•Unbeatable Girlfriend —Pacar yang Tak Terkalahkan•
Clarish Deonal Martin, esper tersembunyi yang dikatakan mewarisi kekuatan dewa. Ia cerdas, licik dan pandai memeras kekayaan orang. Namun ia selalu menganggap dirinya miskin meski uang dalam kartunya bernilai ratusan juta dolar.
Setelah mengenal Elnathan Deminthor, pewaris keluarga sekaligus pemimpin kelompok mafia, hidup gadis itu berubah. Ia membantu Elnathan dalam situasi apa pun, bahkan jika itu adalah konspirasi musuh.
Namun pada saat yang sama, Clarish harus mengorbankan kebebasannya sendiri untuk keluarga Deminthor. Dan tentunya demi Elnathan yang selama ini ia sukai diam-diam.
Akankah keduanya bisa mengatasi semuanya bersama-sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Sophia dan Michella
Elnathan juga melihat sosok Michella tapi tidak memiliki perubahan suasana hati sama sekali. Dia hanya mengiyakan dengan malas.
Semua orang tahu jika dulu Elnathan punya tunangan. Dan itu masih dari keluarga bangsawan yang cukup berpengaruh di luar negeri. Namun tidak bertahan lama karena alasan ketidakcocokan. Akhirnya sepakat untuk berdamai.
Clarish pernah mendengar hal ini juga dari Sophia. Tapi tidak tahu masalah pastinya. Sepertinya, Sophia sangat membenci wanita itu.
"Yo, kupikir kamu memiliki perasaan pada wanita itu. Lalu kenapa dulu kamu menyetujui pertunangan?" tanya Raul.
"Hanya masalah sepele." Elnathan menjawab dengan nada datar.
Dan Sophia yang duduk di samping Clarish mendengkus. "Apa bagusnya wanita itu? Dia hanya ular berbisa!"
"Ular berbisa? Sophia, kamu berlibur* dengan wanita itu?"
"Memangnya kapan aku terlihat akur dengannya?" Sophia kesal. Ia memutar bola matanya, melihat ke mana Michella pergi.
"Tapi dulu kamu dan dia sempat jalan beberapa kali saat masih menjadi tunangan kakak mu. Aku baru ingat jika kamu bertengkar dengannya karena sesuatu dan akhirnya tidak lagi terlihat bersama." Armen hampir melupakan hal ini jika tidak melihat Michella lagi.
"Jangan bahas dia. Itu membosankan." Sophia tidak mau memberi tahu apa pun tentang kejadian masa lalu. Bahkan Clarish saja tidak tahu tentang ini.
Ketika ia melihat Clarish juga menatapnya, Sophia hanya menghindari tatapannya dan pura-pura tidak tahu.
Untungnya, suasana canggung ini tidak berlangsung lama karena semakin banyak orang yang datang, suasananya ramai.
Panitia dari pihak keluarga Kingston menyambut baik kedatangan mereka di acara perkemahan tersebut. Keluarga Kingston ingin mempererat hubungan dari setiap keluarga tanpa memikirkan keuntungan apa pun.
Semua orang bersenang-senang.
Pada malam harinya, setiap kelompok memiliki satu api unggun kecil. Entah digunakan untuk memasak atau menghangatkan badan.
"Acara ini akan berlangsung selama tiga hari lamanya." Raul memberi tahu. "Besok pasti akan lebih seru karena beberapa perlombaan diadakan oleh panitia. Tim kita pasti bisa menang!"
Ia mendapatkan info dari Armen jika Clarish sangat mahir memainkan beberapa permainan. Bahkan kalah telak dari gadis itu. Dia sangat penasaran dengan kemampuan nya. Seberapa hebat Clarish dalam memainkan beberapa perlombaan.
"Perlombaan? Lomba jenis apa yang akan dilakukan di tempat seperti ini?" tanya Sophia. "Hutan ini bahkan tidak memiliki lapangan.
Raul tertawa ringan. "Jangan khawatir, perlombaannya juga tidak sulit. Ada sungai besar di sekitar ini, tahu kan? Nah, besok semua peserta harus menangkap ikan dengan tangan kosong atau dengan tombak, sangat tradisional."
Untuk lomba lainnya, Raul tidak memberi tahu mereka. Biarlah jadi misteri.
Sophia sedikit tertarik untuk menangkap ikan. Tapi memikirkan dia harus bertemu lagi dengan Michella, suasana hatinya yang baik hilang.
Dia mengaitkan tangannya ke lengan Clarish yang sedang makan jagung bakar. "Sayangku, besok kamu harus berada di dekatku. Kamu harus menangkap ikan yang lebih banyak dari pada peserta lainnya. Tahukah kamu?"
"Apakah ada hadiah?" Clarish justru bertanya pada Raul.
Raul mengangguk. "Tentu saja. Tidak menyenangkan jika tidak ada hadiahnya bukan? Ikan yang ditangkap juga bisa dibawa pulang."
Ketika malam semakin larut, satu persatu dari mereka mulai masuk tenda dan tidur untuk bangun lebih pagi besok. Termasuk Sophia yang tak bisa menahan kantuk setelah makan. Ia menyeret Clarish untuk tidur.
Pada tengah malam, Clarish bahkan belum tidur sama sekali. Dia hanya memejamkan mata, napasnya stabil. Sophia sudah lama tidur nyenyak. Sesekali, tangan wanita itu akan menampar tubuhnya.
Clarish perlahan meletakkan tangan Sophia ke sisi semula. "Bisakah kamu tidur lebih manusiawi?" gumamnya.
Sophia memiliki kebiasaan tidak bisa diam saat tidur. Apakah wanita itu bermimpi memukul banyak nyamuk di dalam mimpinya?
Lampu led emergency di dalam tenda sudah lama dimatikan untuk menghemat energi. Namun Clarish diam-diam menyuntikkan aura listrik ke dalamnya sehingga baterainya penuh lagi.
Clarish bangun dan meninggalkan tenda untuk buang air kecil. Suasana di luar juga gelap gulita. Tidak ada orang yang berkeliaran sama sekali. Diam-diam, Clarish berjalan tanpa membuat suaramu.
Siapa tahu, Elnathan belum tidur. Pria itu menyingkap pintu tenda yang belum diresleting.
"Ke mana kamu akan pergi?" tanyanya.
Clarish terkejut. Dia menoleh dan melihat pria itu keluar tenda. "Ke sungai untuk buang air kecil."
Ada toilet darurat yang disediakan oleh panitia di dekat sungai. Jadi untuk pergi ke sana memakan waktu beberapa menit.
"Tunggu, aku akan mengantarmu ke sana. Tidakkah kamu takut gelap?"
Clarish menggelengkan kepala. "Jalannya terlihat dengan jelas," jawabnya. "Aku akan pergi sendiri, tidak akan lama."
Tidak menunggu Elnathan merespon, Clarish langsung pergi dengan langkah tergesa-gesa. Elnathan hanya melihat sosoknya perlahan mulai menjauh. Ia mengerutkan kening.
Tampaknya itu tidak sesederhana hanya pergi ke sungai untuk buang air kecil.
Sementara itu, Clarish melihat Elnathan tidak mengikuti, diam-diam lega. Ia memang ingin buang air kecil. Tapi ada hal lain yang harus dia lakukan.
Clarish menangkap gelombang energi dari arah sungai. Ini suara seseorang yang berbicara di telepon. Pepohonan di dekat sana mengirim sinyal energi ini padanya.
Jadi Clarish pergi untuk mengecek.
Ternyata memang benar bahwa seorang wanita berdiri di pinggir sungai, mengucapkan beberapa kata kotor. Seperti orang marah.
Clarish membuat tubuhnya menjadi transparan dan berjalan mendekatinya. Ternyata itu adalah Michella, wanita berambut pirang yang pagi tadi dilihatnya.
Suara Michella sengaja dibuat sepelan mungkin agar tidak didengar siapa pun.
"Pokoknya aku tidak mau tahu! Besok, paman harus meminta seseorang harus membuat Sophia cacat! Entah itu kehilangan tangan atau kaki, atau merusak wajahnya. Apa pun itu, lakukan saja. Bukankah paman adalah pemimpin geng?"
Pihak lain di seberang telepon mungkin enggan untuk melakukannya. Ini membuat Michella sangat tidak sabar.
"Paman, kenapa kamu tidak ingin berurusan dengannya sekarang? Hanya karena dia dari keluarga Deminthor? Atau karena paman takut pada Elnathan? Ingat, jika bukan karena paman, rahasiaku dulu tidak akan diketahui Sophia! Gara-gara ini, aku selalu takut melihatnya."
Michella membayangkan jika rahasianya diungkap oleh Sophia, hidupnya akan berakhir sebagai wanita bangsawan. Ia pasti juga akan berakhir sebagai wanita muda dari keluarga Sanches.
Yang lebih parah, bagaimana jika dia masuk penjara?
Semua ini gara-gara pamannya!
Pihak lain masih ragu-ragu untuk melakukannya. Michella tidak sabar lagi.
"Tidak apa-apa jika dia hanyut di sungai besok dan ...."
Michella menjelaskan apa rencananya jika ini berhasil. Akhirnya, pihak lain akan mencoba dan menghubunginya lagi besok pagi.
Setelah panggilan telepon berhasil, Michella melihat sekitar. Dia buru-buru melangkah pergi dari sana.
Tak lama setelah Michella menjauh, Clarish menunjukkan dirinya lagi. Ia menyipitkan mata.
"Kenapa suara pria di telepon tampak familiar?" gumamnya.
Clarish mengingatnya kembali. Akhirnya teringat dengan satu pria paruh baya di Geng Demonic.
Bukankah itu suara Lisardo? Clarish berpikir lebih dalam lagi.
Mampir juga donk di novel aku "Mengejar cinta sang idola"