Tania dianggap sebagai pembawa sial karena semua pria yang berpacaran dengannya selalu berakhir dengan kematian tragis.
Hingga seorang detektif kepolisian bernama Zayn pun turun tangan karena ingin mengusut misteri kematian adiknya setelah berpacaran dengan Tania. Dia menyamar dan berpura-pura menyukai Tania untuk mendapatkan informasi darinya.
Namun, apakah yang akan terjadi ketika Zayn akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Tania? Dan apa yang harus dilakukannya ketika berada di persimpangan dilema ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapuh
Tania berhasil membawa gadis itu ke sebuah cafe kecil dan membelikannya minuman dingin agar gadis itu bisa relax.
"Siapa namamu?" tanya Tania heran.
"Aku Azila," sahut gadis yang ternyata bernama Azila itu.
"Kenalkan, aku Tania. Azila, berapa usiamu?"
"Dua puluh tahun."
"Dua puluh tahun adalah usia yang terbilang masih sangat muda. Bahkan mungkin saat ini kamu sedang berstatus sebagai mahasiswa, kan?"
Azila mengangguk lemah.
"Lantas, kenapa kamu ingin mengakhiri hidupmu?" Tania merasa keheranan.
Azila tak langsung menjawab. Dia malah menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Tania yang berada di depan Azila, langsung berpindah posisi ke sampingnya, lalu memeluknya dengan erat.
"Sudah, jangan diceritakan jika kamu belum siap."
"Nggak, Mbak, aku mungkin bisa menceritakan ini padamu karena aku sudah mengenalmu meski dari artikel. Tapi berjanjilah untuk merahasiakannya dari siapapun," ucap Azila dengan tatapan matanya yang masih berkaca-kaca.
"Katakan aja," lanjut Tania. Dia sepertinya tidak sabar mendengar cerita gadis itu.
"Aku....baru saja mengalami perkosaan," ucapnya pelan.
Tania menutup kedua mulutnya tak percaya. Ini bukan hanya soal fisik, tetapi mental juga.
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Aku dicekoki alkohol oleh teman-temanku saat aku menginap di rumah salah satu dari mereka tadi malam. Dan aku tak sanggup melawan saat salah satu dari kenalan temanku memperkosaku di dalam rumah itu. Aku hancur, Mbak, harga diriku sudah direnggut paksa. Bahkan aku nggak pernah memberikan mahkota kepada kekasihku sendiri. Tapi, dia dengan mudah merampasnya begitu saja." Azila menangis tersedu-sedu. Tania terus mengusap punggungnya agar tangisannya mereda.
"Sudah, Azila, jangan khawatir, aku ada bersamamu. Sekarang katakan padaku, dimana pelakunya?"
"Kenapa? Mbak mau melaporkannya? Jangan, Mbak, aku malu kalau sampai wajahku terekspos ke media."
"Ngapain kita lapor polisi kalau kita bisa membalas dendam," ujar Tania sambil tersenyum tipis.
"Balas dendam, Mbak? Bagaimana?"
"Kita akan membuatnya mengingat ini seumur hidupnya. Tapi sekarang, sebaiknya kamu harus pulang. Dimana keluargamu?"
"Pulang?"
"Ya, jangan bersikap seolah kamu baru saja mengalami musibah. Bersikap biasa saja. Berikan nomor ponselmu dan aku akan menghubungimu ketika kita harus menjalankan rencana ini."
Azila segera memberikan nomor ponselnya kepada Tania. Dia juga meminta nama dan identitas orang-orang yang bertanggung jawab atas kejadian yang menimpanya.
Dia ingin sekali mengantarkannya, namun, Azila menolak karena tidak ingin mendapatkan lebih banyak pertanyaan dari keluarganya.
"Azila, maukah kamu berjanji padaku untuk pulang dengan selamat? Ingatlah bahwa kita akan melakukan balas dendam. Jangan pernah merasa bahwa hidup ini sudah berakhir. Kita harus membalas orang-orang yang telah menyakitimu. Aku akan berusaha memberikan pelajaran berharga pada mereka."
Azila mengangguk dengan tatapan penuh keyakinan.
Tania pun memesankan taksi untuk membawa Azila pulang. Dia juga berpesan pada sang sopir untuk tidak menurunkan hasil dari pinggir jalan. Bahkan sopir tersebut harus mengantarkannya dan memastikannya masuk ke dalam rumah.
***
"Darimana kamu, Zayn?" tanya mama Zayn yang bernama Lidya.
"Dari rumah Tania, Ma," sahut Zayn dengan tatapan malas. Mamanya adalah orang yang paling menentang hubungannya dengan Tania.
"Sudah berapa kali Mama bilang sama kamu agar jangan dekat-dekat dengan dia! Kamu lupa kalau dia adalah penyebab adikmu meninggal? Okelah kalau Tantenya yang bersalah. Tapi, kalau Zidan nggak tergoda sama Tania, pasti dia masih hidup sampai sekarang dan berkumpul bersama kita."
"Udahlah, Ma, Mama nggak capek dari kemarin ngomongin ini terus?" Zayn merasa sangat pusing mendengar omelan dari mamanya.
"Kamu ini selalu aja membantah ketika Mama menasehati. Pasti semua ini karena Tania, kan? Dia itu udah membawa pengaruh buruk sama kamu! Makanya, Mama nggak akan pernah restuin hubungan kamu sama dia!"
Zayn yang merasa lelah dengan ucapan mamanya pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Dia memilih tidur daripada mengingat omelan mamanya tadi.