Dayna merasa hidup selalu menyengsarakan dirinya. Ia tak pernah berpikir usai menikah ternyata masalah hidupnya kian dibuat pelik. Ia dijual oleh suaminya sendiri.
Yuga, laki-laki yang hidup di lingkungan dunia malam, pekerjaan haram dan penuh kekerasan. Kini episode hitam yang sama kembali menggilas garis hidup Dayna. Demi melunasi hutang, Yuga menjual Dayna pada Tuan Gaza.
Dayna selalu ingin kabur dari jerat hidup Tuan Gaza, tapi sosok laki-laki di rumah Gaza membuat Dayna tertahan. Dialah Arsen. Dayna menyukainya. Tapi Gaza tak akan pernah membiarkan Dayna menyukai Arsen. Gaza hanya ingin Dayna menyukai dirinya bukan Arsen.
Hingga akhirnya sebuah fakta besar terungkap, membuat Dayna hidup dalam kebimbangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seri Melani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDTD - Chapter 31
Tubuh Dayna mengejang, bukan sebuah kenyataan yang harus Gaza sampaikan padanya, tapi pada panggilannya.
Sayang.
Ya. Baru saja Dayna tak salah mendengar, panggilan itu disematkan dalam kalimatnya.
Panggilan yang begitu intim, bukan berarti Tuan Gaza tidak pernah memanggilnya seperti itu, tapi selama ini ia hanya mengolok-olok saja. Kali ini berbeda. Ada nada posesif di sana.
Mereka bertiga duduk di kursi yang ada di taman rumah. Tuan Gaza membawa mereka untuk mengobrol lebih santai.
"Perkenalkan dia Arsen, sayang. Dia saudara kembarku. Seperti yang pernah aku ceritakan padamu"
Darah Dayna berdesir ketika sebuah sentuhan panas menyentuh panggulnya. Ia mengangkat wajah dan matanya bertabrakan dengan mata sekelam malam.
Tuan Gaza sedang berbohong. Ia berkata seolah ia telah bercerita banyak pada Dayna tentang saudara kembarnya, padahal secuil pun Gaza tidak pernah bercerita tentang keberadaan ataupun kehidupan Tuan Arsen.
Dayna sedikit menyadari Tuan Gaza hanya ingin terlihat bahwa rumah tangga mereka sangat bahagia dan harmonis. Mereka saling mencintai.
Dayna menyungging senyum dengan susah payah sambil mengiyakan ucapan Tuan Gaza.
"Tadi, di dalam aku melihat kalian terlihat begitu akrab. Aku tidak percaya kalian bisa akrab secepat itu." kata Tuan Gaza yang terdengar malah seperti menyinggung keduanya.
Arsen menoleh pada Dayna yang terlihat kaku saja.
"Iya. Kami memang sudah sempat bertemu dan kenal sebelumnya, ya Dayna?"
"Iya, betul." Dayna melirik Tuan Arsen setelah sebelumnya mengangguk ragu.
"Ah, baguslah. Aku senang melihat kalian akrab seperti tadi. Itu kan menunjukkan kalau istriku sangat pandai merebut hati keluarga ini, supaya bisa saling kenal dekat dan berbaur. Karena menikah bukannya menyatukan dua manusia saja, tapi dua buah keluarga yang berbeda pula," kata Tuan Gaza dengan bijak, penuturannya kali ini sangat berbeda, ia tampil bak seorang pemimpin yang bijak sana dan merakyat.
Hmm... Sebuah peran yang bagus...
Satu lagi, meski suara Tuan Gaza terdengar ringan, tapi tatapannya tetap tajam dan menusuk. Seolah mengandung sebuah pesan khusus bagi Dayna.
"Melihat kami sebagai pasangan pengantin baru, apa kau tidak ingin untuk menikah lagi, Arsen? Mencarikan ibu untuk Kyara?" Kata Gaza seraya melirik jauh ke arah Kyara yang sedang bermain di taman rumah bersama boneka beruang kesayangannya.
"Ya setidaknya kau bisa merasakan masa-masa indah itu lagi. Dan disetiap harinya ketika kau akan tidur dan bangun dari tidur, kau akan disambut wajah manis, dan cantik wanita yang menemani tidur malammu."
Tuan Arsen tertawa luwes. "Yahh, seperti istri cantik yang ada dihadapanmu bukan? Kau pasti sangat betah seharian di ranjang hanya untuk memandanginya saja"
"Ha-ha... Lihat dia sangat pandai menggoda, sayang"
Diliriknya wajah Dayna dalam-dalam. Arsen tahu meski disela obrolan mereka diselipkan kelakar. Dayna tetap saja tidak bisa bersembunyi dari rasa canggung dan tegang. Arsen menduga ini karena Tuan Gaza terlalu mendikte Dayna untuk tampil menjadi sosok istri yang sempurna saat berhadapan dengan siapapun.
Dayna ikut tertawa singkat, meski tampak dipaksakan. "Iya. Ternyata kalian bukan hanya memiliki rupa yang sama, tapi sama-sama suka menggoda wanita juga"
"Oh beda. Kau salah nona. Meski kami memiliki rupa sama. Tapi jelas saya dan Gaza itu berbeda. Gaza itu pria yang sangat ambisius juga pekerja keras." Argumen Arsen, melambungkan kebaikan saudara kembarnya.
Kali ini Tuan Arsen lebih memberatkan suaranya. "Kau tahu Dayna, dia bahkan lebih lebih berambisi untuk mengencani banyak wanita cantik," ujar Arsen yang diakhiri kekehan.
Meski terdengar seperti mengolok. Tuan Arsen memang menyatakan sebuah kebenaran.
Setelah melihat Arsen, Dayna melirik wajah Gaza sekilas.
Entah bagaimana Dayna seperti bisa membaca situasi yang diciptakan Tuan Gaza. Ia tahu harus melakukan apa.
Ucapan Tuan Arsen dibalas dengan tawa renyah oleh Dayna
"Benarkah begitu, sayang?" tanya Dayna dengan bermanis muka. "Ahm, tapi rasanya suamiku tidak begitu. Aku melihat dia pria yang bisa setia dan mencintai satu wanita saja, yaitu istrinya. Bukan begitu, sayang?"
Ah, berat sekali bibir ini, hanya untuk memujinya saja. Apalagi mengungkapkan kalimat cinta untuknya. Aku ingin cepat-cepat mengakhiri situasi ini.
Dayna kembali mengenjang, ketika telapak tangannya diraih dan diremas hangat.
Kemudian, pria itu menunduk dan mengecup punggung tangannya. Membawa tubuh Dayna ke dalam rengkuhannya.
Wajah Dayna memerah. Ini kali pertama Gaza melakukan itu pada dirinya.
Apa ini terlalu berlebihan untuk terlihat romantis di depan adik ipar?
Dayna masih tenggelam dalam dada bidang milik pria kejam ini.
Gaza sedang berusaha mengambil momen untuk membuat Arsen iri padanya. Terlihat Tuan Gaza merangkul Dayna dengan begitu mesra.
Dayna tentu tidak menolak, ia mengikuti permainan manis yang dipertunjukkan Tuan Gaza di depan kembarannya. Meski begitu, raut wajah kaku dan keinginan untuk menolak masih bisa terbaca.
Tuan Arsen hanya tersenyum. Menyaksikan kepura-puraan itu.
Di luar, ia bisa ikut berperan meski dengan tersenyum menunjukkan bahwa Arsen sangat mempercayai hubungan mereka begitu mesra.
"Hari hari memang selalu menyenangkan bagi pengantin baru sepertimu. Bisakah kalian bersikap biasa saja. Sungguh kalian membuat saya iri saja" guyon Tuan Arsen.
Tuan Gaza tegelak. "Ah, kau seolah tak paham saja, Arsen"
Obrolan mereka terputus sejenak saat suara tangisan Kyara terdengar begitu nyaring dari arah taman.
"Papah.... "
Dilihatnya Kyara jatuh tersungkur bersama sepeda kecilnya. Sigap, Arsen setengah berlari untuk menenangkan putrinya.
Dayna juga tatkala panik. Ia menyusul Arsen di belakang.
"Kenapa bisa jatuh sayang?" Tanya Arsen sembari mambangunkan tubuh Kyara dan membersihkan bajunya yang sedikit kotor.
Dayna juga ikut membantu Arsen menenangkan Kyara. Lutut dan lengan Kyara terlihat lecet dan sedikit mengeluarkan darah.
"Kyara sayang, lutut dan lenganmu sedikit berdarah," tutur Dayna mengamati lengan Kyara. Ia meniup pelan luka itu supaya bisa menghalau pasir yang mengenai lukannya.
"Mana?" tanya Arsen.
"Ini," kata Dayna menunjukkan beberapa luka di tubuh Kyara.
"Ini harus cepat diobati, sebentar aku mencarikan obat untuk putri saya"
"Tidak, tuan. Biar aku saja."
Dayna berlari cepat masuk ke dalam rumah. Meminta bantuan para pelayan rumah untuk mencarikan obat antiseptik dan obat merah.
Sementara Tuan Gaza, sedari tadi hanya diam tak bergeming dengan posisi berdiri sambil melipat kedua tangannya. Memperhatikan keadaan yang terjadi.
Kyara masih terlihat segugukan sambil membenamkan wajah cantiknya di pelukan sang ayah.
"Tuan putri yang cantik." Arsen menghapus jejak air mata Kyara dan merapikan rambut lurusnya yang terkepang dua. "Sssttt... Sudah tidak apa-apa. Nanti papah akan segera mengobatinya, dan besok kaki Kyara bisa sembuh dan bisa bermain lagi."
Bocah perempuan itu percaya pada ayahnya. Kyara akhirnya mengangguk.
"Sebaiknya kau membawa putrimu ke dalam saja." suara berat dan dalam itu terdengar.
Arsen mengangkat wajah dari melihat putrinya.
"Iya, kau benar Gaza," sahut Arsen, yang kemudian berdiri dan menggendong tubuh mungil Kyara, masuk ke dalam rumah.
Tidak lama setelahnya, Dayna muncul dengan membawa kotak P3K.
"Ingin membawa Kyara kemana?" tanya Dayna melihat Arsen berjalan menggendong Kyara.
"Ke dalam."
Di dalam kamar, Kyara duduk dengan tenang.
"Tahan ya sayang, ini nggak akan begitu sakit" ucap Dayna.
"Ya, aunty Dayna"
Dayna mengusap kepala Kyara. "Anak pintar"
Ia terlihat begitu hati-hati saat membersihkan luka Kyara dengan cairan antiseptik, sebelum akhirnya memberi obat merah, dan membalutnya dengan perban.
"Oke. Beres. Tuan putri cantik," ujar Dayna berseru gembira di hadapan Kyara.
Arsen ikut tersenyum lembut. Ditatapnya wajah Dayna yang tengah merayu manja cucu tunggal keluarga Abyakta.
Tiba-tiba ingatan itu mencuat kembali.
Flashback on...
Arsen berbalik badan sembari mengangkat tangannya. Ditatapnya istri yang sangat dicintainya dengan senyum lembut dan hangat.
Arsen tidak tahu, dibalik itu Kanaya tidak dapat menahan derai air matanya. Bahu wanita itu bergetar.
Kanaya meraih tangan Arsen dengan dingin. Diciumnya pungung tangan Arsen, pria yang telah dinikahinya selama dua tahun ini.
Lama Kanaya tenggelam dalam kekalutannya sembari mencium tangan Arsen. Kanaya menyimpan rasa bersalah yang amat besar. Kanaya ingin mengatakan semuanya, namun batinnya menolak gundah.
"Sayang, kau menangis? Ada apa? Apa ada perkataanku yang telah melukaimu?" tanya Arsen ketika didapatinya cairan bening itu jatuh di punggung tangan Arsen.
Kanaya belum menjawab. Wajahnya tertunduk dalam-dalam.
Pria yang sedang mengenakan songkok hitam itu masih menunggu jawaban. Diarahkannya tangan itu pada dagu Kanaya.
"Katakanlah ada apa?" Arsen bertanya dengan begitu lembut.
Kanaya tak kuasa melihat pria dihadapannya menunggu jawabannya.
"Tidak, Arsen. Kau tidak pernah berbuat salah atau melukaiku. Kau suami yang paling bagiku," tuturnya dengan suara bergetar.
Kanaya tidak mungkin mengatakan semuanya. Bahwa ini semua karena Gaza.
Arsen tersenyum, lalu beralih mengecup kening Kanaya.
Suara rengekan bayi mereka terdengar. Kanaya menoleh ke arah ranjang di belakang mereka. Di sana telah ada bayi mereka yang mulai menangis.
"Sayang, nampaknya dia haus."
Kanaya mendekati bayinya. Bayi yang masih begitu lemah. Cairan putih itu kembali lolos begitu saja. Ia kembali menoleh ke arah Arsen yang masih merapikan sajadahnya.
Kanaya menyadari harusnya bukan pria itu, diposisinya saat ini. Apakah dirinya bisa dikatakan jahat telah melibatkan Arsen dalam kehidupannya. Tapi, apa boleh dibuat Kanaya sangat mencintai Arsen. Kanaya berharap selamanya dapat bersama pria itu, dan menjadi ayah untuk bayinya.
Dalam hati, Kanaya menyesali keadaan yang ada.
Ia mengutuk semua kejadian buruk yang menimpanya. Ketika Arsen memutuskan untuk melamarnya. Ya, mereka memang saling mencintai satu sama lain. Tapi ada satu keadaan membuat Kanaya membencinya pula.
Kanaya menenangkan baby Kyara yang menangis ke dalam pangkuannya.
"Ada yang perlu aku bantu?" tawar Arsen.
"Airnya habis, aku minta untuk mengambilkan air mineral di dapur, sayang."
"Begitu? Ya sudah sekalian saja aku yang membuatkan susu untuk Kyara. Oke" Arsen langsung menghilang menuju dapur untuk membuatkan susu untuk si baby Kyara.
Kanaya merasa beruntung bersuamikan pria sigap seperti Arsen.
"Sayang, lihat ayahmu dia sangat menyayangimu" Kanaya membenarkan selimut yang menyelimuti tubuh baby Kyara.
"Meski dia hanya ayah pengganti untukmu sayang" sambung Kanaya dengan lirih.
Kanaya merasa bersalah seharusnya dia tidak menyembunyikan ini semua. Harusnya bukan Arsen yang disebelahnya saat ini.
Namun, Kanaya juga tidak ingin Arsen meninggalkannya hanya karena tahu tentang keadaan yang sebenarnya.
Gaza, pria bereengsek yang telah lebih dulu menodai kesucian cintanya untuk Arsen. Hingga saat ini Kanaya masih menyesali kenapa semua itu bisa terjadi.
"Ini dia sayang," Arsen menyerahkan botol susu pada Kanaya.
Baru Kanaya ingin meraihnya, Arsen menarik tangannya kembali.
"Biar ayahnya saja, untuk urusan ini hal yang sangat sepele, bukan?"
Kanaya tersenyum bahagia. Tubuh mungil bayi itu diletakkannya di atas kasur dan membiarkan Arsen memberikan susu untuknya.
Manik mata hitam terus mengamati setiap apa yang dilakukan Arsen.
Jika Arsen tahu, apakah dia akan bersikap baik seperti ini pada putriku?
"Wahh lihat dia pintar sekali, sayang." Arsen begitu girang saat melihat Kyara begitu terlelap usai mengesap susu yang dibuat olehnya.
Kanaya merapikan rambut Arsen, lalu tangannya beralih menyusuri area wajah kebule-bulean tersebut.
Aktivitas Arsen seketika teralihkan saat Kanaya melakukan itu padanya. Arsen merasa begitu dicintai.
Netra mata mereka sama-sama terkunci selama beberapa detik.
"Sejak kapan kau mulai mencintaiku?" pertanyaan itu refleks terlontar dari bibir Kanaya.
Arsen terlihat sedikit mengerutkan dahi. "Kenapa? Kenapa tiba-tiba--?"
"Jawab saja!" tegas Kanaya.
"Sejak, Tuan Abyakta memintaku untuk menikahi putri tunggal dokter Gyan Permana, dan aku itu adalah dirimu."
"Benarkah? Bagaimana bisa? Kita saja belum pernah berbicara satu sama lain."
"Tentu saja. Karena aku lebih dulu menaruh perasaan padamu Kanaya, tapi kau tidak pernah peka"
Kanaya terdiam. Ditatapnya Kyara yang tengah pulas.
"Apa kau juga mencintai, Kyara?" tanya Kanaya tanpa menoleh pada Arsen.
Arsen terkekeh, pertanyaan itu pertanyaan yang konyol bagi Arsen.
"Siapa ayah yang tidak mencintai anaknya sendiri. Bahkan jika anakku terluka, maka ayahnya yang lebih dulu merasa sakit"
Kanaya menatap ke arah lain, pandangannya kosong. "Aku ingin berandai saja, jika dia bukan darah dagingmu, apa kau juga akan demikian?"
"haha... Aku rasa kau terlalu banyak menonton drama sampai ucapanmu melantur begini."
Kanaya merasa tersingung. Respon Arsen yang demikian bukan harapan Kanaya.
"Kau mengolok pertanyaanku?" ketus Kanaya, beralih menatap wajah Arsen kesal.
"Hey, kau marah?"
Kanaya tidak menyahutinya.
Helaan napas yang begitu keras, malah terdengar seperti mengeluh.
"Aku tidak akan membiarkan dia hidup bersamaku. Aku akan mengusirnya jauh dari kehidupanku. Aku tidak menginginkan wanita pendusta, penipu, munafik yang penuh kepura-puraan" ucap Arsen dalam satu tarikan napas.
Pengakuan Arsen, membuat jantung Kanaya seolah berhenti berdetak dalam hitungan detik. Ia menatap Arsen dengan mata yang terbuka lebar, dan bibir sedikit terbuka.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Apa dari ucapanku tadi, kau berpikir aku ini pria yang kejam?"
Kanaya terdiam.
"Sudahlah Kanaya kau terlalu serius. Sekarang sebaiknya kau bawa Kyara ke tempat tidurnya. Dan aku ingin membuat camilan spagheti sebentar. Aku lapar kembali, sayang"
Melihat pria itu pergi, Kanaya menelan salivanya dengan susah payah.
"Berarti aku bukan wanita layak untukmu!"
Falsback off...
Gaza menyadari bahwa saudara kembarnya itu sedari tadi melihat Dayna dengan sungingan senyum yang tidak pudar.
Ehemm...
Gaza medehem dengan keras di dekat telinganya. Arsen sedikit kaget dengan perbuatan Arsen.
"Apa yang sedang kau bayangkan Arsen?" tanya Gaza.
Arsen tergeragap. "Ti-tidak."
"Tidak apanya? Aku melihatmu dari tadi tersenyum sembari memandangi istriku, ya kan?"
Dayna seketika menoleh saat mendengar namanya disebut dalam perdebatan dua saudara kembar itu.
"Sayang, aku saran kau untuk bisa membantu mencarikan istri untuk saudaraku ini," tutur Gaza mengolok Arsen. "Sebelum dia keburu menggoda dan mengharapkan istri orang lain"
"Kau hanya salah paham, aku tidak demikian. Aku hanya mengingat ibu Kyara saja. Tidak lebih. Aku bahkan tidak mengharapkan untuk menikah lagi"
Gaza menepuk pundak Arsen dibarengi dengan suara tawa singkat. "Tenang, aku hanya bercanda."
"Apa kau dan Kyara ingin bermalam di sini? Karena ini rumahmu juga. Dan barang-barangmu, masih banyak di rumah ini iyakan?"
"Aku terserah pada Kyara saja"
"Oh begitu"
"Kyara bagaimana? Apa tuan putri ingin tinggal di sini dengan Om seperti dulu?"
"Iya," kata Kyara menyahuti pertanyaan Gaza.
"Baiklah, kalau begitu Tuan Putri Kyara istirahat dulu ya sayang," Arsen mengecup kening putrinya.
"Astaga! aku lupa ada pesanan Oma yang belum aku antarkan. Kalau begitu Dayna aku titipkan Kyara sebentar padamu."
"Iya. Nanti kalau Kyara butuh apapun aku akan memberikannya. Hati-hati di jalan tuan Arsen."
Bersamaan dengan kepergian Arsen. Tuan Gaza juga melangkah keluar dari kamar Kyara. Sementara, Dayna masih merapikan kotak P3K yang isinya berserakan, usai mengobati luka di tunuh Kyara.
...----------------...
wanita bodoh di jual ama laki kabur balik lagi kelaki nya
ogah baca nya 🙏🙏🙏
sekali up ngulang 😔😔