Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.
Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.
Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.
Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
030. Episode 30
Ruang Bimbingan dan Konseling tampak sibuk. Puluhan anak berkumpul berjejalan di depan ruangan itu. Adeth menggigit ujung ibu jarinya. Detak jantungnya sama sekali tak berirama. Tangannya dingin, hatinya gusar. Ia masih belum siap melakukan wawancara terbuka seleksi calon pengurus OSIS.
“Widasari Adetha!”
Namanya dipanggil. Gadis itu terkejut sementara seluruh pasang mata yang ada di sana menatapnya. Ia menelan ludah lalu berjalan dengan sendi gemetar menuju pintu. Saat pintu itu terbuka, seorang anak keluar dengan wajah pucat pasi. Adeth yang melihatnya menjadi tambah pesimis dengan hasil wawancaranya nanti.
Gadis itu memasuki ruangan dan dipersilakan duduk di kursi yang dihadapkan pada tiga orang juri wawancara. Satu diantaranya seorang guru dan dua yang lainnya adalah Jingga, sang Ketua OSIS, dan Hannah, Sekretaris OSIS berambut panjang berkacamata yang terkenal karena sifat galaknya.
Adeth mendudukkan diri di kursi tersebut dengan degup jantung yang tidak beraturan.
“Mention your identity,” perintah Hannah tanpa sedikitpun melirik Adeth.
“Nama saya Widasari Adetha dari XI-III English.”
Ketiga juri itu sibuk menulis sesuatu di kertas setelah Adeth menyebutkan identitasnya.
“Oke, terimakasih. Dalam kesempatan kali ini, kami selaku juri dari kegiatan seleksi calon pengurus OSIS Masa Bhakti 2016/2017 akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk kamu. Jadi, mohon beri jawaban yang jelas dan jangan tegang, santai saja,” ujar Jingga menjelaskan sambil tersenyum yang sangat membantu Adeth mengurangi rasa gugupnya. Gadis itu balas tersenyum.
“Baik, pertanyaan yang pertama,” ujar Hannah. “Apa motivasimu untuk mengikuti seleksi calon pengurus OSIS yang baru?”
“Motivasi saya …,” Adeth menelan ludah dan kegugupannya, sementara lidahnya mempersiapkan kata-kata yang akan diucapkannya. “Saya berpikir, bahwa jika saya terpilih, saya ingin menjadi wadah penyalur aspirasi bagi orang-orang di sekitar saya guna mewujudkan sekolah yang lebih maju dan siswa yang aktif dalam berpendapat. Karena selama ini, OSIS-lah yang telah mewadahi semua aspirasi saya.”
Ketiga juri itu nampak puas dengan jawaban Adeth.
“Oke, selanjutnya. Seperti apa ‘wadah penyalur aspirasi’ yang akan kamu terapkan ketika kamu berhasil terpilih menjadi pengurus OSIS?” Jingga mengajukan pertanyaan sambil memainkan penanya. Lelaki itu kelihatannya sudah mulai bosan dengan pekerjaannya sekarang.
“Seperti contoh, jika teman saya ingin membentuk ekstrakurikuler baru, saya akan menampung segala pendapat dan mempertimbangkan segala resikonya bersama seluruh pengurus OSIS, setelahnya saya akan mengajukan ide tersebut ke kepala sekolah. Jika usulan tersebut tidak diterima, saya akan menyampaikan alasan tidak diterimanya usulan tersebut beserta bukti pernyataan saya, sehingga tidak akan ada pihak yang sakit hati atau merasa dirugikan. Dan juga, karena sebelumnya belum ada, saya akan mengusulkan untuk menaruh kotak aspirasi di beberapa tempat di sekolah agar siswa benar-benar dapat menyalurkan aspirasinya.”
“Bagus, bagus. Selanjutnya …,” guru muda tersebut tampak tersanjung dengan jawaban yang Adeth berikan. “Pertanyaan yang terakhir, bagaimana jika motivasimu untuk menjadi pengurus OSIS gagal?”
“Jika motivasi saya untuk menjadi pengurus OSIS gagal, lebih baik saya berhenti menjadi pengurus OSIS saja.”
“Kenapa begitu? Bukankah itu berarti kamu lari dari tanggung jawabmu sebagai pengurus OSIS?” sanggah Hannah tidak terima.
“Karena jika saya gagal menjalankan motivasi saya, berarti saya gagal menjalankan tanggung jawab saya sebagai pengurus OSIS. Dan akan lebih baik jika saya berheti saja, daripada selanjutnya hanya membuat malu OSIS dan tersebar rumor yang tidak-tidak. Saya tidak mau nama OSIS tercemar hanya karena kesalahan dari salah satu anggota.”
“Kenapa tidak mencoba memperbaiki dulu kegagalanmu?” bantah Jingga yang sepertinya tidak setuju dengan jawaban Adeth kali ini.
“Saya sudah mengatakan di awal, bahwa tujuan saya mengikuti seleksi ini adalah untuk menyalurkan aspirasi warga sekolah. Itu berarti, tujuan awal saya sudah gagal total dan tidak ada yang bisa diperbaiki. Kalaupun ada, konsekuensinya pasti jauh lebih besar.”
“Oke, jawaban yang cukup bagus. Terimakasih, silakan istirahat,” tutur Hannah mempersilakan gadis itu keluar. Hannah kemudian membuntuti Adeth dari belakang.
“Setelah ini, peserta yang belum diwawancarai istirahat dulu selama lima belas menit,” teriak Hannah mengumumkan pada peserta seleksi yang lain. Para peserta itu tidak dapat menyembunyikan kelegaannya.
Adeth memakai sepatu pantofel miliknya yang ia taruh di depan pintu. Saat gadis itu mendongak untuk berjalan, seseorang menghadangnya.
“Yo,” sapa seseorang itu sambil menyodorkan pudot talas pada Adeth. “Gimana? Lancar?”
Adeth tersenyum kepada gadis itu.
“Lancar, kok. Makasih, ya, Rey.”
“Santai,” Reyza menyandarkan punggungnya pada dinding. “Oh, ya, tadi pas kamu di sini, Bu Rahayu masuk dan memberikan beberapa pengumuman. Yang pertama, seperti minggu kemarin, beliau akan dinas ke luar kota selama seminggu.”
“Yes!” seru Adeth senang.
“Eits, jangan senang dulu. Yang kedua, sama seperti minggu kemarin juga, ada segudang tugas yang harus dikerjakan.”
“Alah … tugas mulu.”
Reyza terkekeh dan mengajak Adeth pergi dari Ruang Konseling. Baru dapat beberapa langkah, panggilan seseorang menghentikan langkah mereka.
“Tunggu, Dik!” seru seseorang dari belakang.
Adeth dan Reyza menoleh ke belakang dan mendapati Jingga sedang berjalan ke arah mereka dengan sebuah dokumen di tangannya.
“Widasari Adetha, benar? Kamu belum mengisi absensi,” ujar Jingga pada Adeth sambil menyerahkan dokumen tersebut lengkap dengan penanya.
“Oh, iya, makasih, Kak.”
Jingga tersenyum. Sepertinya, lelaki itu belum menyadari kehadiran Reyza yang sengaja mengambil jarak aman dari mereka. Gadis itu membuang pandangan sementara menunggu temannya yang masih menandatangani dokumen absensi tersebut.
“Terimakasih …eh, loh, kamu, kan, yang waktu itu nemenin dia ngambil formulir, kan?” ujar Jingga pada akhirnya ketika menyadari keberadaan Reyza di sana.
“Hmmm,” jawab Reyza tanpa sedikitpun menoleh.
“Oh, kamu temannya dia?”
“Hmmm.”
“Teman sekelas?”
“Hmmm.”
“Anu, boleh kenalan?”
“Hm—eh,” pekik Reyza ketika memberikan jawaban yang tidak seharusnya.
Duh, terlanjur bilang juga. Kalau ditolak, kan, kesannya jadi gimana gitu. Bodo ah.
“Ya, boleh,” jawab Reyza dingin karena sebenarnya dia sedang enggan berkenalan dengan siapapun akhir-akhir ini. “Reyza.”
“Jingga. Kamu pasti sudah kenal aku, kan?”
“Hmmm, ya. Permisi, kami duluan.”
Jingga memandang kedua gadis yang beranjak pergi itu. Hatinya senang. Ia tidak dapat menahan senyumannya.
Akhirnya, aku tahu namamu.
___________________________________
Hari ke-1 Idul Fitri. Sudah pada kenyang nastar belum? Hehe. Ingat, ya, jangan keluar rumah dan terapkan physical distancing.
Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
bocah Kambil itu apa ya artinya??
salken
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,