Ketika sebuah pernikahan mengantarkan seorang gadis pada kehidupan yang sama sekali tak pernah dia duga.
Suami tampan super sempurna, kehidupan yang mendebarkan, rahasia yang terkuak satu-persatu, dan dendam masa lalu. Semuanya bercampur menjadi satu mengantarkan si gadis pada situasi untuk memilih antara egonya atau hati nurani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axelle Axa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32. Hukuman?
Langit malam berganti siang dan kini kapal feri yang nyaris tenggelam itu tak jauh lagi dari tujuan. Lou menatap daratan di ujung lautan dengan wajah gembira. Sudah sangat lama sejak hatinya merasa sangat damai.
Sean memeluk Lou dari belakang, juga menatap ke hamparan daratan yang terbentang beberapa kilometer dari posisi mereka. Keduanya menikmati waktu bersama seolah dunia hanya milik mereka.
“Katakan padaku, apa menyenangkan pergi dengan May?” Sean tiba-tiba membuka suara.
“Hm, sangat menyenangkan. Kami biasa melakukan banyak hal bersama, termasuk jalan-jalan. Jadi semuanya terasa sangat menyenangkan dan penuh nostalgia.” Lou mengangguk dan menjawab dengan antusias.
Sean tersenyum sambil mencium pipi Lou dengan gemas. “Lalu apa kamu merindukanku?” Sean bertanya dengan sedikit harapan. Namun Lou hanya diam selama beberapa saat. Sean tak akan mendesak Lou tak peduli seberapa berharap dia, jadi dia ingin mengganti topik saat dia mendengar jawaban lembut Lou.
“Ya. Aku merindukanmu; sangat merindukanmu,” jawabnya sambil menggenggam tangan Sean yang tengah memeluknya.
Sean tak bisa berkata-kata, mungkin dia telah jatuh cinta untuk kedua kalinya pada Lou. Dia merasa sangat bahagia, dia merasa seolah hidupnya sudah lengkap dan sempurna. Sean menarik Lou hingga dia menghadapnya, membuat keduanya bertatapan di posisi yang sangat dekat.
“Sepertinya kita akan sampai.” Sebuah suara dingin menginterupsi kemesraan itu. Ini kali pertama Sean benar-benar ingin memukul Anthony dengan segenap tenaganya.
Lou melirik Anthony kesal dan mendengus mengabaikannya. Sementara May hanya bisa menghela napas melihat tingkah kekanakan ketiga orang ini.
Sean menarik Lou sedikit menjauh dari May dan Anthony. Dia dengan lembut mengusap pipi Lou yang sedikit kemerahan karena udara dingin. Lou tertawa pelan karena merasa sentuhan Sean sedikit geli.
Lou menunduk saat dia merasakan sebuah benda dingin menyentuh jari manisnya—sebuah cincin. Lou menatap Sean yang kini juga tengah menatapnya.
“Sayang, ini cincin pernikahan kita, aku memasang pelacak di cincin ini. Apa kamu keberatan?” Sean bertanya pelan. Sean memasang pelacak untuk mengetahui posisi Lou karena baginya Lou adalah segalanya. Tapi bila istrinya itu menolak, maka dia tak akan pernah memaksa.
“Tak apa. Bukankah itu akan menenangkan hatimu?” Lou tersenyum lembut. Dia tak pernah tahu tentang perasaan Sean sebelumnya, tapi setelah bersama dengannya selama setengah tahun terakhir, dia tahu bahwa Sean mencintai dirinya lebih dari apapun, bahkan lebih dari dia mencintai dirinya sendiri.
Caranya mencintai Lou mungkin agak menyeramkan bagi sebagian orang. Dia mungkin terlalu obsesif terhadap Lou. Tapi bagi Lou cinta Sean adalah berkah baginya. Terlebih lagi setelah dia tahu Sean bisa mengorbankan apapun untuknya. Saat dia tahu Sean akan selalu menurutinya karena enggan menyakitinya. Untuk mendapatkan pasangan seperti ini, bukankah ini berkah?
Lou memikirkan semua itu dan memeluk Sean dengan wajah bahagia. Sean tentunya membalas pelukan itu dengan senang hati.
“Apa pengantin baru memang selalu seperti ini?” May menyeletuk dari samping, mmebuat pasangan penuh romansa itu sadar kalau mereka tidak sendiri.
Anthony menatap mereka dengan wajah datarnya, namun saat dia berbalik menatap May, sebuah senyum hangat tercetak jelas. Lou melihat perubahan sikap itu dan merasa sedikit aneh. Dia tahu ada sesuatu di antara dua orang ini, tapi dia tak pernah tahu sampai kemana sesuatu itu sudah terjadi.
“Kalau begitu menikahlah.” Lou mencoba menguji hubungan keduanya.
May hanya menatap Lou dengan wajah acuh tak acuh, namun Anthony menjawab dengan serius. “Ya, kami akan menikah.”
Lou nyaris tersedak kata-katanya sendiri. Dia menatap kedua orang itu seolah dia telah melihat alien. Bukan hanya Lou, bahkan May menatap Anthony sedikit tak percaya.
“Apa?” May bertanya sambil menatap Anthony bingung.
“Kita akan menikah setelah pulang dari sini.” Anthony memperjelas kata-katanya.
May menghela napas dan menatap Anthony sebentar sebelum berbalik pergi dan menjawab, “Candaanmu sama sekali tak lucu.”
“Aku tidak bercanda.” Anthony dengan sigap menghentikan May dan menariknya ke pelukannya. “Aku serius. Sungguh,” bisiknya pelan di telinga May.
Sementara itu Sean dengan santai menarik Lou menjauh. Lou menatap Sean bingung dan bertanya, “Apa mereka memang punya hubungan percintaan?”
Sean tertawa pelan dan mengangguk, membuat Lou makin tak bisa berkata-kata.
Dia tak pernah tahu mereka memiliki hubungan percintaan. Dia hanya tahu hubungan mereka cukup baik, bahkan lebih baik dari hubungannya dengan Anthony sendiri. Tapi yang paling penting adalah Lou sangat bahagia bila mereka bisa bersama. Kedua orang ini walaupun agak menyebalkan tetap orang yang berharga untuknya.
Sisa perjalanan dipenuhi canda tawa dan suasana menyenangkan. Mereka akhirnya berlabuh di Finlandia saat jam menunjukkan pukul lima sore. Perjalanan yang cukup panjang dan menyenangkan itu sepertinya berakhir di sini.
Lou turun dari kapal bersama Sean di sampingnya. Pria tampan itu tak mau melepasnya barang sebentar dan Lou sama sekali tak keberatan tentang hal itu.
Keduanya turun dengan perlahan. Sean selalu memastikan langkah kaki Lou stabil dan tempat yang dilaluinya tak licin agar dia tak terjatuh. Hal ini membuat Lou tersenyum dan terus menatap Sean dengan wajah bahagia.
“Kenapa? Sangat terpesona dengan ketampananku?” goda Sean sambil mencium Lou.
Lou tertawa pelan dan setuju dengan mudah. “Ya-ya. Anggap saja begitu,” ujarnya sambil menatap Sean.
“Dingin?” Sean bertanya sambil mengeratkan pakaian Lou.
“Tidak.” Lou menggeleng dan tersenyum lebih cerah.
Keduanya tertawa bersama sebelum akhirnya berbalik untuk melihat May dan Anthony yang sejak tadi berdiri di belakang mereka atau lebih tepatnya berdebat di belakang mereka. Sebenarnya kata berdebat juga tak akan cocok menggambarkan kondisi keduanya karena sejak tadi hanya May yang akan mengocehi Anthony sementara Anthony akan mendengarkan dengan baik dan menyetujui apapun yang dikatakan May.
Melihat interaksi keduanya, Lou merasa sangat senang. Hal-hal baik memang selalu terjadi setelah masalah selesai.
“Apa kalian tidak lelah?” Lou menyeletuk ke arah mereka.
May dan Anthony menghentikan pembicaraan mereka dan menatap Lou sebelum akhirnya menggeleng bersamaan. Sudut bibir Lou berkedut paln, mereka berdua memang sangat kompak.
May menghampiri Lou, mengabaikan Anthony yang mulai mengekor di belakangnya. “Kita akan berpisah di sini.” May berkata pelan sambil menatap Lou.
Lou balas menatap May dengan tatapan bingung. “Kenapa?” tanyanya.
“Ada yang harus aku selesaikan dengan Anthony. Dia mengancam akan menjual sahamku bila aku tak ikut dengannya.” May menghela napas pelan.
Lou menatap Anthony seolah kakaknya adalah manusia paling picik, namun itu sama sekali tak mempengaruhi Anthony. Dia menarik May ke pelukannya dan menciumnya tepat di depan semua orang.
Tak hanya May yang terdiam karena ulah Anthony, bahkan Lou tak bisa berkata-kata. Rahang bawahnya sudah lama jatuh karena terlalu kaget dengan sikap posesif Anthony terhadap May.
Lou bisa melihat May yang tiba-tiba kehilangan kata-kata, wajahnya memiliki semburat merah samar. Lou ingin bicara, namun Sean lebih dulu berkata, “Kalau begitu kita berpisah di sini.”
Setelah itu Anthony mengajak May pergi sementara kendaraan yang akan menjemput mereka juga sudah datang. Lou melirik sekali lagi ke arah menghilangnya May dan Anthony dengan wajah bingung. Dalam kondisi normal, apa yang akan dilakukan May terhadap orang yang berani menciumnya di muka umum?
Dia pasti memukuli orang itu hingga tak bisa dikenali. Ya, seperti itulah. Tapi sikapnya terhadap tindakan Anthony tadi sangat di luar dugaan Lou. Dia hanya diam dan patuh mendengarkan keputusan Anthony. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Lou menghela napas pelan. Orang memang benar-benar bisa sangat berubah bila menemukan pasangan yang tepat ya.
“Sayang?” Panggilan Sean menyadarkan Lou. Dia melihat ada sebuah mobil hitam di depannya saat ini.
Sean membuka pintu mobil dan dengan hati-hati membantu Lou masuk sebelum akhirnya dia masuk. Setelah itu mobil melaju menuju tujuan mereka berikutnya.
Setelah beberapa jam, mereka tiba di Kota Helsinki, mobil berhenti di depan sebuah hotel dengan gaya yang elegan, Hotel Kamp yang sangat terkenal.
Sean membuka pintu mobil dan membantu Lou turun. Sikapnya masih sangat berhati-hati. Setelah itu keduanya memasuki hotel dan melihat beberapa penjaga dan pelayan yang sepertinya sudah menunggu mereka.
“Tuan, Nyonya,” sapa orang-orang itu dengan wajah sopan.
Lou mengangguk pelan untuk menghormati mereka.
Keduanya lalu dibimbing ke sebuah lift dan naik ke lantai atas. Lou bisa melihat lantai itu sangat sepi, lalu sebuah pemikiran muncul di kepalanya, “Sean tidak mungkin menyewa seluruh lantai, bukan?”
Sudut bibir Lou berkedut pelan, sepertinya tidak. Haha.
Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah kamar. Kamar itu sangat luas dan saat Lou melihat ke jendela dia bisa melihat pemandangan kota yang indah. Suasananya sangat tenang dan damai membuat Lou entah kenapa merasa mengantuk.
Lou menoleh dan melihat Sean menatapnya sambil bersandar di dinding. Lou nyaris tersedak air liurnya, dia tahu Sean memang tampan, tapi kali ini karismanya meningkat beberapa kali lipat.
“A-apa?” tanya Lou sedikit gugup saat tatapan mereka bertemu.
Sean tersenyum dan menghampiri Lou, dia memeluk Lou dari belakang dan mencium pipi Lou sekilas. “Kamu sangat cantik,” pujinya sambil mencium leher Lou.
Lou tertawa pelan karena geli, dia menoleh ke samping dan menatap Sean. Senyum di bibirnya merekah dengan indah, namun senyum itu menjadi kaku saat dia mendengar perkataan Sean.
“Sayang, aku belum menghukummu, kan?” tanya Sean dengan suara serak. Jantung Lou berdebar pelan saat dia merasakan hembusan napas Sean di lehernya.
“Se-sean ….”
anyway ini aku yang ketinggalan sesuatu, atau lupa, tapi emang disini extra partnya ga ada ya kak? padahal udah nunggu hihihi walopun masih sempet inget sih ending pas di w***pad gimana hihi tp ttp pengen bnget baca lagi sampe akhir skrng apa lagi yg side storynya 🤩 MANGAT TERUS KAKK! TETAP DITUNGGU EXTRA DAN SIDE PARTSNYA DAN DITUNGGU DIPUBLISH HIHI 🤩
ceritanya komplit Thor...sedepp bangettt
⭐⭐⭐⭐⭐