Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.
Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.
Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.
Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warna Mata Yang Aneh
“Evander!”
Teriakan Evelyn terdengar cukup keras dari dalam kamar Raja Vampir. Saat ini gadis itu berdiri tepat di depan cermin besar dengan wajah panik.
Tiba-tiba.
Brakkk!!
Pintu kamar langsung terbuka kasar. Evelyn refleks menoleh cepat ke arah pintu.
Dan detik berikutnya.
Mata Evelyn langsung membelalak terkejut.
Karena bukan hanya Evander yang datang.
Namun Lucien, Raven, Ciel, Kaizer, bahkan Lucthen juga ikut masuk dengan wajah serius.
“K-kenapa kalian datang semua?!” ucap Evelyn panik. “Aku kan cuma memanggil Evander!”
Lucien langsung menghela napas panjang.
“Lagian ngapain sih kamu berteriak begitu?” protesnya. “Kita pikir kamu dalam bahaya.”
Bahkan Raven yang biasanya tenang terlihat sedikit waspada tadi. Sementara Evander langsung berjalan cepat mendekati Evelyn.
“Ada apa?”
Evelyn langsung menunjuk panik ke arah matanya melalui pantulan cermin.
“E-eh itu…” gumamnya gugup. “Kenapa mataku merah sebelah, Evander?”
Deg.
Seketika.
Seluruh ruangan langsung sunyi. Tatapan semua orang langsung tertuju pada mata Evelyn.
Dan benar saja.
Mata kiri Evelyn perlahan berubah merah gelap samar seperti mata vampir. Sementara mata kanannya masih tetap normal.
Lucien langsung membelalak.
“Tidak mungkin…”
Kaizer langsung menyipitkan matanya serius.
“Ini belum pernah terjadi sebelumnya.”
Evelyn mulai semakin panik.
“A-apa aku berubah jadi vampir?!” tanyanya cepat.
Namun Ciel langsung mendekat memeriksa kondisi Evelyn. Tatapannya terlihat sangat fokus.
“Tidak,” jawab Ciel pelan. “Detak jantungnya masih normal manusia.”
“Tapi kenapa matanya berubah?” tanya Raven serius.
Sunyi beberapa detik.
Lalu perlahan.
Tatapan semua orang langsung mengarah pada Evander.
Karena hanya ada satu kemungkinan penyebabnya. Darah Raja Vampir. Sementara Evander sendiri menatap mata merah Evelyn cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya. Ekspresi Raja Vampir itu terlihat sedikit terkejut.
“Aneh…” gumamnya rendah.
Evelyn langsung menatapnya panik.
“Aneh bagaimana?!”
Namun sebelum Evander menjawab. Lucthen tiba-tiba membuka suara pelan,
“Yang Mulia…”
Tatapannya menyipit ke arah mata Evelyn.
“Matanya mirip dengan mata milik keluarga Nocturne.”
“Lebih tepatnya…” ucap Ciel pelan sambil terus menatap mata Evelyn. Tatapannya terlihat benar-benar tidak percaya. “Matanya sangat mirip dengan mata Yang Mulia.”
Deg.
Seketika suasana kamar langsung menjadi sunyi. Mata Evelyn langsung membesar.
“Hah?!”
Refleks, Evelyn kembali menoleh ke arah cermin besar.
Dan benar saja.
Warna merah di mata kirinya memang sama persis seperti warna mata Evander.
Merah gelap khas keluarga Nocturne.
“Ti-tidak mungkin…” gumam Evelyn panik.
Lucien langsung mendekat sedikit dengan wajah serius yang jarang terlihat.
“Ini benar-benar aneh…”
Kaizer menyilangkan tangannya sambil tetap memperhatikan Evelyn.
“Belum pernah ada manusia yang bisa menerima darah Raja Vampir sejauh ini.”
“Apalagi sampai menunjukkan perubahan fisik seperti ini,” tambah Raven dingin.
Evelyn langsung memegang wajahnya sendiri panik.
“Apa aku benar-benar berubah jadi vampir?!”
“Tidak.”
Jawaban Evander terdengar cepat dan tenang.
Tatapan merah Raja Vampir itu tidak lepas dari mata Evelyn.
“Kau masih manusia.”
“Tapi mataku—”
“Itu hanya pengaruh darahku.”
Deg.
Wajah Evelyn langsung memanas entah kenapa saat Evander mengatakan itu. Namun Lucien justru menyeringai kecil lagi.
“Wah…” gumamnya jahil. “Sekarang calon Ratu kita mulai mirip Raja Vampir.”
“Lucien.”
“Iya, iya.”
Namun kali ini bahkan Lucien sendiri terlihat cukup penasaran. Sementara itu, Evander perlahan mengangkat dagu Evelyn agar gadis itu menatapnya.
Tatapan merah mereka kini benar-benar terlihat mirip. Dan hal itu membuat seluruh orang di ruangan langsung menyadari sesuatu.
Simbol Raja Vampir.
Benar-benar menerima Evelyn sepenuhnya.
“Aneh…” gumam Evander rendah sambil tetap menatap mata Evelyn.
“Apa lagi sekarang?” tanya Evelyn gugup.
Namun sudut bibir Raja Vampir itu perlahan terangkat samar.
“Kau semakin terlihat seperti Ratuku.”
“Evander!” teriak Evelyn dengan wajah merah padam karena malu.
Lucien langsung menahan tawanya lagi.
Namun Evelyn buru-buru kembali menatap Evander serius.
“Aku serius,” ucapnya panik sambil menunjuk matanya sendiri di cermin. “Apa mataku akan seperti ini selamanya?”
Tatapan merah Evander tetap tenang.
“Iya.”
Deg.
Mata Evelyn langsung membelalak.
“Itu permanen.”
“Hahhh?!” suara Evelyn langsung naik panik.
Lucien akhirnya benar-benar tertawa kali ini.
“Haha! Selamat datang di keluarga Nocturne.”
“Aku belum masuk keluarga kalian!” protes Evelyn cepat.
Namun Ciel justru terlihat masih memperhatikan mata Evelyn dengan serius.
“Perubahan permanen karena darah Raja Vampir…” gumamnya pelan. “Ini benar-benar pertama kalinya terjadi.”
Kaizer mengangguk kecil.
“Biasanya manusia langsung mati sebelum tubuhnya bisa menerima darah Yang Mulia.”
“Tapi dia malah menyatu dengan darah itu,” tambah Raven.
Evelyn langsung semakin panik mendengar itu semua.
“Ja-jadi sekarang aku bagaimana?!”
Tatapan merah Evander perlahan kembali menatap mata Evelyn melalui pantulan cermin.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Hah?”
“Kau tetap Evelyn.”
Deg.
Jantung Evelyn kembali berdetak aneh. Namun dia masih memegang wajahnya panik.
“Ta-tapi orang-orang pasti akan menganggapku aneh!”
Lucien langsung menyeringai jahil.
“Mereka justru akan semakin percaya kalau kamu calon Ratu Nocturne.”
“Lucien!”
Namun sebelum Evelyn kembali protes.
Evander tiba-tiba mengusap pelan sudut mata merah Evelyn.
“Cocok untukmu.”
Deg.
Wajah Evelyn langsung merah total lagi. Sementara Lucien langsung memalingkan wajah sambil menghela napas dramatis.
“Aku menyerah,” gumamnya. “Raja Vampir benar-benar sudah tidak tertolong.”
“Diam kau!” bentak Evander yang mulai kesal dengan Lucien.
Lucien langsung mengangkat kedua tangannya menyerah.
“Baik, baik. Aku diam.”
Walaupun begitu, senyum jahilnya masih belum hilang sepenuhnya. Sementara Evelyn kembali menatap Evander dengan wajah serius dan sedikit panik.
“Evander,” panggilnya pelan. “Kamu yakin ini permanen?”
“Iya.”
Jawaban Evander terlalu cepat hingga membuat Evelyn makin tidak tenang.
“Ka-kamu jangan menjawab sesantai itu!” protes Evelyn. “Ini mataku berubah warna!”
Namun Evander justru terlihat sangat tenang.
Tatapan merahnya terus memperhatikan mata kiri Evelyn yang kini berwarna sama seperti miliknya.
“Tidak buruk.”
“Hah?”
“Bahkan sangat cocok.”
Deg.
Wajah Evelyn langsung kembali merah.
“Aku sedang serius!”
“Aku juga serius.”
Lucien langsung berdeham pelan sambil menahan tawanya. Sementara Ciel kembali membuka suara,
“Yang Mulia memang benar.”
Tatapan Ciel tertuju pada mata Evelyn.
“Perubahan ini kemungkinan besar tidak akan hilang.”
Evelyn langsung lemas.
“Kenapa hidupku makin aneh sejak bertemu kalian…”
Lucien langsung menyeringai kecil.
“Karena kamu bertemu Raja Vampir.”
“Lucien,” suara Evander kembali mengancam.
“Iya, iya.”
Namun beberapa detik kemudian. Lucthen yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata pelan,
“Tapi ini akan menjadi masalah.”
Tatapan semua orang langsung mengarah padanya.
“Maksudmu?” tanya Raven.
“Mata itu.”
Tatapan merah Lucthen mengarah pada mata kiri Evelyn.
“Jika klan vampir lain melihatnya…”
Suasana kamar langsung sedikit berubah serius.
“Mereka akan semakin yakin,” lanjutnya pelan. “Bahwa Evelyn benar-benar sudah diterima oleh darah Raja Vampir.”
Deg.
Evelyn langsung menelan ludah pelan.
Sementara Evander justru terlihat semakin tenang. Tatapan merahnya perlahan menatap Evelyn sekali lagi.
“Bagus.”
“Hah?”
“Jadi tidak ada lagi yang berani meragukan posisimu di kastel ini.”
Dan entah kenapa. Kalimat itu membuat jantung Evelyn kembali berdetak tidak tenang.
“Aku akan mempercepat semuanya,” ucap Evander tiba-tiba.
Deg.
Evelyn langsung menoleh cepat ke arahnya dengan wajah terkejut.
“Mempercepat apanya maksudmu?”
Tatapan merah Evander terlihat sangat tenang.
“Menikahimu.”
Deg.
Dan ucapan berikutnya benar-benar membuat Evelyn membeku.
“Dan menjadikanmu ratuku.”
“Hahhh?!” suara Evelyn langsung menggema di seluruh kamar.
Lucien yang tadi sedang minum langsung tersedak.
“Batuk! Batuk! Kak Evander, kau benar-benar langsung menyerang jantungnya.”
Wajah Evelyn langsung merah total.
“Me-menikah?!”
“Iya.”
“SECEPAT ITU?!”
Namun Evander justru terlihat benar-benar serius. Tatapan merahnya kembali mengarah pada mata kiri Evelyn yang kini berubah warna.
“Sekarang seluruh kastel sudah melihat perubahan itu.”
Tatapan semua orang langsung tertuju pada Evelyn.
“Dan itu berarti,” lanjut Evander rendah. “Tidak ada alasan lagi untuk menundanya.”
Lucien langsung menyeringai lebar.
“Wah, akhirnya Kastel Nocturne akan punya Ratu sungguhan.”
“Aku belum setuju!” protes Evelyn panik.
Namun Evander justru berjalan mendekat perlahan ke arahnya. Tatapan merahnya begitu tenang namun penuh keyakinan.
“Kau akan setuju.”
Deg.
Jantung Evelyn langsung kembali berdetak tidak karuan.
“Ba-bagaimana kamu bisa seyakin itu?!”
Karena untuk pertama kalinya.
Sudut bibir Raja Vampir itu terangkat membentuk senyum tipis yang sangat samar.
“Karena,” bisiknya rendah dekat wajah Evelyn. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.”