Ada batasan, ada aturan, namun juga ada cinta yang menggoda Dalilah sewaktu SMA. Bisakah ia menjalaninya mengingat dia bukan remaja biasa yang sanggup bertindak semaunya.
“Berikan aku sedikit kebebasan, Ayahanda!”
“Tidak, putriku. Aturan sudah mendarah daging dalam aliran darahmu sebelum kamu lahir.”
Mujurkah Dalilah menjalani kisah cinta pertamanya dengan Revi, ketua OSIS yang mengajaknya menikmati gejolak masa remaja? Beranikah dia menentang aturan yang mengakar di darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Revi.
"Mom... mom..." teriakku saat melihat berita gosip di sosial media.
Aku mengeram kesal. Princess dalam masalah besar! Masalah yang dipicu permainan gila tadi malam.
Astaga. Tuhan, kenapa harus princess. Kenapa harus pelukan dan permintaan ciuman. Dia benar-benar akan dihukum oleh orangtuanya. Dia pasti malu karena masalah ini.
"Mom!" teriakku lagi.
Mommy terengah-engah sambil memegang punggungnya.
"Bisa tidak gak usah teriak! Mama sudah tidak kuat naik tangga cepat-cepat!" cercanya saat berada di ambang pintu.
Aku langsung berdiri dan membantu mommy untuk duduk di kursi belajarku.
"Ada apa teriak-teriak! Ini masih pagi!" Mommy mengambil air minum ku dan menenggaknya.
"Masalah mom! Princess dalam masalah. Mom, please. Bantu Revi!" rengekku sambil mengatupkan kedua tangan.
Mommy memincingkan matanya lalu menatapku lekat, "Sudah tahu ya? Mommy kira kamu gak akan peduli dengan princess jika ia mendapatkan masalah!"
Aku menggeram kesal, lalu menghempaskan tubuhku dengan cepat diatas ranjang sembari mengambil bantal. Aku meremas-remasnya seolah meremas orang yang menyebarkan video skandal itu.
"Video itu jelas hanya akan menjatuhkan princess, video itu gak lengkap! Revi peduli, karena Revi juga ada disitu." kataku menggebu-gebu, "Princess pasti sedih mom. Princess pasti dihukum! Bantu Revi untuk meluruskan masalah ini."
Mommy mengangkat bahu, "Apa yang bisa mommy bantu? Mommy tidak tahu menahu kebenaran soal video itu. Lagipula kamu juga tidak mencium princess kan?" ujar mommy ringan, seolah masalah ini bukan masalah berat.
Aku memalingkan wajah, "Mommy jangan pura-pura tidak tahu apa yang bisa mommy lakukan. Revi sayang Lilah. Revi gak mau dia tersudutkan karena itu. Dia melakukan itu hanya untuk membela Revi dihadapan adiknya!"
"Adiknya?" tanya mommy.
Aku berdehem, "Lilah datang bersama adiknya. Adiknya tidak suka sama Revi!"
"Terus? Kalau begitu kenapa kamu tidak minta adiknya untuk menjelaskan kepada orangtuanya tentang kejadian yang sebenarnya. Itu lebih mudah daripada mommy harus melacak ponsel pertama yang menyebarkan video itu! Lagian kalau mommy lihat disini princess hanya memelukmu sama minta cium. Apanya yang salah?" tanya mommy sambil menarik bantal ku, "Lihat mommy!"
"Princess salah karena sudah melanggar tata krama sebagai seorang putri raja. Semua itu ia lakukan hanya untuk menunjukkan bahwa princess mencintai anak mommy!" kataku dengan nada rendah, menunduk.
"Gak ada yang bisa nahan gejolak jiwa muda, Rev. Gak ada yang bisa menahan semua rasa haus yang mengikis keraguan. Apalagi kehendak yang memberontak dan insting untuk slalu tahu. Itu lumrah terjadi untuk anak seusia kalian. Mommy suka dengan tindakanmu tadi malam, kamu gak ikut terbuai dengan permintaan princess untuk menciumnya!"
Mommy mendekatiku, lalu tersenyum lebar.
"Mommy akan bantu untuk mencari siapa dalangnya! Tapi mommy minta, kamu jangan berbuat apapun selama princess dihukum oleh keluarganya."
Aku menatap mommy, ada keraguan dalam hatiku untuk menanyakan ini, "Apa aku dan princess harus putus mom?"
Mommy mendelikkan matanya, "Emang kalau paduka raja memintamu untuk memutuskan anaknya, apa kamu mau?" tanyanya.
Aku menggeleng cepat-cepat, "Entah. Rasanya pasti akan berbeda setelah ini. Mungkin princess akan menjauh atau menjaga jarak denganku."
Aku kembali menatap mommy saat mommy menggenggam tanganku, "Princess tidak butuh keraguanmu sekarang, Rev! Princess butuh kepercayaan mu saat ia jauh darimu."
Aku menghempaskan tubuhku di atas ranjang, lalu menutup mata dengan tanganku.
"Tinggalin Revi, mom!" kataku sambil menahan diri untuk tidak menangis dihadapan mommy.
Bagiku, apa yang terjadi dengan princess adalah salahku. Aku yang mengajaknya untuk berpacaran, aku yang mengajaknya untuk mengenal lebih dekat dunia remaja.
Aku yakin Princess pasti kecewa disana. Aku yakin princess sedang menangis sekarang.
"Coba saja lihat live streaming, Rev. Hari Minggu biasanya princess menari kan. Itu akan membuatmu lebih baik, Rev!"
Aku menggeleng, masih dengan mata yang tertutup tangan.
"Princess tidak akan menari! Tadi ia mengabari Revi kalau ia hanya akan di kurung di dalam kamar! Sekarang ponselnya sudah mati!" ujarku dengan suara kecewa.
"Sepertinya kamu memang butuh waktu untuk sendiri! Tapi kalau kamu terus begini dan hanya menyesali kejadian tadi malam. Kamu pengecut, Rev! Bangun! Bantu mama untuk melacak siapa orang yang mengkhianati princess dan pacarmu!" seru mommy sambil menarik tanganku.
Aku berdecak kesal dan membalikkan badanku. Menyembunyikan wajahku dari tatapan usil mommy.
"Lilah tadi nangis mom. Nangis bukan karena pisah sama Revi selama satu bulan! Lilah nangis karena Ibunda di salahkan oleh eyangnya. Tangisnya terdengar memilukan sekali! Sedangkan Revi gak bisa berbuat banyak sekarang."
"Ibunda? Hah... kamu punya ibu berapa sekarang, Rev?" tanya mommy dengan nada kesal.
Aku menjerit histeris saat mommy mencubit betisku.
"Sakit mom!" ujarku sambil terbangun dan menatap mommy yang cemberut.
"Apa gak cukup, Mommy dan mama? Sekarang ada Ibunda! Kenapa gak sekalian emak, ammak, dan mamak!"
Aku tersenyum kecut, "Orang Ibunda yang mau dipanggil begitu. Revi kan anak penurut!"
"Ya sudah sana cari Ibunda untuk menyelesaikan masalahmu ini! Biar mommy yang tua ini bisa hidup dengan tenang tanpa harus mengurus mu, anak nakal!"
Aku terkekeh geli saat mommy memalingkan wajahnya dengan bibir yang cemberut.
"Come on, mom! Jangan ngambek. Mau Mama atau Ibunda. Mommy tetap yang istimewa. Nomer satu dihati Revi!" rayuku pada mommy. Bisa kacau balau urusannya kalau Ratu di rumah ini marah.
Apalagi kalau sudah pegang revolver soft gun miliknya. Daddy saja memilih untuk tunduk, apalagi aku. Si kecil yang sedang butuh bantuan.
"Mommy pujaan hatiku, belahan jiwaku, pusat duniaku. Mommy adalah pahlawanku!" kataku sambil menyenggol lengan mommy.
"Ayo lagi rayu mommy! Biar mommy tahu bagaimana darah daddymu saat merayu mommy waktu itu!" pinta mommy dengan nada menantang.
HAH! Keinginan macam apa ini!
"Yang benar saja mom! Daddy ngerayu mommy karena Daddy menginginkan sesuatu dari mommy. Lah aku? Aku ini anak mommy yang lagi gundah gulana malah disuruh merayu nenek-nenek!" ledekku sambil menjauh.
"Kamu bilang aku nenek-nenek! Hah! Bahkan Ayahanda princess saja memanggilku mommy. Tapi kamu memanggilku nenek! Anak kurang ajar!" Teriak mommy sambil melayangkan bantal ke arahku. Memukulku sekuat tenaga dan berakhir dengan nafas yang ngos-ngosan. Mommy duduk sambil mengatur nafasnya.
"Sudah aku bilang, mommy ini sudah nenek-nenek. Banyak gaya!" kataku lagi sambil berlari keluar kamar.
Andaikata mommy bukan seorang detektif atau apapun itu. Aku pasti tidak minta mommy untuk membantuku.
Tapi mommy punya segalanya yang dibutuhkan princess sekarang. Paling tidak ada video utuh yang bisa diunggah tanpa menyudutkan princess. Kekasihku yang kini dirundung pilu.
...Happy reading 💚 ...