WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
"Tinggallah di rumah untuk hari ini, Asya dan Azam sakit," pinta Tama dengan wajah memohon.
"Yang mau pergi tuh siapa?" ketus Winda.
Tama menghela nafas panjang, memejamkan matanya sejenak.
"Sebentar lagi kita pergi ke rumah sakit, aku akan mengemasi barang anak-anak terlebih dahulu," ujar Winda yang sebenarnya sayang dengan anak-anaknya hanya saja ia terlalu sakit untuk melihat Tama.
"Aku akan membantu mu!" seru Tama.
Entah ada angin apa hingga membuat Winda lebih kalem hari ini. Damai sejenak hati Tama saat melihat Winda peduli dengan kedua anak-anaknya.
Untuk masalah yang kemarin, Tama sudah ikhlas dan menganggap semua adalah karma untuk dirinya.
Winda dan Tama langsung pergi ke rumah sakit berserta kedua anak mereka. Ternyata Azam harus di rawat karena suhu tubuhnya terlalu tinggi.
Sore hari yang damai mendadak ruwet saat Diana dan Cindy datang ke rumah sakit untuk menjenguk Azam.
"Sebagai seorang ibu, kamu itu sama sekali tidak ada becusnya dalam mengurus anak. Kalau Tama menikah lagi ya memang ada bagusnya!" ucap Diana dengan wajah mencibir.
"Aku tidak pernah melarang Tama untuk menikah lagi asal dengan satu syarat,...!" sahut Winda dengan berani, wanita ini melirik tajam ke arah suaminya, "ceraikan aku dulu...!" sambung Winda.
"Mah, ini rumah sakit. Jangan membuat keributan!" tegur Tama pada mamahnya.
"Azam sedang sakit mah, bisa gak sih jangan menyalahkan kak Winda terus?" Cindy geram dengan sikap mamahnya.
"Buka mata kamu Tama, istri modelan tong sampah ini masih saja kau pertahankan!"
Naik lah darah Winda, wanita dengan sengaja menarik tangan Diana, mengusir mertuanya ini keluar dari dalam ruangan.
"Mulut mu itu lebih busuk dari tong sampah. Pergi sana, anak-anak ku tidak butuh seorang nenek yang celometan seperti anda!"
"Beraninya kau,....!" sentak Diana tidak terima.
"Mah,....!"
"Kamu bela perempuan ini?" tanya Diana penuh emosi pada Tama.
"Cindy, bawa mamah pulang!" titah Tama pada adiknya.
Cindy mendengus kesal, ingin sekali mencakar wajah mamahnya sendiri. Sambil berteriak seperti orang gila, Diana terus mengumpati Winda.
"Kamu lihat sendiri kelakuan mamah kamu. siapa yang akan betah hah? jadi, jangan salahkan aku jika aku kebanyakan polah!"
"Namanya juga orang tua Win, jangan di ambil hati...!" ucap Tama dengan ringannya.
Winda tertawa masam, sudah biasa Tama membela mamahnya seperti ini.
Winda tidak peduli lagi, wanita ini kembali masuk ke dalam ruangan. Semakin Tama membela Diana, akan semakin muak Winda melihat wajah suaminya.
Sungguh lelah sekali Winda menjalani kehidupan seperti ini. Hatinya keras, kebencian yang ia punya tak terbatas.
"Aku keluar sebentar buat beli makan malam," kata Tama membuka suara.
"Gak usah, sebentar lagi mamah akan datang membawa makanan."
"Ya udah, kau istirahat saja. Biar aku yang jaga Azam."
Winda mengambil alih gendong Asya dari tangan Tama, anak perempuan yang selama ini tidak pernah ia pantau perkembangannya.
"Maafkan mamah nak," lirih Winda.
Sekilas Tama mendengar ucapan istrinya. Ada hati yang penuh harap memohon agar sikap Winda kembali seperti dulu lagi.
Tak berapa lama Weni dan Anwar tiba, mereka bergantian menjaga Azam dan Asya sementara Winda dan Tama pergi mandi lalu makan sebentar.
Di banding orang tua Tama, orang tua Winda sangat menyayangi kedua cucunya. Bahkan Azam dan Asya lebih dekat dengan Weni di bandingkan dengan Diana.
"Sudah selesai Win?" tanya Weni pada anaknya.
"Sudah mah. Loh, kok Asya udah tidur?"
"Asya biar ikut pulang bersama mamah dan papah. Kalian fokus aja merawat Azam," ujar Anwar.
Tama sebenarnya ingin menolak, merasa tidak enak tadi pada kedua mertuanya ini.
Tinggallah Winda dan Tama berdua dalam ruangan ini yang menjaga Azam dalam keheningan. Winda tidak berniat membuka suara mengajak suaminya untuk sekedar bicara atau bercanda sebagai penghilang rasa lelah di dada.
"Win,...!" panggil Tama.
"Hmmm,....!"
"Kau sedang apa?" pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Tama.
"Menurut mu aku sedang apa?" Winda malah bertanya balik.
"Jangan bilang jika kau sedang berbalas pesan dengan teman pria mu?"
"Terserah aku lah mau apa, yang penting hati ku senang dan bahagia!"
"Ayo lah Win, jangan seperti anak kecil. Belum cukup kah kau melukai hati ku dengan rekaman tak senonoh mu itu?"
Winda tertawa, sungguh hatinya geli mendengar ucapan Tama.
"Lantas, yang kau lakukan dulu itu apa?" tanya Winda dengan ekspresi wajah datar, "hanya sekedar main ular tangga?"
"Tapi kau istri ku Win, seorang istri harus wajib mematuhi suaminya."
"Jenis suami apa yang harus aku patuhi?" tanya Winda, "kau berubah menjadi alim saja baru-baru ini tapi sudah pandai dalam menasehati ku. Ada baiknya kau menasehati mamah mu dan diri mu sendiri."
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini Win?"
"Sampai kau menceraikan ku!" jawab Winda kemudian keluar dari ruangan. Jengah juga jika harus beradu debat dengan Tama yang masih egois yang tak mau di salahkan terutama Diana.
Untuk sekedar menghilangkan lelah, Winda memutuskan untuk pergi menemui Nita di salah satu club malam.
"Kau bilang anak mu sakit, kenapa malah ke sini?" tanya Nita heran.
"Aku muak pada mertua dan suami ku. Bisanya ingin menang sendiri saja terutama mamahnya Tama."
"Ada baiknya kalian bercerai saja Win. Aku kasihan melihat mu yang tersiksa seperti ini."
"Anak-anak menjadi alasan ku sekarang. Jauh dari hati ku yang paling dalam, jujur saja aku belum siap jadi janda dan aku tidak mau anak-anak ku tumbuh besar tanpa memiliki keluarga yang lengkap."
"Tama memiliki alasan yang sama seperti mu. Apa kalian tidak sadar jika kalian saling menyakiti seperti ini?"
"Aku sadar tapi aku masih nyaman dengan keadaan ku sekarang. Biar Tama merasakan apa yang dulu aku rasakan."
"Itu namanya membalas dendam Win, mau sampai kapan kau akan hidup dalam lingkaran seperti ini. Kasihan anak-anak mu, pikirkan lah. Mana tahu Tama benar berubah sekarang!"
Winda tertawa, kata-kata sampai seperti apa lagi yang ia dengar ini.
"Sudah bosan aku mendengar kata berubah dan kata maaf dari Tama. Nyatanya dia hanya akan mengulangi semua kesalahan yang sama."
"Ya mana tahu aja. Ku lihat suami mu sekarang lebih suka belajar tentang agama."
"Jangan termakan omongan dan sikap Tama. Aku sudah kenyang menelan semua ucapannya!" sahut Winda.
Sebenarnya Winda ingin bermain lebih jauh malam ini. Tapi, ada anak yang harus ia urus sekarang. Winda kembali ke rumah sakit pukul sepuluh malam. Terlihat jelas jika Tama sedang tidur memeluk Azam.
Winda merebahkan diri di sofa, sejenak bergelut dengan pikirannya sebelum akhirnya terlelap begitu saja.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi