Alvaro tidak tahu jika perceraiannya meninggalkan setitik kenangan yang tidak terhapuskan. Nyatanya sang mantan istri diam-diam mengandung benihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Berharap
Tepat pukul Lima sore, Alvaro datang bersama Ibu Zanna ke kontrakan tempat Widya tinggal. Mereka datang dengan dengan membawa baby Arseno tentunya. Senyum baby Seno mengembang sempurna mana kala melihat sang ibu merentangkan tangan untuknya. Sedangkan Widya sendiri juga tampak membalas senyum bahagia itu dengan senyuman yang sangat tulus. Membuat Ibu Zanna dan Juga Alvaro ikut merasakan kebahagiaan yang cukup kental itu.
"Makasih banyak, Sayang, hari ini kami sangat bahagia, makasih kamu udah mau minjemin Seno ke kita," ucap Ibu Zanna, dengan senyum senangnya.
"Sama-sama, Bu. Maaf jika putra saya mungkin merepotkan," jawab Widya, sembari mengambil Arseno dari gendong mantan Ibu mertuanya. Sedangkan Alvaro tampak berada di belakang Ibu Zanna memerhatikan interaksi mereka.
"Tidak, cucu oma sama sekali ga ngrepotin oma. Dia anak yang sangat manis, sama sekali ga rewel. Oma sangat suka. Apa lagi kalo kalian berdua mau tinggal di vila kami. Uhh oma pasti suka, biar Oma ini ada kegiatan," ucap Ibu Zanna penuh harap.
Widya tersenyum, ia tampak memahami arah pembicaraan mantan mertuanya, maka dari itu ia pun langsung menolak penawaran tersebut.
"Makasih banyak, Bu. Tapi maaf, kita kan udah... " Widya tak melanjutkan ucapanya, sebab Alvaro terus menatapnya! Menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan, membuat Widya salah tingkah.
"Iya, mami paham perasaanmu. Ya sudah, hari sudah sore, kami pamit dulu ya, Wid. Jaga baby baik-baik ya, kalo ada apa apa kamu boleh langsung telpon mami, oke," ucap Ibu Zanna seraya mengelus pipi gembul Arseno. Klau memberikan kecupan penuh sayang pada cucu pertamanya itu.
"Baik, Bu," jawab Widya, lembut.
Ibu Zanna membalas senyuman Widya, lalu ia pun memundurkan langkahnya, bersiap untuk pergi. Namun tiba-tiba saja Alvaro menolak pergi bersamanya.
"Mi, Al pulangnya nanti, Al masih ada kerjaan. Tadi Al ada janjian sama Satya mau bahas kerjaan." Alvaro menatap sang ibu, seolah meminta persetujuan dari kekasih hatinya itu.
"Oh ya sudah, biar mami naik taksi saja. Kamu hati-hati ya," jawab Ibu Zanna.
"Hemm," jawab Al singkat.
Tak ada perbincangan lagi, Ibu Zanna pun segera pamit dan meninggalkan tempat tinggal Widya. Pun dengan Widya, merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi, ia pun berniat masuk ke dalam kamar. Namun dengan cepat Alvaro mencegahnya..
"Sebentar Wid, ada yang perlu kita bicarakan," ucap Alvaro, sembari mencekal tangan Widya.
Dengan cepat Widya menghindar. Ia tak mau Alvaro menyentuhnya.
Widya menatap sinis pada mantan suaminya ini. Namun tidak dengan Alvaro, justru pria ini malah menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"Wid, tolong maafkan aku," ucap Alvaro serius.
"Maaf untuk apa lagi, Pak. Kenapa sih minta maaf terus. Nggak ada lo yang perlu kita bahas lagi," ucap Widya mulai kesal.
"Ada, Wid, hatiku nggak tenang selama kamu belum maafin aku. Aku mau kita balikan lagi," jawab Alvaro, memelas.
"Astaghfirullah, Pak. Sebaiknya, jangan kita bahas ini terus. Capek tau. Aku kurang baik apa sih, aku ga ada menghalangi kamu dan keluargamu buat ketemu Seno, lalu apa lagi. Soal kita, biarlah kita seperti ini saja. Bapak ga perlu mikir kita harus gimana gimana. Kita jalani saja lah. Saya ga mau nyari musuh, saya juga ga ingin punya musuh," jawab Widya, serius.
"Aku juga ga ingin musuhan sama kamu, Bun. Itu sebabnya aku minta maaf. Aku ga mau kamu judesin aku," ucap Alvaro, kembali terlihat sedih.
"Sudahlah, Pak. Sebaiknya kamu balik, ga enak di lihatin sana penghuni yang lain," ucap Widya, terlihat sungkan.
"Maaf kalo aku bikin kamu nggak nyaman Wid. Emm, tadi mami bilang beliau beliin Seno rumah di belakang restoran tempat kamu kerja. Aku pengen kamu dan putra kita pindah ke sana," ucap Alvaro, sesuai dengan apa yang di pesan ibunya sebelum datang ke tempat ini.
"Apa?" bentak Widya, membuat Alvaro terkejut. Widya menatap Alvaro dengan tatapan tajam. Alvaro tau jika saat ini Widya pasti sedang marah padanya.
"Jangan marah dulu, aku mohon. Ini insiatif mami kok, aku cuma mendukungnya. Putra kita kan makin hari makin besar, dia butuh hunian yang sedikit besar nyaman. Aku hanya ingin bertanggung jawab secara mental dan finansial pada putra kita, aku harap kamu terima ya," ucap Alvaro lembut. Sungguh ia takut Widya akan marah padanya, lalu enggan menerima pemberian darinya.
"Sebaiknya Bapak ga usah melakukan hal-hal yang akan memicu kesalahpahaman. Intinya kita sudah berpisah, kita udah nggak ada hubungan apa apa lagi. Soal anak, mari kita besarkan sama-sama. Selain itu, tolong jangan kasih kami apa apa, saya benar-benar ga mau terlibat apapun dengan keluarga anda, apa lagi berhubungan soal uang. Saya benar-benar nggak mau," ucap Widya seraya pergi melangkah meninggalkan Alvaro.
Sedangkan di ruang tamu itu, Alvaro tampak menghela napas. Ia tau ia salah. Namun kali ini ia benar-benar tulus. Tulus ingin memberikan yang terbaik untuk putra dan juga mantan istrinya. Sayangnya membujuk Widya tak semudah yang ia bayangkan. Wanita ini ternyata punya harga diri yang cukup tinggi.
Bersambung..
tetap semangat thor ,makasih udah menghibur dgn karyamu, 🙏💪💪💪💪💪
aq lupa cerita nya🏃♀️🏃♀️🏃♀️
q menanti mu.....😥😥😥😥