"Aku sudah menikah. Hubungan kita cukup sampai di sini, Athena."
Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah mencintai bule tampan yang kutemui di Pulau Dewata—Alexandre Kendrick Demitry.
Dia yang kupikir masih lajang, ternyata sudah menikah dan sekarang istrinya sedang hamil. Aku hanya dijadikan simpanan yang akhirnya dibuang begitu saja.
Kendati demikian, aku masih saja mencintainya. Tak peduli sedalam apa luka yang ia berikan, harapanku masih tertuju padanya. Bahkan, sampai aku menikah dengan lelaki lain pun, tetap Kendrick yang menjadi pemilik hati.
Entah akan bagaimana akhir cinta ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cedera Kepala dan Patah Kaki
"Pasien mengalami luka serius di kepala, juga patah tulang di kaki kiri. Kami sarankan untuk dirujuk ke rumah sakit kota."
Aku memejam demi menghalau air mata yang sudah menggenang dan siap tumpah. Penjelasan dokter barusan meluluhlantakkan perasaan, hingga yang tersisa hanya ketakutan akan sebuah kehilangan.
"Baik, kalau begitu dirujuk saja," ucapku akhirnya.
Saat ini yang paling penting hanyalah kesembuhan Mas Alfa, masalah biaya apa kata nanti. Kalaupun harus menghabiskan uang tabungan kami, itu bukan masalah. Di sisi lain, Bu Mirah juga menyetujui keputusanku. Yah, namanya juga ibu kandung, pasti merelakan apa pun asal anaknya baik-baik saja.
Akhirnya, sore itu Mas Alfa dibawa ke rumah sakit kota. Aku tidak sendirian menemaninya, melainkan bersama Bu Mirah. Sedangkan Binar, aku titipkan pada Ibu.
"Cedera di kepala pasien cukup parah, Bu. Akibatnya, ada sedikit darah yang masuk ke otak dan harus secepatnya dikeluarkan. Selain itu, kaki pasien juga patah. Ada kemungkinan lumpuh dalam beberapa bulan ke depan," terang dokter ahli yang ada di rumah sakit kota.
Aku tak bisa berkata-kata, hanya menggigit bibir kuat-kuat agar tangisan tidak lolos tanpa kendali. Bu Mirah pun kulihat juga terpukul. Beliau langsung berpaling sambil menutup mata.
"Lakukan yang terbaik saja, Dok. Yang penting suami saya sembuh dan sehat seperti sedia kala," ucapku beberapa saat kemudian.
"Baik, Bu. Kami akan memberikan penanganan yang terbaik untuk pasien," jawab dokter, kemudian kembali masuk ke ruangan.
Setelah dokter pergi, aku langsung duduk di kursi. Lemas rasanya tubuhku. Pikiran terus dipenuhi prasangka-prasangka buruk. Selain itu, aku juga berpikir keras tentang tambahan dana andai uang tabungan tidak cukup. Harus minta tolong pada siapa? Satu-satunya orang yang dekat denganku hanya Ibu dan Mas Abercio, tapi apa mereka punya jika yang kubutuhkan cukup banyak?
"Aku harap ada kemudahan di balik musibah ini," batinku sambil mencengkeram kantong plastik yang lusuh.
Itu adalah barang yang ditemukan di samping Mas Alfa ketika kecelakaan tadi. Isinya satu boneka beruang warna pink dan satu jam tangan yang sudah retak, mungkin akibat benturan sewaktu beradu dengan aspal.
"Aku selalu menunggu kesembuhanmu, Mas. Berjuanglah untuk itu! Jangan biarkan aku ketakutan begini," sambungku, masih dalam batin.
"Athena, pengobatan ini dengan apa kita membayarnya?" tanya Bu Mirah tiba-tiba. Membuyarkan renunganku yang masih terlarut-larut dalam kesedihan.
"Aku akan mengambil uang tabungan kami, Ma. Mudah-mudahan cukup."
Bu Mirah mengembuskan napas berat, "Lalu bagaimana dengan masa depan kalian nanti? Bukankah itu uang untuk modal usaha?"
Aku menoleh dan menatap Bu Mirah. Ada tatapan yang membuatku tidak nyaman di sana, entahlah apa maksud beliau.
Tak lama kemudian, beliau malah berpaling dan menghindari tatapanku. Sembari melipat tangan di dada, beliau kembali bicara.
"Andai dari kapan itu Alfa mau menerima tawaran Karin, pasti nggak kayak gini yang terjadi. Tabungan kalian akan banyak dan Alfa juga nggak akan kecapekan naik motor. Dengan begitu dia nggak mungkin kecelakaan."
Ucapan Bu Mirah kali ini membuat jantungku berdetak cepat. Bagaimana tidak, dari kalimat itu seolah-olah beliau mengatakan bahwa dalam ini yang salah adalah aku, karena akulah yang menjadi alasan Mas Alfa untuk menolak tawaran Mbak Karin.
"Ma, yang namanya musibah bisa datang kapanpun dan di manapun. Nggak peduli apa pekerjaannya, kecelakaan bisa saja terjadi. Dan untuk uang tabungan, nanti kami bisa mencarinya lagi."
Aku menjawab dengan tenang meski dalam hati berkecamuk tak karuan. Apalagi setelah melihat beliau memutar bola mata, seakan menganggap ucapanku barusan tidak ada artinya, makin tak karuan saja perasaanku.
"Mungkin karena terlalu sedih melihat keadaan Mas Alfa yang parah, makanya Mama sampai tega ngomong kayak gitu," ucapku dalam hati.
Bersambung...
tengkyu & teruslah berkarya../Rose/
Karena dia msh muda tp untunglah dia cepat sadar keburukan sifatnya itu,
Move on athena, lihatlah ke alfa..