Aqila Lawrance seorang putri angkat dari Alden Leon wesley yang terjebak kesalahan satu malam dengan Steve Frans Gevonac.
"Gugurkan bayi itu!"
Seketika dunia Aqila berasa runtuh, pria yang merupakan mantan calon tunangannya sekaligus ayah dari anak dalam kandungannya memaksanya untuk mengugurkan kandungannya.
"GAK! AKU GAK MAU! KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB FRANS!"
PERINGATAN! CERITA INI HANYA KHAYALAN AUTHOR BUKAN KENYATAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31: Mateo
Malam hari, tampak Frans terbangun dari tidur nya. Dia menatap Aqila yang tertidur membelakanginya, Frans pun mengayunkan tangannya tepat di depan wajah Aqila untuk memastikan apakah istrinya sudah tertidur pulas.
Setelah memastikan jika Aqila tertidur pulas, Frans beranjak dari tempat tidur dengan perlahan. Dia berjalan menuju lemari dan mengambil jaket hitamnya beserta celana panjang
Setelah itu Frans memakai earphone pada telinganya, dia mengambil ponselnya di nakas dan menaruhnya di saku jaketnya.
"Aku tinggal sebentar yah," bisik Frans pada Aqila yang pulas tertidur.
Frans pun keluar dari kamar, dia beranjak menuju keluar rumah. Dia membuka gerbang dan berjalan menuju mobilnya, Frans melajukan mobilnya dengan perlahan keluar rumah.
DERTT!
DERTT!
Frans menyentuh earphone nya, dia mengerutkan keningnya kala mendengar suara ramai dari sana.
"Ada apa Kenan?"
"Pasukan black dragon memaksa masuk kawasan Ateez, bahkan mereka membawa setengah pasukannya. Ketua mereka memaksa bertemu anda King!" ujar Kenan dengan panik.
"Tetap pertahankan, jangan sampai banyak korban berjatuhan! aku akan segera kesana," ujar Frans.
Frans menambah kecepatan mobilnya, dia bahkan menerobos lampu merah. ENtahlah jika dirinya di tilang pun Frans pasti akan mengurusnya.
Mobil yang Frans kendarai akhirnya sampai, dia segera turun dan beralih ke bagasi mobilnya. Frans membuka bagasi mobilnya untuk mengambil senjatanya.
Setelahnya Frans menutup bagasi mobilnya, dia mengecek senjatanya. Dia berjalan mendekati sebuah pintu kecil dan masuk lewat sana.
Sementara itu, Kenan tengah beradu lawan dengan lawan yang sepadan. Dia terus melayangkan pukulan, tetapi lawannya memang sangat cerdik.
"Hah ... hah ... hah, apakah begini caramu melawan musuh? lemah!" ujar lawannya yang bernama Victor.
"Ck, jika saja aku tak mementingkan nyawamu. Pasti kau akan habis saat ini Victor! pasukan kalian masih aku hargai karena masih melindungi negara!" sentak Kenan.
Victor melayangkan belati pada Kenan, kenan pun menghindar.Mereka kembali bertarung tanpa senjata, tanpa di duga Kenan di kejutkan oleh sebuah pistol yang tertodong di kepalanya.
"Wah ... wah ... wah, kau sangat sombong sekali ajudan. Mana senjata kebanggaanmu itu? ku kira kau memakainya disini," ujar seseorang yang muncul di samping Kenan.
Kenan hanya tersenyum sinis, dia melirik jaket yang dirinya kenakan. Disana terdapat senjata yang dia rakit dan selalu dirinya andalkan, hanya saja jika senjata itu sidah bermain. Maka katakan selamat tinggal pada kehidupan.
"Victor, kau urus yang lain. Untuk ajudan ini, biar aku yang urus," titahnya dan segera di patuhi oleh Victor.
Pria itu menatap Kenan, dia mengangkat satu sudut bibirnya. Sementara Kenan hanya menatapnya datar, tak ada yang melihat jika bibirnya seperti mengucap sesuatu. Dia menghitung mundur kapan sang King datang.
"BERHENTI! ATEEZ, JIKA KALIAN MASIH MELAWAN. MAKA KENAN, PEMIMPIMPIN KETIGA KALIAN AKAN MATI SAAT INI JUGA!" teriak pria itu.
Seketika pertarungan berhenti, mereka menatap Kenan dan pria itu yang tepat di tengah aula.
Mafioso Ateez hanya diam dan melihat pemandangan itu, dan selang beberapa detik kemudian semua mafioso tertawa yang mana membuat bingung Black Dragon.
"Kenapa kalian tertawa?" bingung pria itu.
Kenan pun ikut tertawa, mereka bukan tertawa layaknya orang lain tertawa. Mereka tertawa iblis, tatapan mereka menghunus ke arah pria yang menodongkan senjata pada sayap kanan Ateez.
"Sudah ku bilang bukan? tak mudah melumpuhkan Ateez," ujar Kenan.
"Ck, kingmu itu tidak ada disini. Apakah dia takut bertemu denganku huh?"
"JIKA AKU TAKUT, BUAT APA GELAR KING ITU ADA PADAKU. SEPUPU?"
Pandangan mereka beralih menatap pria berjubah, netra mereka terbelalak terkejut ketika melihat pria itu melepas tudungnya dan kini terpampanglah wajah tampannya.
"Wah, akhirnya kau datang juga. Ku kira kau sedang bermain dengan istri murahanmu itu sepupu," ujar pria itu yang merupakan sepupu Frans bernama Mateo.
King melepaskan senjatanya, Mateo meringis ketika tembakan itu menggores lengannya.
"Bicaralah lagi, ku pastikan bibirmu yang ku tembak," ujar Frans.
Frans mendekati Mateo, dia menepis senjata Mateo yang ada di kepala Kenan. Netranya bertatapan dengan mata elang sepupunya.
"Kenapa kau membuat kerusuhan di daerah kekuasaanku?" tanya Frans.
"Bebaskan ayahku!" bukannya menjawab, Mateo malah memerintah pada Frans.
Frans mengangkat satu alisnya, dia beralih menatap Kenan dengan raut bertanya. Setelahnya dia kembali menatap Mateo yang menatapnya penuh amarah.
"Looh, ya nda tau," ujar Frans dan membuat semua orang tertawa bahkan mafioso Balck Dragon pun ikut tertawa.
"KAU!" geram Mateo sambil menunjuk wajah Frans.
Frans menepis tangan Mateo, dia menepuk bahu Mateo dengan kasar.
"Bokap lu masuk penjara karena ulahnya sendiri, gue aja denger beritanya masa lu yang sebagai anaknya gak tau. Ya emang sih hukumannya di tambah karena gue ngadu soal dia yang jebak gue bersama istri gue," ujar Frans.
"Salah bokap gue?" bingung Mateo.
Frans mengangguk, dia membuka jubahnya dan menyerahkannya ke Kenan. Setelah itu dia membuka jaketnya dan memasukkan tangannya ke kantong jaket dalamnya.
"Nih, semua data kesalahan bokap lu. Jadi anak melas banget sih, makanya jangan terlalu polos bin beg0," ujar Frans sambil menyerahkan sebuah kertas pada Mateo.
Mateo menerima kertas tersebut, dia membacanya seketika keningnya mengerut saat membaca laporan tersebut.
"King, saya juga jadi curiga. Jangan-jangan, dia juga anak yang di culik Daniel dan di besarkan untuk menjadi tamengnya," bisik Kenan di telinga Frans.
Frans membulatkan matanya, dia menepuk bahu Kenan dan membisiki sesuatu pada pria itu.
"Bisa jadi, beda banget akhlak anaknya sama bapaknya," bisik Frans.
Mateo menatap datar kedua pria yang sedang bergosip itu, bukannya apa pasalnya mereka berdua berbisik sangat keras hingga dia bisa mendengarnya.
"Bisakah kalian tak membicarakanku di depanku huh?" kesal Mateo.
"Nanti jadinya ghibah dong," lugu Kenan
Mateo berpikir, kemudian dia mengangguk. "Bener juga," ujar Mateo.
Frans tersentak saat tiba-tiba bahunya di tepuk, dia menoleh ke belakang dan melihat jika tak ada lagi anak buah mereka.
"Kami izin makan malam, lapar King," ujar mafioso yang menepuk bahu Frans.
Mereka semua melongo, apakah ini yang di namakan organisasi mafia paling di takuti? kenapa menjadi seperti ini?
"Oke," ujar Frans dengan nada rendah.
***
"SAKIT BODOH! PELAN!"
"Ck, ini juga udah pelan lagi. Bentar lagi selesai kok,"
"JANGAN DI TEKEN!"
Kenan menatap kedua orang itu dengan tatapan datarnya, sedari tadi mereka berucap sesuatu yang membuat telinga Kenan sakit.
"Jangan kenceng-kenceng ikatnya, perih ini!" ujar Mateo.
"Cengeng banget sih!" kesal Frans sambil melilitkan kasa pada lengan Mateo yang tadi terkena tembakannya.
Tak lama ponsel Frans berdering, dia melihatnya seketika matanya terbelalak terkejut. Netranya melihat celah, ternyata hari sudah pagi dan mereka tak sadar karena mengobrol.
"Bini gue telpon, gimana nih," panik Frans.
Frans kelabakan, Mateo dan Kenan pun sama. Padahal ini masalah Frans, tetapi kenapa mereka juga ikut panik.
"Angkat! lu mau gak di bolehin pulang hah?!" ujar Mateo panik.
"Bener si King, nanti kita yang kena semprot!" ujar Kenan.
Frans menggeser tombol hijau itu, dia mengeraskan suaranya dan menaruh ponselnya di tengah-tengah mereka.
"Kamu dimana?" tanya Aqila.
"A-aku lagi di ...,"
Frans bingung harus menjawab apa, dia beralih menatap Kenan dan Mateo meminta jawaban.
"Bilang aja di kantor, lagi meeting sama Klien," bisik Mateo.
"Aaa itu aku lagi di kantor iya, lagi meeting di kantor," gugup Frans.
Tampak Aqila tak menjawab, keringat sebiji jagung mengalir di pelipis Frans. Dia takut Aqila marah apalagi mereka baru saja menikah, bahkan sikap Aqila baru saja sedikit sekali melunak.
"Oh," ujar Aqila dan mematikan sambungan itu.
Frans panik saat Aqila berucap oh, dia segera mengemasi barangnya dan memakai jaketnya. Hal itu membuat tanda tanya bagi Mateo dan Kenan.
"Lu kenapa jadi panik gitu?" bingung Mateo.
"Kalau lu punya istri, nanti juga lu bakal tau," ujar Frans dan segera berlari keluar dari ruangan itu.
Mateo menatap bingung kepergian Frans, begitu lula dengan Kenan.
"Aneh," gumam mereka berdua.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤❤❤
saya yg hanya sebagai pembaca dan penikmat novel (bukan penulis maupun kritikus), merasa terhibur dan masih bisa mencerna jalan ceritanya..
ya walopun kadang bingung jg mau dibawa kemana alurnya, tapi masih bisa dimengerti..
apalagi ada bumbu2 komedinya, jadi masih cukup menghibur..
semoga selalu diberi kesehatan ya kak..
tetap semangat berkarya dan semoga sukses selalu..
🙏🏻💪🏻😘😍🤩🥰💕💕💕
makanya saya suka baca disini
meski ya susah koment males nulis suka baca aja
maaf sebelumnya dan terima kasih sukses sehat selalu
ijin baca marathon ulang kak Author
i mean gak ada anak broken home yg milih lahir di keluarga busuk kayak gitu. mau bilang "ezra gak boleh gitu, krn selama ini hidupmu terjamin walau hidup sm bokapmu" juga gak bisa. nyatanya zidan gak bisa ngelakuin hal itu ke bokapnya juga.