Keling, begitulah orang menyebut Lastri. Bukan hanya itu, kata hinaan kerap terlontar untuk Lastri rasa sakit, kecewa, serta merasa tidak berguna.
Hal itu membuatnya menerima ajakan Nilam untuk memasang susuk serta ritual agar ia bisa menjadi cantik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahluk Di Gelang Hitam
Keesokan paginya Lastri, Azlan, dan Emir berada di dalam mobil dan melaju ke kantor polisi untuk menyerahkan bukti rekaman yang mereka dapatkan.
Mobil melaju melintasi jalan raya yang cukup padat hingga mereka sampai di kantor polisi.
“Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?” tanya polisi yang sedang berjaga.
“Kami ingin memberikan bukti tentang kejadian wanita yang jatuh dari atas gedung perusahaan Gunawan group,” ucap Emir.
“Baik silahkan masuk dan membuat laporan.”
Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan dan menceritakan apa yang terjadi serta memberikan bukti rekaman percakapan Nilam dan Gunawan. Dengan cepat para polisi menindak lanjuti laporan mereka dan membuka kembali kasus Melinda yang sebelumnya ditutup karena sudah dinyatakan bunuh diri.
“Tapi, saya mohon jangan beritahu mereka siapa yang melapor dalam kasus ini,” ucap Emir.
“Iya Pak. Saya takut nantinya salah satu dari kami akan jadi incaran,” sahut Lastri.
"Baik saya akan memproses laporan ini. kami juga tidak akan membocorkannya.”
Dengan cepat polisi bergerak menuju perusahaan Gunawan. Mereka datang dengan membawa surat penangkapan atas nama Nilam dan juga Gunawan.
Seluruh isi kantor seketika heboh dengan datangnya sejumlah polisi dan membawa serta Nilam dan Gunawan dengan tangan yang terborgol.
Saat turun ke lobi semua mata menatap ke arah Nilam. Nilam hanya bisa tertunduk lesu karena dibekuk pihak polisi. Beberapa karyawan pun bahkan ada yang meyoraki dan melontarkan kata-kata makian terhadap Nilam dan juga Gunawan mengingat Melinda di senangi banyak karyawan karena sifatnya yang ramah.
Saat di kantor polisi mereka berdua diperiksa oleh polisi.
“Apa yang mendasari saudari Nilam berpikiran untuk mencelakai saudari Melinda?”
“Dia ... Dia ....”
Nilan terlihat ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh polisi.
“Jawab saja. Kami tidak akan memberi tahukan hal tersebut kepada rekan Anda.”
“Saya mendengar dia menghina saya saat di lift. Itu membuat saya sakit hati!” ucapnya.
“Lalu bagaimana bisa dia berakhir seperti itu?” tanya polisi.
“Saya mengajaknya bertemu di atas, karena saya bilang akan memberikan dia oleh-oleh dari luar negeri. Saya memberikan kalung dan memasangkannya di lehernya. Dan setelah itu saya mengikat lehernya dengan tali ID card.”
“Kenapa Anda bisa setega itu. Padahal bisa di bicarakan baik-baik, apa Anda sadar Anda sudah menghilangkan nyawa seseorang.”
Mendengar hal itu Nilam tertawa terbahak.
“Ha-ha-ha ... Saya nggak perduli! Karena mulut busuknya itu semua orang memandang rendah saya! Semua orang berbisik di belakang saya! Apa salahnya saya membunuhnya, itu adalah bayaran yang pantas!” ucap Nilam dengan mata yang melotot.
“Saya puas melihatnya jatuh dan terhempas di aspal. Saya ingin kepalanya pecah tapi sayangnya cuma retak. Lebih bagus jika isi tubuhnya berhamburan,” ucap Nilam sambil tersenyum.
Beberapa polisi pun menggelengkan kepalanya mendengar keterangan dari Nilam.
“Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?” bentak salah satu polisi yang geram mendengar ucapan Nilam.
“Sangat sadar!”
Perilaku Nilam berubah drastis, saat di tangkap ia tertunduk lesu tapi saat di kantor polisi ia berlaku seperti orang yang tidak waras.
Beberapa polisi berspekulasi jika Nilam memiliki gangguan kejiwaan namun, beberapa malah berpikir jika Nilam sedang berpura-pura agar tidak terjerat hukum.
Beda halnya dengan Gunawan. Ia mati-matian membela Nilam ia berkata jika Nilan tidak bersalah bahkan ia membuat alibi palsu jika Nilam sedang bersamanya saat itu. Namun, polisi tidak percaya karena di ruangan lain Nilam mengakui perbuatannya.
Beberapa polisi juga mendapat laporan jika Nilam pernah menjual beberapa wanita kepada Gunawan selanjutnya Gunawan akan memperkerjakannya di bar miliknya sebagai wanita penghibur secara paksa.
Kedok Gunawan terungkap dengan cepat oleh polisi di bantu oleh Azlan dan juga Emir yang terus mencari bukti terbaru tentang Gunawan.
Di tempat lain Lastri merasa lega karena Nilam sudah dibekuk oleh polisi, sebelumnya Nilam mengincar Lastri untuk di jual kepada Gunawan. Namun, ia masih terpukul dengan keadaan yang menimpanya.
'Apa yang diucapkan Nyi Ratih ternyata benar. Aku tidak akan melakukan ritual dan membaca mantra busuk itu lagi!'
Lastri pun baru teringat dengan gelang hitam yang ia dapatkan dari mbah Kusno.
“Aku harus membuang gelang ini!” ucap Lastri.
Lastri mengambil gunting untuk memotong gelang hitam pemberian mbah Kusno tersebut.
'Akan aku putus semua yang berhubungan dengan mbah Kusno,' gumamnya sambil memotong gelang tersebut.
Saat gelang itu akan dipotong tiba-tiba saja Lastri merasa sesak nafas seperti ada yang mencekiknya hingga Lastri melepas gunting tersebut.
“Aaakkkhh ....”
Lehernya terasa seperti dijerat dengan erat oleh sesuatu, wajah Lastri mulai memerah. Namun, Lastri berusaha keluar kamar untuk meminta bantuan. Beruntung saat itu Azlan sedang berada di depan pintu kamar Lastri.
“A-Azlah tolong!” ucap Lastri dengan tangan terus memegangi lehernya.
“Lastri kamu kenapa?”
Lastri tidak dapat lagi menjawab pertanyaan Azlan, Lastri jatuh tersungkur di lantai dengan cepat Azlan memegangi tangan Lastri.
Sambil melantunkan ayat suci Azlan berusaha menolong Lastri. Azlan memejamkan matanya beberapa detik lalu membukanya. Terlihat sepasang tangan yang dipenuhi bulu serta berwarna hitam tengah mencekik Lastri dari belakang.
Kukunya yang hitam dan panjang membuat leher Lastri penuh dengan goresan luka. Azlan berusaha melepaskan tangan itu dari leher Lastri, hingga mata Azlan teralihkan ke arah tangan Lastri yang saat itu memakai gelang berwarna hitam yang penuh dengan energi negatif.
Azlan dengan cepat menarik kuat gelang itu hingga putus.
“Kau jangan mengambil milikku!” ucap makhluk itu sambil melepas cekikan di leher Lastri.
Makhluk itu akhirnya menunjukkan wujudnya, tubuhnya berwarna hitam dengan bulu berwarna kemerahan matanya merah menyala dengan taring yang panjang serta lidah yang menjulur ke luar.
'Ini bukanlah jin lagi. Tapi ini iblis!' pikir Azlan.
“Ha-ha-ha. Kau anak ingusan. Melihat wujudku saja sudah terkejut. Aku bahkan bisa membaca pikiranmu!” ucap makhluk itu.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Azlan.
“Dialah yang datang dan membuat kesepakatan denganku. Maka aku berhak mengambil apa yang dia janjikan!”
“Darah dan rambutnya sudah menjadi satu denganku!”
“Lastri perjanjian apa yang sebenarnya kamu lakukan?” tanya Azlan.
“Gelangnya! Gelangnya!” Lastri memberikan tangannya kepada Azlan.
Dengan mata batin yang dimiliki Azlan ia terkejut melihat kepulan asap hitam mengelilingi gelang tersebut. Azlan mengambil gunting dan berusaha untuk memotong gelang itu.
Sambil membaca lantunan doa Azlan memotong gelang tersebut. Saat akan memotong gelang yang ada di tangan Lastri, makhluk itu langsung menyerang Azlan dengan kukunya yang panjang.
Seketika Azlan terpental terlihat seperti luka cakaran di lengan kananya, Azlan kembali menghampiri Lastri lalu kembali berusaha memotong gelang tersebut.
“Atas izin Allah Aku putus kamu dengannya. Pergilah kamu ke alam asalmu!” teriak Azlan.
Azlan berhasil memotong gelang tersebut, makhluk hitam itu langsung mundur seakan melihat sesuatu berada di belakang Azlan. Makhluk itu pergi melesat dengan cepat meninggalkan Azlan dan juga Lastri.
“Kalian pada ngapain sih guling-guling di lantai?” Emir tiba-tiba datang dengan handuk yang masih menggantung di lehernya.
“Nyari wangsit!” ucap Azlan sambil membantu Lastri bangun.
“Nyari wangsit itu di goa bukannya di lantai. Udah kaya senam lantai aja,” Emir pergi sambil menggosok kepalanya dengan handuk.
Sosok Nyi Ratih pun muncul dari belakang Lastri dengan senyum tipisnya memandangi Azlan. Azlan terheran melihat sosok Nyi Ratih.
Nyi Ratih berjalan menghampiri Azlan.
“Nyi Ratih,” ucap Lastri terkejut.
“Kamu tahu dia ada?” tanya Azlan kepada Lastri.
“Iya aku tahu.”
“Lastri anakku. Tetaplah kamu memiliki hati yang tulus. Jangan pernah sombong atas apa yang kamu miliki. Tidak salah aku memilihmu dari sekian banyak yang meminta kepadaku,” ucap Nyi Ratih.
“Dan untuk kamu, terima kasih karena sudah menolongnya. Aku tidak bisa leluasa untuk mencampuri masalah manusia. Karena kami juga memiliki batasan.”
“Aku pikir kamu yang menyebabkan semua ini. Tapi ternyata aku salah,” sahut Azlan.
“Ini belum selesai. Masih ada masalah lain yang akan kalian hadapi.”
Nyi Lastri pergi meninggalkan Azlan dan juga Lastri.