(Kanaya Khairunnisa Aulia) gadis yang berusia 17 tahun, di paksa oleh keadaan yang mengharuskan dia menikah mendahului kedua kakaknya dengan (Alfan Alvaro) yang usianya terpaut jauh 10 tahun darinya, karena Suatu alasan yang tidak bisa di hindari olehnya.
"Kamu pasti akan menyesal karena telah menyanggupi pernikahan ini?" tekan Alfan
"Tidak, aku tidak akan pernah menyesalinya karena ini pilihan ku!" jawab Kanaya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikut kisahnya?
Makasih ya guys sudah mau baca? sungguh sangat senang sekali di baca! tapi jangan di bom like yah🙏 dan di sarankan komentar yang membangun? ✌️🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safna Colloction, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 TIDAK ADA PENOLAKAN
"Loh Naya dengan siapa kamu ke sini sayang?" tanya kesya setelah membuka pintu hanya melihat Kanaya sendiri tidak dengan suaminya.
Kanaya hanya terdiam dia tidak tahu harus menjawab pertanyaan apa dari kesya.
"Aku yang bawa Dia, karena suaminya sedang sibuk, Kanaya menelpon ingin pulang ke rumah karena takut sendirian di sana!" jelas Kevin langsung masuk ke dalam rumah.
"Terimakasih Kak!" ucap Kanaya setelah melihat Kevin berlalu darinya.
"Mama kaget loh! Mama kira kamu sendirian ke sini? Mama sangat kangen sama kamu, di tinggal dua hari saja sama kamu Mama sudah gak kuat, tadinya besok Mama mau ke rumah kamu, eh sekarang malah ke duluan sama kamu!" Kesya Langung memeluk Kanaya.
"Aku juga sangat kangen sama Mama, makannya aku minta kak Kevin jemput aku untuk ke sini, karena Kak Alfan sangat sibuk sekali di kantornya dan tidak bisa mengantarkan aku!" Kanaya membalas pelukan kesya.
Kesya mengandeng Kanaya untuk masuk ke dalam rumah mereka duduk di sofa ruang tamu, kesya terus mengajak ngobrol Kanaya, tetapi Kanaya sangat sibuk dengan pikirannya dia sama sekali tidak mendengarkan obrolan kesya yang masuk kuping kiri keluar kuping kanan sambil terus mengusap-usap tangannya yang tidak dingin.
"Kamu kenapa sih aneh banget?" tanya kesya karena Kanaya tak merespon sedikit pun obrolannya, biasanya Kanaya selalu yang paling rame saat mengobrol dengan Kesya, untuk kali ini Kanaya terlihat sangat sulit di artikan.
"Gak apa-apa Ma, hanya saja aku mabuk perjalanan!" ucapnya sambil memegang kening yang sedikit berkerut.
"Kamu ini kaya dari Jakarta saja ke Bandung, cuman di sekitaran Bandung saja masa mabok, ke kamar Gih istirahatkan!"
"Iya Ma!" ujarnya dengan malu-malu.
...*****...
Sudah sekitar dua jam di balkon kamarnya Kanaya berdiri di dekat pagar, matanya terus tertuju ke gerbang rumah, semilir angin yang bandel menyapu Surai panjang miliknya sampai menutupi wajah cantiknya, tetapi itu tidak mengalahkan ke fokusnya untuk terus melihat ke arah gerbang yang banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang di jalanan besar depan rumahnya itu.
...Tak...Tak...Tak...
Suara langkah kaki datang menghampirinya dan berhenti tepat di sebelahnya, Kanaya menolehkan matanya ke sebelah, sedetik kemudian, dia mengalihkan pandangannya kembali ke tempat semula.
Hening di antara mereka, hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing wajah keduanya menegang, angin itu terus menerpa wajah mereka tetapi mereka tidak memperdulikannya sama sekali.
"Apa kamu di sini dari tadi menunggu dia untuk menjemputmu? tanyanya setelah sekian lama hening di antara mereka.
"Terimakasih Kak Kevin sudah tidak mengatakannya langsung sama Mama, aku tidak tahu jika Kakak membongkarnya sama Mama, maka wajah yang ceria itu seketika akan menjadi murung, dan aku tidak mau akan hal itu!" jawab Kanaya sedikit tersenyum sambil melihat ke arah yang bertanya.
"Jadi, maksud kamu?" tanyanya lagi dengan mengerutkan keningnya, terlihat jelas kekecewaan yang dia pancaran di wajahnya.
"Aku sangat berterimakasih sama Kakak untuk keinginan Kakak mengeluarkan aku dari penjara ini, aku sangat senang akan hal itu, tetapi aku tidak bisa, aku harus tetap tinggal, aku yang masuk dan aku juga yang harus bertanggung jawab akan hal itu!" jawab Kanaya
"Tapi, bagaimana kalau kamu menyukainya? itu akan menjadi semakin rumit untuk terlepas darinya, kamu akan semakin menderita karena kamu tidak akan menerima balasan darinya Kanaya." ujar Kevin sedikit menaik.
Kanaya menghela nafas panjang sampai pada akhirnya dia menghembuskannya perlahan, dia berpikir panjang tidak menjawab pertanyaan dari sebelahnya, dia mengalihkan pandangannya ke sebelah wajah teman ngobrol nya itu yang baru saja menyelipkan sebatang rokok di sela-sela bibirnya, Kanaya tersenyum melihat asap rokok yang keluar dari bibir sedikit kecoklatan itu.
"Apa benar merokok itu bisa menenangkan pikiran?" tanya Kanaya penasaran.
"Apa yang kamu lakukan?" bentak Kevin
"Aku ingin mencobanya!" Kanaya mengambil rokok itu dan menyelipkan di bibir tipis merah mudanya.
"Dasar adik bodoh!" umpat Kevin mengambil kembali rokok itu dari bibir mungil Kanaya.
Kanaya terkekeh sampai pada akhirnya kekehhan itu menjadi gelak tawa, "Setahun yang lalu ada orang yang mengatai ku bodoh untuk pertama kalinya, waktu itu aku tidak terima akan di bilang bodoh, karena aku belum pernah mendapatkan predikat itu dari Papa dan Kakak, sekarang Kakak menjadi orang kedua yang mengatai ku bodoh, dan aku baru sadar karena aku memang sebodoh itu!" ujar Kanaya masih dengan tawanya.
Kevin tersenyum kecil melihat Kanaya tertawa seperti itu, dia tahu bahwa Kanaya sedang menipunya. "Tidak lucu!" ujarnya ketus
Seketika mimik wajah Kanaya menjadi cemberut, "Emang aku sedang tidak melucu!" jawab Kanaya tak kalah ketusnya.
'Kakak akan selalu ada untuk kamu Kanaya, untuk saat ini dan seterusnya, kamu tidak perlu khawatir!' batinnya
Kevin mengambil ponsel dari saku celananya, dia membuka ponsel lalu memencet warna hijau yang tertera dari ponselnya itu, sedetik kemudian dia menaruhnya ke telinga, beberapa kali dia mengulanginya, tetapi hanya ada suara Operator yang terdengar. "Maaf No yang anda tuju sedang tidak aktif"
'Sial*an' gumamnya
Kanaya melihat dari ekor matanya bahwa kakaknya itu sedang kesal, dia mulai berbalik memandang wajah Kevin, "Apa Kakak marah sama aku?" tanyanya dengan lirih
"Kakak duluan yah? kamu segera masuk disini sangat dingin?" Kevin tidak menjawab pertanyaan Kanaya, dia langsung berlalu dari balkon itu.
Kanaya mengangguk tanda setuju, dia baru menyadari bahwa langit yang tadinya cerah, kini telah menjadi gelap tanda siang hari sudah berakhir, dan di ganti dengan malam hari, tak terasa dia sudah lama berada di balkon itu, Kanaya mendekat ke kursi lalu duduk di sana karena dia mulai merasa kakinya kesemutan.
'Sepertinya dia tidak akan datang!" batin Kanaya
...*****...
Setelah berada di kantor dari pagi sampai malam Alfan sama sekali tidak bisa keluar dari kantornya itu, Papanya yang terus berada di depannya, dia sama sekali tidak bisa berkutik, harus terus mengerjakan berkas-berkas penting, dia merasa sangat lelah, dan gelisah untuk apa yang dia hadapi saat ini, tetapi dia tidak bisa menolak Papanya karena itu juga kewajiban dia.
"Pah, apa tidak bisa besok? aku mau keluar dulu hanya sebentar? pinta Alfan memecahkan suasana yang dingin di ruangan itu.
"Kita tidak punya waktu Alfan kerjakan itu! bagaimana kamu mau jadi pewaris Papa, kalau kerja begini saja kamu tidak bisa." ujar Alvaro dengan nada tinggi.
"Maaf pah! aku kemarin ada keperluan mendadak, jadi, aku tidak bisa membereskan semuanya?"
Alvaro hanya diam tidak menjawab pertanyaan Alfan dengan bersidekap dada tak lupa dengan wajah datarnya, menandakan tidak ada penolakan dan tidak ada penawaran dari Alfan.
...Bersambung......
...Lanjut ke Bab berikutnya......
WAKTU YANG TERBANGUN SIA SIA❎
Awas thor banyak kalimat atau ayat yg salah tulis..hati-hati..