NovelToon NovelToon
BadBoy

BadBoy

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kiandra 025

Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .

Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Saat ini Arsen dan Aresha duduk di salah satu bebatuan di pinggir pantai. Menatap dengan pandangan lurus ke depan. Setelah insiden Aresha memeluk Arsen di dalam Cafe, Arsen langsung menarik tangan Aresha dan membawa nya ke sini.

"Nggak seharusnya lo datangin gue ke sini. Kerjaan gue terganggu gara gara lo,"

"Sorry, gue nggak tahu. Gue cuma penasaran saja lo tinggal di mana." jawab Aresha tanpa menatap ke arah Arsen. Pemandangan pantai lebih menarik dari Arsen yang terus saja menampilkan wajah datar nya.

"Kemaren gue lihat handphone lo dan motor lo di rumah Tante Erina. Dan sekarang gue mau tanya apa yang sebenarnya terjadi sama lo?" tanya Aresha, kali ini mengalihkan pandangan nya menatap Arsen.

"Gue nggak mau bahas itu. Yang jelas gue bukan anggota keluarga mereka lagi. Gue udah bahagia dengan kehidupan gue sekarang."

"Terus lo mau putus sekolah gitu? Kita udah kelas 2 dan sebentar lagi kita kelas 3 Arsen."

"Gue tau kok. Gue nggak ada niat buat putus sekolah. Gue bakal sekolah lagi setelah gue gajian dan bisa bayar uang bulanan tanpa harus minta ke mantan orang tua gue," jawab Arsen tanpa merubah tatapan nya.

"Sejahat jahat nya orang tua lo, dia tetap orang tua lo. Dan sekuat apapun lo menyangkal nya, dia tetap orang tua lo. Seseorang yang udah menyatu darah nya dengan lo dan yang udah ngebesarin lo. Jadi tidak ada istilah nya orang tua jadi mantan orang tua."

Mendengar apa yang barusan Aresha ucapkan. Arsen langsung mengalihkan pandangan nya menatap Aresha, menatap wanita di samping dengan diam, mengamati wajah cantik Aresha dengan rambut yang saling berterbangan karena tiupan angin.

Arsen menghela napas nya, mencoba membuang pikiran nya yang mulai menggila.

"Gue paham yang lo ucapkan barusan. Tapi gue tetep nggak bisa. Gue udah bahagia sekarang."

"Itu sih terserah lo saja. Gue udah nggk mau maksa lo lagi buat balik ke rumah." sahut Aresha mengangkat bahu nya. Lalu keduanya kembali diam dengan pandangan lurus ke depan.

"Oh ya, gue ada maksud lain datangin lo kesini." ucap Aresha membuat Araen menoleh ke arah nya lagi.

"Lo inget kan saat lo nganterin gue malam itu. lo pernah bisikin sesuatu ke gue?"

Arsen mengangguk singkat.

"Terus?"

"Terus Adek gue ngiranya kita itu ciuman." Aresha terdiam beberapa detik setelah nya.

"Lo serius?"

"Serius lah. Buat apa gue bohong soal gituan." sahutnya.

"Dan sekarang Papa gue minta buat ketemu lo."

"Ketemu buat apa? Minta pertanggung jawaban?"

"Mungkin,"

"Kan gue gak hamilin lo. Kenapa Papa Lo minta gue tanggung jawab? Apa gue harus hamilin lo dulu agar gue punya alasan buat tanggung jawab." candaan Arsen langsung mendapat cubitan maut dari Aresha.

"Kok di cubit sih," keluh Arsen mengusap perut nya yang menjadi sasaran kekesalan Aresha. Terlihat jelas dari mata nya jika Aresha benar benar kesal pada nya.

"Lo itu ya. Suka banget buat mood gue ancur. Papa minta buat ketemu sama lo, tapi jawaban lo malah ngelantur kayak gitu."

dumel Aresha tak mau lagi menatap Arsen yang kini sudah tersenyum tipis menatap raut wajah kesal nya.

"Kalau lo ngomong kayak gitu, gue jadi inget pas lo nabrak gue saat di mal. Saat itu gue sedang benci benci sama lo dan lo malah cari gara gara terus sama gue." Aresha mengangkat sudut bibir nya. Raut kesal kini tidak ada lagi di wajah nya, tergantikan dengan senyuman indah yang mampu memikat siapapun yang melihat nya.

"Dan gue nggak tahu, kenapa gue harus inget lagi kejadian itu." ucap Aresha beralih menghadap ke arah Arsen. Setiap kali teringat kejadian itu, Aresha merasa bersalah dan kesal dalam waktu bersamaan. Bersalah karena membuat luka di lengan Arsen saat menabrak nya, walau hanya tertabrak trolli, dan kesal karena Arsen membuang kartu namanya dan menolak tanggung jawab nya. Ya walaupun sampai sekarang tidak bisa di pastikan siapa yang bersalah tapi tetap saja Arsen terluka karena kejadian itu.

"Lo harus inget terus kejadian itu." sahut Arsen membuat Aresha menatap nya binggung.

"Kenapa?"

"Karena itu salah satu kenangan terburuk dalam hidup kita."

"Iya kamu benar" ucap Aresha tertawa pelan.

"Yaudah yuk." ucap Arsen berdiri dari tempat nya duduk. Mengulurkan tangan nya ke arah Aresha.

"Mau kemana?" heran Aresha tanpa menyambut uluran tangan Arsen. Namun pria itu dengan paksa meraih tangan Aresha dan menarik nya berdiri.

"Ke tempat Papa kamu buat tanggung jawab."

📝

Tepat pada pukul 5 sore, mobil yang di kendarai Arsen dari hasil meminjam teman nya telah terparkir rapi di bassement salah aatu kantor perusahaan terbesar di Jakarta.

"Yuk masuk, tadi gue udah kabari Papa kalau gue mau ke sini." Aresha melangkah masuk ke dalam life yang berada di sudut bassement. Menekan tombol 35 untuk bisa di lantai ruangan papa nya.

"Selamat sore Nona Aresha." sapa beberapa staf yang melihat nya baru saja keluar dari life, dan Aresha hanya tersenyum tipis menanggapi nya.

"Non Aresha, anda sudah di tunggu Tuan di ruangan pribadi nya." seorang pria sedikit lebih muda dari Papa nya datang menghampiri Aresha, membungkuk hormat menyambut kedatangan putri dari pemilik perusahaan.

"Di mana Om? Aresha nggak tau ruangan nya,"

"Ikuti saya saja Non," Aresha mengangguk mengikuti langkah Pak Bram yang tadi di panggil nya Om. Jangan salah faham dengan ketidaktaunya Aresha akan ruangan pribadi papa nya, karena hanya ruangan kerja papa nya saja yang Aresha ketahui, karena bisa di hitung jari seberapa sering nya Aresha datang ke kantor papa nya. Itupun karena paksaan dari Bunda nya, Nara.

"Silahkan masuk, Tuan ada di dalam. Saya permisi dulu," Bram pergi meninggalkan Aresha dan Arsen yang sudah berdiri di depan pintu besar bercat coklat tua. Sebelum masuk Aresha mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Sayang kamu sudah datang,"

Aresha di sambut dengan pelukan dan juga ciuman dari papa nya. Aresha terkejut bukan main saat di sini tidak hanya ada papanya saja melainkan juga ada Aril, papa tiri Arsen.

"Om Aril," lirih Aresha menoleh kebelakang untuk melihat bagaimana reaksi Arsen. Arsen terlihat biasa saja dengan raut datar dan dingin nya.

"Sore Om," Arsen menyalami punggung tangan Fandi dan juga Aril.

Aresha mematu, dia binggung dengan keadaan ini, sedikit khawatir dengan Arsen yang terlihat semakin dingin setelah melihat kehadiran papa tiri nya.

"Arsen, apa kabar?" tanya Aril menatap Arsen dengan pandangan yang sulit di artikan.

Arsen tak menjawab, Arsen menatap papa Aresha yang kini tengah menatap nya.

"Saya mau klarifikasi atas tuduhan ciuman itu Om," ucap Arsen sebelum papa Aresha bersuara. Arsen ingin segerah pergi setelah melihat kehadiran pria yang tidak di sukai nya.

"Oh jadi kamu yang udah__"

"Saya nggak ciuman Om. Apa yang di ucapkan anak terakhir Om itu tidaklah benar. Saya dan Aresha hanya berteman, dan Aresha juga sudah memiliki pacar, jadi tidak mungkin saya melakukan apa yang tidak pantas saya lakukan. Jadi jangan hukum Aresha, dia tidak bersalah, saya yang bersalah karena telah membisikan sesuatu hingga orang orang ngira nya kita ciuman. Saya rasa ucapan saya sudah bisa di mengerti oleh Om, jadi saya mohon pamit undur diri. Permisi."

Aresha terdiam bagaikan batu di samping papa nya. Sepanjang apa yang Arsen ucapkan Aresha hanya diam menatap wajah Arsen. Sedikit tidak menyangka dengan penuturan Arsen yang sedikit membuat sebagian hatinya terasa nyeri.

"Ada apa ini, kenapa dia seperti itu?" ucap Fandi merasa sedikit binggung. Dan raut sendu yang di tunjukan Aril sepeninggalan Arsen semakin membuat Fandi tak mengerti.

"Aku akan susul Arsen,"

"Enggak Om, biar Aresha aja." sahut Aresha berlari keluar dari ruangan pribadi papa nya.

"Om Bram," panggil Aresha pada assisten papa nya yang berdiri di depan meja sekertaris.

"Iya Non,"

"Om tau pergi nya cowok yang tadi datang bersama saya?" tanya Aresha dengan napas tersenggal.

"Oh iya, tadi dia berlari menaiki tangga darurat." jawab Bram membuat Aresha teringat akan satu hal.

"Rooftop," satu tempat yang membuat Aresha yakin akan adanya Arsen saat ini.

"Makasih Om," Aresha berlari masuk ke dalam life yang sedang terbuka. Menekan tombol yang akan membawa nya ke atas kantor perusahaan papa nya.

Begitu sampai di lantai paling atas, Aresha keluar dari life dengan langkah terburu buru. Mengedarkan pandangan nya menyapu penjuru rooftop mencari keberadaan Arsen.

"Arsen," panggil nya begitu menemukan sosok Arsen yang berdiri agak jauh dari nya. Aresha berlari kecil menghampiri Arsen.

"Mau ngapain lo kesini. Mau nemuin gue sama orang itu lagi?"

Langkah Aresha yang ingin semakin mendekati Arsen terhenti begitu mendengar sindiran sinis dari bibir pria itu.

"Apa maksud lo Arsen?"

"Jangan pura pura nggak tau deh. Gue tau ini pasti rencana lo kan. Emang senarusnya dari awal itu gue nggak pelu percayai cewek kayak lo," Arsen membalikan badan nya menatap Aresha tajam, setajam elang yang siap menerkam mangsa nya.

"Kenapa lo ngomong kayak gitu. Gue juga nggak tau kenapa ada Om Aril di sana," bantah Aresha membalas tatapan tajam Arsen. Dada nya bergemuruh berperang tatapan dengan pria yang memiliki mata kelam namun menenangkan itu.

Arsen berjalan mendekati Aresha tanpa melepas tatapan tajam nya, dan itu semakin membuat Aresha mematung dengan apa yang di lakukan pria itu.

"Kenapa gue harus percaya sama lo. Harusnya gue tau kalau sedari awal memang ini kan tujuan lo deketin gue? Entah apa yang udah Papa tiri gue kasih ke lo hingga lo mau ngelakuin apapun demi dia."

Bibir Aresha terasa keluh untuk membalas ucapan Arsen. Aresha benar benar tak percaya dengan pemikiran Arsen yang tidak bisa Aresha artikan. Arsen benar benar sulit di tebak.

"Kenapa diam? Benarkan apa yang gue ucapkan?"

Aresha memejamkan mata nya menahan emosi. Terserah orang mau menganggap nya apa tapi yang jelas Aresha tak terima jika ada yang menyudutkan nya seperti ini.

"Terserah deh. Terserah lo nganggep nya kayak gimana. Lagian gue nggak berhak kan masuk ke dalam masalah lo, dan gue cuma temen biasa, jadi mulai sekarang gue gak akan ganggu lo lagi. Gue pergi." Aresha berbalik pergi meninggalkan Arsen. Entah sadar atau tidak kini Aresha mulai menjatuhkan air mata nya, berlari cepat untuk menjauhi pria yang kini mematung menatap kepergian nya.

***Kalau kalian jadi Aresha, kalian milih yang mana. Arsen atau Arjuna?

Jangan lupa komentar nya dan like nya ya..😀***

1
K_Forza
beranda sekali aku baca pas bagian ini 🤣
K_Forza
ternyata novel ini udah ada di tahun 2020 dan aku baru tau di 2025 lewat dubber nya novel ini..
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu
K_Forza
gak suka Arjuna ih
K_Forza
jangan bilang kalo vino juga suka Aresha?
K_Forza
bener, paling gak kuat dan males punya cowok cuek apalagi gak peka🥲
K_Forza
astaga koplak juga gurunya 🤣😂
Qaisaa Nazarudin
Kenapa aku gak rela cerita ini END sih thor,, Aku pengen baca sampai mereka nikahan semua dan punya anak masing2 nya..ck thor huaaa..Aku gak rela END😩😩😩😩
Qaisaa Nazarudin
Kita kawal sampai pelaminan thor..😅😅
Qaisaa Nazarudin
Yezzzz 💪🏻💪🏻💪🏻👏🏻👏🏻👏🏻 Mau2,Mau dong 🥰🥰🥰😍
Qaisaa Nazarudin
Pikuran yg kel gini yg gak benar,Harus di perjuangkan,Bukannya nyerah gitu aja,,Sebel aku..
Qaisaa Nazarudin
Berarti cinta kamu belum kuat utk Aresha,nyatanya kamu tdk mempercayai nya,,Kamu malah lebih memilih Ego mu,Aku kecewa dgn mu Arsen..
Qaisaa Nazarudin
Aresha terlalu gengsian dan gak pernah peka dgn keadaan Arsen,Heran aku,,,
Qaisaa Nazarudin
Waahh Arjuna licik,Bawak bawain mama nya utk dekatin Aresha lagi, Curang..
Qaisaa Nazarudin
Mendingan sama Aldrin dari pada kamu yg masih mencintai cewek lain,tapi pacaran dgn Stephany,,🙄🙄Rasain kamu kan..
Qaisaa Nazarudin
Aneh ya,Kok ada kembaran yg saling musuhan kek gitu,Hanya di dunia novel kan..😂😜
Qaisaa Nazarudin
Sengaja ya Arsen kasih nomornya ke Nabila, katanya Cinta sama Aresha,Tapi kenapa gak bisa jagain hatinya Aresha?? Lama2 sebel aku dgn sikapnya Arsen,,
Qaisaa Nazarudin
Itu pasti nomor Nabila,Blokir aja deh Aresha nomor nya..
Qaisaa Nazarudin
Arsen gengsian banget, giliran di dekatin Nabila malah diam aja,, Ini yg bikin mereka tambah salah paham, Kamu sendiri yg kasih peluang Arjuna dekatin Aresha lagi, Ntar jgn nyesel kamu..
Qaisaa Nazarudin
Harusnya kamu yg nemuin Arsen dan minta maaf,Kok sekarang malah kebalik,kamu yg ingin Arsen nemuin kamu,ck🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Qaisaa Nazarudin
Nah kan ku bilang juga apa,Sikap Arsen yg suka berantem membuatkan Aresha meninggalkan Arsen,Udah tau Aresha gak suka kamu berantem,Malah Arsen kayak menantang..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!