Patah hati melihat gadis yang di cintai lebih memilih pria lain membuatnya bertemu dengan seorang gadis keturunan kerajaan luar Jawa, gadis yang berbeda dari trah garis darahnya.
Perbedaan di antara mereka dalam segi apapun membuat mereka sering berselisih pendapat dan tidak akur namun siapa sangka waktu telah membuat mereka sering berjumpa.
Seiring berjalannya waktu, ada benih rasa yang sedang bermekaran namun hati yang masih tertambat pada sang mantan kekasih membuatnya melukai hati sang putri. Mampukah mereka bersatu dalam perbedaan dan keadaan atau mereka menyerah begitu saja?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Tak paham situasi.
"Kesel e Ya Allah..!!" Bang Anom menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya. Semalaman dirinya tidak pulang ke rumah dan hari ini Bang Anom sudah menempati ruangannya karena seniornya sudah pamit dari Kompi dan hanya tinggal menunggu acara resminya saja.
Waktu yang seharusnya sudah tepat tertata ternyata harus mundur beberapa hari karena Ibu Danki yang lalu baru saja sembuh dari demam dan harus di rawat di rumah sakit.
Emosi Bang Anom juga naik turun mengingat sudah dua kali Syila menolak berdekatan dengannya tapi yang paling parah adalah kejadian semalam.
Flashback POV Bang Anom on..
"Syila nggak mau, kenapa sih wajah Mas Anom menyebalkan." Gerutu Syila menolak ku.
Sebagai seorang laki-laki jelas saja aku merasa sangat kesal. Sudah beberapa waktu ini aku sudah menahan hasrat ku mati-matian. Bukan hal mudah aku menepis hasratku apalagi aku sudah pernah melakukannya dengan Syila istriku.
"Wajah sudah begini, apa yang menyebalkan???" Ucapku kesal. Aku mencoba lagi untuk memeluk Syila tapi untuk kesekian kalinya Syila menolakku sedangkan naluri priaku sedang berada di puncak dan sulit untuk di redakan.
"Jangan terlalu dekat Syila. Syila pusing Mas."
Syila malah mendorong dadaku dan itu semakin membuatku kesal.
"Kamu belum pernah menanggapi hasratku Syila. Apa aku harus memohon agar bisa memeluk istriku sendiri??? Apa aku harus mencari pelampiasan lain??" Bentak ku nyaris kehilangan kesabaran.
Perlahan Syila mendekatiku, istriku berusaha memeluk ku. Debaran jantungku semakin tak terkendali meskipun aku sedang kesal padanya.
"Hhkkk.." Syila menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya lalu menghindariku.
Apalagi yang salah???? Rasa geramku semakin menjadi dan aku meninggalkan Syila begitu saja.
Flashback POV Bang Anom off..
"Astaghfirullah hal adzim.. apa aku terlalu keras pada Syila? Tapi Syila benar-benar membuatku kesal. Kapan dia akan mengerti??" Bang Anom menyadari berhubungan badan bukanlah suatu hal utama dalam rumah tangga tapi tanpa hal itu rumah tangga juga tidak akan harmonis. "Besok ada acara besar dan sangat penting, mana bisa kondisi ku masih ribut dengan Syila."
Keseharian Syila yang terus tertutup membuat jiwa penasaran Bang Anom tergugah. Jika biasanya matanya selalu melihat penyegaran pikiran di sekitarnya tapi kali ini Syila seakan menutup akses visualnya.
"Nanti aku akan bicara baik-baik dengan Syila, semoga Syila mau mengerti."
Sebagai seorang laki-laki juga seorang suami Bang Anom berusaha dan mengalah. Tidak mungkin dirinya mengedepankan keegoisannya hanya karena nafsu. Bang Anom berdiri tapi kemudian kepala nya terasa begitu berat dan sakit. Pandangan matanya berkunang-kunang. Bang Anom kembali terduduk dengan kasar. Bang Anom pun meraih ponselnya
:
Prada Harto memijat tengkuk Bang Anom sampai pada bahunya. Entah sudah keberapa kalinya Dankinya itu mual dan muntah sampai tubuhnya lemas.
Baru beberapa menit Prada Harto memijat tengkuk Bang Anom, Dankinya itu sudah kembali berlari ke toilet.
Suara Pak Danki terdengar begitu menyakitkan. Perlahan Bang Anom berjongkok karena tubuhnya semakin tidak bertenaga.
"Ijin Danki, saya antar ke rumah sakit saja ya?" Ijin Prada Harto meminta persetujuan Bang Anom.
"Nggak perlu Har, tolong carikan saya kedondong..!!" Pinta Bang Anom.
"Kedondong Dan??"
Bang Anom hanya mengangguk sebagai jawaban.
...
Enam buah kedondong sudah meluncur melegakan kerongkongan Bang Anom. Di temani satu cobek bumbu rujak buatan istri Serma Sarmin, Bang Anom anteng menikmati kedondongnya.
"Itu asam sekali Dan." Kata Pak Sarmin.
"Nggak apa-apa Pak. Enak nih, ayo makan lagi Pak..!!" Ajak Bang Anom.
"Sudah Dan, gigi saya sudah ngilu." Tolak Pak Sarmin.
Prada Harto juga sudah mundur teratur tak sanggup lagi menemani Danki menikmati rujak buah yang pedasnya di luar nalar.
"Jangan berhenti Har..!!" Kata Bang Anom.
"Ijin Dan, saya sudah tidak kuat lagi."
"Aahh cemen kamu jadi laki." Ledek Bang Anom. Sejak gigitan pertama buah kedondong itu rasa mualnya tiba-tiba lenyap.
"Ijin Danki.. apa mungkin ibu sedang hamil muda?" Tanya Serma Sarmin yang pastinya sudah sangat berpengalaman.
"Nggak mungkin lah Pak, baru bulan lalu keguguran. Saya juga mikir lah, masa mau langsung main tabrak saja. Dokter minta kandungan istri untuk kosong selama kurang lebih enam bulan." Jawab Bang Anom.
Pak Sarmin dan Prada Harto mengangguk mendengar keteguhan hati Danki. Memang yang mereka tau.. Letnan Anom adalah pria yang teguh iman, berwibawa, tegas, disiplin dan yang pasti sangat menyayangi istrinya yang masih terbilang sangat muda. Bahkan usia Syila masih seumuran dengan putri pertama Serma Sarmin.
"Komandan memang hebat. Memang harus mengalah sampai istri siap Dan. Kasihan kalau di paksa saat istri belum siap. Kalau sama-sama senang rasanya dunia ini damai." Kata Serma Sarmin.
...
Baru saja Bang Anom membuka pintu rumah, Syila sudah nampak cemberut saja. Melihat Bang Anom seperti melihat musuh bebuyutan.
"Ini kenapa sih setiap Mas pulang selalu di sambut wajah galak. Memangnya Mas salah apa sih dek?" Tanya Bang Anom dengan nada rendah.
"Pokoknya Syila malas lihat Mas Anom. Sebel aja." Jawab Syila kemudian masuk ke dalam kamar.
Bang Anom hanya bisa mengelus dada setiap melihat tingkah Syila. Ia pun duduk di ruang tamu kemudian membuka laptop padahal pakaiannya saja belum sempat di ganti. Saat itu Bang Anom merasakan tenggorokannya kering, ia segera mengambil air minum dan kembali lagi ke ruang tamu.
"Mas jangan muter aja di ruang tamu. Syila engap lihatnya..!!"
"Astaghfirullah hal adzim.." Bang Anom meraup wajahnya sembari beristighfar. "Menurut mu Mas harus bagaimana? Merambat di dinding??"
Syila memalingkan wajahnya tak mau tau. Yang di rasakannya hanya jengkel melihat wajah Bang Anom.
.
.
.
.
selalu kutunggu karya²mu kak