Diana seorang gadis yang tidak pernah kenal siapa orangtua kandungnya bertemu dengan Adi Pramono seorang Presdir secara tidak sengaja bertemu di taman.
****
"Diana." Teriak Beni cukup keras sehingga orang-orang melihat Beni.
Diana tersentak kaget mendengar suara papanya yang cukup keras, tiba-tiba rasa takut menghampirinya.
"Apa papa marah padaku, tidak pernah papa teriak sekeras itu padaku." pikir Diana.
Beni berjalan dengan sangat cepat, dan terlihat Meri tersenyum sangat manis pada Beni.
Seketika Meri merasa ketakutan melihat Rudi masuk bersama polisi. Beni dan Rudi telah melaporkan kejahatannya pada polisi dan bukti yang mereka miliki tidak bisa disangkal Meri meskipun kejadian bertahun-tahun yang lalu.
Meri marah pada Beni karena Diana dan akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan mengatakan semua rahasia yang selama ini ditutupi Beni.
"Anak haram, kamu itu anak haram Diana." ucap Meri membuat Diana terkejut dan terpukul hingga memutuskan untuk lari menjauh dari mereka semua. Diana terus berlari sampai dia lelah dan akhirnya berhenti di sebuah taman dan menangis tersedu.
"Hapus air matamu. Kau mau disini terus atau ikut denganku?" ucapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode tiga dua
Beni dan bi Senum meninggalkan kota X tanpa Diana. Ini cobaan yang sangat berat dirasakan Beni dan bi Senum. Meski tidak ada hubungan darah namun kedekatan mereka sudah begitu erat terjalin mengingat Diana sejak bayi mereka rawat.
"Pak, mm maaf. Apa tidak apa-apa non Diana kita tinggal pak?"
"Saya tau bibi kwatir pada Diana dan saya pun begitu. Tapi apa boleh buat, tidak mungkin kita selamanya tinggal disini. Nanti sesampainya di kota M, kita akan pantau dari sana saja perkembangan tentang pencarian Diana bi."
"O baiklah pak. Saya hanya terus memikirkan non Diana pak bagaimana nasibnya diluar sana." Jawab bi Senum memandang jauh ke luar kaca mobil yang sedang berjalan.
"Hem." Jawab Beni singkat.
Kehilangan Diana adalah pukulan terberat bagi Beni. Dia tidak menyangka keputusannya membawa Diana ke kota X harus membuat dia kehilangan Diana yang sudah dianggap sebagai anak kandungnya sendiri.
"Diana, sabarya nak papa pasti akan menemukanmu dan kita berkumpul lagi.
Maafkan papa nak sekarang terpaksa meninggalkanmu dulu." Ujar Beni dalam hatinya.
Beni menyibukkan dirinya mengurus restoran agar tidak teringat pada Diana. Hari-harinya dihabiskan di restoran bahkan Beni pulang hanya sesekali saja dan ini membuat bi Senum khawatir akan kesehatan Beni karena Beni terlihat kurusan
Beni selalu menyibukkan dirinya diluar rumah sementara bi Senum dirumah mengurus keperluan rumah dan dirinya. Untuk mengisi waktunya bi Senun membuat baju rajutan.
"Bi..."
"Eh iya pak, bapak pulang?"
"Iya bi, tolong siapkan pakaian saya bi. Saya akan tidur di restoran untuk beberapa hari."
"Baik pak."
Beni kemudian pergi ke kamar untuk membersihkan diri sementara bi Senum ke dapur menyiapkan makan untuk Beni.
Meskipun Beni jarang pulang namun bi Senum tetap menyiapkan stok makanan untuk Beni. Jadi jika sesekali Beni pulang, dia bisa memasakan makanan kesukaan Beni.
"Yah setidaknya Beni bisa makan makanan yang sehat walau hanya ketika dirumah saja." Pikir Bi Senum.
Setelah semuanya siap bi Senum memanggil Beni.
"Pak, bapak makanan sudah siap pak. Silahkan dimakan pak selagi panas." Ucap bi Senum sedikit berteriak dari dapur.
"Ya bi, sebentar lagi saya kesana."
Beni menuju ruang makan dan melihat semua makanan sudah tersaji di meja makan.
"Hemm, tumben masak banyak bi, emang mau ada tamuya?" Tanya Beni heran.
"Eh nggak pak, saya sengaja masak banyak menu pak biar bapak gemukan lagi." Jawab bi Senum asal.
"Saya kurusan ya bi?"
"Mmm sedikit pak."
"O."
"Permisi pak saya tinggal, saya mau bereskan pakaian pak."
"Ya, silahkan bi."
Bi Senum berlalu meninggalkan Beni sendirian di ruang makan.
"Kasihan pak Beni, hari-harinya menjadi kacau semenjak hilangnya non Diana. Non Diana apa kabar ya sekarang? Dimanapun nona berada, bibi berharap nona dalam keadaan baik-baik saja non." Gumam Bi Senum pelan sembari membereskan pakaian Beni.
Bi Senum selesai mengemasi pakaian Beni dan memasukkan ke dalam koper.
"Pak pakaiannya sudah bibi siapkan di dalam kamar bapak."
"Oh iya bi, terima kasih."
"Iya pak."
"Mm bi, apa ada telepon dari Diana ke rumah bi?"
"Oh itu, tidak pak. Tidak ada yang telepon ke rumah."
"Hem, baiklah. Bibi boleh lanjutkan pekerjaan bibi dan sekalian saya langsung ke restoran ya bi."
"Baik pak."
Beni kemudian pamit dan pergi meninggalkan bi Senum di rumah. Tatapan bi Senum kasihan sama Beni yang dari hari ke hari terus memikirkan Diana. Namun Diana tidak kunjung ditemukan. Bahkan waktu terus berlalu dan seharusnya tidak berapa lama lagi Diana akan merayakan kelulusannya dari sekolahnya.
lagi vakum nulis novelnya, sekali lagi maafya. mgkn nanti dilanjutkan lagi 🙏🙏🙏