Wen Yu sedang berpetualangan dengan mendaki bukit seorang diri di sebuah tempat wisata alam. Lalu sebuah kebetulan, ia bertemu seekor kucing yang memiliki sepasang sayap. Tanpa rasa takut dan hanya memiliki rasa penasaran yang tinggi, Wen Yu mengikuti kucing itu dan berusaha menangkapnya. Alih-alih berhasil, ia malah terperosok pada sebuah goa di dalam tanah yang ternyata sedang mengalami peristiwa aneh. Cahaya kebiruan bersinar melingkar seperti sebuah pintu lorong waktu yang sering ia tonton di film-film fantasi. Tak lagi bisa mengelak, Wen Yu jatuh ke dalam lingkaran biru itu dan menghilang seketika. Dan tiba-tiba terbangun di dunia antah berantah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batu Spiritual
Batu Spiritual
"Apa yang terjadi padamu, Ze Kai?"
Sang Kakek berdiri di depan pintu dengan wajah penuh kekhawatiran, melihat cucunya yang sebagian tubuhnya tertutup lumpur dan dedaunan basah. Napas Ze Kai terengah-engah, tangannya masih erat memeluk sesuatu yang terbungkus gumpalan kain kasar. Tetesan hujan yang masih menetes dari atap rumah kayu bercampur dengan keringatnya, membuat jejak lelah jelas terlihat di wajah bocah berusia tujuh tahun itu. Tanpa banyak bicara, Ze Kai melangkah pelan dan duduk di kursi kayu yang sudah lapuk akibat usia. Ia meletakkan gumpalan kain itu dengan hati-hati di atas meja batu yang selalu dingin di tengah ruangan.
"Aku membeli ini untuk Kakek." Suaranya sedikit bergetar karena kelelahan, namun tetap jelas terdengar. "Tapi sepertinya... kita tidak bisa lagi tidur nyenyak di rumah ini. Harimau buas sudah mulai mendatangi kawasan pinggiran desa, Kek. Tempat ini tidak aman lagi."
Ze Kai menunduk, rambutnya yang basah menutupi sebagian wajahnya yang terlihat sangat bersedih. Tangannya masih sedikit gemetar ketika menyentuh ujung kain yang ia bawa.
"Kau bertemu harimau? Dimana? Apa kau tidak apa-apa? Apa kau terluka? Seharusnya kau tidak pergi sendirian begitu jauh, seharusnya kau meminta Kakek untuk menemani mu, Ze Kai!" Kata sang Kakek dengan suara penuh kekhawatiran, bahkan sedikit menegur, sambil segera mendekat untuk memeriksa setiap bagian tubuh bocah yang sudah ia anggap sebagai cucunya.
"Aku tidak apa-apa, Kek." Ze Kai menarik sedikit tubuhnya agar Kakek bisa melihat dengan jelas bahwa tidak ada luka di tubuhnya. "Harimau itu sudah mati. Aku berhasil melawannya sendiri."
"Kau membunuhnya?"
Ze Kai mengangguk dengan mantap, meskipun pandangannya masih tertuju pada lantai tanah liat yang basah. Ia tidak bisa menyembunyikan keyakinan di dalam hatinya, meskipun sendiri juga belum mengerti bagaimana bisa melakukannya.
Sang Kakek mundur sedikit, matanya lebar tak percaya. Bagaimana mungkin bocah kecil dengan tubuh kurus seperti Ze Kai bisa mengalahkan harimau buas yang bahkan bisa membuat orang dewasa pun gentar? Tangan yang sedang mengusap janggut panjangnya berhenti sejenak, kemudian melanjutkan gerakannya sambil wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat serius.
"Hmm."
Sang Kakek terdiam sejenak, mata memandang jauh ke arah luar rumah yang masih diterjang hujan ringan. Jempol dan jari tengahnya terus menggosok janggut putihnya yang kusam, tanda bahwa pikirannya sedang bekerja keras menyusun segala kemungkinan. Setelah beberapa saat ia menoleh kembali ke arah Ze Kai.
"Besok pagi, saat matahari mulai muncul, kita akan pergi ke pusat Desa untuk menemui kepala desa. Kita harus memberitahukan hal ini padanya."
Ze Kai tidak mengajukan pertanyaan apapun dan hanya mengangguk saja. Tubuhnya memang sudah cukup lelah untuk berpikir lebih jauh. Ia hanya bisa merenungkan kembali cahaya keemasan yang tadi masuk ke dalam tubuhnya, panas yang hangat, seperti energi baru yang menyebar ke setiap ujung tulang dan ototnya. Ia tidak mengerti apa itu, tapi rasanya seperti ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya sekarang...
-
-
-
Pagi hari, di pusat Desa Batu Angin.
Sinaran matahari mulai menyebar ke sudut-sudut desa setelah malam hujan yang panjang. Jalan tanah yang biasanya berlumpur kini sudah mengering sebagian, meninggalkan bekas-bekas lekukan yang terlihat jelas di bawah kaki Ze Kai dan sang Kakek yang sedang berjalan menuju rumah kepala desa.
Rumah kepala desa adalah satu-satunya bangunan di desa yang dibuat dari batu bata dan kayu berkualitas baik, berdiri kokoh di tengah lapangan terbuka yang sering digunakan untuk acara desa. Di depan rumah itu berdiri sebuah menara kecil dengan atap lonjong, dan di dalamnya terpasang alat batu spiritual yang sudah ada sejak dulu kala. Batu bulat berwarna kehijauan dengan permukaan halus seperti dipoles, dikenal sebagai Batu Penguji Jiwa Alam.
"Masuk lah, Tuk Jiang. Dan kau juga, Ze Kai."
Suara Pak Wu, yang merupakan cinta kepala Desa Batu Angin terdengar hangat saat mereka mendekati pintu. Pria berusia lima puluhan itu mengenakan baju dari kain tebal, wajahnya penuh kedalaman pengalaman dengan bekas luka kecil di dahinya yang menunjukkan bahwa dia juga pernah menjadi seorang pejuang.
Setelah mereka duduk di ruang tamu yang dihiasi dengan berbagai alat kerja pertanian dan beberapa senjata tradisional, sang Kakek mulai menjelaskan semua yang terjadi pada malam sebelumnya. Pak Wu mendengarkan dengan seksama, terkadang mengangguk atau mengerutkan kening saat mendengar bagaimana Ze Kai bisa mengalahkan harimau buas sendirian.
"Harimau buas muncul di kawasan pinggiran desa... ini bukan kabar baik." Pak Wu menghela napas panjang. "Biasanya mereka hanya berkeliaran di hutan dalam, jauh dari pemukiman manusia. Ada sesuatu yang membuat mereka keluar dari wilayahnya." Ia kemudian menoleh ke arah Ze Kai dengan pandangan yang penuh rasa ingin tahu. "Kau bilang kau berhasil melawannya sendirian? Bukankah kau baru berusia tujuh tahun?"
Ze Kai mengangguk perlahan. "Aku tidak tahu kenapa bisa, Pak Wu. Saat itu aku hanya berpikir harus melindungi diri dan kembali untuk memberikan hadiah pada Kakek."
Pak Wu terdiam sejenak, kemudian berdiri dan menghadapkan mereka ke arah pintu luar.
"Sudah lama tidak ada anak muda di desa yang mampu mengalahkan makhluk buas sendirian. Mungkin ini pertanda bahwa kamu memiliki bakat khusus, Ze Kai. Apa kau bersedia untuk menguji dirimu dengan Batu Penguji Jiwa Alam? Kita perlu tahu apakah kau memiliki kemampuan untuk menguasai elemen. Jika iya, maka kau bisa membantu desa menghadapi bahaya yang akan datang."
Tanpa ragu, Ze Kai berdiri dan mengikuti Pak Wu serta sang Kakek menuju menara kecil di depan rumah. Banyak penduduk desa yang sudah mulai berkumpul setelah mendengar kabar tentang harimau buas, dan mereka semua melihat dengan penuh antisipasi ketika Ze Kai berdiri di depan batu spiritual yang berdiri kokoh di atas pijakan batu besar.
"Caranya sangat mudah, anak kecil," ujar Pak Wu sambil menunjukkan pada batu kehijauan yang berdiri setinggi dada orang dewasa. "Letakkan telapak tangan kananmu di atas permukaan batu dengan tenang. Jangan berpikir apa-apa, biarkan tubuhmu sendiri yang berkomunikasi dengan energi alam di dalam batu itu."
Ze Kai mengangguk, lalu melangkah maju dengan hati-hati. Ia meletakkan telapak tangannya yang masih kecil di atas permukaan batu yang dingin. Beberapa detik berlalu dengan tenang, hingga tiba-tiba...
"Zzzz..."
Secercah cahaya putih keemasan mulai muncul dari bagian tengah batu, menyebar perlahan ke seluruh permukaan seperti tali listrik yang bersinar.
"Bagus sekali! Ada cahaya spiritual yang muncul!" teriak salah satu penduduk desa dengan senang hati. "Buktinya dia memang memiliki bakat!"
Sang Kakek tersenyum bangga, sementara Pak Wu mengerutkan kening dengan ekspresi yang semakin serius. Karena cahaya yang muncul itu, meskipun terang pada awalnya, mulai perlahan-lahan menyamar dan memudar sedikit demi sedikit. Tidak seperti biasanya yang akan berubah warna sesuai dengan elemen yang dikuasai seseorang. Merah untuk api, biru untuk air, coklat untuk tanah, atau hijau untuk tanaman. Cahaya pada batu itu hanya menjadi semakin redup hingga hampir hilang sama sekali.
"Hmm..." Pak Wu mengusap dagunya dengan bingung. "Ini sangat aneh. Cahaya muncul yang menunjukkan dia memiliki bakat, tapi tidak ada warna yang muncul untuk menunjukkan elemen apa yang bisa dia kuasai. Seolah-olah energi di dalam dirinya terlalu lemah untuk menjadi seorang penguasa elemen apapun."
Beberapa penduduk desa mulai berbisik-bisik di belakang mereka. Di dunia ini, empat elemen mengatur keseluruhan kehidupan. Api yang bisa berkembang menjadi tingkat tertinggi yaitu petir, mampu membakar segala sesuatu dan memberikan kehangatan. Air yang mencakup udara dan salju, bisa membentuk badai atau menyegarkan bumi yang kering. Tanah yang meliputi logam dan batu, menjadi dasar yang kokoh dan sumber kekuatan fisik yang luar biasa. Dan Tanaman yang mencakup semua tumbuhan di dunia, elemen yang sangat langka dan jarang dimiliki orang berbakat, mampu menumbuhkan tanaman yang mati, mengubah gurun pasir menjadi dataran hijau yang subur, bahkan memiliki kemampuan khusus untuk mengubah seseorang menjadi alkalemis, orang yang bisa berkomunikasi dengan semua bentuk kehidupan tumbuhan dan mengendalikan energi alam mereka. Dan puncak tertinggi bisa membangunkan tubuh yang mati, serta mencapai keabadian.
"Tidak ada warna yang muncul sama sekali," gumam sang Kakek dengan suara pelan, namun tetap bisa terdengar. "Apakah itu berarti dia tidak bisa menguasai elemen manapun?"
Pak Wu menggeleng perlahan. "Saya tidak tahu, Tuk Jiang. Sejak saya menjabat sebagai kepala desa, ini pertama kalinya saya melihat hal seperti ini. Biasanya batu akan menunjukkan warna jelas atau tidak menunjukkan cahaya sama sekali. Tapi kasus Ze Kai berbeda. Ada cahaya, tapi tidak ada arah yang jelas." Ia kemudian menoleh ke arah Ze Kai dengan pandangan yang penuh harapan. "Namun jangan berkecil hati, anak kecil. Bisa jadi bakatmu belum muncul sepenuhnya, atau mungkin kamu memiliki jenis kemampuan yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Kita akan mengawasimu dengan saksama dan memberimu kesempatan untuk belajar jika suatu hari nanti bakatmu muncul."
Ze Kai mengangguk dengan tenang. Di dalam hatinya, ia tidak terlalu peduli apakah bisa menguasai elemen atau tidak. Yang penting baginya adalah bisa melindungi Kakek dan desa dari bahaya. Namun ketika ia menyentuh kembali tangannya yang dulu pernah bersinar dengan pola seperti bintang, ia merasa ada sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya, sesuatu yang mungkin lebih kuat dari semua elemen yang pernah dikenal di dunia ini...
-
-
-
Bersambung...