NOVEL KE.9 = SANG PENARI.
"SUGENG RAWUH ING DUSUN GRINGGING"
Di sinilah perjalanan kami dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PILIHAN 2 [ END ]
"Adnan, cepat katakan pilihanmu!" desak si pendorong gerobak.
Adnan menarik napas panjang lalu berkata:
"Aku tidak mau mengikuti permainanmu. Aku hanya akan meminta pertolongan kepada yang maha kuasa saja. Apa pun hasil akhirnya nanti, aku pasrahkan semuanya. Aku tidak butuh pertolonganmu. Jika memang, kami telah melakukan kesalahan sehingga membuat kaummu marah, sudah sepatutnya kami meminta maaf. Karena itulah, aku meminta maaf padamu dan kepada seluruh kaummu tapi keselamatanku, sepenuhnya kuserahkan kepada yang menciptakanku dan juga menciptakanmu."
"Lancang!" bentak si pendorong gerobak dengan suara yang sangat lantang dan menggelegar.
Bulu kuduk meremang seketika. Benar-benar menyeramkan, suara yang awalnya terdengar normal. Tiba-tiba berubah begitu dalam dan menggelegar. Tubuh tambun para pendorong gerobak pun berubah menjadi tinggi besar dan hitam legam. Seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu serta matanya berwarna putih penuh. Tanpa ada pupil hitamnya. Yang lebih menyeramkan lagi, keenam sosok itu, hanya memiliki satu mata saja. Sementara mata yang satunya, bolong. Rizal, Adnan dan Galang beringsut takut. Keenam sosok hitam itu terlihat sangat marah. Tak ada lagi percakapan di antara mereka hingga mereka semua sampai di sebuah desa yang seharusnya telah ditinggalkan yakni, desa Gringging.
...Deg.....
"Ya Alloh ini.." desah Adnan.
Di depan sana, semua penduduk desa telah menanti. Di barisan terdepan, ada pak lurah dan juga mbah Nanik. Ketiga pemuda lantas bergidik ketika melihat wujud asli dari seluruh penduduk desa itu. Tak ada satu pun sosok yang memiliki wujud yang sempurna. Kebanyak dari mereka, bertubuh kurus kering dengan wajah yang tidak beraturan. Rambut yang hanya beberapa helai saja dan nyaris botak. Bahkan, ada makhluk yang tingginya melebihi pohon kelapa. Adnan menelan ludahnya kasar sembari terus berdoa memohon pertolongan dari yang maha kuasa.
"Akhirnya kalian pulang," ucap mbah Nanik, menyambut kedatangan ketiga pemuda yang sempat tinggal di rumahnya.
"Sini-sini nak, mau makan dulu gak? mbah Nanik sudah menyiapkan banyak makanan untuk kalian," imbuh mbah Nanik.
Ketiga pemuda, serentak menggelengkan kepala yang lekas membuat mbah Nanik bermuka masam, ia marah. Merasa tidak senang dengan respon yang diberikan.
"Ya sudah kalau begitu. Kalian menolak untuk menjadi cucuku maka, pergilah untuk menjadi tumbal!" ucap mbah Nanik dengan ketusnya.
Ketiga pemuda pun kembali di dorong ke suatu tempat nan lapang. Di sana, sudah ada tiga lubang yang entah kapan di siapkannya. Ketiga pemuda menjadi histeris. Takut kalau akan dikuburkan di sana. Ketiganya berusaha meronta tapi tetap sia-sia.
Benar saja, Rizal, Adnan dan Galang dilemparkan ke dalam masing-masing lubang lalu ditaburi dengan banyak sekali bunga. Ada bunga melati, bunga mawar dan juga bunga kenanga. Ketiga pemuda pun tak kuasa menahan tangis histeris mereka. Rasanya sungguh tidak bisa dijabarkan. Segala macam doa mereka lantunkan seiring dengan derai air mata yang kian deras. Sementara para sosok penghuni desa Gringging menonton ketiganya dari atas. Semacam pertunjukan yang memang sengaja dipertontonkan.
"Ya Alloh tolong! tidak ada kekuatan yang lebih besar dari kuasa-Mu ya Alloh! tolong!" doa Adnan dengan sangat lantang.
Mendengar itu, Rizal dan Galang pun turut berdoa juga. Doa yang benar-benar tulus dari dasar hati yang terdalam. Ketiganya berserah dan hanya menaruh pengharapan kepada sang maha Kuasa. Sampai pada detik-detik tanah mulai diguyurkan ke tubuh mereka, ketiga pemuda masih percaya. Mereka yakin kalau Alloh akan menolong ketiganya.
"Ya Alloh tolong! beri satu kesempatan untuk merubah semuanya!"
Saat itulah terdengar suara perempuan yang memanggil-manggil nama Rizal, Adnan dan Galang. Suara yang awalnya terdengar samar, lambat laun kian dekat dan terdengar jelas. Itu adalah suara dari ibu Rizal, ibu Adnan dan ibunya Galang. Ketiga pemuda pun sontak berteriak.
"Ibuk.. ibuk.. Rizal di sini!l buk!"
"Adnan di sini buk!"
"Tolong Galang buk!"
Suara itu kian mendekat dan kemudian benar-benar muncul di atas lubang kubur anak mereka masing-masing.
"Nak.."
"Tolong buk!"
Si ibu lantas melompat ke dalam lubang kubur lalu membuka kain kafan yang membebat anak-anak mereka. Setelah itu, mereka pun naik kembali ke atas. Hal aneh berikutnya adalah, para sosok penghuni desa hanya menatap dalam diam. Sama sekali tidak berusaha menahan ibu dan anak itu. Bahkan, mereka menyibakkan diri ketika ketiga pemuda beserta ibu mereka berjalan menjauh dari sana.
"Buk!"
"Sudah, jangan banyak bicara! jalan terus sampai ke sana!" pinta ibu Adnan.
Adnan pun diam, terus berjalan sesuai instruksi yang diberikan ibunya hingga mereka keluar dari batas rumah terakhir di desa. Adnan sempat menoleh ke belakanga. Terlihat, para penduduk desa berdiri diam menatap kepergian para manusia yang gagal dijadikan tumbal. Adnan kembali mengarahkan pandangannya ke depan seraya terus berjalan.
"Ibuk ke sini diantar siapa?" tanya Adnan.
Ibu Adnan lantas berhenti lalu memandang putranya. Seketika itu juga Adnan merasa kliyengan dan kemudian pingsan. Ketika terbangun, ia telah berada di kamar rumahnya. Efek bingung usai pingsan, ia rasakan sejenak sebelum kemudian, dapat ia kenali ruangan itu sebagai kamar tidurnya.
"Alhamdulillah," ucapnya pelan.
Ibunya yang tertidur sambil duduk di tepian ranjang pun terbangun dan lekas mengucap syukur. Wajahnya berbinar sembari menitikan air mata haru. Anggota keluarganya yang lain turut masuk ke dalam kamar. Gema syukur pun terdengar bersahut-sahutan.
...🍁🍁🍁...
Setelah kejadian yang sangat panjang. Adnan beserta kedua temannya baru mengetahui kalau ternyata, mereka sama sekali belum melakukan pendakian. Ketika mereka tidur di basecamp, itu adalah hal terakhir yang mereka lakukan. Menurut kesaksian petugas basecamp, Rizal, Adnan dan Galang tidur hingga siang di hari berikutnya. Awalnya dianggap biasa tapi ketika sampai sore, ketiganya masih belum bangun juga, para petugas menjadi khawatir.
Sudah sempat coba dibangunkan tapi tetap tak bergeming. Kondisi ini berlangsung hingga maghrib. Barulah selepas maghrib, tubuh Rizal, Adnan dan Galang dibawa ke rumah sakit. Pihak berwajib juga dipanggil dan kemudian, orang tua pun dihubungi. Kata dokter, Rizal, Adnan dan Galang mengalami koma. Namun, perihal penyebabnya masih belum diketahui. Tidak ada tanda-tanda cidera sama sekali yang membuat dokter menjadi kebingungan untuk membuat diagnosa.
Alasan kenapa akhirnya, Rizal, Adnan dan Galang dibawa pulang dan dirawat di rumah adalah karena selama lebih dari seminggu di rumah sakit, tak ada satu pun tanda-tanda perkembangan membaik. Selain itu, ada yang bilang kalau jiwa Rizal, Adnan dan Galang sedang tersesat saja di alam lain. Itu yang menyebabkan raganya koma dan sama sekali bukan karena penyakit medis. Itulah kenapa, orang tua Rizal, Adnan dan Galang sepakat untuk membawa pulang anak-anak mereka sembari mencari pengobatan alternatif ke orang-orang yang dianggap mampu untuk menangani hal-hal mistis.
Yang lebih mencengangkan adalah, ketiga pemuda telah koma selama hampir dua bulan lamanya. Hal ini sungguh sulit Adnan percayai sebab menurutnya, masih wajar jika lebih dari seminggu tapi nyaris dua bulan, sungguh tidak masuk akal. Berulang kali Adnan menghitung, berapa hari yang telah ia lalui. Namun, tetap saja tidak bisa ia mengerti. Memang seperti itu adanya, waktu di alam manusia dan di alam jin memiliki perbedaan yang sangat besar. Apa pun itu, kejadian ini telah menjadi trauma yang amat mendalam bagi ketiganya.
Baik Rizal, Adnan maupun Galang, mereka sangat bersyukur dapat kembali dengan selamat. Tentu, sikap ketiganya pun berubah. Lebih mawas diri, berhati-hati dan bijak. Perihal pertemanan antara Adnan dan Galang, mereka masih berteman. Galang secara tulus meminta maaf dan Adnan memaafkan. Namun, untuk kembali percaya, sungguh sudah tidak bisa ia lakukan. Terlebih jika hal itu menyangkut keselamatan nyawa. Inilah hidup yang menyimpan jutaan misteri. Siapa juga yang menyangka akan mengalami kejadian sebesar ini. Adnan menghela napas dalam-dalam seraya menyesap teh hangat di teras rumah.
"Sungguh rumah adalah tempat yang paling aman," benaknya.
"Alhamdulillah!"
...🍁 TAMAT 🍁...
😊 Alhamdulillah Kelar Juga Novel Ke.8 ku..
😊 Terima Kasih Untuk Kalian Yang Selalu Mendukungku..
😊 Dukungan kalian adalah api membara yang memompa semangatku..
😊 Tiada Author sukses tanpa Pembaca..
😊 Terima Kasih Banyak dan Semoga Sehat Selalu...
...🤲 Aamiin 🤲...
...🍁 Salam Hangat Dari Penulis: Siyuk Sie 🍁...