Hubungan simbiosis mutualisme di antara Samudra dan Kejora, terjadi begitu saja dalam semalam. Alhasil, malah menghasilkan benih yang tak terduga.
Dilema, itulah yang dirasakan oleh Kejora. Apalagi ia hamil tanpa suami. Sedangkan Samudra, ia tak tahu jika Kejora sedang mengandung benih darinya.
Pasca berhubungan malam itu, Samudra dan Kejora sudah tak pernah bertemu lagi, karena Samudra menetap di luar negeri. Sedangkan Kejora tetap fokus kuliah sambil bekerja.
Beberapa tahun kemudian, keduanya tak sengaja bertemu saat Kejora menjadi salah satu fotografer di pernikahan partner bisnis Samudra.
Bukannya senang tapi Kejora justru merasa khawatir jika Samudra akan mengambil anak-anaknya.
Note: Jangan di boom like, beri jeda selama tiga menit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrafa Aris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. BTT (My Triplets)
Keheningan seketika tercipta di kamar rawat Kejora. Sang fotografer memandangi Kayana yang tampak termenung di dekat jendela.
“Kay.” Kejora perlahan turun dari bed kemudian menghampiri sang adik. “Ada apa? Kenapa wajahmu murung begitu?”
“Kak, apa Kakak pernah mencintai seseorang selain daddy-nya Satria, Angkasa juga Lintang?” tanya Kayana.
Sejenak Kejora bergeming disertai kening yang berkerut tipis. Pertanyaan tiba-tiba sang adik tentu membuatnya sedikit terkejut.
“Pernah,” aku Kejora. “Tapi, tetap saja aku nggak bisa melupakan Samudra. Karena apa? Kamu bisa lihat sendiri wajah Satria, Angkasa juga Lintang ... wajah mereka duplikat dari seorang Samudra.”
Kayana tersenyum pahit. Kini merubah posisi saling berhadapan dengan Kejora. “Bagaimana pendapat kakak tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan?”
Kejora menghela nafas kemudian merangkul Kayana. Ia tahu benar maksud dari pertanyaan sang adik.
“Kay ... cinta itu ibarat pelangi yang terlihat di kejauhan. Teruslah berjalan meski kamu nggak pernah mencapainya. Kamu harus bisa melepaskan perasaan yang nggak berbalas dengan mencari kebahagiaan yang lain. Dengan begitu kamu patut menghargai diri sendiri serta percaya bahwa, akan ada orang yang lebih pantas untuk menerima cintamu.”
Mendengar ungkapan bijak dari Mom SAL, sepasang mata Kayana kini mengalirkan kristal bening.
Selama beberapa tahun berhubungan dekat dengan Rendra, pria itu tak pernah menyatakan perasaannya pada Kayana. Sebagai seorang wanita, tentu menginginkan sebuah jawaban yang pasti.
Kayana memeluk Kejora seraya berbisik lirih, “Aku mencintai Rendra, Kak. Tapi, sepertinya dia nggak pernah memiliki perasaan yang sama denganku.”
“Kay ... itulah mengapa, aku nggak pernah berharap lebih pada siapa pun termasuk pada Samudra juga mama kala itu yang mengabaikanku. Aku memilih menjalani semuanya dengan ikhlas tanpa beban. Sejatinya, berharap pada seseorang pasti akan berujung dengan kekecewaan.”
Kejora mengusap punggung Kayana. Sedih sekaligus menguatkan adik bungsunya. Mom SAL kemudian memberi sedikit nasihat untuk tak terlalu berharap lagi pada Rendra.
Kejora juga berjanji setelah diizinkan pulang dan dinyatakan sembuh, Mom SAL ingin meluangkan waktu berdua saja dengan Kayana di kota kelahiran mereka di Yogyakarta.
.
.
.
Menjelang malam, barulah Kayana izin pulang. Setidaknya setelah mencurahkan segala isi hati serta keluh kesahnya pada sang kakak, kini ia merasa jauh lebih tenang.
“Kay, sebaiknya kamu bareng Samudra saja pulangnya,” saran Kejora.
“Hmm, biar aku saja yang mengantarmu,” timpal Samudra kemudian beranjak dari sofa menghampiri Kejora.
“Ya sudah, aku tunggu kakak di parkiran saja,” pamit Kayana lalu meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggal Kayana, Samudra duduk saling berhadapan dengan Kejora. “Baby, mungkin aku akan pulang sedikit telat malam ini. Soalnya aku ada pertemuan penting dengan team produksi film.”
Kejora tak menjawab melainkan menaikkan jari kelingking ala Angkasa. Kelakuan absurb Mom SAL itu, justru mengundang tawa Samudra sekaligus merasa gemas.
“Sepertinya sifat Angkasa sangat dominan denganmu,” ucap Samudra seraya menautkan kelingkingnya pada Kejora. “Lalu ... apa?”
“Jika kamu diajak ke club' malam, kamu harus menolak. Aku takut kamu akan mengulangi hal yang sama seperti lima tahun yang lalu.”
Samudra melepas tautan jarinya. Membawa Kejora masuk ke dalam pelukannya lalu berbisik, “Never, Baby. Then and now ... ceritanya berbeda. Bagiku kalian ... kamu dan anak-anak adalah segalanya bagiku. I'm promise ... begitu acaranya selesai, aku akan langsung pulang.”
Hening sejenak ...
“Ada apa, hmm?” tanya Samudra karena Kejora masih betah berada dalam dekapannya.
“Nggak apa-apa,” jawab Kejora kemudian mengurai pelukannya dengan senyum manis. “Pergilah, Kayana sudah menunggu.”
“Hmm.” Samudra mendaratkan kecupan dikening juga bibir Kejora. Dengan berat hati ia terpaksa meninggalkan Mom SAL.
Sementara itu, Kayana yang sejak tadi menunggu Samudra, seketika berbalik tak kalah seseorang menegurnya.
Ia tahu benar pemilik suara itu, yang tak lain adalah Rendra. Jika sebelumnya ia sangat antusias saat disapa, namun tidak kali ini. Sang dosen muda tampak biasa saja.
“Kay, apa kamu ingin pulang?” tanya Rendra dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Kayana.
“Ya sudah, bareng aku saja.”
“Terima kasih, Rendra. Aku pulang bareng kak Samudra saja,” tolak Kayana dengan senyum tipis.
Rendra bergeming sembari memandangi Kayana. Tak lama berselang, Samudra berlari kecil menghampiri ke-duanya.
“Rendra ... Kayana, maaf sudah membuatmu menunggu,” sesal Samudra sesaat setelah berada di samping Kayana.
“Nggak apa-apa, kak.”
“Rendra, kami duluan,” pamit Samudra.
Rendra menjawab dengan anggukan kepala seraya mengangkat tangan. Ia masih berdiri di tempat sembari menunggu kendaraan Samudra meninggalkan area parkir.
“Tumben Kayana menolak tawaranku. Biasanya dia langsung mengiyakan jika diajak pulang bareng,” gumam Rendra sembari memandangi roda empat milik Samudra yang kini telah menjauh.
.
.
.
Setelah mengantar Kayana pulang, Samudra lanjut pulang ke kediamannya. Suasana berbeda langsung ia rasakan ketika memasuki rumah.
Sepi ....
Tak ada suara gelak tawa Satria dan Lintang, tak ada pertanyaan dari Angkasa untuk meminta pendapatnya tentang hasil akhir lukisan miliknya.
“Daddy kangen banget sama kalian,” gumam Samudra sembari mempercepat langkah menapaki anak tangga menuju kamar.
Satu jam berlalu ...
Samudra menatap pantulan dirinya di depan kaca. “Baby, andai saja kamu nggak sakit, harusnya kamu menemani aku ke pertemuan penting itu,” gumam Samudra sembari merapikan jas-nya. “Semoga Mario datang lebih awal.”
Sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam produksi film, mau tak mau, Samudra harus hadir. Karena film garapan mereka akan segera ditayangkan dalam satu bulan ke depan.
.
.
.
Fairmont Restaurant ....
Begitu memasuki restoran, Samudra langsung mengukir senyum. Menghampiri rekan-rekannya juga para artis yang terlibat dalam proyek film mereka termasuk Ayumi.
“Maaf, aku sedikit telat, maklum terjebak macet,” ucap Samudra kemudian duduk di tempat yang telah disediakan.
“Sudah nggak heran bahkan setiap hari kita mengalaminya,” sahut Alvaro lalu terkekeh. “By the way, kamu kok sendirian nggak bareng Kejora?”
“Dia masih menjalani perawatan di rumah sakit,” jawab Samudra.
‘Jika perlu, sekalian saja dia lenyap dari muka bumi ini!!’ batin Ayumi. Benci pada Kejora disertai senyum sinis.
*********
Sementara di rumah sakit, Kejora duduk termenung sembari memikirkan Kayana. Iba pada sang adik.
Ia tak menyangka jika hubungan Kayana dan Rendra tak seperti yang ia pikirkan. Karena selama ini, keduanya terlihat begitu dekat bahkan seperti akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
Lamunannya seketika membuyar ketika mendengar suara ketukan pintu. Kejora mengarahkan pandangannya ke depan.
“Nabila,” ucapnya lirih.
“Ada titipan dari bang ojol untukmu,” kata Nabila sambil memperlihatkan paper bag. “Dari suamimu ... Oh My God, Samudra perhatian banget padamu.”
Kejora tergelak memandangi Nabila yang kini sedang mengeluarkan box makanan itu dari dalam paper bag.
“Thanks ya, Bil,” ucap Kejora seraya menerima box makanan yang diberikan oleh Nabila. “
“Sama-sama, Kejora. Cepat sembuh, ya. Aku mohon jaga kesehatanmu. Cakra sangat khawatir dengan kondisimu saat ini,” tutur Nabila.
Kejora mengangguk pelan sembari menyuapi makanan ke dalam mulut. Ia juga meminta Nabila ikut menyantap makanan itu.
“Lagian, ngapain sih dia memesan makanan sebanyak ini, mubazir tahu?” gerutu Nabila.
“Mungkin dia ingin istrinya gendut,” sahut Kejora disertai tawa kecil. “Apa Aquila nggak rewel?”
“Nggak, lagian dia sama mama. Aku juga sudah siapkan stok ASI. So, semuanya aman terkendali.”
Obrolan ke-duanya pun berlanjut sambil menyantap makan malam hingga selesai. Setelah itu, Nabila berpamitan sekaligus meninggalkan kamar rawat Kejora.
*******
Beberapa jam telah terlewati sehingga malam semakin larut. Seperti dugaan Kejora, setelah selesai pertemuan itu, Samudra diajak ke club' malam untuk merayakan keberhasilan mereka.
Meski telah menolak, akan tetapi bujukan rekan-rekannya membuat sang produser akhirnya pasrah.
Samudra yang sejak tadi merasa gelisah, sesekali melirik jam dipergelangan tangannya. Yang ada di benaknya kini adalah Kejora.
Dari arah yang tak terlalu jauh dari mereka, Ayumi seakan tersenyum puas saat memandangi Samudra yang mulai tampak gelisah.
‘Aku akan merebut kembali milikku,’ batin Ayumi.
Tak lama berselang, Samudra menghampiri Mario dan Raisa yang sedang duduk di kursi bartender. Ia mendekatkan bibir di dekat telinga pria itu.
“Mario, sebaiknya antar aku pulang. Aku merasa nggak baik-baik saja. Lagian ini sudah masuk waktu dini hari,” bisik Samudra kemudian buru-buru meninggalkan tempat itu.
...----------------...
begini aja thor saat suami ada masalah dengan mu dan suami malah berpelukan dengan wanita lain bahkan sampai curhat nangis2 dengan wanita itu, apakah kau Terima diperlakukan begitu saja
thor coba pakai tolak ukur dirimu, lihat dari semua sudut pandang, jangan hanya sudut pandang pemeran wanita saja karena itu membuat kalian menjadi egois dan selalu membela kelakuan pemeran utama wanita
padahal untuk episode ini kelakuan kejora sudah kelewatan batas, memeluk pria lain, curhat kepada pria lain, nangis bilang menyesal tidak menerima lelaki itu,
pakai akal sehat sedikit saja thor
apa pun alasannya pelakor tetap pelakor, seharusnya Samudra selesaikan dulu urusannya sama istrinya baru bina kehidupan baru dgn Kejora😏🤭