Lima tahun yang lalu, Alex dipaksa untuk mengorbankan diri demi keluarganya. Lima tahun yang lalu, pemuda dengan masa depan gemilang itu dijebloskan ke penjara oleh keluarganya sendiri. Tunangan dan orang-orang terdekat berpaling darinya dan melabelinya sebagai aib dari keluarga Wealthy, keluarga terkaya dan paling berpengaruh di dunia.
Namun mereka yang berpaling tidak mengetahui rencana Alex untuk membalas mereka. Dengan sistem dalam kendalinya, ia akan menjadi sosok tiada tanding yang akan menuntut balas kepada mereka semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaze Riku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dokter yang ikut mengawal Liam ke lantai ini buru-buru menjelaskan, "Ah, perawat ini merupakan perawat pengganti yang kami sewa dari penyedia jasa pihak ketiga. Perawat ini hanya bertugas hingga pertukaran shift di pagi ini."
Dokter itu berpaling kepada Alex dan menginstruksinya, "Perkenalkan dirimu kepada tuan Wealthy."
Alex sedikit ragu untuk melakukan ini mengingat nama samaran yang diberikan Deep Blue terlalu familiar bagi Liam dan jika benar Liam dapat melihat penyamarannya, bukankah memberikan nama samarannya saat ini dapat semakin memperkuat kecurigaan Liam?!
"Lupakan saja. Jika itu hanya perawat pengganti, maka itu hanya akan membuang waktu saya," interupsi Liam dengan datar, "Saya tidak memiliki banyak waktu untuk berbincang di sini."
"Maaf telah membuang waktu anda tuan," Dokter itu dengan panik meminta maaf dan berpaling kepada Cindy, "Nona Wang, tolong berikan kepada saya laporan terbaru tentang tuan Paul Wealthy."
"Saya membawanya bersama saya pak," jawab Cindy menyerahkan dokumen yang baru saja ia perbaharui dengan data-data hasil pengamatan atas kondisi Paul di shift terakhirnya tadi.
"Itu bagus," respon dokter tersebut tersenyum, "Kalian berdua dapat melanjutkan aktivitas seperti biasanya."
Alex dan Cindy mengangguk pelan. Keduanya kembali ke pos jaga mereka untuk membereskan barang bawaan mereka dan istirahat.
"Hei, jangan terlalu mempedulikan sikap tuan Liam barusan," ujar Cindy berusaha menyemangati Alex yang terlihat tidak nyaman setelah perlakuan Liam tadi, "Orang kaya dan terpandang seperti dia memang tak memiliki waktu untuk para bawahan seperti kita ini."
Alex mengangguk, "Tenang saja, saya juga mengerti tentang hal ini. Saya malah mengagumi sosoknya yang datang pagi-pagi seperti ini untuk mengunjungi ayahnya yang sakit."
"Ah, saya juga mengagumi ini," sahut Cindy dan kemudian dengan pelan mendekati Alex untuk berbisik pelan layaknya bergosip, "Bahkan kau harus tahu di antara semua kerabat dan keluarga Wealthy, tuan Liam adalah yang paling rutin dan konsisten dalam jadwal kunjungannya."
Alex tersenyum kecil mendapati Cindy termakan oleh pancingannya dan berusaha mengorek informasi lagi, "Oh ya?"
Cindy yang merasakan Alex tak mempercayainya menambahkan lagi, "Saya tidak berbohong. Tuan Liam biasanya selalu datang berkunjung setidaknya seminggu sekali dan selalu antara hari kamis malam atau jumat pagi. Saya telah mengkonfirmasinya langsung dengan perawat yang bertugas pada shift lain!"
Alex hanya dapat mengangguk paham, "Itu berarti tuan Liam benar-benar anak yang berbakti."
Cindy mengangguk pula dan ada sedikit perasaan menyesal ketika mengingat setelah ini keduanya akan berpisah. Hei, Cindy baru saja menemukan seseorang yang baik hati hendak mengajarkannya teknik pengobatan timur yang bahkan keluarganya sendiri tak sudi mengajarkannya, tentu saja perasaan sesal ini sangatlah wajar. Wanita itu menatap Alex yang telah selesai membereskan barang-barangnya dengan pilu dan membuka obrolan lagi, "Hei, saya tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi, apakah anda memiliki tips untuk meningkatkan teknik pengobatan saya?"
Dengan pertanyaan ini, Alex menyimpulkan rencananya untuk menarik perhatian Cindy demi membangun hubungan dengan keluarga Wang terbilang sukses. Pemuda itu berdehem sejenak, "Mengapa anda harus khawatir tentang hal ini? Bukankah kita tinggal di kota yang sama, jika itu takdir, pasti akan ada saat untuk bertemu dan belajar bersama lagi."
Cindy yang merasa Alex berusaha menghindar tak menyerah. Bagaimanapun ini terkait dengan teknik pengobatan yang selama ini ingin dipelajarinya.
"Anda benar, bagaimana jika kita bertukar kontak untuk memudahkan menghubungi satu sama lain ?"
Alex menunjukkan raut wajah bermasalah sejenak sebelum menghela nafas, "Itu tidak masalah."
"Hei, apakah kau sibuk sore ini ? Bagaimana jika saya mentraktir anda makan ?" tawar Cindy untuk menunjukkan apresiasi atas teknik merasakan qi yang telah Alex ajarkan padanya.
"Seharusnya tidak ada rencana. Namun, apakah anda keberatan jika saya membawa pacar saya ?"
Cindy menggelengkan kepalanya menunjukkan tidak keberatan sama sekali. Setelah berbincang sejenak, keduanya berpisah dan tak butuh waktu lama hingga Alex tiba di kamar hotelnya.
Gwen yang tengah menyantap sereal menatap kepulangannya dengan raut wajah tidak puas, "Saya akan memberikan anda waktu tidur terlebih dahulu sebelum menceramahi anda."
Nada bicara gadis itu tegas dan menjanjikan derita jika Alex berani memprotes instruksi ini. Alex mengangkat tangannya dengan pasrah, tersenyum kecil seraya berpesan "Kalau begitu, saya akan menganalisa hasil rekaman suara di ruang rawat Paul kepada anda setelah selesai istirahat."
Gwen menghela nafas, "Hal kecil seperti ini serahkan saja kepada saya. Kamu tidak perlu khawatir. Apakah kamu mau sarapan dulu ?"
Alex menggelengkan kepalanya. Selama berjaga, ia sempat mendapatkan beberapa makanan ringan di rumah sakit sehingga ia tak terlalu lapar.
"Kalau begitu, segera bersihkan diri dan beristirahat," pesan Gwen lembut, "Saya akan menganalisa hasil rekaman itu setelah selesai dengan sarapan."
"Siap mama!" sahut Alex sedikit menggoda Gwen yang memperlakukannya seperti seorang ibu kepada putranya yang nakal.
Gwen hanya menjulurkan lidahnya jengkel dan meneruskan sarapannya.
Setelah mendengar pintu kamar utama ditutup dan memastikan Alex beristirahat dengan tenang, Gwen tak buru-buru untuk memeriksa rekaman dari ruang rawat Paul. Ia menghabiskan waktu hingga pukul 10 pagi dengan melakukan olahraga dan latihan ringan yang menjadi rutinitas paginya selama berada di militer. Selain untuk menjaga kesehatan dan bentuk tubuhnya, latihan ini juga telah menjadi kebiasaan baginya sehingga sama sekali tak menjadi beban baginya.
Tak ingin menghabiskan waktunya untuk menganalisa rekaman itu dengan tubuh yang berkeringat, Gwen membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum ke ruang tamu dan mengaktifkan Deep Blue.
"Deep Blue, putar kembali rekaman tadi pagi."
Gwen mengerutkan alisnya ketika mendengar perbincangan Alex dengan Cindy. Dari tabletnya dengan meretas data dari militer, Gwen dengan mudah mendapatkan informasi dan potret wajah Cindy Wang. Walaupun Gwen mengetahui pribadi Alex dengan baik, ia tak dapat menahan rasa cemburunya begitu mendengar Cindy sempat mengenggam erat tangan Alex. Kecemburuan itu segera mereda begitu rekaman beralih kepada Alex yang menjelaskan maksudnya. Ia bahkan tak bisa menahan tawanya ketika membayangkan raut wajah Cindy begitu Alex membenarkan maksudnya tersebut.
Ada jeda waktu sesaat hingga suara pintu terbuka kembali dan kali ini suara yang baru dikenalinya terdengar.
"Pastikan keamanan ruangan ini," instruksi suara itu dengan dingin
"Identifikasi pemilik suara ini, Deep Blue," instruksi Gwen.
"Dimengerti Nona. Pemilik suara ini adalah Liam Wealthy."
Gwen mengangguk dan sama sekali tak khawatir. Dalam ruangan rawat dengan banyak peralatan medis yang mutakhir, mustahil untuk Liam menggunakan alat pelacakan yang akan menganggu peralatan elektronik pendukung kebutuhan medis di sana sehingga pemeriksaannya hanya menggunakan metode secara fisik. Wanita itu sangat yakin Alex telah menyelipkan alat ini dengan rapi dan tak akan ketahuan. Lagipula jika itu sudah ketahuan, bagaimana mungkin bisa Alex kembali tanpa beban.
"Paman Alex ini tak kusangka sangat waspada," komentar Gwen. Ia pun meminta Deep Blue melanjutkan rekamannya.
"Tidak ada yang mencurigakan tuan."
Suara yang Gwen perkirakan adalah perkataan dari pengawal yang mengikuti Liam membenarkan apa yang telah Gwen Pikirkan. Selanjutnya suara lain menjelaskan tentang kondisi Paul Wealthy.
"Saya sangat mengapresiasi kerja keras dan dedikasi rumah sakit ini untuk perawatan ayah saya," ujar Liam, "Anda dapat meninggalkan ruangan ini, saya ingin meluangkan waktu secara pribadi dengan ayah saya."
"Saya mengerti tuan."
Setelah suara pintu ruangan rawat tertutup, Gwen menunggu cukup lama dalam keheningan. Ia bahkan sempat berpikir bahwa ada kesalahan dalam alat perekam ini. Namun, pikiran ini segera dibuang begitu suara tawa Liam terdengar. Itu reaksi yang sangat tidak diduga. Ayah anda dalam keadaan koma di rumah sakit dalam waktu cukup lama dan reaksi anda adalah tertawa seakan menonton drama komedi, Gwen yakin ada yang salah dengan Liam.
Benar saja tak lama, tawa Liam berhenti dengan sebuah kutukan, "Kau benar-benar brengsek, Paul Wealthy!"
jelaskan yg penting2 saja jangan sampai panjang2 jadinya percakapannya kuranh