Zia, gadis cantik paling populer di sekolah terpaksa harus menikah dengan Reynan, teman sekolahnya karena sebuah insiden.
Mereka harus terpaksa terpisah karena dendam masa lalu antar kedua keluarganya.
Lima tahun menghilang dan meninggalkan Reynand, Zia kembali bersama seorang anak lelaki yang sangat tampan.
Mereka bertemu kembali dan hampir bersama. Namun lagi-lagi sebuah kejadian terpaksa memisahkan mereka lagi.
Bagaimana akhirnya? Akankah mereka bersama atau justru takdir berkata lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Aniska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebatang coklat
Zia tiba di apartemennya langsung melemparkan tubuhnya ke atas sofa dan menyandarkan kepalanya. Sungguh di luar dugaan ia akan bertemu dengan Reynand secepat ini. Bukan, hampir bertemu lebih tepatnya.
Zean sendiri memilih pergi ke kamarnya. Ia sangat tahu maminya sedang dalam masalah. Untuk anak seusianya memang ia terlalu dewasa. Memahami permasalahan yang dihadapi orang dewasa seperti maminya.
Zean ragu, tapi ia harus mencoba. Dia cari nomor orang yang sangat ingin ia hubungi.
Sambungan terhubung namun belum dijawab. Zean mondar mandir berharap orang itu segera menjawabnya.
"Halo anak manis", sapa orang di seberang telepon.
"Halo opa. Apa aku mengganggumu?", sahut Zean.
"Tentu tidak. Ada apa hem kamu menghubungi opa? Apakah ada masalah?", tanya orang itu yang tak lain adalah Jodi.
"Opa harus cerita sama Zean tentang mami dan papi. Zean sangat penasaran opa", rengeknya.
"Kenapa tiba-tiba kamu sangat ingin tahu masalah ini?", tanya Jodi.
"Karena yang aku lihat mami sangat merindukan papi. Pasti mereka tak ingin terpisah seperti sekarang opa", ucap Zean.
"Baiklah baiklah, opa akan cerita. Tapi ingat jangan sampai mamimu tahu kalau kamu sudah tahu semuanya, apalagi yang memberitahumu adalah opa, oke", ucap Jodi.
"Tentu saja opa, aku bukan anak kecil yang bodoh", sergah Zean sedikit cemberut.
"Haha baiklah, kamu memang cucu opa_", ucap om Jodi lalu menceritakan semua hal yang ingin diketahui Zean.
Zean sendiri mendengarkan setiap detail yang dijelaskan oleh opanya. Sesekali ia bertanya jika ada yang membuatnya kurang puas.
Zean sesekali mengepalkan tangan mungilnya. Beberapa hal membuat ia merasa sangat marah.
Bisa-bisanya mami yang sangat ia sayangi hidup menderita selama ini. Dibenci orang lain karena kesalahan yang tak ia buat.
Hingga telepon berakhir, Zean masih menahan rasa kesalnya. Ia tak akan membiarkan maminya terus merasakan penderitaan.
Tangan kecilnya mulai menari di atas keyboard laptopnya.
Mencari informasi berdasarkan penuturan opanya. Senyum licik terukir di bibir mungilnya.
*
*
*
Senyum senang terpancar dari wajah seorang pria ketika membaca beberapa informasi di tangannya.
Sebentar lagi, sebentar lagi penderitaan hatinya akan segera berakhir. Penantian dan pencarian yang selama ini ia lakukan tak akan percuma.
Sama sekali tak tampak wajah garangnya. Bahkan anak buah yang masih ada di depannya dapat melihat sisi lain dari atasannya ini.
Begitu teduh dan hangat. Dan itu semua karena orang yang selama ini ia cari telah berada di tempat yang pasti.
"Masalah ini jangan sampai mami papi ataupun orang-orangnya tahu. Dan satu lagi suruh beberapa orang untuk mengawasi Zia dan Zean dalam jarak aman. Pastikan tak ada apapun yang menggangu atau mengancam keselamatan mereka. Tapi jangan sampai mereka mengetahui kalau sedang diawasi", perintah Reynand.
"Baik tuan", ucap bawahannya lalu mereka beranjak setelah mendapat perintah dari bosnya.
Reynand merebahkan dirinya di atas kasur yang sudah lima tahun ini menemaninya.
Kasur penuh kenangan indahnya bersama Zia. Meski hanya beberapa bulan bersama menempati kasur itu, namun Reynand merasakan aroma Zia benar-benar tersisa di sama.
Saat merindukan istrinya, Reynand akan segera menciumi kasur itu. Merasakan kehangatan yang ia khayalkan berasal dari Zia.
Reynand memang enggan tinggal di rumah orang tuanya semenjak kejadian itu. Ia lebih memilih tinggal di apartemennya.
Selain karena lebih banyak kenangannya, ia juga masih kecewa dengan maminya yang tak mendukung dirinya.
Padaha sudah jelas jika Zia tak bersalah dalam hal ini. Namun maminya berdalih tak ingin menyakiti hati omanya.
Reynand sebenarnya telah menceritakan masalah dendam masa lalu keluarganya itu sesuai versi om Jodi. Mami Marinka juga bukannya tak percaya. Apalagi jika mengingat keadaan tante Feriska yang sebenarnya memiliki masalah pada kejiwaannya.
Mami Marinka memang mendapatkan cerita dari tante Feriska. Namun sangat berbeda dengan versi yang diceritakan oleh Reynand.
Sedangkan papi Adhiyasta tak ada masalah. Ia tetap mendukung apapun yang Reynand lakukan. Termasuk usahanya mencari Zia hingga ke berbagai negara.
Mami Marinka sendiri merasa kasihan dengan putra semata wayangnya itu. Karena semenjak Zia pergi meninggalkannya tanpa kabar keadaan Reynand begitu kacau.
Tapi balik lagi yang ia pikirkan adalah kondisi mamanya, oma Reynand. Meskipun hanya mama tiri, tapi mami Marinka begitu menyayanginya. Ia sangat tahu betapa mendarah dagingnya kebencian dan dendam mamamya itu kepada Samuel yang tak lain adalah papinya Zia.
Reynand memejamkan matanya, namun ia tak benar-benar tidur. Ia masih memikirkan langkah apa yang harus diambil. Jangan sampai salah langkah yang bisa berakibat Zia menghilang lagi dari kehidupannya.
Ia tak bisa langsung menemui Zia dan Zean meskipun sangat ingin. Ia ingin mencari waktu dan momen yang tepat
"Aku sangat merindukan kalian", gumamnya lirih.
*
*
*
Zia terbangun saat malam telah tiba. Ia kaget ketika melihat jam telah menunjukkan jam tujuh, sedangkan ia belum menyiapkan makanan untuk Zean.
Zia beranjak ingin ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membasuh mukanya sebelum memasak. Namun saat melewati meja makan ternyata telah tertata beberapa makanan dengan Zean duduk di salah satu kursi.
"Mami, ayo makan. Zean udah masak untuk mami", ajaknya.
"Ya ampun sayang maafin mami, mami ketiduran sampai jam segini. Kok nggak bangunin mami aja sih tadi?", sahut Zia mendekati putranya lalu mengusap kepalanya.
"Aku kasihan pasti mami capek. Lagian Zean juga bisa masak, meskipun nggak seenak masakan mami", jawab Zean, "ayo mi Zean udah laper", lanjutnya.
"Ah iya baiklah, mami cuci muka dulu ya", sahut Zia lalu beranjak ke kamar mandi untuk sekedar membasuh mukanya agar lebih segar.
Selesai membasuh mukanya, Zia segera menghampiri Zean di meja makan.
Zean tampak sangat lapar, namun ia tetap memilih menunggu maminya. Baginya makan sendirian itu sangat tak nikmat. Sangat berbeda ketika makan bersama dengan maminya, meskipun makanannya sederhana tapi terasa sangat nikmat.
Zia menatap pangeran kecilnya dengan haru. Satu-satunya harta yang sangat berharga yang ia miliki.
Zia terharu dengan kemampuan Zean. Di usia yang masih sangat kecil itu ia sangat mengerti dengan keadaan maminya. Sama sekali tak pernah merepotkan bahkan sangat membantu.
Bayangkan saja, anak sekecil itu bahkan mampu membuatkan makanan untuk maminya. Di saat anak lain mungkin akan membangunkan maminya dengan manja ia malah lebih memilih melakukannya sendiri.
Zia akan sangat betah menatap wajah putranya itu, karena dengan melihat Zean bisa sedikit mengobati rasa rindunya pada Reynand.
Bohong jika Zia sama sekali tak rindu. Ia rindu bahkan sangat merindukan papi dari Zean itu.
Selama lima tahun ini pun ia selalu terbayang akan kenangan yang telah ia dan Reynand lalui. Sama sekali tak pernah ia bisa melupakannya meskipun sangat ingin.
Zia sadar, cinta mereka akan sulit atau mungkim tak akan bisa bersatu. Dendam keluarga Reynand pada papinya terlalu besar. Ia ragu untuk sekedad bertahan, apalagi harus berjuang.
Lamunan Zia buyar ketika Zean berlalu dari meja lalu menyerahkan sebatang coklat yang baru ia ambil dari tas ke arahnya.
Zean sangat paham jika maminya sedang banyak pikiran. Ia telah menyiapkan beberapa batang coklat untuk maminya. Itu adalah kebiasaannya dari dulu ketika maminya tengah bersedih atau banyak pikiran ia akan memberinya coklat.
"Eh sayang, kamu ngasih mami coklat?", sahut Zia terkejut.
"Iya, dari tadi mami nglamun terus sambil lihatin Zean. Pasti mami lagi banyak pikiran kan, makanya Zean kasih mami coklat", terang Zean.
"Oh sayang, kamu sweet banget sama mami. Thanks ya princenya mami", ucap Zia meraih anaknya ke dalam pelukan.
Berkali kali Zia mencium puncak kepala Zean sebagai tanda rasa sayang dan bangganya.
Sangat beruntung Zia memiliki anak secerdas Zean. Selalu mengerti dengan keadaan maminya.
Air mata tak terasa telah lolos dari mata indah Zia. Zean yang merasakan ada air menetes di atas kepalanya lalu mendongak.
Benar saja, maminya tengah menangis. Bukankah maminya telah berjanji tak akan bersedih lagi?
Tangan mungil Zean terulur menghapus air mata di pipi maminya.
Ia lalu berkata, "kenapa mami ingkari janji? Mami kan udah janji nggak akan sedih lagi".
"Nggak kok mami nggak sedih. Justru mami bahagia, karena mami punya pengeran tampan yang sangat luar biasa seperti Zean", sahut Zia menangkup pipi gembul Zean.
Zean tersenyum begitu pula Zia. Zia kembali memeluk Zean lalu dibalas oleh anaknya.
2 likes mendarat dariSAHABAT TAK KASAT MATA😍