NovelToon NovelToon
FOR NOW & FOREVER

FOR NOW & FOREVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:67.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Yuniar Frida

Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.

Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.

Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.

Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.

Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nggak Guna!

Indra kesal. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Sewaktu-sewaktu dapat meledak.

Bagaimana tidak?

Makan siang dengan sang istri terpaksa batal karena kabar dari Ferel yang membuatnya terdesak. Tapi sedikit rasa peduli tentu saja ada dalam dirinya, namun berbeda dengan dulu. Tidak ada lagi rasa melebihi dari jalinan pertemanan.

Meski pernah teristimewakan pada masanya, kini tidak ada lagi perbedaan. Dari teman ke pacar dan kembali ke teman. Bagi Indra, kedudukan Jessica dengan ketiga teman lelakinya yang lain itu sama.

Ferel sudah menyengir kuda di tempatnya. Memang ia berlebihan, bahkan melebih-lebihkan.

Ferel mungkin lupa kalau Indra sudah bukan lajang lagi sepertinya.

“Gue udah janji makan siang sama Tiwi hari ini, terpaksa gue batalin.” Geram Indra membuat wajah Ferel pias.

Ferel terdiam sejenak. Acara cengengesan dan nyengirnya sudah hilang.

“Gu-e nggak tau, lo kenapa nggak bilang?” Tanya Ferel.

“Ck, nggak bilang kata lo? HP lo mati, nggak bisa dihubungi.” Indra berdecih.

Ferel meneguk salivanya, terbukti dari jakunnya yang naik turun.

“Jadi, Tiwi marah sama lo?”

Indra menoleh, menatap sengit lelaki di sampingnya. “Just read. Menurut lo gimana?”

Ferel tahu lelaki disampingnya sedang menahan emosi. Kalau begini ia bisa-bisa menjadi pemicu masalah dihubungan Indra dan Tiwi.

Ferel memilih tidak menjawab. Mengalihkan pandangannya ke ruang rawat Jessica di depannya.

Jessica baik-baik saja. Sempat tidak sadarkan diri. Tapi tidak separah yang dipaparkan Ferel dipertukaran pesan yang tadi.

Jessica tidak ambruk sama sekali. Wanita itu pingsan dengan cara yang paling bagus di dunia. Mungkin bakatnya yang sebagai model sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.

Jessica sudah sadar, kata dokter wanita itu hanya kelelahan, tidak ada yang parah dalam dirinya.

Indra dan Ferel sedang berdiri di lobby rumah sakit, menunggu Jessica yang sedang membayar administrasi.

Indra melirik jam di ponselnya, sudah pukul dua belas lewat ternyata. Memilih memainkan ponsel untuk menghilangkan kegabutan, sampai tiba di room chat antara dirinya dan sang istri. Masih pesan terakhirnya yang hanya terbaca.

Dengan gerakan cepat, ia mengetikkan sesuatu, mengirimnya ke Tiwi, berharap masih sempat untuk makan siang bersama. Namun miris, pesannya hanya mendapatkan centang satu.

•Dimana? Udah makan?

______

“Lama banget ya?” Indra dan Ferel kompak menoleh ke asal suara.

“Lumayan, Jess.” Jawab Ferel.

Jessica meringis. “Sorry ya, antrian soalnya.” Ujar Jessica yang hanya mendapat deheman dari Ferel.

“Makan dulu yuk, nyari makan, mau? Aku traktir kalian deh, pasti pada belum makan siang, kan?” Ujar Jessica kembali.

Ferel melirik Indra yang seperti tidak minat sekali. Lantas ia menyikut pelan lengan Indra membuatnya menoleh.

“Apa?” Tanya Indra datar kepada Ferel.

“Mau makan siang bareng?” Ujar Ferel pada Indra.

“Oh, boleh.” Tidak ingin berlama-lama dan dirinya pun sudah lapar, sebaiknya sekalian bersama.

“Kita makannya di restoran yang biasa kita ngumpul aja, Rel.” Saran Jessica.

Ferel mengangguk menyetujui. Lain dengan Indra sudah mengernyit tidak tahu.

“Restoran mana?” Tanya Indra.

“Ada itu di Jalan Perjuangan,” ujar Ferel.

“Ok, lo berdua duluan aja, gue di belakang ngekorin.”

Baru Jessica hendak mengajukan diri untuk semobil, Indra sudah melangkah pergi ke mobilnya.

Ferel menyadari hal itu. “Kenapa? Lo mau bareng Indra?”

Jessica nyengir. “Hehe, tau aja kamu, Rel.”

Ferel mengembuskan napas. Sepertinya ia memang sudah salah menyuruh Indra untuk datang kesini. Bagi Indra memang semuanya sudah mustahil, Ferel yakin, meski Indra belum menikah sekalipun, menjalin kembali sudah sangat tidak mungkin. Tapi Ferel tidak tahu Jessica seperti apa, dilihat dari sikap Jessica yang masih seolah menganggap dirinya istimewa, Ferel yakin wanita di hadapannya ini masih berharap.

Ferel berdehem. “Lo nggak lupa kan Indra sudah menikah?”

Wajah Jessica berubah datar. Wanita blasteran itu menjawab singkat. “Iya.”

Ferel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum berujar. Berpikir sejenak agar kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak menyakiti temannya itu. “Mulai dari sini lo mesti sadar, teman ya teman tidak ada yang boleh melebihi itu apalagi salah satunya sudah menikah. Andai nanti perbuatan lo ada yang kelewatan, istrinya Indra akan sakit hati. Kalian ini sama-sama perempuan, pasti lo ngerti akan hal itu.” Ujar Ferel setelahnya melangkah. Namun gumaman Jessica membuatnya berhenti mendadak.

“Tapi hati aku sakit, Rel.” Gumam Jessica menunduk.

Ferel berbalik, menampilkan seringaian ejekan. “Heh, harapan-harapan lo sekarang udah nggak guna, Jess. Sakit hati lo tercipta karna ulah lo sendiri, berharap sama orang yang mustahil, sama orang yang nggak mungkin lagi. Nggak guna gue bilangin.”

“Menyesal itu akan selalu datang belakangan, Jess, lo sendiri yang mutusin Indra, gue ingatin kalau lo lupa. Dan lo sekarang sakit hati? Udahi semuanya, Jess. Indra mencintai Tiwi sekarang, dan lo nggak pernah ada lagi di hatinya. Gue bisa lihat, gue bisa bandingin kalau perasaan Indra ke lo dulu nggak bisa menyamai perasaanya ke Tiwi sekarang. Antara pacar dan istri ya memang beda, posisinya aja udah beda. Apalagi lo hanya sekedar mantan.” Ujar Ferel, kali ini ia benar-benar melangkah ke mobilnya. Jessica menyusul di belakang dengan langkah lunglai.

***

Pria Mapan (4)

Anda, Ferel, Resa, Steffen

Steffen: Gaes, mau ngomong penting nih.

Resa: Apaan?

Ferel: Soal cewek nih pasti.

Steffen: Nih ya gue ada rekan kerja kan, cewek nih. Entah kenapa gue punya feeling dia jodoh gue.

Resa: Bisa gitu ya? Padahal gue pacaran sama doi hampir setahun, baru ada feeling jodoh pas mau ngelamar dia.

Ferel: @Steffen, btw, hubungan kalian emang udah sejauh mana?

Indra: Gue nggak punya feeling apapun sama bini, tau-taunya nikah.

Steffen: @Ferel, belum jauh banget. Dia orangnya kayak tertutup gitu, susah masuknya.

Resa: @Steffen, lo tuh playboy ya, ganti cewek sana sini, mana mainnya ke kelab malam mulu, mungkin aja aura kebang*satan lo menguar.

Indra: Siapa orangnya @Steffen?

Ferel: Pemilihan kata lo ambigu banget @Steffen.

Steffen: Iya kali ya @Resa. Mana kita beda agama lagi. Dia Islam gue Kristen.

Steffen: Segala yang bersangkutan dengan si calon pacar diblur dulu. Pas gue ultah minggu depan, baru gue tunjukin. @Indra lo harus datang sama bini lo, gue penasaran. @Resa lo ajak juga Yura. @Ferel lo bawa doi lo juga, eh jangan-jangan belum taken lagi?

Resa: @Ferel wkwkwk

Ferel: Kamvrettt !!

Indra: Share lokasiny aja, gue usahain datang bareng istri.

Resa: Lo ngundang Jessica juga nggak @Steffen?

Ferel: Nggak usah undang si Jess.

Steffen: Why @Ferel?

_______

Indra mematikan ponselnya, tidak lagi berminat membalas jika wanita itu jadi pembahasan.

Rasanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah, bertemu istri. Lelahnya, penatnya, entah hilang kemana jika wanita cantik yang ia cintai itu berdiri di depannya. Belum lagi sentuhan-sentuhan yang Tiwi berikan mampu membuatnya terlupa akan segala hal.

Ia tersenyum lebar melihat jam sudah pukul lima sore. Mematikan laptop dan merapikan kertas-kertas di atas meja. Sedikit peregangan ia lakukan karena otot-ototnya terasa kaku, duduk berjam-jam.

Dengan langkah lebar, ia berjalan menuju parkiran khusus jabatan tertinggi. Memasuki mobil dan memacunya ke jalanan.

Indra berdecak dengan kondisinya sekarang. Macet membuat mobilnya bergerak sedikit-sedikit. Menghabiskan waktu satu jam hingga ia benar-benar keluar dari kemacetan dan memilih jalan-jalan tikus.

Di ujung lorong sebelum berbelok, ada sebuah toko bunga kecil. Sebuah ide langsung muncul di otak Indra. Memberi kejutan pada sang istri, mengapa tidak? Ia menepikan mobilnya dan masuk ke toko tersebut.

Beberapa jenis bunga terlihat segar di dalam pot. Pandangan Indra tertuju ke segala arah. Kepalanya mendadak pusing, ia sama sekali tidak tahu bunga kesukaan Tiwi.

“Selamat sore.” Indra mendekati salah satu pekerja di toko bunga yang sedang merapikan bucket-bucket bunga yang sudah terangkai indah.

“Selamat sore Pak, cari bunga apa?” Tanya pekerja toko tersebut dengan ceria.

Indra meniti semua bentuk bucket dan warna bunganya. Matanya tertuju pada bucket bunga mawar pink. Sebuah senyum muncul di bibirnya.

“Saya mau yang itu,” unjuk Indra pada bucket bunga mawar itu.

Pekerja toko tersebut tersenyum dengan pilihan calon pembelinya. “Bapak sedang jatuh cinta, ya? Mau dikasih ke pacarnya pasti kan, Pak?”

Indra menggeleng dengan muka datarnya. “Bukan pacar, tapi istri.”

Senyum si pekerja toko semakin lebar. “Baik. Bapak mau dituliskan kata romantis apa pada kertasnya?”

Indra kembali menggeleng. “Tidak perlu.”

Si pekerja toko mengangguk. Kemudian mengambil bucket bunga yang Indra inginkan. Saat si pekerja toko hendak membungkus bucket tersebut, Indra lagi-lagi mengintrupsi, mengatakan tidak perlu dan langsung mengeluarkan uang untuk membayar. Setelahnya langsung pergi dan membuat si pekerja toko geleng-geleng kepala.

***

Indra memarkirkan mobil di garasi. Beberapa mobil sudah terjejer rapi. Mobil yang selalu dipakai Vina sudah ada, mobil Rifaldi pun sudah terparkir padahal tadi pagi Rifaldi belum pulang dari Bandung, artinya suami Yuna itu kembali siang tadi atau mungkin sore ini. Kurang mobil Aldo dan mobil yang Tiwi kendarai untuk berangkat ke kantor tadi pagi.

Saat hendak membuka pintu mobil. Suara ponselnya menghentikan kegiatannya. Kontak Istri muncul di layar kuncinya. Dengan langkah cepat, ia membuka pesan tersebut. Namun, sedetik kemudian, ia memandang miris pada bucket bunga di tangan kirinya.

Istri

•Aku lembur, pulangnya lambat sampai rumah jam 9, itu kalau nggak macet.

•Makan duluan aja ya sayang.

•Aku makannya di kantor.

Anda

•Lemburnya sama banyak orang kan? Ada cewek kan? Kalau nggak, aku telpon Pak Satya suruh kamu pulang.

•Ok. Dijemput nggak nih?

Istri

•Ada kok, banyak ini.

•Nggak usah, aku kan bawa mobil.

•Kamu u**dah di rumah?

Anda

•Baru nyampe, semangat lemburnya sayang.

_____

tbc...

1
nanaarmd🌻
kok gak ada ya?
Nanay Dachliawati
ko saya cari ninayaa ga ada
Nanay Dachliawati
ko blm up
Anik Rohman
kapan up lagi kak
Zhulayykha Anniza
lnjuut...
Rere~
seneng deh kakak otor kalok up cerita ni
Fitriyah Azsahrah
buat dong kisah tiffany dan ferrel...atau tiffany ama stefen...😁
ninayaa: Soon..
total 1 replies
Rere~
aku suka somay, Yura
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe
Rere~
semoga besok bisa up lagi
Rere~
next kak semamgats
Rere~
Maklumin aja lah bang Aldo, Indra kan baru jatuh cinta tuh jadi ya gitu hahaha😂
Rere~
next kak
Zhulayykha Anniza
lanjuuutt.....
Zhulayykha Anniza
lanjuut...
Rere~
next thor
Rere~
akhirnya up juga😚
Anik Rohman
kapan up lagi kak..
Rere~
next thor semangats, awal baca part ini dag dig dug, pas diakhir seneng deh baca keuwuan mereka😂
Rere~
next kak
Mini Sarbini
akhirnya...lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!