Ia tengah lari dari perjodohannya. Nur Aida Rindayani tak pernah menyangka, Ia justru menemukan seorang pria yang tergeletak di pantai dan membawanya pulang. Sebuah fitnah keji, lalu memaksa mereka menikah dalam sekejap.
Arrayan Bima Hartono , adalah seorang pewaris dari perusahaan besar di kotanya. Suatu hari, Ia diculik secara dramatis oleh beberapa musuhnya. Ia sempat kabur, namun justru terjatuh ke dalam jurang yang menghubungkannya dengan lautan yang dalam.
Apakah akan tumbuh cinta diantara mereka? Bagaimana, jika ketika itu Gibran ingat akan semua masa lalunya? Bagaimana, nasib Aida selanjutya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan suka meremehkan orang,
"Ngapa ngatain Aida mesum?"
"Lah kamu kenapa, punya fikiran aneh-aneh?"
"Ya... Ngga aneh, ih. Aneh apanya, coba?"
"Bentang-bentangin punyaku buat apa? Senyam senyum sendiri. Apalagi kalau ngga kebayang aneh-aneh?" tanya Tono, yang tengah asyik dengan kunyahan di mulutnya.
Aida mencebik kesal. Tatapannya tampak fokus pada Sang suami yang bicara tanpa menatapnya. Ia memang meminta Tono untuk menjadi diri nya sendiri, dan tak boleh terlalu sungkan. Tapi, perubahannya begitu mencolok. Apalagi dengan sikapnya. Yang kemarin manis dan penurut, sekarang terasa menyebalkan bagi Aida.
"Ngeselin!" ucap Aida, kembali meninggalkannya disana.
"Mau kemana?"
"Mandi!"
"Mandi sendiri?"
"Au ah! Jangan nanya-nanya lagi."
***
"Mas, kamu sembunyiin sesuatu dari aku?" tanya Tante Rum, pada suaminya yang tengah fokus bekerja.
"Engga... Kenapa?"
"Darimana Aida dapat uang? Pake segala ambil ke ATM, Pula. Kamu kasih jatah ke dia, gitu? "
"Gaji ku aja, kamu yang pegang Rum. Bahkan aku ngga bisa kasih sedikitpun buat Ibu. Bagaimana aku kasih buat Aida. Dia juga kerja, wajarlah, punya uang."
"Seberapa, gaji relawan, Mas? Dapet tunjangan aja syukur, kok ngarep gaji."cibirnya, yang selalu mendapat bahan ketika membicarakan Aida.
" Jangan suka meremehkan orang, Rum. Kita ngga tahu, ke depannya bagaimana. "balas Om Edo, dengan nada datar. Ia memilih banyak diam, agar tetap dapat fokus pada gambarnya. Daripada, harus meladeni sang istri yang selalu tak bisa diam.
Akhirnya, Tante Rum pun meninggalkan Ia dengan hentakan kaki kesal nya. Dengan bibir manyunya yang bergerak ke setiap sudut wajah berkerutnya.
"Ngga usah ambekan, makin cepet tua nanti." ledek Om Edo dengan tatapan fokus ke depan kanvasnya.
***
Tono duduk di teras rumah, menemani Nek Mis yang tengah memotong sayuran untuk esok hari. Sang Nenek bercerita dengan begitu seru, mengenai zaman ketika Ia muda dulu. Ketika Nek Mis sempat menjadi primadona di kampungnya. Tono kagum, dan sesekali tertawa mendengarnya.
"Kamu ngga percaya?" tanya Nek Mis.
"Percaya, Nek. Masih kelihatan, kalau Nenek itu cantik. Awet muda, rupanya." puji Tono, membuat Nek Mis tersipu malau. Bahakan, tak segan melempar tubuh Tono dengan seikat bayam yang Ia genggam.
"Ah, bisa aja, Kamu." geli nya.
Entah, hari ini udara begitu dingin rasanya, hinga tubuh Tono terasa menggigil. Padahal, biasanya selalu berkeringat hingga ke pelipisnya.
"Kamu kenapa, Tono?"
"Hmm? Ngga papa, Nek. Hanya, serasa sangat dingin hari ini.".
"Ya, air sedang pasang."
"Oh, begitu. Jadi, air kalau pasang itu, malam hari?"
"Iya, begitu lah. Kenapa?"
"Nek, apa mungkin aku terombang ambing di lautan ketika pasang. Hingga aku, dibawa kemari oleh lautan?"
"Ya, secara logika, memang begitu." Nek Mis membereskan bahan-bahannya, dan membawa kedalam.
"Masuklah, nanti kamu masuk angin."
"Iya, Nek." jawab Tono. Di dalam, Ia mencari-cari Aida yang biasanya duduk menonton tv. Tapi, kali ini tak Ia temukan. Ia lalu masuk ke kamar, untuk menemuinya yang hanya diam daritadi.
"Nur, kamu belum tidur? Kenapa main Hp terus?"
"Belum bisa tidur. Lagi ada kerjaan." jawabnya yang fokus ke layar Hp.
Aida telah dengan piyamanya. Rambutnya pun telah di gulung, seperti biasa ketika akan tidur. Tampak asal sebenarnya, tapi justru menunjukkan kesan seksi. Apalagi, ketika lehernya yang jenjang itu tampak jelas di mata Tono.
"Aku tidur dimana?"
"Lah, disini aja, ngga papa. Aida udah bentangin selimut, sama buat pembatas kita." jawab Aida dengan santai.
Tono berbaring, tapi Ia belum dapat terlelap juga. Rasanya begitu gelisah, meski harusnya dingin membuatnya nyaman dengan selimut tebalnya. Aida hanya memperhatikan, enggan bertanya jika bukan Tono sendiri yang bercerita kali ini.
"Lampunya matiin aja, Aida ngga papa kok."
"Engga, ehmmm... Nur?"
"Ya, Mas Tono?"
"Dada ku, belakangan sering sesak. Kadang mengik hanya karena sedikit debu. Apalagi, debu proyek." curhatnya.
"Mas kemarin itu hipotermia. Mungkin itu yang membuat sering sesak. Rajin-rajin pakai masker aja dulu. Besok, Nur ajak periksa ke Rumah sakit, ya."
"Iya, Nur. Terimakasih." jawab Tono, yang kemudian berbaring memejamkan matanya.
melaknat pebinor dan memuja pelakor
pemikiran munafik wanita
melaknat pelakor dan memuja pebinor
dan novel ini menunjukan dirimu dengan cara kau memperlakukan pelakor dan pebinor
bahkan ada novel istri diculik, tinggal bersama, bahkan tidur bersama dengan pebinor penculiknya dan ketika suami datang menyelamatkan nya dan menghajar pebinor itu istrinya malah membela pebinor karena dia bilang dia diperlakukan dengan baik, dan novel itu membenarkan
cari satu saja novel yang bertema pebinor menculik atau memaksa istri orang tinggal bersamanya, dan novel itu anggap itu sebuah kesalahan
kalian tidak akan dapat novel kayak gitu, karena faktanya semua novel akan membenarkan itu