JUARA 1 LOMBA MENULIS HOROR TAHUN 2023
Prequel dari Rumah di tengah Sawah.
Pada tahun 1958, seorang dukun dikeroyok oleh warga desa hingga kehilangan nyawa. Setelah dukun itu tiada, barulah warga desa menyadari ada sosok perempuan yang tinggal di rumah sang dukun.
Namanya Narsih. Kulitnya putih bersih, berparas ayu, bersuara merdu. Tapi, siapa sebenarnya Narsih? Kehadirannya di desa Karang akankah membawa kebaikan atau malah sebaliknya?
Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, dan kejadian hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tigangdasa Setunggal
Rembulan nampak bulat sempurna malam ini. Langit berwarna biru gelap tak tersaput awan barang sehelai. Bintang berpendar di kejauhan. Benda langit yang dijadikan warga desa sebagai patokan kapan waktunya menanam dan kapan waktunya panen. Rasi bintang Waluku atau Orion menjadi sebuah penentu waktu untuk bercocok tanam.
Di perbatasan desa Karang sekelompok pemuda terlihat berkumpul. Badan mereka gempal dengan tatapan penuh kebencian.
"Ini desa atau makam sih, sepi banget. Sudah menunggu sampai lumuten tidak ada satupun yang lewat," gerutu pemuda berambut gondrong.
"Desa kecil soalnya. Baru berdiri beberapa tahun lalu. Warganya juga sedikit. Kita serang semalam juga porak poranda," sambung pemuda dengan bekas luka codet di wajahnya.
Di antara para pemuda itu nampak sosok Paryo dengan mata bulat melotot. Paryo adalah laki-laki yang nyaris menggag*hi Narsih. Pemuda yang dihajar oleh Wira. Nyatanya dia mendendam dan mengumpulkan rekan-rekan begund*lnya. Mereka berniat membuat keributan di desa Karang.
Setelah beberapa saat, gerombolan begund*l itu melihat salah seorang warga desa Karang yang hendak melintas. Laki-laki paruh baya yang berniat berkunjung ke rumah putrinya di desa sebelah. Tanpa tahu akar permasalahan, laki-laki itu langsung dihajar oleh gerombolan Paryo hingga babak belur.
Pukulan, tendangan bertubi-tubi diarahkan pada tubuh yang tak sanggup melawan. Beberapa uang yang ada di saku celana pun digasak habis. Awalnya uang tersebut akan diberikan pada anak semata wayang yang dipersunting warga desa sebelah. Namun sialnya malah menjadi barang rampasan para preman tak punya aturan.
"Apa salahku Tuan?" rintih laki-laki warga desa Karang.
"Salahmu? Kamu tanya salahmu? Ya nggak ada sih. Ha ha ha ha." Laki-laki berambut gondrong tertawa lebar. Mulutnya terbuka menampilkan deretan gigi geraham yang penuh lubang menghitam.
"Pak Tua, hari ini mungkin memang hari sialmu. Seandainya saja kamu nggak lewat jalan ini, bobok manis di kamarmu, tentu wajahmu tidak perlu bonyok begini," sambung muka codet menyeringai.
Paryo berjalan mendekati laki-laki warga desa Karang yang sudah lemah tak berdaya. Beberapa giginya patah, dan pelipisnya sobek.
"Aku melepasmu. Pulanglah dan sampaikan pada semua orang, namaku Paryo. Dan aku mencari Wira. Kami akan menunggu kedatangannya disini. Jika dia tidak muncul hingga tengah malam, akan kami bakar desa kalian!" ancam Paryo sambil melotot. Dia berlagak seperti bos. Bola matanya nampak bulat seperti hendak melompat dari tempatnya.
Sementara itu, Wira sedang duduk di teras depan. Menikmati secangkir teh jahe hangat yang mengepulkan asap tipis. Di sebelahnya ada Narsih yang terus menatap wajah Wira. Dua hari terakhir, Wira memang terasa lebih perhatian pada istrinya itu.
"Kenapa terus melihatku seperti itu?" tanya Wira, merasa risih oleh tatapan istrinya. Narsih tersenyum dan menggeleng pelan.
"Kamu tahu Mas, aku sempat merasa jika kamu tidak benar-benar menginginkanku," ucap Narsih. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Wira.
Wira menyentuh kepala Narsih, tepat di ubun-ubunnya. Untuk sesaat suasana hening. Semilir angin malam terasa sejuk, beraroma sedikit wangi bunga.
"Aku mempunyai mimpi yang harus kucapai Sih. Aku ingin mendirikan sebuah lembaga pendidikan untuk anak-anak desa ini. Aku harus fokus dengan tujuanku. Jadi kuharap kamu bisa mengerti." Wira mengusap-usap rambut Narsih.
"Iya Mas. Tapi setelah hal itu terwujud, kamu harus mulai memikirkan masa depan kita," sahut Narsih kembali menatap wajah Wira.
"Apa maksudmu?" Wira mengernyitkan dahi.
Narsih tersenyum malu-malu. Kemudian meminta suaminya itu untuk sedikit menunduk.
"Aku pengen segera memberi cucu pada Bapak dan Simbok," bisik Narsih di telinga Wira.
"Oohh," sambung Wira datar. Laki-laki itu terlihat tidak bersemangat.
Di halaman depan terlihat Sugeng berlari-lari kecil. Wajahnya nampak tegang. Wira segera berdiri menyambutnya.
"Ada apa Geng?" tanya Wira setengah berteriak.
"Ada yang mencarimu Mas," jawab Sugeng sambil mengatur nafas.
"Yasudah, suruh kesini orangnya. Ngapain kamu lari-lari seperti itu? Ngaget-ngagetin saja. Kupikir ada hal gawat," gerutu Wira.
"Bukan begitu Mas maksudku." Sugeng masih mengatur nafas yang tersengal. Sepertinya cukup jauh Sugeng berlari.
Wira meraih cangkir yang ada di meja. Kemudian memberikannya pada Sugeng. Cangkir berisi teh yang tersisa separuh.
"Yahh, ini sih sisa," gumam Sugeng menggerutu setelah melihat isi cangkir di tangannya.
"Jangan banyak protes. Cepet minum terus cerita. Jangan membuatku penasaran," desak Wira.
Sugeng menurut, segera menenggak teh yang sudah dingin itu hingga tandas. Seperti laki-laki pada umumnya, mulut Sugeng berucap 'aahhhh' dengan lantang setelah selesai minum.
"Ada warga yang dikeroyok gerombolan begund*l yang dipimpin seseorang bernama Paryo. Mereka mencarimu. Mereka juga mengancam akan membakar desa jika kamu tidak datang ke perbatasan sekarang. Aku sempat mengintainya tadi. Jumlah mereka cukup banyak Mas. Usia muda semua, apalagi badannya gempal-gempal. Bagaimanapun kita akan kalah jumlah dan tenaga," jelas Sugeng panik.
"Paryo? Bukannya orang yang waktu itu Mas?" Narsih menggenggam erat lengan Wira.
"Ya aku mengingat namanya. Rupanya waktu itu dia tidak sekedar menggertak," gumam Wira. Tangannya terkepal erat.
Dari dalam rumah, Ki Mangun berjalan pelan memakai tongkat. Di sampingnya ada Mbok Ginah nampak cemas mendengar penuturan dari Sugeng.
"Bagaimana ini Geng? Piye Pak?" Mbok Ginah merengek mengkhawatirkan anaknya. Begitupun Narsih. Semakin erat merangkul lengan kekar suaminya. Sedangkan Ki Mangun nampak tenang tanpa ekspresi.
"Kalaupun kita mengumpulkan seluruh pemuda desa, kita tetap kalah jumlah Mbok Ginah. Lagipula kita tidak ada persiapan sekarang," keluh Sugeng menyandarkan punggungnya di tiang rumah.
"Bagaimana jika kamu ke kota sekarang Geng? Lapor pada kepolisian. Gerombolan itu menyalahi hukum. Meresahkan warga," desak Mbok Ginah. Sugeng menggeleng pelan.
"Mereka bergerombol di jalan utama perbatasan. Kalau mau ke kota aku harus melewati jalur memutar Mbok. Paling cepat besok pagi aku sampai di kota," sambung Sugeng pasrah.
Wira menoleh, menatap Ki Mangun. Laki-laki sepuh itu mengangguk pelan pada Wira.
"Kurasa ini tanggung jawabku. Mereka mencariku. Aku akan menemuinya. Sebagai Bayan dan sebagai seorang laki-laki aku tidak bisa dan tidak boleh lari," ucap Wira. Tapi Narsih menarik lengan suaminya itu, menggenggamnya erat hingga sulit dilepaskan.
"Pak, jangan diam saja! Cegah anakmu berbuat nekat. Dia bisa mati konyol Pak!" pekik Mbok Ginah histeris. Dia mengguncang-guncang bahu Ki Mangun.
Selama ini Mbok Ginah selalu diam dan menuruti semua perintah Ki Mangun. Tapi malam ini emosinya meluap. Anak laki-laki semata wayang hendak menyerahkan nyawa pada gerombolan preman desa, Ibu mana yang akan diam saja?
"Mbok e, tenanglah. Aku pasti akan baik-baik saja. Mungkin mereka hanya mau minta uang jatah keamanan," ucap Wira menenangkan.
"Narsih, lepaskan tanganmu. Aku akan baik-baik saja. Percaya padaku." Wira melepaskan cengkeraman tangan Narsih.
"Pak! Ojo diam saja! Anakmu lho! Pak hee?" Mbok Ginah terus mengguncang-guncang bahu suaminya.
"Ginah, diam!" bentak Ki Mangun melotot. Mbok Ginah terdiam dan mundur selangkah. Suara Ki Mangun lantang dan menggelegar.
"Ingat kata-kataku. Dunia ini hanya milik pemberani. Nek wedi ojo wani-wani. Nek wani ojo wedi-wedi. Preman itu mencarimu. Temui, selesaikan masalahnya Wira! Kamu mengemban nama seorang Mangun Sarkawi. Tunjukkan, jika mereka salah memilih lawan untuk ditantang. Mereka membuat ulah di desa yang salah," perintah Ki Mangun lantang. Wira menelan ludah, dan mengangguk meyakinkan. Dadanya terasa panas mendengar ucapan Sang Bapak.
Bersambung___