Novel ini adalah cerita tentang perjalanan si kembar Kean dan Lean dalam mencari partner terbaik mereka. Saudara kembar itu mempunyai prinsip jika sudah cinta dengan seorang wanita ingin langsung menikah bukan untuk pacaran.
"Kamu itu bagaikan alkohol yang bercampur dengan ganja, begitu memabukkan dan membuatku candu! Bagaikan langit yang sulit untuk kugapai." Adinda Larasati
"Kamu adalah gadis ceroboh yang bisa membuatku jatuh cinta padamu." Muhammad Keane Ar-rayyan
"Andai aku bisa mendapatkan cintamu, aku ingin segera menikah denganmu." Muhammad Leanne Ar-rayyan
"Dari awal aku tak pernah mencintaimu. Jadi jangan paksa aku untuk bisa mencintaimu!" Leandra Monroe.
" Setelah mencintaimu, hidupku menjadi berubah penuh warna." Nala Avrelia Prayoga
Ikuti kisah mereka hanya di My Best Partner .
Follow ig author : Novi_Rahajeng08
Saran baca novel pendahulunya. Anak Genius: Papa Bucin Yang posesif
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izin ingin menikah
Kean mendongakkan kepala, dan menggeleng. "Kean tidak apa-apa, Ma. Hanya ingin meminta pendapat karena Kean tak mau memutuskan perkara ini sendiri."
Ken dan Dira saling pandang, mereka menjadi ikut deg-degan dengan apa yang sebenarnya ingin Kean bicaran?.
"Bicaralah, Kak?" ujar Papa Ken.
Kean menutup kedua matanya sebentar.
"Bismillah,"lirih Kean sebelum memulai pembicaraan.
" Ma, Pa kalau misalnya Kean izin ingin menikah bagaimana? "
Ken dan Dira terbelalak saat mendengar ucapan Kean, seakan tersambar petir di pagi hari ketika mendengar putranya yang dingin, cuek, seperti tak tertarik dengan wanita tiba-tiba mengatakan ingin menikahi. Apakah ini mimpi?
Pasalnya Ken memang tak pernah melihat Kean dekat dengan wanita, dan tiba-tiba mengatakan ingin menikah.
"Menikah?" ulang Mama Dira dan Papa Ken bersamaan. Mereka berdua sama-sama terkejut sampai berbicara saja sampai barengan.
"Kamu serius kak? Sama siapa?" tanya Mama Dira yang di angguki oleh Papa Ken.
Kean terdiam sebentar. "Dengan seorang wanita yang sudah tiga hari ini selalu muncul dalam jawaban sholat istikharah Kean."
"Jadi kamu sudah sholat istikharah?" tanya papa Ken.
Kean mengangguk.
"Lalu siapa wanita itu? Apakah kita kenal?" ujar Papa Ken. Dia semakin penasaran siapa wanita yang sudah menjadi jawaban dari shalat istikharah putra sulungnya itu.
"Dinda Larasati."
Ken dan Dira tercengang saat mendengar nama siapa yang Kean sebut. Seusai beberapa menit terdiam, mereka berdua lalu tersenyum. Dira langsung duduk lebih mendekati Kean.
"Apa dia Dinda yang kita kenal?" tanya mama Dira untuk memastikan kembali.
Kean mengangguk.
"Apakah kamu sudah yakin, Kean?" timpal Papa Ken.
"In sya Allah Kean sudah yakin, Ma, Pa. Apa kalian tidak setuju?"
"Mama setuju saja, dia anak yang baik dan sopan."
Melihat Ken yang terus tertawa tanpa henti, membuat Kean dan Dira menjadi bingung. Apa yang sudah terjadi dengan papanya.
"Papa kenapa?"
Papa Ken menggeleng. "Tidak, Papa hanya tidak menyangka saja kalau Dinda sebentar lagi akan menjadi menantu perempuan Papa."
"Papa tidak usah berharap terlalu lebih, soalnya Kean belum bilang apa-apa ke Dinda. Masih minta pendapat Papa sama Mama saja. Soalnya__" Kean tak berani melanjutkan ucapannya.
"Soalnya kenapa, Kean?"tanya Mama Dira.
Kean masih terdiam, dia bingung harus berkata apa lagi.
" Apa kamu tidak yakin kalau Dinda akan menerimamu? "tebak Ken yang langsung mendapat sorotan tajam daei istrinya.
Kean masih terdiam. Sebenarnya dia juga bimbang soal ini, apakah Dinda mau menerima lamaran Kean? Sedangkan mereka belum lama kenal, dan juga tak pernah dekat lebih dari seorang bos dan asistennya. Apalagi, saat ini Kean sedang menyimpan rahasia besar tentang penyakit Ibunya Dinda.
Dira menepuk pundak Kean lembut, dia ingin putranya jujur dan cerita apa yang membuatnya diam seperti ini. Dari kecil, Kean memang anak misterius yang sangat sulit di tebak isi hatinya. Dia selalu menutup diri dengan baik.
Dira menakup wajah tampan putranya itu dengan telapak tangannya.
"Cerita Kak, apa yang sedang kamu pikirkan saat ini? Jangan di pendam sendiri, cerita sama Mama dan Papa, siapa tahu kita bisa bantu."
Kean mengangguk, lalu dia menceritakan semua yang telah terjadi. Sekaligus memberitahu tentang bagaimana kondisi keluarga Dinda yang sebenarnya. Kean tak. Bermaksud mengumbar aib, namun. Memberitahu kalau dia bukanlah dari keluarga sempurna, melainkan penuh luka, dan derita.
Ken menghembuskan nafas panjang, sedangkan Dira sudah meneteskan air mata saat mendengar cerita Kean. Mendengar cerita Dinda, membuat Dira kembali ingat bagaimana kehidupannya dulu.
"Bagaimana? Apakah kalian masih menerima Dinda sebagai menantu keluarga fabio?"
Meskipun Kean juga tak memiliki nasab keluarga ini, tapi orang lain tahunya Kean adalah putra sulung dari seorang Kenzo ahli waris keluarga Fabio. Jadi, dia harus bisa menjaga nama baik keluarga ini.
" Kean, Apa kamu tahu alasan Papa menjadikan Dinda sebagai sekertarismu?"
"Bukankah karena dia lebih__"
"Bukan," sela Papa Ken.
"Itu hanya dusta, karena alasan sesungguhnya karena dari awal Papa melihat Dinda ... Papa mempunyai feeling kalau dia akan cocok jika menikah denganmu."
"Sebenarnya Papa tahu tentang keluarga Dinda, tapi keluarga Fabio tidak pernah memandang seseorang dari status sosialnya. Tapi, dari pribadi orang itu sendiri."
"Mungkin, menurutmu karakter Dinda tak cocok untukmu yang perfeksionis. Tapi, pasangan itu terlihat cocok jika bisa saling melengkapi satu sama lain. Dan pertemuan kalian juga, pasti ada makna tersendiri."
Kean terdiam, mungkin apa yang di katakan papanya benar. Allah mentakdirkan mereka bertemu agar Kean bisa menjadi penyelamat bagi keluarganya Dinda.
Jujur dari awal bertemu dengan Dinda, memang banyak hal yang tak terduga terjadi. Pertemuan mereka memang seakan sudah ditakdirkan.
"Jadi, Papa sama Mama tidak keberatan kalau Kean ingin menikahi Dinda?" tanya Kean kembali untuk memastikan.
Ken dan Dira menggeleng karena mereka bersua memang tak keberatan jika Kean menikah dengan Kean. Dira menyukai Dinda karena dia bukan gadis matre yang ingin menggoda pria kaya. Dia adalah gadis tulus, baik dan apa adanya.
"Semangat, Papa akan membantu dan mendukungmu. Makanya jangan terlalu keras dan dingin sama Dinda, kalau sudah jatuh cinta begini, ribet kan?" goda Ken.
"Papa apaan sih?" Kean menjadi tersipu malu.
Kini restu dari orang gua sudah Kean dapatkan, giliran adik kembarnya, lalu bicara ke Dinda. Saat Kean keluar sari kamar Papanya, terlihat Lean yang baru saja berjalan pergi.
Kean hanya tersenyum saat melihat adik kembarnya itu yang sudah penasaran.
"Le," panggil Kean.
Lean menghentikan langkahnya, dia berusaha untuk biasa saja agar tidak ketahuan kalau habis menguping, walaupun tak terdengar jelas. Tapi, Lean tahu kalau Kean sedang meminta restu untuk menikah.
"Ada apa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan," pungkas Kean yang sudah melingkarkan tangannya di pundak sang adik.
"Oh."
"Tumben cuek! Habis menguping ya?" tebak Kean.
"Apaan sih." Lean berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Setelah itu, mereka berdua masuk ke kamar Kean yang sudah beberapa langkah dari tempat mereka sebelumnya.
Ketika sudah berada di dalam kamar Kean, Lean hanya terdiam menunggu Kean yang berbicara terlebih dulu.
" Le," panggil Kean saat melihat adik kembarnya itu hanya terdiam, tidak seperti biasanya.
"Kalau aku menikah duluan, boleh nggak?"
"Menikah? Emangnya sudah punya calon?" goda Lean.
Kean mengangguk.
"Seriusan? Siapa? Sudah di terima apa belum?" Lean mencoba menahan tawa.
Kean memicingkan matanya, dugaannya ternyata benar kalau sang adik habis menguping.
"Sudah lah, kalau belum ngapain aku izin kamu!"
"Alah, gak usah bohong deh! Orang belum di terima aja sok-sok.an," tungkas Lean.
Kean tersenyum, akhirnya Lean terkena jebakannya. Saat melihat Kean tertawa, Lean baru menyadari kalau dia telah masuk dalam jebakan betmen.
"Kakak!" seru Lean dengan wajah kesal.
"Kenapa?" Kean berpura-pura santai.
"Kakak menjebak aku, kan?"
"Enggak kok, menjebak apa coba?" Kean masih belum mau mengaku juga, membuat Lean semakin merasa kesal.
Dia segera bangun dadi duduknya, dan berusaha untuk pergi. Namun, Kean mencegahnya.
"Mau kemana? Jangan pergi dulu, makanya jangan suka bohong!" tanda Kean.
...****************...
Ciye... Semoga niatan baiknya di terima ya bang Kean. Author jadi patah hati 💔💔
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.
😊