Leo tetap yakin, seolah hubungan mereka telah terpatri sejak lama. Sikapnya yang tenang namun posesif, membuat banyak orang meragukan ucapannya. Dan keraguan itulah yang mendorong sejumlah pria mencoba merebut tempat yang tak pernah benar-benar kosong di sisi Arra.
Meski seringkali berbenturan, Arra dan Leo justru saling melengkapi—dua kutub berbeda yang terus tertarik satu sama lain, meski tak pernah tahu kapan harus berhenti.
Ini bukan sekadar kisah cinta remaja, tapi tentang dua hati yang keras kepala, saling mempertahankan tanpa pernah benar-benar saling mengucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saras Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Yang Tak Pernah Jauh
Arra baru keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah, meneteskan aroma shampoo bunga yang lembut. Handuk kecil tersampir di bahunya. Ia melirik ponsel di atas meja yang tiba-tiba berdering pelan.
Leo calling...
Gadis itu tersenyum tipis. Hatinya langsung terasa hangat.
Ia mengambil ponsel, lalu menjawab sambil duduk di tepi tempat tidur.
“Leo...”
Wajah laki-laki itu muncul di layar. Rambut hitamnya agak berantakan, tapi tetap tampak rapi dalam kesan dinginnya. Di belakangnya, tampak jendela besar dengan cahaya malam yang asing—tanda bahwa mereka berada di dua dunia yang berbeda waktu.
Leo menatapnya lama, lalu membuka suara.
“Lo abis mandi?”
Arra mengangguk kecil. “Iya... Baru selesai. Kamu lagi di mana?”
“Di ruang kerja. Lagi ngurus laporan buat besok pagi.” Ia menatap Arra lebih lama. “Lo capek?”
Arra tersenyum. “Lumayan. Tapi senang. Hari ini seru banget.”
Leo diam sebentar. “Cerita.”
Arra langsung bercerita. Tentang mall, Timezone, bioskop, bahkan tentang Brandon yang datang dan akhirnya pergi. Ia tidak menutupi apapun—seperti air yang akhirnya menemukan jalannya untuk mengalir.
Leo tidak banyak menyela. Hanya mendengarkan, dengan ekspresi datar tapi sorot mata yang lembut.
Sampai akhirnya, Arra terdiam. Ia menunduk, jari-jarinya bermain di ujung handuk.
“Leo... Aku baru sadar. Aku paling nyaman cerita ke kamu. Bahkan dibandingkan ke mommy.”
Leo menghela napas pelan. “Karena lo tahu gue bakal ngedengerin apapun yang lo ceritain.”
Arra tersenyum kecil. “Mungkin... Kamu selalu ada walaupun kamu lagi sibuk.”
Leo menatapnya serius.
“Gue nggak tahan, Ra.”
Arra mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Gue nggak tahan jauh dari lo terus. Gue tahanin karena ini perintah Daddy, tapi setiap malem... gue ngerasa makin kosong.”
Arra terdiam. Dadanya menghangat. Bibirnya terbuka, tapi tak ada kata yang keluar.
Leo melanjutkan, masih dengan suara rendahnya yang berat.
“Gue cuma mau lo tahu... sejauh apa pun, lo satu-satunya orang yang nggak pernah keluar dari kepala gue.”
Arra mengangguk pelan, matanya basah tanpa sadar.
Leo menatapnya lama, lalu berkata, “Udah malam. Lo tidur.”
“Kamu juga jaga diri baik-baik ya.”
Leo mengangguk dan tersenyum tipis, “Mimpiin gue.”
Arra tersenyum.
"Yaudah, lo tidur. Besok gue telpon lagi."
Setelahnya sambungan terputus. Tapi Arra masih memeluk ponselnya erat, seperti ada sosok Leo yang tetap tinggal di sana—di ruang kecil hatinya yang selalu disediakan untuk satu nama itu.
***
Setelah panggilan itu terputus, Leo masih menatap layar ponselnya yang kini gelap. Wajah Arra masih tergambar jelas di benaknya, seperti sisa embun yang menempel di kaca, enggan hilang meski waktu terus bergerak.
Ia mendesah pelan, menyandarkan punggung di sandaran kursi kulit berwarna hitam. Di depannya, tumpukan berkas belum tersentuh. Laptop masih menyala, menampilkan grafik dan angka yang harus dianalisis. Tapi tak satu pun menarik perhatiannya saat ini.
Leo memejamkan mata sebentar, mencoba meredam rasa yang bergemuruh dalam dada. Bukan karena rindu saja. Tapi karena ia tahu... di tempat asalnya, terlalu banyak hal yang bisa mengusik Arra.
Dan ia tidak di sana.
Suara ketukan di pintu membuatnya membuka mata.
“Masuk,” ucapnya singkat.
Seorang pria berjas hitam masuk. “Tuan muda, ini laporan dari sektor selatan. Dan pertemuan dengan delegasi Klan Daewon dijadwalkan ulang.”
Leo mengangguk tanpa menoleh. “Letakkan di meja. Setelah ini jangan menggangguku lagi.”
“Baik.”
Saat suara langkah menghilang, Leo kembali membuka ponsel. Ia menatap wallpaper-nya—foto candid Arra yang sedang membaca buku di taman belakang rumahnya.
Lalu ia bicara, meski hanya pada dirinya sendiri.
“Gue harus beresin semua ini cepat… Biar bisa pulang. Biar bisa jaga lo sendiri, Ra.”
Tangannya mengepal pelan. Sorot matanya dingin kembali. Namun ada bara yang menyala di baliknya—bara tekad untuk melindungi satu-satunya tempat pulangnya.
Panggilan masuk masuk ke ponselnya. Tanpa banyak ekspresi, Leo mengangkatnya.
"Halo, Daddy?”
Suara Vincent terdengar tegas di seberang. “Gudang di Distrik 7 terbakar. CCTV mati total. Tim lapangan mencurigai sabotase.”
Leo berdiri, mengambil jas hitam yang tergantung di samping lemari. “Aku akan segera mengurusnya.”
“Mereka dari Saehan juga sudah muncul. Mengaku hanya ‘berkunjung’, tapi waktu mereka terlalu pas.”
Leo menyipitkan mata. “Aku akan urus mereka juga.”
“Leo, dengar. Hati-hati. Jangan terbawa emosi.”
Leo menarik napas pelan. “Iya. Aku mengerti.”
Begitu telepon ditutup, ketukan pelan terdengar dari pintu.
“Masuk,” ucapnya singkat.
Seorang penjaga masuk, sedikit membungkuk. “Tuan Leo, utusan keluarga Saehan sudah tiba. Menunggu di ruang utama.”
Leo melirik jam tangannya. “Suruh mereka menunggu. Aku segera ke sana.”
Ruang pertemuan itu senyap saat Leo masuk. Lantai marmer mengilap memantulkan langkah kakinya yang tenang. Di ujung ruangan, dua pria berpakaian hitam formal berdiri begitu ia tiba. Salah satunya menyambut dengan senyum sopan, tapi ada hawa licik yang tak bisa disembunyikan dari ekspresinya.
“Putra dari tuan Vinx,” sapa pria itu. “Senang akhirnya bisa bertemu langsung.”
Leo membalas dengan anggukan kecil. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tetap tajam. Ia duduk di kursi utama, menyandarkan punggung dan mengamati mereka dalam diam sejenak.
“Apa maksud kedatangan kalian?” tanyanya, datar. “Langsung ke intinya saja.”
Pria itu melirik singkat ke rekan di sampingnya, lalu membuka suara. “Gudang terbakar. Kami hanya ingin memastikan bahwa tidak ada pihak yang menuduh klan kami terlibat. Kami lewat, hanya untuk menyampaikan itikad baik.”
Leo menahan senyum dingin. “Jika benar-benar datang dengan itikad baik, kalian tidak akan menyelipkan ancaman dalam ucapan kalian.”
Keduanya terdiam, lalu pria yang berbicara sebelumnya mencoba tersenyum kembali. “Kami hanya ingin menjaga perdamaian, Leo.”
Leo berdiri perlahan. “Aku beri waktu dua hari untuk menjelaskan semua ini pada Daddy. Jika tidak, kami akan ambil tindakan. Dan percayalah, kami tidak akan mengulang peringatan dua kali.”
Suasana menegang sejenak sebelum akhirnya kedua pria itu berdiri.
“Sampaikan salam hormat kami pada tuan Vinx,” ucap mereka sebelum meninggalkan ruangan.
***
Leo membuka pintu kamarnya perlahan, memasuki ruangan bernuansa abu gelap dengan sentuhan elegan modern. Ponselnya masih digenggam, tapi matanya sudah kembali menunjukkan ketegasan.
Dengan suara tenang tapi tegas, ia menekan tombol interkom di sisi meja.
"Antonio, datang ke kamarku. Aku butuh laporan lengkap malam ini."
Tak sampai dua menit, suara ketukan terdengar di pintu dalam.
"Masuk."
Antonio, pria muda bersetelan rapi dengan ekspresi selalu serius, melangkah masuk dan membungkuk kecil. “Anda memanggil saya, Tuan Leo?”
Leo menoleh. “Kau sudah lihat kondisi gudang setelah insiden?”
“Sudah. Api berasal dari area belakang, dekat jalur suplai yang biasa kita gunakan untuk transaksi luar negeri.”
Leo mengernyit. “Ada yang aneh?”
“Ada. CCTV di titik itu mati dua jam sebelum kejadian. Dan seseorang menyusup masuk, tapi hanya terekam dari sudut jauh. Belum teridentifikasi.”
Leo menyandarkan diri di kursi kerjanya, jemarinya mengetuk meja perlahan. “Pastikan tim investigasi tidak kecolongan. Aku tidak mau kejadian ini dikaitkan ke klan lain sampai kita punya bukti pasti.”
Antonio mengangguk. “Akan saya urus. Termasuk kontak pihak keamanan pelabuhan.”
“Pergilah.”
Begitu Antonio keluar, Leo menoleh ke layar ponselnya yang mulai menyala kembali dan menampilkan wajah manis Arra.
"Tunggu sebentar lagi. Gue pasti bakalan cepat menyelesaikan masalah disini."