Arini harus merelakan masa mudanya dengan menikah. Terpaksa dia menerima tawaran menjadi istri ke dua demi mendapatkan biaya untuk operasi neneknya. Namun pengorbanannya sia-sia. Neneknya meninggal pasca operasi. Namun pernikahan yang sudah terjadi tidak bisa di sudahi. Karena Arini masih harus mengandung benih dari lelaki yang sudah menjadi suaminya. Jika dia sudah melahirkan, baru boleh pergi dari kehidupan Alex dan Mila sang istri pertamanya. Karena itu syarat yang Mila berikan kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.32
Semenjak lamaran di hari itu, sekarang Alex terang-terangan memperkenalkan Arini ke publik. Bahkan semua karyawan kantornya tahu jika Alex dan Arini memiliki hubungan.
Alex sedang menatap foto Arini bersama Randy di ponsel miliknya. Senyum kebahagiaan terus terpancar di wajahnya. Akhirnya tinggal satu langkah lagi dia dan Arini akan bersatu kembali.
Tok tok
Alex menoleh menatap ke arah pintu ruang kerjanya. Sepertinya seseorang hendak menemuinya. Alex mempersilakannya untuk masuk karena kebetulan pintu ruangannya tidak di kunci.
Terlihat Devan pergi ke ruang kerja Alex. Sengaja dia datang tanpa memberitahu sang kakak. Tentu niat kedatangannya itu karena ada maksud tertentu.
''Kak, Devan memutuskan untuk pindah kerja disini. Kemarin Devan sudah mengajukan surat pengunduran diri,'' ucap Devan sambil menarik kursi yang ada di hadapan Alex.
''Kok mendadak sekali? Bukankah sebelumnya kamu menolak bekerja disini?''
''Tapi sekarang Devan ingin membantu bekerja disini membantu kak Alex.''
Alex memperhatikan adiknya yang sepertinya sudah bertekad bulat dengan keputusannya itu. Namun, sepertinya ada sesuatu yang membuat adiknya ingin bekerja disana.
''Kasih kakak satu alasan yang membuatmu berubah pikiran?'' Alex bertanya kepada Devan.
''Karena seorang wanita,'' jawabnya.
Selama ini Alex tak pernah melihat adiknya dekat dengan wanita. Terakhir kali dia tahu saat adiknya menyukai Arini. Sekarang Alex sedikit curiga kepada adiknya itu. Apa mungkin wanita yang di maksud oleh adiknya adalah Arini?
''Kenapa Kak Alex menatapku seperti itu?'' Devan merasa jika Alex menatapnya penuh selidik.
''Kamu tidak berniat untuk mengambil Arini dari kakak, kan?''
Devan tersenyum kecil menatap Alex, ''Untuk apa Devan merebut calon kakak ipar? Ya tidak lah, nanti juga kakak akan tahu orangnya. Tapi tidak sekarang ya.''
Ucapan Devan membuat Alex penasaran. Namun, Alex tak mungkin bertanya lebih. Karena percuma, Devan juga tak akan memberitahunya. Alex sudah paham bagaimana sifat adiknya itu.
''Baiklah, Kakak akan tunggu saat itu.''
''Jadi apa jabatan yang akan kakak kasih untukku?'' Devan bertanya kepada Alex.
''Wakil direktur, apa kamu tidak keberatan?''
''Apa pun itu asal bukan jadi office boy pasti Devan terima.''
''Memangnya kenapa kalau jadi office boy? Itu juga pekerjaan halal loh?''
''Ya halal sih, tapi nanti Devan malu kalau mau deketin wanita yang Devan suka, terus dia tanya pekerjaan. Masa Devan jawab pekerjaan Devan itu office boy. Yang ada dia tidak mau sama Devan,'' jelasnya.
''Siapa sih wanita itu? Sepertinya sangat spesial untukmu,'' Alex semakin penasaran dengan sosok wanita yang masih di rahasiakan oleh adiknya.
''Rahasia dong, em sepertinya Devan harus pamit pulang, Kak. Devan mau siap-siap pergi ke kota B untuk mengurus semuanya. Semoga saja pengunduran diri Devan cepat di prosesnya.''
''Baiklah, hati-hati.''
Devan menjabat tangan Alex, lalu dia bergegas pergi.
Devan yang sedang berada di perjalanan pulang, dia melihat sosok wanita pujaannya sedang berdiri di pinggir jalan. Devan menepikan mobilnya di dekat wanita itu.
''Hai, lagi ngapain berdiri disini?'' Devan sudah keluar dari mobil. Dia mendekati wanita itu yang tak lain adalah Asila.
''Lagi nunggu taxi lewat, Kak.''
''Memangnya kamu tidak bawa mobil sendiri?''
''Tidak, tadi pagi aku berangkat kuliah di antar oleh pacarku. Hanya saja sekarang pacarku sedang ada urusan lain, jadi dia tidak bisa mengantarku.''
'Jadi Asila sudah memiliki pacar? Ah aku tidak peduli. Sebelum janur kuning melengkung pacar orang masih bisa di tikung,' batin Devan.
''Ayo biar saya antar! Kasihan loh cewek cantik seperti kamu berdiri disini kepanasan.''
''Memangnya kak Devan tidak keberatan?''
''Sama sekali tidak, kita kan calon saudara.''
Asila menerima ajakan Devan. Kini ke duanya sudah berada di dalam mobil. Devan senang karena dia bisa bertemu Asila di jalan. Bahkan dia yang mengantarnya pulang. Sesekali Devan mencuri pandang kepada Asila yang duduk di sebelahnya. Hatinya berbunga-bunga karena bisa duduk berdua dengan pujaan hatinya.
...
...
Alex dan Arini sedang berada di salah satu butik ternama di ibukota. Kedatangan mereka tentunya untuk mencari baju pengantin. Sengaja mereka membeli yang sudah jadi, karena jika bikin sendiri, waktunya tidak cukup. Sedangkan pernikahan mereka dua minggu lagi.
Pernikahan yang niatnya di laksanakan secara besar-besaran, nyatanya memilih untuk di laksanakan secara sederhana saja. Semua ini atas keinginan Arini. Sebenarnya Arini tidak mau ada pesta mewah yang pastinya akan memakan waktu yang cukup lama untuk mereka di pelaminan. Arini mengkhawatirkan putra kecilnya. Jika seharian ibunya sibuk dengan tamu undangan, pasti putranya tak terurus.
Terlihat Arini yang baru keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun pernikahan berwarna putih. Serta jilbab berwarna putih pula yang menutupi kepalanya.
''Mas, bagaimana penampilanku? Apa aku pantas memakai gaun ini?'' Arini memutarkan badannya ala Princess di hadapan suaminya.
Alex menatap tak berkedip kecantikan istrinya yang terlihat luar biasa. Dengan pakaian tertutup yang di kenakan membuat kecantikannya lebih sempurna. Sungguh beruntung karena bisa memiliki sosok wanita seperti Arini di hidupnya.
''Kamu sangat cantik, sayang. Mas jadi tidak sabar ngajak kamu malam pertama,'' ucap Alex.
Arini tak percaya suaminya berucap seperti itu dengan entengnya. Padahal saat ini mereka ada di tempat umum. Arini menatap ke sekitar, untung saja di dekatnya tidak ada orang lain. Jika saja ada yang mendengar, sudah pasti Arini akan sangat malu.
''Mas, kalau bicara di kondisikan. Kalau ada yang dengar aku malu,'' ucap Arini.
''Jika ada yang mendengar pun, pasti mereka akan memakluminya, sayang. Karena kita kan sebentar lagi akan menikah.''
''Tapi tetap saja aku malu.''
''Baiklah baiklah. Maaf, sayang.''
Arini kembali mengganti gaun pernikahan yang tadi dia pakai dengan pakaian miliknya. Sekarang giliran Alex yang berganti pakaian. Hanya beberapa menit di dalam ruang ganti, kini Alex sudah keluar. Alex mendekati istrinya yang sedang fokus menatap layar ponsel.
''Bagaimana, sayang? Apa calon suamimu ini sudah tampan?'' ucap Alex sambil merapikan rambutnya dengan satu tangannya.
''Kamu memang selalu tampan, Mas. Pakaian yang kamu kenakan sangat cocok.''
''Terima kasih, sayangku.'' Alex mendekat berniat untuk mencium kening Arini, namun Arini sudah dengan cepat menghalangi Alex dengan ke dua tangannya.
''Jangan dekat-dekat! Yang sabar dong, nunggu sah dulu.''
''Habisnya Mas sudah tidak sabar, sayang.''
''Tahan dulu dong, Mas. Lagian tinggal dua minggu lagi.''
''Kalau Mas sih tahan, tapi yang ini tidak tahan, sayang.'' Alan menunjuk aset miliknya yang sudah menonjol di balik celana.
Arini melotot tak percaya saat Alex menunjuk sesuatu di bawah sana. Bisa-bisanya di tempat umum seperti ini sudah berpikiran me*sum.
''Ih menggelikan,'' Arini buru-buru mengalihkan arah pandangnya.
''Geli-geli enak, sayang.'' goda Alex.
''Mas Alex ganti baju dulu sanah, jangan omes terus.''
''Mas omesnya hanya sama kamu doang kok, sayang.'' ucap Alex dengan setengah berbisik di telinga Arini. Tak lupa dia sedikit mencium telinga Arini dari balik jilbabnya, sehingga membuat tubuh Arini seakan menegang.
Arini melotot menatap Alex yang perlahan menjauhinya, ''Dasar calon suami omes,'' gumam Arini.