Menikah karena kesalahannya dimasa muda, namun setelah ia mempunyai dua orang anak, suaminya malah berkhianat dan menikah dengan wanita lain. Ayyara Ariani harus menelan pil pahit pernikahan.
Ia menjalani kehidupan sebagai janda dengan dua orang anak. Hidup dengan cacian dan hinaan orang-orang disekelilingnya tak membuat Yara berputus asa.
Arzan Alvaro memilih hidup sendiri setelah istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil saat ia mengandung buah cinta mereka. Arzan menghabiskan waktu dengan bekerja dan menjadi pria yang dingin tak tersentuh. Sukses membangun bisnis peninggalan sang ayah yang terancam bangkrut dan menjadi kan Zein's company semakin maju dan tak terkalahkan di bidang industri dan perdagangan di kancah internasional.
Bagaimana kisah mereka berdua? yuk mari kita simak...
selamat membaca...
cover by noveltoon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
panggilan berbeda
Yara sebenarnya tahu jika ada seseorang yang duduk disampingnya dan ia sangat hafal sekali wangi parfum khas yang mengusik indra penciumannya. Tapi rasanya Yara enggan membuka matanya. Ia hanya ingin tahu apa yang akan pria ini lakukan.
Yara merasakan sentuhan jari-jari Arzan yang mengusap pipinya. Ada rasa hangat dan haru ia rasakan.
Yara masih mendengar ucapan Arzan yang memintanya memiliki panggilan berbeda dengan mantan suaminya. Rasanya Yara ingin sekali tertawa. Jadi ini penyebab pria sedingin kutub Utara itu sejak tadi mendiamkan nya.
Yara benar-benar tidak habis pikir.
Tak tahan lagi Yara membuka matanya.
"jadi mas mau dipanggil apa..??" tanya Yara tiba-tiba dan membuat Arzan terkejut bukan main.
Bahkan saat ini pipi Arzan terlihat memerah. Tangannya masih menggantung di depan wajah Yara.
"hmmm... Mau dipanggil apa...?" ulang Yara sekali lagi memiringkan kepalanya menatap kearah Arzan persis seperti Yasmine jika ia sedang dalam mode penasaran.
Arzan kembali menegakkan tubuhnya seakan ingin menghindar dari tatapan menyelidik Yara. Ia salah tingkah.
"ayo kita makan siang setelah nya kita harus jemput anak-anak" ujar Arzan yang kini sibuk membuka satu persatu kotak makan siangnya.
Yara hanya memperhatikan semua gerak gerik Arzan.
"Jangan menatapku seperti itu, ayo makan!" ujarnya yang melirik Yara dengan ekor matanya.
Yara mengambil kotak nasinya yang telah disiapkan oleh Arzan.
" kita akan jemput anak-anak, dan langsung pulang setelahnya.." ajak Arzan ketika Yara telah selesai dengan makanan nya.
"memangnya, mas nggak ada pekerjaan lagi? Ini kan masih jam kerja?" tanya Yara heran.
"ada, tapi masih bisa dikerjakan dari rumah" ujarnya kembali dingin.
Yara sungguh tak tahan melihat perubahan sikap Arzan yang seperti bunglon, sebentar hangat sedetik kemudian bisa berubah lagi.
Arzan berjalan mendekati Yara yang berdiri di depan pintu toilet.
"ubah panggilannya, aku nggak mau kamu panggil mas lagi" ucap Arzan kemudian.
"mau dipanggil apa?"
"apa saja asalkan jangan mas, terserah kamu..bisa panggil honey, bee, sayang atau hubby mungkin. Seperti anak-anak zaman sekarang" jelas Arzan yang semakin mendekat pada Yara yang kini bersandar pada dinding.
Yara menghirup wangi parfum Arzan sepuasnya. Dan menatap manik coklat terang milik Arzan.
"kenapa kamu ingin panggilan yang berbeda, bukankah semua panggilan itu sama saja. Jika kamu ingin panggilan yang berbeda itu artinya kamu ingin memiliki tempat khusus di hatiku, dan jika demikian apa aku juga memiliki tempat khusus di hatimu?" ucap Yara yang langsung membuat Arzan membeku ditempatnya.
Arzan tidak menyangka jika hanya karena panggilan saja Yara bisa memukul telak dirinya. Pertanyaan Yara sama dengan apa yang ditanyakan oleh hatinya beberapa saat yang lalu. Bahkan ketika rapat pun Arzan tak dapat berkonsentrasi karena mantan suami Yara yang mengusik pikirannya. Bahkan Arzan sampai membayangkan hubungan Yara dan mantan suaminya sebelum bercerai.
Arzan kembali menatap Yara yang kini hanya berjarak tidak kurang dari sepuluh senti saja dari wajahnya. Arzan menatap bibir ranum Yara yang kini terbuka.
Yara perlahan mendorong tubuh Arzan menjauh darinya. " jika kamu belum bisa jawab nggak usah dipaksakan, aku paham. Ayo kita jemput anak-anak" ujar Yara yang kini hendak berjalan menuju sofa untuk mengambil tasnya.
Arzan kemudian tersadar, ia mencekal lengan Yara dan menarik tubuh Yara kearahnya hingga Yara hampir membentur dada bidang Arzan.
Arzan kini bahkan mencium bibir Yara yang sejak tadi mengusik pikirannya. Ciuman hangat menggelora dan sedikit kasar. Entah lah,ia tidak bisa berfikir dengan jernih saat ini. Ia hanya ingin meluapkan cemburu nya dan rasa tak percaya dirinya yang tiba-tiba saja muncul.
Ciuman berlangsung sangat bergairah bahkan kini Arzan telah menekan tombol pintu masuk kedalam kamar pribadinya yang ada di ruang kerja itu. Membawa tubuh Yara berbaring di atas ranjang king size milik Arzan. Yara sempat memperhatikan ruangan dengan sudut matanya. Tapi ia tidak bisa berkonsentrasi apa-apa saat ini karena Arzan terus saja menciumi lehernya.
Dan untuk kesekian kalinya penyatuan itu terjadi. Tapi kali ini Arzan bermain sedikit agak kasar sehingga tanpa sadar ia menyakiti istrinya. Yara yang kelelahan langsung tertidur pulas. Arzan menyelimuti tubuh polos itu sebatas bahu dan kembali berjalan menuju meja kerja setelah membersihkan diri.
" Kevin, minta pada Hilman jemput anak-anak, saya masih ada urusan" ucap Arzan yang menghubungi asisten Kevin.
Arzan yang ingin kembali ke kamar pribadinya tak sengaja menatap satu frame foto saat ia dan Devina berbulan madu dulu. Arzan mengusap wajahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam.
"maaf , aku ingin mencoba memulai hidup baru dengan wanita yang kini mendampingi ku" bisik Arzan yang kemudian memasukkan frame foto itu ke salah satu laci meja kerjanya paling bawah.
Pantas saja tadi Yara bertanya demikian padanya. Arzan menoleh kearah Yara yang kini tidur membelakangi pintu.
Arzan kembali berbaring bersama Yara dalam satu selimut dan kembali menciumi seluruh wajah Yara.
"Kamu dan anak-anak memiliki tempat tersendiri di hatiku. Kalian bahkan memberi ku semangat untuk menjalani kehidupan ini" ujar Arzan.
"jangan menangis, aku tak tahan melihat air matamu" ucap Arzan kepada Yara yang kini telah membuka matanya.
"kita adalah dua orang yang sama-sama memiliki masa lalu yang menyakitkan. Aku yang berusaha bangkit dari keterpurukan karena ditinggal Devina dan kamu yang bercerai dengan mantan suami mu" ucap Arzan yang kini bisa mulai bercerita tentang pribadi pria itu.
"aku nggak akan menuntut mu untuk bisa menerima kami dengan sepenuh nya, tapi paling tidak izinkan kami mengisi kekosongan dalam hidup mu. aku bukan wanita sempurna, aku masih banyak kurangnya. Apapun itu aku siap mendengarkan segala keluh kesah mu. Tolong jadikan aku partner dalam hidup mu. Dan jika kamu nanti sudah menemukan wanita yang benar-benar kamu cintai tolong bilang agar aku punya persiapan untuk pergi" ucap Yara dengan air mata yang tak bisa ia tahan lagi.
Arzan memeluk tubuh Yara yang bergetar menahan isakannya. Air mata juga menetes di sudut matanya. Ini pertama kalinya mereka saling berbagi isi hati. Memang benar jika pertengkaran didalam rumah tangga itu lebih nikmat diselesaikan di atas ranjang.
Yara mengurai pelukan Arzan menatap mata yang memerah dan berbalik kini ia yang menghapus sisa-sisa air mata suaminya. Mencium setiap sudut mata yang selalu membuat Yara tak bisa berkutik jika setiap kali Arzan menatapnya dan terakhir ciuman Yara berlabuh pada bibir penuh milik Arzan.
Keduanya saling pandang dan tersenyum.
"Bee.... Anak-anak, ya ampun ini pasti sudah sore... Aduh bagaimana ini..." ucap Yara yang tersadar jika mereka belum menjemput anak-anak. Yara bahkan kini menegakkan tubuhnya yang polos tanpa menyadari tatapan mata kelaparan yang kini sedang menahan sesuatu yang akan meledak. Arzan kembali menarik lengan Yara.
"anak-anak sudah dijemput sama Hilman. Ayo sini kamu harus tanggung jawab, kita selesaikan yang ini dulu..." ujar Arzan yang kini kembali mengukung Yara dengan tubuhnya.
" coba ulangi panggilan tadi, aku belum dengar jelas..." ucap Arzan.
"apa...aku nggak panggil apa-apa..." elak Yara yang kini menahan malu.
Arzan tak menyerah ia punya cara lain agar Yara memanggil nya dengan panggilan sayang yang tadi ia sematkan padanya.
Yara menahan desahannya.
"Beeee... Please jangan gini... Bee..." leguh Yara.
Menjelang sore ini pasangan Yara dan Arzan menutup nya dengan sesuatu yang manis dan bergairah. Ada rasa lega di hati keduanya. Pelan-pelan komunikasi antara mereka semakin terbuka, Yara yang tak segan menyampaikan keinginannya ataupun yang tidak ia sukai. Begitu pun Arzan yang merasa lega karena ada tempat untuk ia bercerita.