Shiren dipaksa menikahi seorang pria cacat yang kaya demi melunasi hutang sang ayah. Pria itu mengalami kelumpuhan sejak dua tahun silam. Dan sekarang, kakeknya mencari istri untuk merawat dan menjaga cucunya karena dia sudah sakit-sakitan.
Namun, sikap suaminya yang kasar membuat Shiren hidup bagai di neraka. Terlebih karena dia harus menunaikan janjinya untuk tetap bertahan dengan Arthur.
Bagaimana kah kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak mungkin
"Apa? Kakek sudah meninggal? Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" Arthur mulai berteriak mengeluarkan kemarahannya. Dia benar-benar tidak percaya jika Abraham sudah tiada.
"Maafkan Paman, Arthur. Tapi, memang inilah kenyataannya. Kakek pergi dari negara ini karena dia ingin menyembunyikan penyakitnya darimu. Dia ingin agar kau bisa hidup tanpanya. Nyatanya kau berhasil, Arthur. Kau bisa hidup dengan baik tanpanya. Dengan wanita yang dijodohkan oleh kakekmu, dia berhasil menjadi pelipur laramu," ucap Sam dengan tatapan sedih. Dia pun mendekati Arthur dan langsung membungkukkan tubuhnya untuk memeluk pria di kursi roda itu.
"Tidak, Paman, tidak. Kakek, mengapa dia sangat egois padaku. Bahkan dia tidak mau melihat wajahku di saat-saat terakhirnya. Apa dia sebenci itu denganku?" Arthur akhirnya menangis. Menumpahkan segala rasa sedihnya karena kehilangan orang yang sangat disayanginya.
"Tenang, Arthur. Kau tidak boleh seperti ini. Kakek pasti akan sedih karena mengetahui kau menangisinya. Dia ingin kau tetap hidup di dunia ini meski tanpanya. Kau harus kuat menjalani hari-harimu, Nak." Sam juga menitihkan air matanya. Tak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain menangis.
"Bagaimana aku tidak sedih, Paman. Orang yang selama ini menjagaku sudah meninggalkan aku. Kakek sudah pergi bersama kedua orang tuaku. Hanya kita yang tersisa, Paman." Arthur kembali melampiaskan kesedihannya dengan menguatkan volume suaranya.
"Sudahlah, Arthur, jangan menangis lagi. Kakek sudah tenang di alam sana. Dia memang menyembunyikan penyakitnya agar kau tidak semakin rapuh. Bahkan tujuannya membawa Shiren kemari agar ada orang yang bisa menjagamu setelah dia pergi."
"Apa, Paman? Jadi Shiren tahu kalau Kakek sakit?" tanya Arthur hampir tak percaya.
"Bukan, begitu, Nak. Sebenarnya Shiren tidak tahu apa-apa. Kakekmu hanya berpesan padanya untuk terus menjagamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Jangan bohong, Paman! Jadi Shiren tahu? Dia tahu kalau Kakek pergi karena menyembunyikan penyakitnya?"
"Arthur, maafkan Paman. Tapi, Shiren adalah gadis yang baik. Dia adalah teman masa kecilmu dulu, kan?"
"Tidak, Paman! Aku tidak bisa menerima ini begitu saja. Dia telah membuat aku kecewa. Dia menyembunyikan fakta sebesar ini padaku." Arthur menatap ke sembarang arah dengan tatapan tajamnya.
Sementara Shiren yang berada di balik pintu menangis. Dia amat menyesal karena menyembunyikan fakta ini dari Arthur. Namun, mana mungkin dia mengingkari janjinya pada sang kakek untuk tetap menjaga Arthur dan merahasiakan ini darinya.
"Maafkan aku, Arthur."
"Nak, dengarkan pamanmu ini. Dia sama sekali tidak..."
"Diam, Paman! Kalian sama saja! Tidak ada yang tulus menyayangi aku! Sebaiknya Paman pergi saja dari sini!" Arthur yang terlanjur kesal pun langsung memacu kursi rodanya dan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai atas.
Wajahnya dipenuhi dengan ekspresi marah. Dia tidak bisa mentoleransi apa yang telah dilakukan Shiren padanya. Meskipun itu amanah, tak seharusnya dia menyembunyikan fakta itu darinya. Bahkan, Arthur mengira jika Shiren hanya berpura-pura tulus berteman dengannya.
Sesampainya dia di kamarnya, terlihat Shiren yang masih berdiri di tempatnya dengan air mata yang sudah dihapus. Tatapannya seperti orang ketakutan yang sudah tahu jika dirinya akan diadili.
"Ru, maafkan aku, Ru," ucapnya lebih dulu sebelum Arthur mengatakan sesuatu.
"Kau..kau adalah monster! Ku kira kau temanku, ternyata kau hanyalah wanita licik yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menipuku!" desis Arthur tajam.
"Maafkan aku, Ru, kakek tidak ingin jika kau terus memikirkan dirinya. Dia pergi menjauh pun agar dirimu tidak terancam bahaya lagi. Maafkan aku." Shiren berlutut di depan Arthur dengan tangisan yang masih mewarnai perdebatan itu.
"Kau jahat, Shiren! Kau bukanlah temanku! Kau hanyalah gadis licik! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" Arthur mengusir Shiren dengan tatapan tajamnya.
"Ru, aku...."
"Aku ingin sendiri!" Tiba-tiba saja Arthur memelankan volume suaranya. Hal itu langsung membuat Shiren segera melangkah pergi dari tempatnya.
Dia pun kembali ke kamarnya, lalu menangis tersedu-sedu. Hingga Jenifer pun datang dan memberitahu dirinya....
"Tuan Arthur ingin anda pergi dari rumah ini malam ini juga."
"Apa?" ucap Shiren dengan tatapan terkejut. Apa dia diusir oleh Arthur? Tapi mengapa? Apakah hal ini memicu emosi aktor hingga harus melakukan ini padanya?
"Maaf, Anda harus pergi malam ini juga, Nona. Sopir akan mengantarkan anda. Saya yakin, jika anda punya muka, pasti anda akan pergi saat ini juga."
Shiren hanya menatap Jenifer dengan tajam. Dia pun segera mengemasi pakaiannya dan pergi dari rumah itu dengan tangisannya sepanjang jalan. Tak disangka jika dia harus diusir seperti ini hanya karena menyimpan rahasia dari kakek Arthur.
Hingga saat tiba di persimpangan jalan yang akan menuju ke rumahnya, tiba-tiba saja....
aq pengin endingnya berdua bahagia.