Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis yang mengalami broken home, sejak ia masih duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak kls 3 SMA.
Dikarenakan sang ayah berselingkuh dengan wanita lain dan lebih memilih selingkuhannya dibandingkan dengan sang ibu, oleh sebab itu mereka bercerai, dan dari masalah itu pula ibunya meninggalkan dirinya dengan sang nenek.
Lambat laun ia pun bertemu dengan seorang pria yang memiliki sikap dan hati sedingin es.
Ia pun memiliki rencana untuk menaklukkan hati sedingin es itu, mampukah ia menaklukkan hati pria es itu?
Nb: Cerita ini hanya fiksi saja, jika ada kesamaan dalam nama, tempat, alur, dll, itu tidak disengaja 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anowmuri3__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Selang beberapa menit, pesanan mereka pun sampai.
William yang saat itu tengah duduk di ruang tengah, dengan laptop diatas pangkuannya itu pun menaruh laptopnya di atas meja.
Kemudian ia pun beranjak dari duduknya, guna membuka pintu, lantaran ia mendengar bel berbunyi.
William pun membuka pintu, dan mengambil pesanannya yang sudah ia bayar lewat aplikasi, setelah itu ia pun menutup kembali pintunya setelah memberikan uang tip pada pengantar makanan.
William pun menaruh makanan itu diatas meja makan, kemudian ia naik ke lantai atas guna membangunkan istrinya itu yang tengah tertidur.
Saat berada di kamarnya dan juga istrinya, ia pun langsung membangunkan istrinya itu.
"Honey," ucap William seraya menggoyangkan bahu istrinya itu dengan pelan.
"Honey, bangun," lanjutnya.
Namun sepertinya istrinya itu tak terusik sama sekali, William pun tak menyerah ia pun membangunkan istrinya itu dengan mengecup seluruh wajah istrinya.
Cup, cup, cup.
William pun terus memberikan kecupan di seluruh wajah istrinya, hingga istrinya itu terusik.
"Bee, kamu ini apa-apaan sih," ucap Senja dengan nada serak khas bangun tidur.
"Habisnya kamu saya bangunkan, gak bangun-bangun," ujarnya.
"Huh, ada apa?" tanya Senja.
"Makanan sudah sampai, ayo kita makan," jawabnya.
"Hm." Senja pun beranjak dari tidurnya, dan ia pun mengikuti suaminya itu yang sudah lebih dulu ke luar kamar.
Setelah berada di meja makan, yang kebetulan letaknya satu ruangan dengan dapur.
Baik Senja maupun William sudah duduk di kursi masing-masing, mereka duduk saling berhadapan.
Dan mereka pun mulai menikmati makan siang mereka.
"Kamu aneh," ucap Senja, ketika mereka selesai makan siang.
"Maksudnya?" tanya William gak mengerti.
"Ya, aneh. Masa bee masih ngomong saya, kenapa gak ngomong ' aku ' aja," jawab Senja.
"Huh, saya sudah terbiasa Senja."
"Ya mangkanya biasa-in dong, aku aja biasa-in nyebut kamu dengan bee."
"Iya nanti saya akan berusaha."
"Bener ya."
"Hm, iya."
...###...
Malam harinya, di kediaman pak Tama. Kini pak Tama tengah menunggu Yura pulang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, dan putri tirinya itu masih belum juga pulang.
Sungguh pak Tama pikir selama ini Yura tidak pernah pulang larut malam, tapi hari ini ia mengetahui bahwa putri tirinya itu selalu pulang larut malam.
Tak lama pak Tama mendengar suara orang yang tengah membuka pintu dengan pelan.
Dan ia mendengar suara langkah kaki yang mengendap-endap.
Pak Tama pun kemudian menyalakan saklar lampu yang berada di dinding.
Ya, saat ini ia berada di ruang tamu.
Melihat lampu menyela dan melihat ayah tirinya yang tengah berdiri di hadapannya dengan wajah datar dan dingin, serta sorot matanya yang tajam.
Membuat Yura menjadi gemetaran, namun ia berusaha bersikap biasa saja, seolah-olah tidak ia tidak melakukan apapun.
"Darimana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya pak Tama dengan nada dingin dan datar.
"Aku dari apartemen temanku, dan tadi aku ketiduran yah," jawab Yura dengan pelan lantaran ia takut ayah tirinya itu akan marah padanya.
"Benarkah?"
"I- iya."
"Hm, lalu kenapa setiap hari kamu pulang larut malam, bahkan kamu pernah pulang pada pukul tiga pagi?" tanya pak Tama lagi.
"A- apa! I- itu tidak mungkin, aku ... "
"DIAM!" bentak pak Tama, sehingga membuat Yura terlonjat kaget.
Sungguh, baru kali ini Yura melihat ayah tirinya itu marah padanya, biasanya ayah tirinya itu selalu menyayangi dirinya.
"Ayah tau selama ini kamu berbohong, kan? Selama ini kamu sering pulang larut malam, dan yang lebih penting ialah kamu sudah berbohong mengenai kuliah kamu! Ayah pikir kamu pergi ke kampus, tapi ternyata tidak! Kamu sering bolos, sampai akhirnya kamu dikeluarkan dari kampus tempat kamu belajar, lalau kemana uang untuk biaya kuliah yang ayah berikan selama ini! Jika kamu sudah tidak lagi berkuliah!" ucap pak Tama, seraya melemparkan surat berisi keterangan bahwa Yura sudah dikeluarkan di kampus nya.
"Sial mati gua! Bagaimana ayah bisa mengetahui surat ini, bodohnya gua, kenapa gua gak langsung bakar aja nih surat," batin Yura.
"Sekarang berikan tas kamu," ujar pak Tama.
"A- apa, tapi untuk apa?"
"Tidak usah banyak tanya, cepat berikan!" pak Tama pun langsung mengambil tas Yura dengan paksa, ia pun mengambil dompet putri tirinya itu.
Kemudian pak Tama mengambil beberapa dua kartu pemberiannya, setelah itu ia mengambil kedua kartu itu, pak Tama pun mengembalikan tas beserta dompet milik Yura.
"Ayah kenapa kartuku di ambil! Jika begitu bagaimana aku bisa belanja," ujar Yura dengan kesal.
"Belanja! Belanja! Belanja terus yang ada dipikiran mu! Mulai hari ini kartu kamu ayah sita, anggap saja ini sebagai hukuman lantaran kamu sudah berbohong!"
Setelah mengatakan itu, pak Tama pun pergi ke kamarnya, meninggalkan Yura seorang diri.
"Akhhhh!!" teriak Yura, setelah punggung ayahnya itu menghilang di balik tembok, ia pun melemparkan tas mahal miliknya ke lantai.
Yura pun mencoba mengatur nafasnya, setelah itu ia pun pergi ke kamarnya, tak lupa ia pun mengambil tas yang ia lempar tadi.
"Sial! Sial! Sial! Kenapa hidup gua sial banget sih!" pekik nya, ia pun terus merusak dan menghamburkan barang-barang yang ada di kamarnya itu.
...###...
Sementara itu, di negara yang berbeda, seorang wanita paruh baya, namun masih cantik dan elegan, itu tengah menutup panggilan teleponnya dengan sang anak.
Wanita itu pun menggerutu, setelah sambungan itu berakhir.
"Ada apa sih, Mom?" tanya seorang pria paruh baya, yang masih terlihat gagah itu di usianya yang hampir menginjak kepala lima, yang tak lain adalah suami dari wanita tadi.
"Putra mu, masa dia bilang masih belum bisa pulang ke sini. Apa sebaiknya kita ke sana saja ya, Dad," jawabnya.
"Ya, benar. Kita harus segera ke sana, kalau begitu cepat pesan tiketnya, Dad," lanjutnya.
"Huffstt, iya nanti kita akan ke sana. Tapi tidak sekarang dan tidak dalam waktu dekat ini, Mommy tau kan, Daddy masih banyak pekerjaan yang harus di urus," jelasnya.
"Isssss, selalu saja itu yang menjadi alasannya."
"Ini bukan alasan, tapi kenyataan Mommy ku sayang."
"Ya-ya, sudah ah Mommy mau pergi arisan dulu, bye Dad," ucapnya seraya mencium pipi dan juga mengecup bibir suaminya itu.
Sementara itu, pria itu hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah istrinya itu.
...###...
Kediaman Senja dan William.
Kini kedua pasangan suami-istri itu tengah tidur di atas ranjang mereka.
Dengan Senja yang tidur di dada bidang suaminya, sementara William ia tengah mengelus rambut hitam bergelombang istrinya itu.
...###...
Tidak pernah bosan, selalu mengingatkan untuk like, komen vote, dan beri hadiah jika ada, serta beri ulasan bintang lima jika kalian menyukai cerita antara Senja dan William 🙏
Terimakasih, dan selamat membaca 💚
.
gmna rasanya d selingkuhi enak kan
itu lah yg d rasakan ibu nya senja..