Gadis cantik yang biasa di panggil Arra itu harus hidup tanpa ayah dan ibunya, ia hanya gadis biasa yang hidup bersama bibinya sejak kecil. Namun suatu hari Arra harus menghadapi masalah besar menyelamatkan restauran kecil milik bibinya tersebut dengan jaminan dirinya yang harus menikahi pria yang baru saja dikenalnya. Akankah Arra menerima tawaran tersebut? Ikuti terus cerita ini untuk mengetahui keputusannya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inirindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
POV DANIEL
Aku secepat mungkin menyiapkan pernikahanku dengan Gisell begitu lampu hijau dari mama dan papa menyala, aku tidak ingin menunda semuanya karena keluarga Gisella terus mendesak ku karena tidak ingin putrinya hamil tanpa suami. Mereka juga tidak keberatan jika kami menikah dengan privat karena sampai sekarang aku belum juga mendapatkan kepastian dari Rain yang masih tidak bisa di hubungi. Rencananya dua hari lagi pernikahan kami akan di adakan di Vila milik keluarga Gisella di Bandung, setelah itu kami akan tinggal di New York sampai Gisella melahirkan. Ini semua konsekuensi yang harus aku hadapi untuk mendapatkan restu dari orang tua Gisella maupun dari mama papa yang tak ingin membuat mereka malu dengan aib yang telah ku perbuat.
Mama juga akan membantuku mencari Rain selama aku di New York dan membujuknya supaya ia dapat menerima pernikahan ku dengan Gisella, meski aku sedikit keberatan karena harus meninggalkannya namun bisa menikahi Gisella adalah mimpiku sejak dulu.
Selama sisa waktu ku ini aku mencoba mencari Rain ke rumah bibinya, meski semua ini harus ku lakukan secara sembunyi-sembunyi karena Gisella tidak pernah memberikan waktu padaku untuk sekedar jalan sendiri menghabiskan waktu bersama teman.
*
Siang ini aku telah sampai di depan warteg milik bibi Rain, aku mengetuk pintu samping beberapa kali setelah itu seorang tetangga menyapaku
"Mas cari siapa? "
"Budhe Diah mbak"
"Oh pasti dia di depan, mana kedengaran. Biar saya panggilkan"
"Terimakasih mbak"
Aku masih berdiri di depan pintu sambil mengamati dan mencari keberadaan Rain sampai tiba-tiba Budhe Diah keluar menyapaku
"Nak Daniel.... "
"Budhe"
"Ayo masuk silahkan"
"Terimakasih budhe"
"Loh sendirian saja? Arra mana? "
Budhe bertanya Rain padaku? berarti ia tidak ada disini
"Oh Arra sedang sibuk dengan pekerjaannya budhe, jadi saya datang sendiri kemari"
"Oh begitu, lagipula beberapa minggu lalu dia juga kemari bahkan nginep disini cukup lama"
"Oh ya budhe"
"Loh nak Daniel tidak tahu? "
"Saya lupa budhe, mungkin waktu itu saya dinas keluar kota"
"Oh begitu, oh ya nak Daniel ada perlu apa kemari? "
"Em itu budhe saya mau bertemu dengan Anton"
"Oh Anton sedang kerja nak, apa ada yang ingin di sampaikan? "
"Oh tidak budhe, kapan-kapan saja saya kemari lagi"
"Loh kalau penting biar budhe telfon dia, lagi pula jarak rumah kamu kemari jauh loh nak Daniel"
"Tidak apa budhe, sekalian saya nanti ajak Rain kemari"
"Ya sudah kalau begitu, nak Daniel hati-hati"
"Baik budhe, kalau begitu saya permisi"
Jika di rumah budhe tidak ada, lalu kemana Rain pergi? ia tidak punya siapa-siapa di Jakarta, apa jangan-jangan ia menginap di salah satu tempat teman kerjanya, lebih baik ku hubungi William untuk mencari tahu.
"Halo Wil"
"Halo tuan ada yang bisa saya bantu? "
"Tolong kamu cari tahu dimana tempat Rain kerja, siapa saja teman dekatnya, dan tanyakan pada mereka apa ada yang tahu keberadaannya sekarang"
"Baik tuan"
"Kabari saya secepatnya jika kamu dapat informasi"
"Baik tuan"
Sementara itu William langsung mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Daniel, tak menunggu lama ia langsung mengetahui dimana Rain bekerja. Segera ia melakukan mobilnya menuju kesana untuk mencari informasi lebih lanjut.
* POV DIKA
Aku menghampiri Susan yang seperti biasa sibuk dengan cermin di tangannya
"Udah udah, mau sampai kaca itu pecah tetep saja kamu yang paling cantik"
"Ah pak Dika bisa aja, pasti ada maunya"
"Tahu saja kamu"
"Ada apa pak? "
"Ini soal Arra"
"Males ah dia lagi dia lagi"
"Susan, kamu tahu kan ini bukan kemauan saya. Ini perintah langsung dari tuan Nathan"
"Kalau itu mah saya tidak bisa nolak, ada apa dengan Arra memangnya"
"Saya minta sama kamu kalau ada yang mencarinya dan bertanya soal dia, siapapun itu kamu langsung arahkan ke saya"
"Memangnya kenapa sih pak? dia jadi DPO ya? "
"Udah pokoknya ikutin saja"
"Oke Pak, btw ada uang jalannya gak nih? "
"Ada, langsung minta aja ke tuan Nathan"
"Enggak deh kalau itu, bukannya dapat uang malah dapat surat pemberhentian kerja"
"Nah itu tau, ya sudah lanjut kerja"
*
POV SUSAN
Ah yang benar saja baru lima belas menit pak Dika pergi dari hadapanku, sudah ada seseorang yang datang bertanya soal si Arra. Sebenarnya ada apa dengan dia sih, kenapa dia selalu berurusan dengan pria-pria ganteng dan hot seperti ini kan aku jadi makin iri sama dia.
"Permisi" ucap William
"Ada yang bisa saya bantu? "
"Saya William dari Airlangga corporation, saya ingin bertanya apa benar disini ada karyawan yang bernama Rainarra? "
"Maaf kalau boleh tahu ada keperluan apa ya? "
"Saya kemari atas perintah suaminya, saya diminta untuk menjemputnya karena ada urusan keluarga mendadak"
"Oh kalau itu anda bisa langsung menemui pak Dika pimpinan departemen tempat mbak Arra bekerja"
"Baik, saya harus kemana"
"Anda bisa naik lift menuju lantai tujuh setelah itu belok kanan lalu cari pintu bertuliskan pimpinan Departemen"
"Terima kasih"
"Sama-sama"
Hih makin kesal saja aku di buat oleh si Arra, belum lama ini dia merebut tuan Nathan dariku bahkan membuat pak Dika begitu menghormatinya. Sekarang ada pria ganteng mencarinya sebagai pesuruh suaminya, aku jadi makin penasaran dengan Arra sebenarnya siapa sih dia sampai semua orang tampan itu mencarinya. Jangan-jangan suaminya sebelas dua belas dengan tuan Nathan tampannya, enggak gak bisa aku gak boleh kalah dari dia.
*
POV DIKA
Suara ketukan pintu terdengar, sekretaris ku bernama Lita meminta izin untuk masuk
"Tuan maaf mengganggu, ada seseorang bernama William ingin bertemu dengan anda"
"Persilahkan dia masuk"
"Baik tuan"
"Selamat siang" ucap William
"Siang"
"Maaf menggangu waktu anda, perkenalkan saya William Aditama dari Airlangga corporation"
"Apa sebelumnya kita saling kenal? "
"Tidak, saya kemari atas perintah atasan saya yaitu suami nona Rainarra. Sepertinya ia salah satu karyawan disini"
"Oh begitu, ada apa dengan Rainarra? "
"Saya di beri perintah untuk membawanya pulang karena ada urusan mendadak"
"Pulang? bukankah suami bisa langsung menghubungi istrinya jika memang urgent"
"Sudah namun ponselnya tidak aktif"
"Tidak aktif??? sayang sekali sepertinya Rainarra sedang tidak ingin di ganggu karena sedang melaksana tugas di luar kota"
"Luar kota? maksud anda? kalau boleh tahu apa posisi nona Rainarra di perusahaan ini? "
"Itu privasi"
"Saya berhak tahu karena ini perintah langsung dari suaminya"
"Maaf sepertinya anda bekerja di perusahaan besar namun tidak tahu peraturan dasar karyawan ya? jelas pihak perusahaan di larang membocorkan privasi karyawannya ke siapapun entah informasi pribadi ataupun pekerjaan"
"Baik kalau begitu, saya permisi"
"Silahkan"
Laki-laki bernama William itu meninggalkan ruangan ini tanpa membuahkan hasil, usahanya untuk mencari tahu tentang keberadaan Arra sia-sia. Ternyata tuan Nathan sepandai itu bisa menebak langkah apa yang akan suami Arra lakukan untuk mencarinya, usahanya untuk menyembunyikan Arra berhasil.
kenapa sita sejahat itu
& jgn biarkan dia ada di tengah2 Edgar & Arra
kasian Arra