Mereka dijodohkan dan berani membuat komitmen untuk berumah tangga. Tapi kabar mengejutkan di ucapkan si pria di usia pernikahan yang belum genap 1 bulan. Yudha meminta berpisah dengan alasan cinta masa lalunya telah kembali.
Delapan tahun berlalu Yudha kembali bertemu dengan mantan istrinya.
Tidak ada yang berubah. Wanita itu tetap cantik dan bersahaja tapi bukan itu yang menjadi soal. Matanya memaku pada seorang gadis kecil berambut pirang yang begitu mirip dengannya.
"Bisa kau jelaskan?"
"Tidak ada yang perlu ku jelaskan!"
"Aku sudah mencari tahu tentangmu tujuh tahun terakhir dan tidak ada catatan kau pernah menikah sebelumnya selain..... apa itu anakku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Tidak seberapa sakit hati Nilam ketika Yudha meninggalkannya, tapi sakit itu karena pria yang menikahinya mengatakan lebih mencintai wanita lain.
Harga dirinya sebagai seorang wanita di rendahkan, diremehkan, sebagai seorang isteri jelas Nilam merasa dikhianati.
Harusnya masih sangat bisa Yudha memperjuangkan rumah tangga mereka yang baru saja dimulai, tapi lelaki itu memilih menyerah dan lebih mementingkan kebahagiaannya sendiri.
Lantas setelah itu semua bagaimana dia tetap bisa baik-baik saja duduk hanya berdua dengan Yudha?
Berjuang untuk bisa move on pun tidak mudah. Memaafkan kesalahannya mungkin bisa Nilam lakukan. Tapi untuk melupakan luka dan rasa sakit hati yang sudah Yudha torehkan itu lain soal.
Duduk berdua seperti saat ini adalah hal yang tak pernah Nilam pikirkan, dia menyadari ternyata luka itu belum sepenuhnya sembuh.
Mungkin bibirnya masih bisa tersenyum pada Yudha tapi hatinya belum benar-benar lapang menyambutnya.
Kedatangan Alfaaro membuat Nilam sangat bersyukur. Akhirnya dia tidak harus terus terjebak dengan lingkaran rasa sesak dihatinya.
Tanpa sadar bibirnya melengkung menyambut pria tampan itu yang sudah dua hari tiga malam tidak di lihatnya.
"Kata dokter Abimana, besok kemungkinan Mylea sudah boleh pulang."
"Kapan pulang," Nilam tidak hanya senang mendengar kabar yang dibawa oleh Alfaaro, tapi juga lega karena kini dia tak harus terjebak berdua saja dengan Yudha.
Alfaaro menoel hidung mancung Mylea yang serupa hidung Yudha. Kemudian menoleh kearah Nilam untuk menjawab pertanyaannya.
"Tadi sore, tapi langsung pulang ke rumah karena Ayah sudah pulang."
Nilam tahu jika tuan Udgam sudah pulang dia juga cukup bersyukur ketika besok Mylea juga bisa pulang ke rumah. Se-mewah apapun kondisi rumah sakit tak senyaman di rumah sendiri meski sederhana.
"Khem!"
Deheman Yudha tak dihiraukan Nilam baginya melihat kebahagiaan Mylea berkat kedatangan Alfaaro sudah menarik seluruh perhatian ibu satu anak itu.
"Saya tertarik ingin merasakan sensasi berlibur di penginapan kalian." tiba-tiba Yudha berkomentar.
Nilam malas menanggapi membuat Alfaaro yang menyahuti celoteh Yudha.
"Kalau begitu bisa anda pesan sesuai keinginan anda melalui aplikasi."
"Lewat aplikasi?"
"Ya, untuk operasional kami menyediakan tim khusus, kami tidak turun secara langsung."
"Wah, menarik sekali."
Alfaaro hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan atas kekaguman Yudha.
"Tapi melihat promo yang kalian tawarkan, apa itu tidak berdampak pada anggaran pendapatan? Mengingat kalian baru mengeluarkan biaya yang tidak sedikit."
Tepat sekali. Mereka bertiga adalah pebisnis yang seperti ini adalah pembicaraan normal.
"Untuk proyek kami kan proyek jangka panjang. Untuk masalah seperti itu sudah kami pikirkan sebelumnya, inginnya sih tidak hanya membuat rumah sewa, kami juga sedang mencari lahan untuk pembangunan perumahan yang menawarkan segala fasilitas yang sama."
"Beda kepala beda pemikiran ya, kalau saya sendiri lebih tertarik dengan pembangunan gedung berlantai di banding perumahan yang menawarkan pemandangan alam."
"Anda benar pak Yudha, sama-sama sawi putih di tangan dua chef yang berbeda akan menghasilkan masakan yang berbeda pula, yang satu di tumis, prosesnya mudah dan cepat. Sedang yang satunya di buat kimchi prosesnya rumit dan lama. Sama-sama dibuat dari bahan yang sama tapi hasil akhir bisa menentukan nilai jual dan tentunya dinikmati dengan kelas berbeda pula."
Tepat!
Yudha mingkem setelahnya.
Alfaaro tidak menyukai perdebatan tapi bukan berarti dia tidak bisa speak up.
Entah merasa kalah debat atau bagaimana Yudha memilih menyingkir dan duduk di kursi yang sedikit jauh dari ketiganya.
"Terimakasih sudah menjenguk ayah ku, beliau bercerita tentang kunjungan mu." setelah Yudha menyingkir, Alfaaro kembali mengajak Nilam bicara.
"Beliau sangat bersahaja."
"Benar. Bahkan aku sampai lupa jika aku ini bukan putra kandungnya."
Tidak ada yang salah dengan ayah tiri, seperti halnya ayahnya yang bisa mencintainya layaknya ayah kandung. Alfaaro juga ingin berlaku demikian dengan putri Nilam. Mylea.
"Nilam, pikirkan tentang kita, aku serius ingin menjalin hubungan dengan kalian,"
Bukan ingin memaksa, tapi Alfaaro ingin menunjukkan keseriusannya.
Disana. Di tempatnya seorang pria duduk menghadap jendela tubuhnya tiba-tiba menegang. Ada yang aneh dengan perasaannya tatkala mendengar ucapan pria itu untuk sang mantan.
"Jangan mencemari pikiran Mylea dengan hal yang tidak pantas seperti itu!" Yudha sendiri tidak sadar ketika dia sudah berdiri dibalik tubuh jangkung Alfaaro.
Apa katanya? Mencemari pikiran Mylea?
Dangkal sekali pikiran laki-laki yang pernah jadi suami Nilam ini.
Yudha melangkah tanpa sadar. Tangannya terkepal saat melihat bagaimana laki-laki itu menatap penuh keseriusan pada Nilam dan Mylea berada di tengah-tengah mereka.
Sialan.
Hatinya panas.
Namun apakah dia pantas merasa demikian, sementara semua orang tahu bagaimana statusnya dengan Nilam sekarang, bahkan secara hukum dia masih suami dari Ruliana.
Lagi pula Yudha tidak ingin menyimpulkan kalau itu rasa cemburu. Dia hanya merasa ini karena rasa kesal seorang ayah karena anaknya terlihat bahagia dengan orang lain.
"Kamu kenapa?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Nilam.
Ya, dia merasa aneh dengan sikap Yudha yang menurutnya sangat berlebihan.
"Tolong kalian harus tahu tempat jika bicara soal perasaan, disini ada Mylea yang belum pantas mendengar gombalan tak bermutu seperti itu!" kecam Yudha yang semakin terlihat aneh.
"Ayah, kenapa ayah marah? Lea senang kok kalau nanti Om Je beneran jadi ayah aku, jadikan Lea punya dua ayah."
Syok Yudha mendengarnya. Apa putrinya tahu maksud dari pertanyaan pria itu pada Ibunya?
Sementara Alfaaro merasa tersanjung dengan pengakuan Mylea. Tidak menyangka niat baiknya tersambut.
"Al, kita bicarakan ini nanti aja, kurasa saat ini bukan waktu yang tepat."
"Nah, itu kamu tahu!" celetuk Yudha.
"Maksudnya, Ibu masih di Singapura, mungkin kita akan membahas lebih serius ketika beliau sudah pulang dari berobat, soalnya Ibu tidak mengizinkan aku menemaninya di sana, Ibu tidak suka melihatku sedih."
Tadi wajah Yudha sempat di hiasi raut puas, tapi kini seketika berubah pias.
Apa itu artinya Nilam menerima perasaan pria muda itu?
Mata Alfaaro seketika menghilang ketika dua sudut bibirnya tertarik keatas, tampak tampan sekali ketika pria itu tersenyum lebar.
"Kalian benar-benar nggak ada obat."
Nilam dan Mylea sampai ter-lonjak ketika tiba-tiba Yudha keluar ruangan dengan membanting pintu.
Sinting.
Benar-benar tidak waras lelaki itu.
Apa dia lupa sekarang sedang berada di rumah sakit?
Sementara diluar Yudha berkali-kali memukul tembok melampiaskan kekesalannya.
"Sialan kamu Nilam!"
"Kamu anggap apa aku ini? Bangsat!"
Dadanya turun naik dengan napas tersengal-sengal.
Rasanya begitu menyesakkan melihat wajah ayu itu tersipu malu.
Yudha meraup wajahnya dengan kedua tangannya, rambutnya tidak lupa di lacak kasar sudah seperti orang frustasi.
Jangan bilang ini adalah gejala gila.
######
Sedih banget karena review nya sekarang lama. jadi updatenya tidak lancar.