"Aku hamil!"
Sebuah kalimat yang terlontar dari Adlin ditengah kehidupannya yang sedang tidak baik-baik saja.
Kehormatannya direnggut dan ayahnya meninggal setelah mengetahui kenyataan pahit putrinya.
Adlin yang bingung dengan kondisinya hanya bisa menangis, sampai ia sadar bahwa ia tengah mengandung anak dari bossnya sendiri yang sudah merenggut kehormatannya.
Mampukah Adlin hidup bersama Gibran yang arogan dan kasar serta menerima kenyataan bahwa Gibran adalah mantan suami ibu tirinya saat ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH. 32: Morning Sickness
"Hoek!"
"Hoek!"
"Hoek!"
Suara mual terdengar oleh Gibran, ia mengusap kedua bola matanya perlahan, entah suara apa yang mengganggu minggu paginya.
Berasal dari kamar mandi didalam kamarnya, Gibran berjalan pelan kemudian mendongakkan kepala melihat Adlin yang mual di depan wastafel.
"Pao? Kamu kenapa?" Gibran berjalan menghampiri Adlin.
"Gatau, tiba-tiba aja mual gini," jawab Adlin memegangi mulutnya.
"Kamu ngidam lagi?"
Adlin menggeleng pelan. "Morning Sickness, mungkin?"
Adlin ragu sebenarnya, kenapa dia mengalami morning Sickness diusia kandungan menuju tujuh bulan, bukankah itu biasa terjadi pada usia kandungan dua bulan saja.
"Kita telpon dokter kandungan yuk buat tanya aja, aku khawatir," Gibran menelungkup punggung tangan istrinya.
Adlin mengangguk setuju, mendapat persetujuan Gibran segera keluar dari kamar mandi dan menyambar ponselnya, sekedar menanyakan perihal Morning Sickness ini.
"Halo dok?" Gibran memulai pembicaraan.
"Ah, Tuan Anindito, ada urusan apa anda menghubungi saya sepagi ini?"
"Aku ingin bertanya, apakah morning sickness diusia kandungan akan menginjak tujuh bulan itu normal?"
"Mmm, memangnya kenapa? Kau mengalami morning Sickness? Kan istrimu yang hamil,"
"Sialan kau Wisnu," umpat Gibran yang akrab dengan sosok dibalik telepon itu.
"Hahahaha, kau semakin humoris saja, menurutku itu hal yang wajar mengingat di awal kehamilan Adlin, ia terlihat tidak mengalami gejala ini, jadi kalau sekarang dia mengalaminya, yah itu hal yang wajar, kenapa memangnya?"
Gibran menghela napas lega. "Syukurlah,"
"Kecuali kau tidak melakukan hubungan intim terlalu sering, kasian anakmu nanti," Wisnu terkekeh disana.
"Seperti kau tidak melakukan hal itu saja jika Nissa sedang hamil,"
Wisnu kembali tertawa pasalnya apa yang dikatakan Gibran adalah sebuah fakta.
"Terimakasih, Wisnu, maaf mengganggu waktumu pagi ini," Gibran mematikan telepon sepihak kemudian beralih memandang Adlin yang sudah ada dihadapannya.
"Apa katanya?"
"Itu hal yang normal, sayang," Gibran menarik Adlin sehingga jatuh kepelukannya. "Tapi anak kita tidak akan dikunjungi Daddynya dalam waktu dekat ini,"
"Apa maksudmu?"
"Kau tahukan aku sudah beberapa bulan menahannya," Gibran mengeluarkan mata puppy nya.
"Gak,"
"Please,"
"Gak," Adlin berjalan keluar kamar dan menuju ruang makan, ia sudah memasak sarapan pagi ini terlebih dahulu.
"Mas! Sarapan dulu," Adlin setengah berteriak memanggil nama suaminya.
Gibran yang sedang rebahan dikamar setelah ditinggal Adlin, segera bangkit dan memakai kaos hitam dibelakang pintu kemudian berjalan ke arah meja makan.
"Makan apa kita?"
"Roti bakar Selai Coklat pahit dan Kopi hitam untuk suamiku," jawab Adlin yang mengetahui Gibran memiliki riwayat diabetes.
Gibran tersenyum kemudian mulai memakan roti dan menyesap kopinya.
Adlin hanya duduk sembari mengelus perutnya memperhatikan wajah tampan didepannya dan yang paling membuatnya tidak bisa lepas adalah bau segar mint dari bibir Gibran yang bukan seorang perokok.
"Ngapain liat-liat gitu," Gibran mendelik memandangi Adlin.
"Gapapa, ngeliatin suaminya sendiri mah gratis, kecuali aku ngeliatin suami orang,"
"Emang aku setampan itu?" Gibran menyesap kopinya kemudian memajukan wajahnya kepada Adlin yang sedang memangku dagunya.
"Gak, tapi aku heran kok aku bisa yah nikah sama Mas?" jawab Adlin mengelus pipi Gibran.
"Mungkin karena ukuran-"
"Jangan ngada-ngada,"
"Karena ukur-"
"Jangan dilanjutin,"
"Karena ukurannya," Akhirnya Gibran mengucapkannya dengan senyum Mesum yang mengembang.
Sedangkan Adlin hanya membuang muka mengingat kejadian one stand night yang membuatnya terjebak dalam hubungan ini.
"Kamu nyesel gak nikah sama aku?" Gibran kembali duduk dikursinya dan mengangkat cangkir kopinya.
"Nyesel," jawab Adlin singkat. "Pada awalnya, soalnya kamu ngeselin, banget,"
Gibran tertawa mendengar jawaban istrinya dan berdiri memutari meja makan memperhatikan Adlin.
"Masa sih aku ngeselin?" Gibran berhenti kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Adlin dari belakang.
Adlin terdiam, ia tidak menjawab sampai Gibran beralih meniup tengkuknya.
Melihat Adlin kembali terdiam, Gibran segera menggendong Adlin ke arah ruang tamu.
"Mau ngapain sih?" tanya Adlin bingung.
"Membedahmu," jawab Gibran tersenyum dan menurunkan Adlin diatas sofa. "Hari ini ada film romantis yang bagus untuk kita tonton,"
"Benar? Apa judulnya?"
"Jodohku Mantan Suami Ibuku," jawab Gibran terkekeh.
"Itu mah kisah kita," Adlin mencubit pelan perut Gibran yang sedang terkekeh.
Gibran memutar aplikasi streaming film ditv dan mulai menonton film yang katanya bergenre romantis.
Gibran menarik kepala Adlin untuk bersandar didadanya sembari mengelus puncak kepala istrinya tersebut.
Ditengah asiknya romantisme diantara keduanya ditengah film, mereka dikagetkan oleh suara pintu yang dibuka keras.
Brak!
"KAK GIBRAN!" teriak Alea yang membuat Gibran dan Adlin panik.
"Kamu kenapa?" Gibran menanyakan hal yang membuat adiknya berteriak.
Alea mengatur napasnya ngos-ngosan kemudian tersenyum lima jari dihadapan kakaknya.
"Pengen numpang toilet,"
Gibran dan Adlin mengerutkan dahi dan saling melempar pandangan melihat Alea yang sudah berlari ke toilet.
Melihat itu Gibran segera membawa Adlin kembali ke sofa untuk menonton film yang tadi tertunda.
"Nonton apaan?" Alea datang sembari membawa snack ditangannya dan memaksa duduk ditengah Gibran dan Adlin.
"Bisa gak sih kamu duduknya dipinggir aja?" Gibran menginterupsi memerintahkan adiknya untuk menyingkir.
"Gak," jawab Alea singkat.
"Emang kamu gak kuliah?" Gibran bertanya.
"Aku kan anak Genius, lagian kalau gak masuk sehari gak bikin aku bodoh kok," jawab Alea yang memukul telak Gibran dengan jawabannya.
"Terus kamu ngapain kesini?" tanya Gibran.
"Disuruh papa," Alea mengunyah snacknya.
"Buat apa?" Gibran kembali bertanya.
"Katanya Kak Adlin minggu ini udah masuk tujuh bulan, jadi mama Vanya udah nyiapin acara tujuh bulanannya gitu,"
"Ah iya kakak sampai lupa, makasih yah." Adlin membuka suara sambil memeluk adik iparnya.
Mereka kembali fokus menonton film di layar televisi dengan sesekali Alea dan Adlin bergosip tentang apa yang mereka tonton.
"Ih kurang perhatian apa sih cowoknya, kalau aku punya cowok kayak dia gak bakal aku lepas," cerocos Alea.
"Sama kakak juga," timpal Adlin.
Hampir setengah film tapi yang terdengar ditelinga Gibran bukan dialog dari filmnya melainkan ghibahan antara adik dan istrinya.
"Emang yah cewek kalau dah ngumpul, kalau gak ghibah yah gitu," gumam Gibran yang terdengar oleh Adik dan Istrinya.
Alea dan Adlin menatap Gibran tajam kemudian mengambil snack dalam genggaman mereka dan mengumpulkannya ke mulut Gibran sebelum melanjutkan ghibahan mereka.
- TBC
bab 2 ? huuu langsung kejaammm...
Lanjuuttt...