Lanjutan dari cerita Naina si Gadis Panti.
Langit merupakan anak lelaki yang di adopsi oleh Kinan, mertua Naina. Jatuh cinta pada gadis kecil yang merupakan adik asuh Naina.
Meski usia mereka yang terbilang muda, namun perasaan yang mereka miliki benar-benar murni. Dan mungkin, tidak selalu menceritakan tentang Yura dan Langit. Karena seperti biasa, akan ada kasus yang harus di selesaikan. Tapi, kisah cinta manis mereka berjalan di antara orang-orang yang mencintai dan menyayangi mereka berdua.
Semoga suka yaaaa, sama karyaku yang ke-11 ini🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duka yang Mendalam
"Sudah, jangan menangis sayang. Semua sudah takdir Allah, bersyukur kamu masih bisa di pertemukan dengan anak kuat, sabar, dan tabah seperti Guntur. Banyak pelajaran yang kita ambil darinya, sekeras apapun hidup menempa anak sekecil itu. Dia tetap kuat menjalani harinya, tak peduli lelah, panasnya terik matahari, kerasnya orang-orang di sana. Guntur tetap bertahan mencari uang, demi neneknya. Walau akhirnya cobaan dengan kehilangan neneknya, tidak sanggup ia tahan." ucap Ros, kini mereka berada di pemakaman Guntur dan neneknya. Naina dan para wanita lainnya, memilih menunggu di panti asuhan.
Mereka berencana untuk mengadakan tahlilan di panti asuhan, dengan mengundang tetangga di sekitarnya dan tak lupa anak panti dari tempat lain.
"Tapi, Yura belum menolongnya bunda. hiks... bahkan kami baru bertemu sebentar, Yura masih bisa merasakan pelukannya. Dia menangis, karena berharap neneknya akan sembuh. Tapi.... tapi sekarang, hiks." Pertemuan yang hanya sebentar ini, begitu membekas di hatinya
"Yura terlambat bertemu dengannya, tubuhnya sangat kecil bunda. hiks... Kenapa dia tidak seberuntung Yura, di pertemukan dengan orang sebaik bunda dan yang lainnya? Selama ini, hiks.... ia pasti menahan laparnya, hanya demi nenek. Selama ini... hiks, Guntur pasti merasa iri, melihat teman-temannya memakai seragam pulang sekolah. hiks... Selama ini, hiks... ia pasti merasakan sakit saat di pukuli oleh bibinya, demi melindungi nenek. Bunda... huhuhuuuuu. Hati Yura sakit bunda, hiks.... Berat rasanya bunda, di sini sangat sesak. huhuhu" Yura menekan dadanya, Ros memeluk tubuh Yura.
Baru kali ini, ia melihat Yura sesedih ini. Setelah sekian lama, Yura menangis saat mengetahui siapa dan dari mana dirinya.
"Tubuhnya terlalu kecil bunda, huhuhu...." tangisan Yura tenggelam dalam pelukan bunda Ros
Langit dan yang lain hanya bisa melihatnya, ingin rasanya Langit memeluk tubuh jodoh masa depannya. Tapi... tidak bisa.
Key menatap kayu yang bertuliskan nama Guntur, tatapannya terlihat sayu. Matanya terlihat merah dan sedikit bengkak, sedikit banyak ia juga mengenal Guntur. Ia tau bagaimana kehidupan Guntur selama ini, setelah ia mencari informasi kemarin. Sedangkan di antara makam Guntur dan neneknya, ada Baskoro yang masih belum bisa menerima mereka telah berpulang.
"Bu, ini seperti mimpi untuk Bas. Ibu telah menyusul ayah dan abang, bahkan Baskoro belum membahagiakan ibu sama sekali. Anakmu ini durhaka bu, selalu membantah apa yang ibu katakan. Bas, sudah menceraikan istri Bas. Tapi kenapa ibu malah pergi, meninggalkan Baskoro?" air mata Baskoro sangat sulit berhenti, di tinggalkan sang ibu. Bagaikan kehilangan cahaya, dalam hidupnya
"Rasanya berat bu, bagaimana Baskoro melanjutkan hidup? Bagaimana Baskoro membesarkan Raisa bu, sedangkan panutanku adalah ibu. Bas tidak mau, Raisa di bawah pengasuhan Dina. Dia wanita terjahat, yang pernah Bas kenal. Selama ini, Baskoro terbutakan dengan sikapnya yang berpura-pura lembut. Maafkan Baskoro bu, maafkan anakmu yang durhaka ini." pundak Baskoro bergetar, karena kini ia menangis.
Rei pun melangkahkan kakinya, untuk mendekat pada Baskoro.
"Menangis boleh, tak ada larangan untuk hal itu. Tapi, janganlah meratapi kepergian beliau. Seperti di katakan oleh Al-Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala...
أمَّا النِّيَاحَةُ فَحَرَامٌ، وَسَيَأتِي فِيهَا بَابٌ فِي كِتابِ النَّهْيِ، إنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
“Adapun niyahah (meratapi mayat) dengan mengucapkan kalimat-kalimat ketika menangisi mayat itu, hukumnya adalah haram. Dan nanti akan dibahas satu bab tertentu dalam dalam kitab tentang kumpulan larangan-larangan, insyaAllahu Ta’ala.”
Baskoro menarik nafas dan mengendalikan tangisannya, berkali-kali ia istighfar dan memohon ampun pada sang Khaliq.
"Hari sudah siang, putrimu pasti mencari mu." ucap Rei lagi, Baskoro pun tersadar
"Dimana putriku?" tanyanya, ia pun berdiri dari jongkoknya
"Dia ada di panti bersama semua anak dan kedua cucuku, bangkitlah demi putrimu. Dia masih terlalu kecil, untuk kamu abaikan." jawab Ezra
"Terima kasih, maaf merepotkan kalian semua. Padahal kita tidak saling kenal sebelumnya, tapi uluran tangan kalian sungguh sangat membantuku. Terima kasih... terima kasih..." ucap Baskoro membungkukkan punggungnya berkali-kali
"Kita semua bersaudara, Allah pasti mempunyai tujuan mempertemukan kita. Melalui Guntur dan neneknya, Allah pasti sudah merencanakan sesuatu di depannya.
"AYAH" teriak Ros, semua orang mengalihkan tatapan padanya. Terlihat Yura yang sudah tak sadarkan diri, ternyata ia tak kuat menahan rasa sakit yang di rasakannya.
Semua berlari mendekati mereka, Langit lebih dulu sampai. Ia pun segera mengangkat tubuh Yura dan berjalan ke arah mobil, para pelayat sudah pulang sejak setengah jam yang lalu.
Akhirnya semua pulang ke panti asuhan, Baskoro pun ikut ke sana.
.
.
"Ada apa?" tanya Kinan dan Hana cemas
"Yura pingsan ma, sepertinya emosinya terlalu terkuras." jawab Ros yang ada di belakang Langit
Kinan segera membukakan pintu kamar Yura, Hana juga ikut di belakangnya. Di susul Naina, yang mendengar kabar tersebut tadi. Rania sedang menemani cucu bungsunya dan juga putri Baskoro, di taman belakang.
Langit merebahkan tubuh Yura dengan perlahan, ia menghembuskan nafasnya pelan. Naina naik ke atas ranjang dan duduk di samping Yura, ia menggenggam erat tangan sang adik.
"Hati Yura terlalu lembut, kehilangan Guntur benar-benar membuat luka untuknya." ucap Kinan
"Ya, kamu benar kak. Aku tak menyangka bila melahirkan seorang putri, yang sangat lembut sepertinya." balas Hana
"Itu semua karena dalam pengasuhan mu kak Ros, terima kasih." lanjut Hana seraya menoleh pada Ros, Ros pun tersenyum.
"Semua karena Allah, dan... Naina berperan besar dalam tumbuh kembang Yura, karena Naina tak pernah mau jauh dengannya. Terlahir dari orang tua yang berbeda, namun hati mereka terikat sangat dalam. Yura bisa merasakan apa yang Naina rasakan, begitu juga sebaliknya." jawab Ros, ia pun mengalihkan pandangannya pada Naina dan Yura. Di ikuti yang lainnya...
'Ros benar, bahkan aku ibu kandungnya. Tak memiliki ikatan batin sedalam itu, terima kasih Naina.' ucap Hana dalam hati
.
.
"Kita akan mengadakan tahlil untuk almarhum dan almarhumah sampai hari ke 7 dan hari ke 40 di sini, jadi saranku. Sebaiknya kamu pindah saja ke panti ini, selain untuk menjaga putrimu. Kami juga terbantu bila kamu mau mengawasi, semua anak-anak kami di sini. Dan saat kamu pergi bekerja, putrimu tidak akan sendiri." ucap Ros, seraya memberi saran
"Benar, aku setuju. Kalau di sana, aku yakin kamu masih akan terus di datangi oleh mantan istrimu. Dengan alasan, bila ingin bertemu putrinya." sambung Naina setuju
"Tapi... apa itu tidak akan merepotkan?" tanya Baskoro tidak enak, sudah banyak sekali ia di bantu oleh keluarga besar tersebut
"TENTU SAJA TIDAAAKK" jawab semua orang dengan serempak, mereka pun tertawa. Baskoro tersenyum, ia merasakan kehangatan berada di tengah-tengah mereka semua.
"Kalau begitu, baiklah aku akan tinggal di sini. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih." ucap Baskoro, semua orang mengangguk.
Sedangkan para wanita melihat Hana yang menunduk sejak tadi, lalu Naina tersenyum.
"Kalo jodoh ga akan kemana? Tunggu aja tanggal mainnya" celetuk Kinan, para pria menatap bingung padanya. Rania, Ros dan Naina tertawa.
Kalau kalian tanya kemana Satria dan keluarganya? Aku memindahkan mereka ke luar provinsi, maaf ya. hehehe
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nya🥰🥰
...Happy Reading all 🥰🥰...