Desa Karang digemparkan oleh sosok yang membawa kepala dan melemparkannya ke halaman setiap rumah korbannya. warga merasa seakan terkena teror yang sangat menakutkan, sebab tidak dapat diketahui siapa sebenarnya sosok yang sangat misterius tersebut. Sosok itu menghilang, setelah berhasil memenggal sebelas kepala warga desa yang semuanya adalah pria.
Apa yang menjadi motif dari sosok tersebut? maka ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam-8
"Aaaaarrrgh,"pekik kesakitan seseorang yang berada disebuah gubuk tua,sembari memegangi dadanya.
Sosok berjas hujan itu terlempar disudut tiang gubuk ditengah-tengah semak belukar. Entah sejak kapan ia sudah berada ditempat itu.
Tubuhnya tampak membiru dibagian dadanya, sepertinya sebuah hantaman kekuatan ghaib tengah mengenai dada kirinya.
Darah hitam kental keluar dari mulutnya. Ia berusaha untuk duduk dan tubuh terasa lemah.
Sekelebat bayangan hitam melintasinya, lalu tampak sosok itu masuk ke dalam sebuah keris dan terlihat benda itu bergetar hebat, hingga menimbulkan suara gemeretak karena menghantam anglo yang sedang membakar kemenyan dan juga dupa.
Wuuuussssh...
Suara desingan angin saat benda itu melayang diudara, dan hampir saja mengenai sosok pria tersebut.
Ssssstttt...
Ujung keris tertancap ditiang gubuk yang terbuat dari batang kayu.
"Haah," sosok pria itu tersentak kaget, dan jika saja ia tidak cepat menghindar, maka benda itu sudah menghujamnya dengan cara yang mengerikan.
Seketika benda tersebut kembali bergetar hebat. Sosok pria itu membolakan matanya, lalu merafalkan mantra dengan cepat, sehingga benda itu tercabut dari tiang, lalu terjatuh.
Ia mencoba beranjak dari tempatnya, kemudian berusaha memungut benda tersebut, dan tiba-tiba....
Buuuuugh...
Kembali sebuah hantaman mengenai dadanya, kembali ia terlempar dilantai gubuk yang terbuat dari papan.
Sementara itu. Ki Roso kembali ke rumahnya. Iq mengendap-endap masuk ke dalam kamar Naeswari. Ia mencari sebuah benda yang sangat berharga baginya.
Ia mencoba membongkar beberapa benda, bahkan lemari pakaian tak luput dari pencariannya. "Dimana kerisku? mengapa menghilang. Aku tidak pernah memindahkannya," gumam Ki Roso sembari membongkar setiap lipatan.
Wiiiuu... Wiiiiuuu...
Terdengar suara sirene mobil polisi, terdengar menuju ke arah rumahnya, meskipun tak layak disebut rumah, dan lebih tepatnya sebuah gubuk.
Tak ingin mendapatkan masalah, pria paruh baya itu memilih pergi dan kembali ke hutan.
Disisi lain, sosok berjas hitam itu merafalkan mantranya untuk kembali mengendalikan keris tersebut.
Dengan merangkak, ia menghampiri anglo. Ia berusaha untuk duduk, meskipun tubuhnya terasa sangat sakit.
Ia menusukkan ujung keris diujung jemari telunjuk tangannya dan mengalirkan darah yang keluar dari luka tusukkan itu, lalu membakarnya diatas bara yang terdapat dianglo.
"Aku lagi bang wingo wingo (Aku sedang dalam kemarahan besar) Jin dan setan kang tak utusi (Jin dan setan yang ku perintah) Dadyo sebarang (menjadi perantara) Wojo lelayu sebet (Untuk mencabut nyawamu). By goo-gle
Seketika asap hitam mengepul dan bergulung-gulung.
"Aaaaaaarrrggg...) sosok wanita dengan mata memerah dan hampir terlepas, serta leher yang bergelantungan datang dengan bersujud dihadapannya.
"Aku mematuhimu Tuan. Beri aku perintah malam ini," ucap makhluk itu dengan suara paraunya.
"Habisi mereka yang telah membuat Naeswari terbu-nuh!" titahnya dengan nada penuh penekanan.
Tampak sosok itu menggerakkan lehernya, sehingga kepalanya yang tergantung berayun kesana-kemari.
Sementara itu, Andana baru saja selesai menjahit luka yang dialami sigit. Terdengar suara sirine ambulance meraung-raung menuju kediaman mereka. Ternyata bidan Andana menghubungi ambulance untuk merujuk Satya ke rumah sakit, sebab kondisi remaja itu memerlukan penanganan yang khusus.
Sebagai perugas puskemas desa, tentunya ia memiliki tanggungjawab untuk meminta dokter yang sama bertugas memberikan surat rujukan.
Andana beralih menghampiri Satya. Lalu membalut luka tersebut menggunakan perban elastis agar luka itu terhenti pendarahannya. "Hubungi orangtua Satya untuk menjadi penanggungjawab dan juga pendamping," titah Andana sembari menyelesaikan balutannya.
"Sudah, Bu," jawab Surya sigap.
"Baguslah," bidan itu hampir selesai, "Bang Darmadi, tolong bantu gendong Satya ke dalam ambulance, letakkan kakinya agar lebih tinggi dari tubuh,"titahnya lagi.
Lalu Darmadi menganggukkan kepalanya dan mengangkat tubuh Satya yang dibantu oleh Surya. Lalu keduanya membawa tubuh remaja itu masuk ke dalam ambulance.
Saat bersamaan, kedua orangtua Satya datang dengan raungan tangis yang memilukan. "Sudah, Bu, Pak, bukan saatnya menangis, Satya harus segera dirujuk ke rumah sakit," ucap Andana, "Nanti singgahi puskesmas yang diujung desa, dokter sudah menyiapkan surat rujukannya," Andana kembali mengingatkan, yang dijawab anggukan keduanya.
Kedua orangtuanya tak mengerti mengapa anaknya juga menjadi korban pembantaian tersebut.
Lalu mobil ambulance bergerak pergi meninggalkan kediaman Andana.
Kini tinggal Surya, Darmadi dan bidan Andana yang masih bingung dengan semua yang terjadi. "Bang, untuk saat ini abang tidak bisa tinggal disini, tentunya polisi akan menanyai abang dan menjadi saksi, begitu juga dengan kamu Surya. tetapi saya mau meminta bantuan kalian malam ini, sebab pergerakan hawa negatif sedang kembali menyerang," ucap Andana sembari memejamkan ke dua matanya.
Darmadi melirik bidan tersebut dengan ketus. Ia seolah merasa diperintah malam ini.
"Ayo kita bergerak ke perkebunan karet. Yoga dan Yogi sedang tersesat. Pergerakan hawa negatif itu semakin mengincar mereka," ucap Andana, lalu bergerak mengunci pintu rumahnya.
"A-aku pulang ke rumah saja," ucap Surya ketakutan. Ia tidak ingin lagi harus bertemu dengan makhluk mengerikan itu.
Andana menoleh ke arahnya. "Bagaiaman jika ia mengikutimu saat menuju arah pulang," tanya Andana, yang semakin membuat Surya bergidik takut.
Tiba-tiba saja raut wajahnya menjadi pucat. Ia menjadi serbah salah. Ingin pulang takut dicegah ditengah jalan, ingin ikut justru juga sama halnya mencari maut.
Saat ini Surya bagaiakan buah simalakama. Tetapi ia seolah menfandalkan Andana dan juga Darmadi saat ini.
"Bentar, aku hubungi Yoga dan dan Yogi dulu, bisa jadi mereka sudah dirumah, dan kita tidak perlu mencarinya," saran Surya dan segera menghubungi Yoga.
Dalam kegelapan malam, terlihat seorang remaja sedang berlarian tidak tentu arah. Nafasnya tersengal dan memburu saat melihat sekitarnya hanya ada kegelapan semata.
Dreeet... Dreeet..
Tampak phonselnya bergetar. Ia meraih pohensel didalam saku celananya. Karena rasa takut yang begitu besar. Ia akhirnya menjatuhkan phonsel tersebut. Ia bergeges merunduk untuk memungutnya, hingga tanpa sengaja ia melihat jari jemari tangan yang keriput dengan kuku meruncing juga ikut memungut phonselnya.
Disisi lain, Surya tampak kesal karena panggilannya tidak juga dijawab.
"Kelamaan, ayo, bergerak!!" titah Andana dengan cepat.
Darmadi mau tidak mau mengekori bidan yang dianggapnya menyebalkan itu. "Kalau bukan karena perempuan, sudah aku getok senter," gumam Darmadi dalam hatinya.
"Jangan ngomel, bang. Ntar cepat tua," ucap Andana sembari terus berjalan.
"Haaah! Dia tau aku ngomong dalam hati doank," Darmadi bergumam yang tanpa ia sadari terus mengekori bidan tersebut daru arah belakang.
Surya bengong, sebab ia sudah tertinggal jauh. Karena merasa bulu kuduknya meremang, maka ia memilih ngacir mengikuti keduanya.
"Tunguuu," teriak Surya yang mengekori keduanya. Ia merasa jika Yoga-sahabatnya dalam masalah besar.
Disisi lain, Yoga merasakan tubuhnya membeku. Bibirnya memucat dengan kehadiran sosok yang memungut phonselnya. Saat ia berusaha menegadahkan kepalanya untuk melihat sosok tersebut, tiba-tiba saja kepala milik sosok itu tergantung yang membuat mata mereka saling bertatapan dengan bibirnya yang menyeringai dan memarkan deretan giginya yang penuh darah mengering.
Contoh DAENG KEBO..DAENG MATOLA..
boy...boy...tunggulah giliranmu.