Natasha delapan belas tahun yang mengalami time travel. Gadis yatim-piatu itu jatuh dari ketinggian dan terhempas ke tubuh seorang putri raja yang diperundung. mampukan Natasha menjalani hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BABAK BARU
Kehamilan Natasha sudah menunjukkan bulan lahirnya. Banyak tabib di datangkan untuk menangani kelahirannya.
Abraham yang pencemburu sangat kesal karena tidak adanya tabib perempuan.
"Ck!" decaknya kesal ketika tabib menyentuh tangan istrinya.
"My king!" tabib menunduk takut.
Sungguh suasana di ruangan itu sangat mencekam. Abraham tak beranjak dari sisi istrinya sambil menatap tajam pria berjanggut panjang dan memutih itu.
"Sayang," Natasha terkekeh melihat tingkah suaminya.
"Sayang ... dua sengaja menyentuhmu lama-lama!' ujar pria kesal.
"Yang Mulia ... hamba sudah tua ... apa yang ...."
"Diam kau! Jika sudah selesai ... pergi!" sentak Abraham.
Tabib diam, pria itu pergi karena memang tugasnya sudah selesai. Bowie meminta maaf atas kelakuan kaisarnya itu.
Abraham mengambil air dalam wadah lalu memeras kain di sana. Ia mengusap seluruh tangan dan tubuh istrinya. Ia benar-benar tak mau ada sisa tangan yang memegang Natasha.
"Sayang jangan begitu," peringat Natasha tak suka.
"Sayang!" Abraham merajuk.
Natasha menepuk sisinya. Pria besar itu langsung masuk dalam selimut. Ia meletakkan kepala di dada yang membusung. Dada yang sangat ia sukai.
"Apa sudah keluar air susunya?" tanyanya serak.
"Sudah sayang," jawab Natasha lirih.
Baru saja Abraham hendak menyibak kain penutup dada istrinya.
"My King ... ada perwakilan dari kerajaan Guan Jo dari Asia!" lapor Federik dari luar kamar.
"Ck ... sial! Mengganggu kesenangan saja!" gerutu Abraham.
"Sayang," peringat Natasha.
"Sayang ... aku mau jadi bayi!" rengek pria itu.
"Sayang ... pergilah ... ada tugas menanti!" suruh Natasha tegas.
Akhirnya dengan langkah berat. Abraham pun pergi mendatangi kerajaan yang hadir di sana.
Dua belas delegasi kerajaan datang. Mereka membawa emas batangan dan juga kain sutra.
"Yang Mulia, perkenalkan ini adalah Kaisar Guan Jo dan putrinya Princess Guan Mei," ujar Duke Hazard memperkenalkan tamu yang datang.
Kaisar Guan Jo memakai baju kebesaran dari negaranya. Sebuah tongsan warna merah dengan bordiran burung keabadian Phoenix yang terbuat dari benang emas.
Sedangkan sang putri memakai baju khas daerahnya yang juga terbuat dari sutra. Kepalanya disanggul dan diberi hiasan cantik. Putri Guan Mei sangat cantik, gadis itu menunduk ketika diperkenalkan.
Abraham hanya mengangguk saja. Natasha bangkit dari ranjang, tubuhnya sedikit kaku akibat jarang digerakkan.
"My Queen!" semua orang menunduk ketika ia berjalan.
Abraham tengah duduk di teras belakang istana. Ia memperlihatkan tanaman obat yang ditanam istrinya.
"Jadi ini adalah tanaman herbal yang ditanam oleh Yang Mulia Ratu sendiri?" tanya Guan Jo kagum.
Guan Mei menatap sosok tampan yang begitu bangga menyebut nama istrinya. Gadis itu sangat iri, ia juga ingin dipuji pria itu.
"Aku seorang tabib di negaraku My King!" ujarnya memberitahu.
Abraham hanya mengangguk saja tak menanggapi. Natasha hadir dan melihat betapa gigihnya Guan Mei menggoda Abraham dengan gestur tubuhnya.
'Ada tamu rupanya?!' ujarnya mengagetkan semuanya.
Tadinya Kasim hendak berteriak memberitahu kedatangannya. Tetapi, Natasha langsung memberi kode jari telunjuk ke bibir agar Kasim diam.
Guan Mei mundur teratur ketika adu tatap dengan iris hazel milik Natasha. Guan Jo memuji kecantikan Natasha.
Abraham lambung mencium lembut bibir istrinya. Natasha menatap mesra pria tampan itu. Sengaja melirik sinis pada gadis yang hendak menggoda suaminya.
"Marquez Federik!" panggil Natasha.
"Yang Mulia!" Federik datang sambil membungkuk hormat.
"Bawa tamu kita ke raungan istirahatnya. Mereka tentu lelah setelah perjalanan jauh!" suruh Natasha.
Guan Jo mengucap terima kasih. Ia dan putrinya pergi menuju sebuah paviliun yang ada di istana itu. Sepuluh maid mengikuti mereka dan akan jadi pelayannya.
"Yang Mulia," kekeh Abraham.
"Kau galak sekali sayang!" selorohnya.
Natasha merengek manja. Wanita itu tentu tak akan membagi suaminya pada siapapun.
"Jangan pikirkan apapun sayang. Aku milikmu," ujar Abraham lirih.
Natasha menenggelamkan dirinya di pelukan hangat sang suami. Wanita itu dibawa Abraham kembali ke ruangan tidur mereka.
"Pinggangku sakit berbaring terus sayang!" rengeknya mengeluh.
"Iya sayang, kau boleh berjalan-jalan," ujar Abraham akhirnya mengalah.
Natasha memilih kembali keluar ruangan bersama Abraham, suaminya. Jika Abraham menuju ruangan lain. Natasha pergi menuju taman bunga.
Wanita itu sedikit berolahraga, tentu saja yang ringan. Ia ingin melahirkan normal. Jadi pergerakan membungkuk dan berjongkok sering ia lakukan agar nanti bayi keluar mudah.
"Putri Guan Mei tiba!" seru kasim mengagetkan Natasha.
"Yang Mulia!" Guan Mei mengatup dua tangan memberi hormat sambil menundukkan kepala.
"Tuan putri!' sambut Natasha.
"Maafkan hamba bertanya yang mulia. Sudah berapa.bulan kandungannya?" tanya Guan Mei.
"Sudah waktunya lahir," jawab Natasha singkat.
Guan Mei sedikit kikuk. Pembawaan Natasha yang dingin dan datar membuatnya tak bisa bercengkrama banyak.
"Istirahat lah Tuan Putri!" perintah Natasha.
"Atau kau bisa berjalan-jalan sekitar sini. Kami akan segera makan siang!' lanjut Natasha tenang.
"Maaf Yang Mulia, saya tertarik dengan Yang Mulia lakukan. Anda sedang hamil, tapi pergerakan anda berani sekali Yang Mulia?" ujar Guan Mei panjang lebar.
"Saya sedang merenggangkan otot-otot untuk melahirkan nanti Tuan Putri," jawab Natasha.
"Katanya anda tabib di negara anda ... tapi kenapa tidak tau apa yang wanita hamil lakukan?" tanya Natasha sedikit menyentil Guan Mei.
Gadis itu tentu malu, ia sebenarnya tidak begitu banyak tau dunia kesehatan. Ia hanya belajar biasa dan memberi obat yang dihasilkan para tabib istana.
"Makan siang sudah siap My Queen!" lapor kepala maid.
"Baik lah!" angguk Natasha.
"Ayo Tuan Putri!" ajak Natasha.
Guan Mei mengikuti Natasha. Mereka pergi ke ruang makan. Di sana telah disiapkan makanan mewah bahkan makanan asli dari negeri Guan Mei juga dihidangkan.
"Silahkan!" ujar Abraham mempersilahkan.
Natasha mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Yang Mulia, ijinkan saya menuangkan arak untuk Yang Mulia Raja!' pinta Guan Jo.
Abraham menyerahkan skoci kecil dari keramik khusus minum arak.
"Bersulang untuk kesejahteraan Yang Mulia!" ujar Guan Jo mengangkat cangkir.
Abraham mengikuti caranya. Satu kali tenggak, cairan itu masuk ke perut dan membuat tubuh Abraham menghangat. Cuaca memang sangat dingin saat itu.
"Ayo silahkan makan!" suruh Abraham lagi.
Akhirnya semua makan dengan tenang. Guan Mei melirik pria tampan yang begitu tenang menyantap makanannya. Lalu pandangannya beralih pada Natasha.
"Ck ... beruntung sekali dia mendapatkan pria yang begitu tampan!" umpatnya dalam hati.
Gadis itu berpikir bagai jika dirinya menjadi istri yang ditatap penuh cinta oleh suaminya. Guan Mei iri dengan keberuntungan Natasha.
Usai makan, Natasha langsung diminta istirahat oleh Abraham.
"Yang Mulia terlalu memanjakan Ratu!" celetuk Guan Mei berani.
"Mestinya wanita hamil itu banyak bergerak untuk kelancaran melahirkan," lanjutnya memberi saran.
"Terima kasih atas sarannya Tuan Putri. Tapi, istriku sudah melakukannya setiap pagi!' sahut Abraham tegas.
Guan Jo menyentuh lengan putrinya. Pria itu tak mau anak perempuannya terlalu ikut campur.
"Saya hanya memberi saran Yang Mulia Raja!" ujar Guan Mei masih berani.
Natasha hanya mengangguk saja. Abraham mulai tak nyaman. Setelah Natasha pergi, Guan Jo pamit untuk istirahat.
"Kau tidak istirahat Tuan Putri?" tanya Abraham.
"Yang Mulia, ijinkan aku juga menjadi bagianmu. Yang Mulia bisa menempatkan aku sebagai permaisuri," ujar Guan Mei langsung.
"Apa?"
"Seorang raja sah memiliki istri lebih dari satu. Bahkan bisa memiliki beberapa selir!" ujar Guan Mei semangat.
"Benarkah?" tanya Abraham seperti tertarik.
Bersambung.
Weh ... ngadi-ngadi nih?
next?