"Aku memacari Echa, hanya karena dia mirip denganmu. Aku gak akan bisa melupakanmu Inayah. Jadi dengarkan aku, pasti... pasti aku akan memutuskan Echa apabila kamu mau kembali padaku!" Terdengar lamat-lamat pertengkaran Catur dengan mantan kekasihnya yang bernama Inayah dihalaman belakang sekolah.
Bagai dihantam ribuan batu, bagai ditusuk ribuan pisau. Sakit, nyeri, ngilu dan segala macam perasaan kecewa melemaskan semua otot tubuhnya. Echa terjatuh, tertunduk dengan berderai air mata.
"Jadi selama hampir setahun ini aku hanya sebagai pelampiasan." monolog gadis itu yang tak lain adalah Echa sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Kota
Acara pernikahan dadakan telah selesai dilaksanakan. Meskipun tanpa persiapan yang matang, akan tetapi kesakralan akad mengantarkan kata SAH membuat sebagian orang meneteskan air mata haru.
Bahkan banyak terdengar kalimat syukur atas terjalinnya ikatan halal antara kedua mempelai. Ibu adalah orang yang paling merasa bahagia dan bersyukur ketika anak perempuannya yang sedang merantau, kini sudah ada yang menjaganya dengan penuh tanggung jawab.
Pun dari keluarga Erik, mereka sangat setuju ketika akulah yang dipilih menjadi pendamping hidup. Karena sebelumnya mereka sudah mendengar perihal Bella yang menginginkan Erik menjadi miliknya. Dan mereka sangat tidak senang dengan berita itu. Bagi mereka Bella tidak layak.
Layak yang dimaksud bukan tentang fisik atau latar belakang status sosial. Tapi lebih ke attitude dan etika sopan santun. Keluarga Erik yang notabenenya memiliki adab tinggi dalam bersosialisasi, tidak membenarkan sikap sombong, angkuh dan egois yang selalu diperlihatkan oleh Bella.
"Akhirnya kamu menjadi istriku yang Sah Echa. Terima kasih sudah menerima pinanganku. Aku sangat bahagia." Ucap Erik sambil terus menggenggam tanganku.
"Terima kasih juga sudah memilih aku yang bukan siapa-siapa ini mas." Jawab ku sambil malu-malu.
Erik terpaku mendengar aku memanggil mas untuknya. Dia sampai terbengong-bengong tapi sudut bibirnya melengkung keatas tanda dia bahagia.
"Mas?" Tanya Erik
"Iya." Wajahku semakin merah karena malu.
Sebenarnya aku memanggilnya demikian karena teguran dan nasihat Ibu saat kami sedang berdua di dalam kamar.
Menurut Ibu, panggilanku terhadap Erik dinilai tidak sopan. Selain karena Erik yang akan menjadi suamiku, tapi juga karena umur Erik yang 5 tahun diatasku. Aku membenarkan ucapan Ibu, ternyata aku salah selama ini. Untuk itulah hari ini aku memperbaikinya. Memulai bahtera rumah tangga dengan semua hal baik. Doa dan nasihat baik yang akan selalu aku ingat dan laksanakan.
"Rasanya sangat manis panggilanmu itu sayang." Kata Erik menggoda. Erik tidak tahu saja jika jantung ku rasanya sudah mau copot.
"Wah dicariin dari tadi tertanya mojok disini, romantis-romantisan nya ditunda dulu. Itu banyak saudara yang ingin mengucapkan selamat pada kalian. Ayok temui dulu di depan." Tegur Umi Henny tapi sambil tersenyum ikut merasakan kebahagiaan.
Dan kami berdua pun langsung menemui tamu yang rata-rata masih tergolong saudara. Doa tulus selalu terlantunkan untuk kami, membuat kami berdua merasa diberi keberkahan.
"Rencana kalian setelah ini apakah langsung kembali ke kota bersama kami semua. Atau mau disini dulu hitung-hitung honeymoon?" Goda salah satu paman dari Abah.
"Sepertinya langsung kembali saja, berhubung Echa sudah lama absen masuk kerja juga kuliah yang sudah banyak tertunda akibat kejadian waktu itu." Kata mas Erik.
"Saya setuju dengan mas Erik, bukan karena sudah tidak betah tinggal di kampung sendiri. Tapi lebih karena ada tanggung jawab yang harus saya emban." Ucap ku merasa tidak enak pada Ibu karena pulang kampung dengan waktu yang terlalu singkat.
"Ibu tidak apa-apa nak, kamu kembalilah dulu. Nanti kamu bisa pulang lagi ketika musim libur tiba." Ibu berusaha membesarkan hatiku untuk tidak larut dalam kesedihan.
"Inu hari bahagia mu, jangan lah merasa bersedih hati seperti itu. Tidak enak nanti dengan nak Erik." Tambah Ibu, dan ku lirik wajah sendu mas Erik.
Keesokan harinya kami semua sudah berkemas untuk kembali ke kota beserta rombongan keluarga besar mas Erik. Suka cita, haru biru menjadi teman keberangkatan kami semua.
Beberapa oleh-oleh dibawakan oleh Ibu, yang katanya untuk dibagikan kepada tetangga kos dan teman2 ku baik dikantor maupun di kampus. Aku sih senang-senang saja, toh kita ada banyak mobil yang bagasinya bisa dibuat tempat taruh barang. Tidak repot sama sekali. Dan keluarga lainnya pun memaklumi nya.
"Ibu, aku pamit dulu, doa kan Echa terus ya Bu, dan semoga Ibu juga selalu diberikan kesehatan." Pamitku sambil menangis di pelukan Ibu. Rasanya berat untuk pergi.
"Nak Erik, Ibu titip Echa ya. Jangan sakiti dia, karena sejak kecil hanya penderitaan yang Echa dapatkan. Ibu belum pernah membahagiakan anak ibu yang satu ini." Ucap Ibu semakin membuat tangisan semakin deras.
"Insya Allah, Erik tidak akan memberikan janji. Tapi akan Erik buktikan jika setelah ini Echa akan selalu dikelilingi kebahagiaan." Ucap tegas Erik dan diangguki semua keluarga besar.
Setelah drama pamit yang diiringin tangisan perpisahan. Kami semua segera berlalu pergi dari kampung ini.
Meskipun menempuh jarak lumayan jauh dan harus ditempuh dalam waktu lebih dari 12 jam perjalanan. Alhamdulillah kami semua sampai rumah dengan selamat disertai perasaan lega.
Untuk sementara, aku tetap pulang ke rumah kos. Diikuti oleh mas Erik yang akan ikut tinggal disini. Karena mas Erik selama ini juga masih tinggal bersama kedua orang tuanya, belum punya rumah sendiri. Jadi keputusan mas Erik tinggal bersamaku didukung oleh Abah dan Umi.
Dan ijin tinggal pun sudah dikantongi dari Ibu kos, yang kemarin ikut hadir pada saat acara pernikahan dadakan itu. Meskipun masih siri, tapi kami sudah sah menurut agama. Jadi tidak ada alasan untuk melarang kami berdua tinggal satu atap.
Kedatangan kami semua, ternyata terdengar oleh salah satu teman Bella. Dan berita ini langsung sampai ditelinga Bella.
Tentunya, huru hara langsung terjadi. Erik yang tidak tahu jika Bella sudah keluar dari penjara karena bebas bersyarat pun kaget. Ketika rumah kos Echa disatroni Bella dan antek-anteknya.
Kali ini, Bella dengan terang-terangan menabuh bendera perang. Tanpa tahu malu, dia teriak-teriak di depan rumah orang. Dimana sikapnya tidak mencerminkan orang berpendidikan tinggi.
"Dasar ja**ng miskin, kamu sudah merebut Erik dari ku. Dan membuat Erik memenjarakan aku. Tunggu saja, aku tidak akan tinggal diam. Kalian bisa tertawa bahagia saat ini, tapi aku akan membuat tangisan dan penderitaan segera kalian rasakan." Sumpah serapah Bella dengan tangan mengepal kuat.
Setelah mengucapkan kalimat yang membuat tubuh ini bergetar hebat karena rasa trauma itu kembali kambuh. Tapi dengan sigap, Erik menarik ku dalam rengkuhan hangatnya. Kata-kata penenang bisa aku dengar dari bibir Erik. Dan dia juga berjanji untuk selalu melindungi aku dari keberingasan seorang Bella.
Bahkan banyak tetangga kos yang ikut bersimpati dan turut berkata ingin melindungi aku. Alhamdulillah, aku tidak lagi merasa sendiri.
"Terima kasih mas, aku sangat takut dengan mba Bella. Kenapa dia jadi semakin membenci aku?" Ucapku merasa sangat sedih mendapat kebencian orang tanpa berbuat kesalahan. Tapi berbeda dengan pemikiran Bella, menurutnya aku punya kesalahan yang besar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alhamdulillah Update.
Adakah yang masih menunggu kelanjutan cerita ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak, like, komen, dan share karya pertamaku ini.
Terima kasih.
By : Erchapram.