Pernikahan bagi seorang Karlyn adalah ikatan yang begitu sakral dan suci. Pernikahan yang ia idamkan sejak duduk di bangku SMP adalah pernikahan bak di negeri dongeng. Gaun indah serta delman yang menggiringnya.
Siapa sangka akibat ayah tirinya, ia harus merelakan semua mimpi indahnya untuk menikahi seorang pria yang sama sekali jauh dari kriteria impiannya.
Pernikahan yang penuh derita terus mengusik tidur malam hingga memilih nekat keluar dari zona menakutkan itu.
Berharap akan dapat ketenangan. Justru dirinya di hadapkan dengan nasib yang jauh lebih menakutkan.
Menikah terpaksa dengan seorang duda beranak satu membuat air mata seorang Karlyn tak hentinya mengalir.
Pernikahan yang di dasarkan dengan paksaan dari bocah kecil yang tengah berjuang melawan sakitnya.
Akankah pernikahan kedua Karlyn akan berbeda nasibnya dengan pernikahan kedua? Akankah Karlyn wanita yang tepat menggantikan sang mommy untuk Jesslyn!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Sesungguhnya
Melihat betapa menyebalkannya sang mantan istri, Gavin dengan tegas menjatuhkan tangan Rachel lalu melangkah memasuki rumah. Keadaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja untuk menghadapi banyak masalah. Ia tak ingin jika harus menambah beban pikirannya dengan menghadapi tingkah Rachel yang menurutnya sangat tidak wajar. Memasuki rumah Gavin menuju terus ke arah kamar.
Tak perduli bagaimana Rachel meneteskan air mata dan berteriak memanggil namanya. Tak ada lagi harapan saat melihat bagaimana Gavin menolaknya.
"Kau benar-benar keterlaluan, Gav. Aku berhak mendapatkan kesempatan. Kenapa kau terlalu berlebihan seperti ini. Anak kita bahkan sudah tidak ada." Dengan menghapus air mata, Rachel melangkah pergi meninggalkan kediaman sang mantan suami.
Sementara di dalam kamar, Gavin tampak menutup pintu perlahan. Ia menatap punggung wanita yang tengah duduk di sisi ranjang dengan kepala tertunduk. Tampak jelas dari getaran di bahunya, ia tengah menangis. Pelan Gavin mendekat nyaris tak bersuara langkah kakinya. Ia pun menggenggam kedua bahu wanita yang tak lain adalah istrinya.
"Maaf," lirihnya membuat Karlyn seketika mengangkat wajah dan menoleh di mana sang suami tengah menatap sedih padanya.
Karlyn menggelengkan kepalanya. "Maaf untuk apa, Tuan? Anda tidak melakukan kesalahan apa pun." jawabnya berusaha baik-baik saja usai mengusap air mata yang tentu saja tak dapat hilang begitu saja jejaknya.
Gavin menghela napas kemudian turut duduk di samping sang istri. Tangannya masih erat menggenggam jemari sang istri setelah memegang pundaknya.
"Air mata mu jatuh karena aku. Padahal senyum Jesslyn hadir karena mu. Aku benar-benar pria tidak tahu berterimkasih." mendengar bagaimana pilu Gavin berucap, Karlyn sontak menggelengkan kepala tak membenarkan ucapan sang suami.
"Tidak, anda tidak salah. Saya sadar Tuan, pernikahan ini hanyalah bentuk kasih sayang kita pada Jesslyn. Dan anda tidak perlu meminta maaf atas kesalahan yang bukan anda perbuat." ujarnya mengembangkan senyum kaku.
Berusaha baik-baik saja meski sebenarnya dalam hati yang paling dasar Karlyn merasakan sangat takut, takut mendengar kenyataan jika pada akhirnya Gavin akan memutus tali pernikahan mereka saat ini juga. Sungguh rasanya ia belum siap menerima keputusan yang akan terjadi itu. Gavin adalah pria mapan dan banyak yang akan mendatanginya, sementara Karlyn hanya wanita yang di buang suaminya usai di dapatkan semuanya. Lebih tepatnya bukan di buang, namun hanya di jadikan budak nafsu saja.
"Aku tidak ingin mendengar kata apa pun lagi keluar dari mulutmu ini." Pelan kedua mata Karlyn ia pejamkan untuk menahan sesak bersiap mendengar kata apa yang selanjutnya Gavin ucapkan.
"Sebab ada atau pun tidak ada Jesslyn. Kita akan tetap bersama sampai maut memisahkan kita."
Terbuka lebar bibir mungil wanita itu kala mendengar penuturan sang suami yang di luar dugaannya. Karlyn membuka kedua mata secara bersamaan air matanya pun menetes juga. Tersenyum bukan karena bahagia, lebih tepatnya ia ingin tertawa mendengar kata yang menurutnya hanya ilusi saja. Tidak, ia tidak percaya jika ini yang sebenarnya terjadi saat ini.
"Tuan, jangan membuat saya terbang lalu terhempas ke dasar bumi. Saya sudah jauh hari mempersiapkan hati saya. Saya paham kita tidak akan mungkin...."
Untuk kesekian kalinya jantung Karlyn di buat hampir meloncat kala serangan tiba-tiba mendarat di bibirnya. Karlyn bahkan sampai membulatkan matanya lebar tak percaya. Sentuhan yang terkesan buru-buru nan agresif nyatanya tak mendapat balasan dari bibir mungil wanita itu.
"Saya tidak ada niat seperti yang kau katakan. Pernikahan kita akan tetap seperti ini seterusnya dan kita akan menjalani rumah tangga yang bahagia. Maaf jika aku telah larut dalam kesedihan terlalu lama dan mengacuhkan mu." Air mata Karlyn kembali menetes mendengar penuturan sang suami.
Keduanya tampak duduk saling berhadapan dan tangan Gavin tampak mengusap lembut air mata yang jatuh di kedua pipi Karlyn. Pelan pelan pelan jarak mereka semakin terkikis. Entah apa yang membuat Gavin berani, kini ia sudah bergerak menyerang bibir sang istri dan mendorong pelan tubuh wanita itu agar berbaring di atas kasur.
Air mata yang berjatuhan seolah menjadi saksi pertama di mana mereka merajut cinta dan pernikahan yang sesungguhnya. Bukan karena Jesslyn.