Mayleen merupakan artis muda multi talenta yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas terpaksa harus merenggang nyawa dalam syuting film yang sedang dijalaninya akibat ulah licik rivalnya yang memberi racun dalam air minumnya.
Begitu terbangun dia sudah berada dalam tubuh seorang putri bungsu perdana menteri yang diasingkan serta memiliki sepasang anak kembar berusia lima tahun.
Pertikaian, saling hasut dan skema licik terus bergulir dalam perjalanan hidup Mayleen bersama kedua anak kembarnya.
Dan kehadiran sosok lelaki yang mengaku sebagai ayah si kebar semakin membuat perjalanan hidup Mayleen dan anak - anaknya sulit.
Kemana mereka pergi,bahaya selalu mengintai dan nyawa menjadi taruhannya.
Mampukah Mayleen bersama sepasang anak kembarnya melewati semua halang rintang yang menghadang didepan demi bisa bersatu kembali dengan ayah mereka dan membentuk rumah tangga kecil bahagia seperti impian kedua anaknya selama ini ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBERONTAK
Srekkk...srekkk....
Ru Mayleen menatap tajam kebelakang waktu dia mendengar suara batu bergesek yang terdengar sangat halus dan berpengaruh pada tekanan udara sekitar yang tiba – tiba saja menurun secara drastis.
Lelaki berjubah sutra dengan topeng perak yang menutupi kedua matanya hingg separuh wajahnya tampak menyeringai tajam melihat kedatangan bocah aneh dibelakang Ru Mayleen.
Tak jauh dibelakangnya tampak seorang gadis kecil dengan mata putih sepenuhya mengenggam bongkahan emas berukuran kecil yang digesekkannya ketanah dengan kasar menggambar sebuah pola yang cukup rumit.
Gadis itu menatap Ru Mayleen sambil menyeringai, menunjukkan gigi taringnya yang runcing membuat bulu kudu Ru Mayleen berdiri tanpa diminta.
Perlahan gadis kecil itu merangkak menuju Ru Mayleen yang tampak seperti terhipnotis sehingga tak bisa melangkah kemana – mana dan menggerakkan badannya sehingga hanya bisa menunggu gadis kecil yang mengerikan itu menghampirinya.
Sekilas dapat Ru Mayleen lihat jika matanya yang putih berubah menjadi merah keemasan meski hanya sekejap.
Krakkk....
“ Arghhh....”, teriak Ru Mayleen sambil menghempaskan tangan kanannya yang tiba – tiba digigit dengan kencang.
Brukkk....
Gadis itu langsung ambruk setelah tangan kanan Ru Mayleen menghempaskannya dengan kasar akibat terkejut karena tiba – tiba digigit.
Ru Mayleen menatap tangannya yang digigit. Bukannya bekas gigi menancap yang ada disana melainkan pola yang tadi digambar gadis itu ditanah menggunakan bongkahan emas yang muncul ditangannya.
Mata Ru Mayleen kosong dan berwarna putih seluruhnya selama satu detik sebelum kembali lagi berwarna coklat tua seperti sebelumnya.
Ru Mayleen sedikit menunduk, berusaha menekan rasa nyeri dikening dan jantungnya yang tiba – tiba mendera sambil menatap tubuh gadis kecil yang tergeletak ditanah tak bergerak.
Wushhh...
Tiba – tiba tubuh gadis kecil itu menghilang seiring dengan derap kaki kuda yang melangkah menuju kearahnya dengan cepat.
Lelaki bertopeng perak berjubah sutera yang tampak menunggu perubahan pada tubuh Ru Mayleen tampak kesal mendengar derap kaki kuda semakin dekat.
“ Sial !!! ”
“ Anjing – anjing kerajaan bulan itu selalu menghalangiku !!! ”, sarkasnya dengan wajah memerah menahan amarah.
Brakkk....
Bammm....
Semua orang menatap tajam beberapa pohon tak jauh dari mereka berdiri tumbang seiring teriakan pasukan kerajaan bulan datang menyerbu.
Lelaki bertopeng dan berjubah sutera tersebut menggemelatukkan giginya menahan amarah melihat beberapa anak buahnya telah tergeletak ditanah.
Crashhh...
Syuttt...
Bruakkk...
Bummm....
Suara pedang dan senjata tajam saling bertubrukan terdengar jelas diudara. Bahkan adu kekuatan elemen air dan es pun terjadi disana.
Menyadari ada sandera yang harus dia selamatkan, Ru Mayleen pun bergegas menuju gudang dan dalam satu gerakan tangan angin setajam pisau berhembus dan memotong tali yang mengikat kedua kaki para tawanan dengan cepat.
Sringgg....sringgg....
Setelah semua tawanan telah terbebas, Ru Mayleen pun membawa mereka kesebuah gua yang dia buat tadi dengan melubangi tanah menggunakan kekuatannya hingga tanah berlubang cukup besar.
“ Kalian tunggu dibawah hingga pertempuran usai baru naik keatas ”, ucapnya berpesan.
Ru Mayleen pun segera menutupi gundukan tanah tersebut dengan kayu yang dia ambil dari gudang tadi menggunakan kekuatannya sehingga tertata apik menutupi lubang namun tak membuat orang yang berada didalamnya kehabisan udara karena pemasangan kayu cukup renggang.
Syuttt...Dukkk....
Ru Mayleen naik keatas pohon dan melihat pertempuran yang ada dibawahnya yang terlihat sangat sengit.
Ratusan orang berpakaian zirah tampak sedikit kuwalahan meladeni serangan dari musuhnya yang berpakaian serba hitam yang jumlahnya juga tak kalah banyaknya itu.
Dihadapannya tampak ratusan orang saling membunuh dan Ru Mayleen menduga jika otak pemberontak kali ini cukup gila karena mereka hanya mengandalkan kekuatan anak buahnya tanpa menggunakan senjata apapun.
Meski begitu mereka tampaknya bisa mengimbangi kekuatan para prajurit kerajaan bulan yang datang menyergap mereka.
“ Biarkan saja dulu mereka bertarung. Jika para prajurit kerajaan bulan sudah lelah maka aku akan turun ”, gumannya sambil duduk bersandar didahan dengan santai.
Ru Mayleen seperti sedang melihat tayangan televisi mengenai peperangan antara pihak kerajaan dengan pemberontak.
Senyum tipis terbit diwajah Ru Mayleen waktu melihat ada beberapa orang yang memiliki lebih dari tiga elemen disini dimana tingkat mereka sudah berada dilangit ketiga.
“ Sudah kuduga jika mereka berasal dari kerajaan langit ? ”
“ Apa ini siasat raja Shao Mingyu untuk memecah belah kedua kerajaan dengan memanfaatkan para pemberontak kecil seperti ini ”, batin Ru Mayleen penuh tanda tanya.
Ru Mayleen pun mulai teringat dengan sekelompok orang yang menyerang putra mahkota Zhang Yuan beberapa waktu lalu dan pertanyaan yang raja Shao Mingyu lontarkan ketika dia sampai ditempat guru Dao, membuat wanita itu memiliki praduga buruk terhadap ayah dari sikembar.
“ Jika benar yang kupikirkan, sungguh licik ”, batin Ru Mayleen sinis.
Meski cara licik sudah biasa digunakan dalam hal memperebutkan kekuasaan dan memperluas wilayah, namun Ru Mayleen tetap tak setuju jika harus mengorbankan banyak nyawa tak berdosa.
Maka dari itu dirinya enggan untuk menjadi bagian dari dalam istana karena selain banyaknya intrik juga semua hal yang ada didalamnya jauh dari kata ketulusan dan ketenangan karena konflik terjadi terus menerus.
Ketika fokus memikirkan mengenai raja Shao Mingyu tiba – tiba kedua mata Ru Mayleen menatap sosok yang tak asing dimedan pertempuran.
“ Dia...”, Ru Mayleen terdiam waktu melihat sosok putra mahkota Lin Feng turut dalam pertempuran malam ini.
Tampak putra mahkota Lin Feng terus mengayunkan bilah pedangnya seperti angin yang langsung menusuk dan menebas kepala musuhnya dengan dingin.
Bahkan tak jarang calon pewaris kerajaan bulan tersebut membekukan sekitar areanya dan menghancurkan tubuh musuhnya hingga terbang menjadi abu di udara.
Begitu dia mengedarkan pandangannya kedalam lautan manusia yang saling bertarung dihadapannya kedua netra putra mahkota Lin Feng bertatapan dengan kedua mata jernih yang sangat dirindukannya itu.
“ Dia ? ”
“ Bagaimana bisa ada disini ? ”, batinnya terkejut.
Ru Mayleen yang terkejut akan keberadaan putra mahkota Lin Feng sedikit lengah sehingga dia merasakan ada sesuatu yang dingin dilehernya.
Syinggg....
Melihat wanita yang menjadi sanderanya tiba – tiba menghilang digantikan dengan pedang yang langsung mengores pipinya hingga mengeluarkan darah segar dan rasa perih yang menyertainya lelaki bertopeng tersebutpun melompat mundur.
“ Beracun ”, ucapnya sambil melihat darahnya yang menghitam dijarinya.
Bang
Ting
Ting
Syut
Syusss....
Dasss....
Uhukkkk...
Lelaki bertopeng dan berjubah sutera tersebut langsung muntah darah setelah tendangan putra mahkota Lin Feng tepat mengenai dadanya.
Melihat beberapa pasukan berpakaian hitam mulai datang dari segala penjuru, Ru Mayleen pun mulai membantu putra mahkota Lin Feng menghadapi para pemberontak tersebut dengan segera.
" Kenapa kamu ada disini ? ", tanya putra mahkota Lin Feng penuh selidik.
" Hanya melintas dan tak mengira akan terjadi konflik seperti ini ", jawabnya datar.
Keduanya berbincang sambil mengayunkan pedangnya menebas setiap kepala musuh yang datang mendekat.
Dikepung dari berbagai arah tak membuat keduanya gentar justru Ru Mayleen sangat bersemangat waktu melihat jika yang menyerangnya memiliki empat elemen dan berada ditingkat langit.
Keduanya terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang menari dengan ayunan pedang melayang diudara, sangat mematikan dan berdarah.
Bahkan tak jarang semburan api, es dan angin topan sampai petir yang menyambar bagai sengatan listrik didalam rinai hujan yang mendera mewarnai tarian yang keduanya bawakan malam ini dengan anggun hingga semua musuh mati tak bersisa.