Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan Nayyara masih tetap mencintai dalam diam. Dan hanya doa yang bisa dijadikan senjata untuk memohon agar disatukan oleh lelaki yang dicintainya.
Banyaknya lamaran yang datang tak berujung, ia tolak dengan halus demi menjaga cintanya.
Lantas bagaimana dengan lelaki itu? Apakah memiliki perasaan yang sama kepada Nayyara? Atau malah sudah mempunyai calon istri?
Baca dan temukan jawabannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oktaviani027, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Untuk Dibebaskan
Di kantor polisi
"Maafin Alifa mas, maafin Alifa, Alifa tau Alifa salah, dan Alifa menyesalinya, Alifa mohon jangan ceraikan Alifa mas, kasihan Alya dia masih kecil" Radit tampak menimang-nimang permintaan istrinya ini. Sebenarnya Radit juga tak ingin pisah dengan Alifa, tapi perilaku istrinya ini yang membuatnya malu.
"Ya sudah, mas nggak akan ceriakan kamu, tapi proses hukum tetap harus kamu jalani Alifa" ujarnya dengan tatapan tajam dan terdengar tegas di telinga Alifa.
Sedangkan Alifa dirinya memutar bola matanya malas 'Aish, aku pikir mas Radit mau membantuku keluar dari sini' batinnya kemudian memasang wajah memelas pada suaminya dan kembali merayunya.
"Alifa nggak mau lama-lama di penjara mas, Alifa mau keluar dari penjara. Alifa kangen sama Alya, Alifa kangen sama ibu mas. Tolong sekali ini saja bantu Alifa keluar dari sini ya mas, Alifa janji, setelah ini Alifa akan minta maaf sama Nayya dan berubah menjadi istri yang lebih baik, menjadi ipar yang baik, Alifa janji mas" Radit kembali berpikir, apakah istrinya sudah benar-benar menyesal, atau ini hanya alibinya supaya bisa lepas dari balik jeruji besi? Namun, melihat wajah sang istri. Tampak tak ada raut kebohongan, alhasil Radit mengiyakan permintaan istrinya dan akan membantu Alifa keluar dari penjara ini.
"Ya sudah nanti biar mas coba bilang sama Nayya sama Arya, soalnya yang berhak mencabut tuntutannya itu mereka berdua" ujar Radit yang diangguki oleh Alifa.
'Yes rencanaku berhasil, oke lihat saja kalian berdua Arya dan Nayya, akan ku buat hidup kalian sengsara karena sudah berani-beraninya memenjarakanku' batinnya dengan tatapan sinis kemudian dirinya beranjak dari duduknya dan kembali mendekam di balik jeruji besi.
Pikirannya sedikit lega, karena sebentar lagi dirinya akan bebas dari penjara.
Saat ini Radit tengah menuju rumah sakit untuk menjenguk Nayya sekaligus meminta agar Nayya mau mencabut tuntutannya.
Sesampainya di rumah sakit Radit segera masuk, melewati koridor rumah sakit, dan kemudian menaiki lift di lantai tiga, dimana kamar bugenvil itu berada.
Setelahnya dirinya segera keluar dan berjalan menuju kamar Nayya.
Tok... Tok... Tok...
Faiz yang ada di dalam pun segera membuka pintunya saat terdengar ada yang mengetuknya dari luar.
"Mas Radit, masuk mas" ajak Faiz kemudian Radit masuk dan menemui Nayya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya dengan tulus.
"Alhamdulillah baik" ujarnya terdengar datar. Radit rasa Naya sudah tau jika Alifa lah dalang dari kejahatan yang menimpa Nayya.
"Nay, saya boleh minta tolong?" Tak ada jawaban dari Nayya, Radit pun memilih melanjutkan ucapannya. "Saya minta tolong kamu cabut tuntutannya ya, kasihan Alya, dia terus mencari ibunya" pintanya kemudian namun Nayya malah memalingkan wajahnya ke jendela.
"Nayya nggak bisa mas, hati Nayya sudah terlanjur sakit, Nayya di fitnah, terus dia buat Nayya koma, dan janin yang Nayya kandung nggak bisa di selamatkan, rasanya berat sekali kalau melepaskan perempuan licik seperti dia. Nayya takut jika nantinya mbak Alifa akan mengulangi lagi kejahatan itu" khawatirnya pada dirinya sendiri jika Alifa bebas dari penjara.
"Memang terasa berat Nayya, tapi coba kamu pikir, anak se kecil Alya dirinya masih butuh kasih sayang ibunya. Alifa juga sudah menyesali perbuatannya dan dia berjanji tak akan mengulanginya lagi" tuturnya lagi.
"Maaf, Nayya nggak bisa" Nayya terus menggelengkan kepalanya, matanya pun sudah mulai berkaca-kaca.
"Sekali ini sa—"
"Udah cukup, sekarang kalian berdua keluar. Nayya mau sendiri dulu" Nayya memotong ucapan Radit karena merasa sudah tak ada lagi yang di bicarakan. Dan saat ini Nayya ingin sendiri terlebih dahulu.
"Keluar" teriaknya saat Faiz hendak mengucapkan sesuatu. Faiz dan Radit pun lebih memilih keluar, dan mungkin dengan begitu Nayya bisa meredam amarahnya.
Di dalam kamar, Nayya menangis sesenggukan, ternyata dirinya belum siap menerima takdir yang sudah digariskan.
"Hiks hiks, Nayya harus gimana ya Allah, Nayya capek, kenapa ujian yang kau timpakan seberat ini" air mata terus luruh membasah pipinya.
***
"Nayya sepertinya marah sekali Iz" ujar Radit pada adik iparnya ini.
"Iya mas, dari tadi dia juga cuma diem setelah Faiz kasih tau siapa orang yang sudah menabraknya dan menidurinya. Sebenarnya Faiz juga nggak tega mas kalau harus melihat mbak Alifa mendekam di penjara, tapi kita juga nggak bisa apa-apa mas, ini juga kesalahan mbak Alifa karena dia juga terlibat dalam kejahatan itu"
"Hmm, maafkan saya ya Iz saya belum bisa menjadi suami yang baik buat kakak kamu, belum bisa menjadi ipar yang baik buat kamu juga Nayya. Dan, satu-satunya cara bebasin Alifa ya mencabut tuntutan itu, karena nggak mungkin juga kita menebusnya pasti mahal sekali" ujarnya sembari menatap kosong ke depan.
"Mas tenang aja, nanti coba Faiz bicarakan lagi sama Nayya semoga dia mau mencabut tuntutannya" Radit pun mengangguk dan segera pamit karena jam sudah menunjukkan pukul 10 siang waktunya Alya pulang sekolah.
***
Setelah mengendarai motornya, Radit mulai menepikan motornya dan berhenti tepat di depan sekolah putri kecilnya 'Alya'.
Saat mendapati Alya yang keluar dari lobi, Radit pun segera menghampirinya.
"Sayang, gimana sekolahnya bisa semuanya?" tanya Radit kemudian. Bukannya menjawab anak itu malah menengok ke kanan dan ke kiri.
"Cari apa hmm?" tanyanya sembari menekuk lututnya mengimbangi tinggi putri kecilnya ini.
"Ibu kok nggak jemput, tadi pagi juga nggak nganter Alya ke sekolah" ucapnya pelan sembari memonyongkan bibirnya membuat Radit gemas.
"Lucunya kalau lagi ngambek kaya gini. Ibu lagi ada acara di rumah temen, paling besok atau lusa pulang" jelasnya membuat Alya mengangguk.
"Ya sudah jangan ngambek lagi ya, sebagai gantinya, kita beli es krim mau?" Alya langsung menganggukkan kepalanya "Okey, habis itu pulang ya"
Alya merubah posisinya layaknya menghormati sang merah putih "Siap bapak Negara" ucapnya lantang kemudian segera mengajak Radit untuk membeli es krim dan pulang ke rumah.
***
Usai kepergian Radit, Faiz pun kembali memasuki kamarnya. Dirinya mendapati sang istri yang tengah mengutak-atik ponselnya.
"Nay, apa kamu beneran nggak mau cabut tuntutannya?" tanya Faiz sembari mendekat ke ranjang Nayya.
"Kasihan Alya Nay dia masih kecil, kalau mas Radit kerja, siapa yang jaga Alya selain mbak Alifa. Ibu juga nggak mungkin karena usianya juga sudah tua" Nayya meletakkan handphonenya dan menatap kosong ke depan, berusaha mencerna apa yang dikatakan suaminya.
"Y-ya anggap aja ini adalah bagian dari ujian rumah tangga kita, dan bukankah dalam Qur'an surah Al-Baqarah ayat 286 Allah menjelaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya?" Nayya masih terdiam, Faiz lantas menggenggam tangan istrinya berharap agar Nayya mau mencabut tuntutannya.
"Mas yakin kamu itu kuat, dan kamu mendapat ujian kaya gini, kamu pasti bisa melewatinya, dan mas janji mas nggak bakal pergi, kita akan lewati semua ini sama-sama dalam suka maupun duka" Ada benarnya juga apa yang dikatakan Faiz. Tapi Nayya, dirinya masih sakit hati dengan perlakuan kakak iparnya.
Dengan pelan, Nayya melepas genggaman itu "Nanti Nayya pikir dulu"