Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
BAB 6
Derap kuku kuda kami menghantam batuan gurun. Angin malam langsung menyergap tanpa ampun begitu kami melewati batas terluar Mekah. Dinginnya luar biasa, kontras dengan hawa panas dari kobaran api yang beberapa saat lalu melahap rumah kami. Aku merapatkan tubuh kecilku, menyembunyikan wajah di balik dada Kak Waraqah yang naik turun tidak beraturan.
Kami tidak berhenti. Sama sekali tidak ada kata istirahat untuk malam pertama ini.
Logika dewasaku tahu betul, memelankan langkah barang sedetik saja artinya menyerahkan leher kami pada ujung pedang para pengejar. Kak Waraqah terus memacu hewan malang itu membelah kegelapan padang pasir, menjauh sejauh mungkin dari distrik bawah yang baru saja menelan nyawa Bibi Salma.
Rasa takut, mual, dan lelah bercampur aduk di dalam dadaku. Otak mahasiswaku yang biasanya rasional kini dipaksa menerima kenyataan pahit bahwa duniaku yang nyaman telah hancur total hanya dalam satu malam.
Baru pada malam berikutnya, setelah seharian penuh kami dipanggang matahari dan berkuda tanpa arah, Kak Waraqah membawa kami bersembunyi di balik sebuah celah tebing batu yang terisolasi. Kudanya sudah gemetar hebat, nyaris ambruk.
Kak Waraqah menyalakan api unggun kecil dari sisa ranting kering. Cahaya jingganya yang redup menari di wajahnya yang penuh debu dan kerak darah kering. Aku duduk bersila di atas pasir dingin.
"Kak," panggilku pelan.
"Hm?"
"Ceritakan padaku."
Kak Waraqah tidak menjawab. Aku menatapnya lurus. "Siapa mereka?"
Remaja itu membuang muka. "Tidurlah, Qatilah."
"Aku tidak mengantuk."
"Kau harus istirahat."
"Aku tidak bisa tidur kalau tidak tahu kenapa rumah kita dibakar," balasku.
Keheningan jatuh. Api kecil di antara kami berkeretak pelan. Otak mahasiswaku, yang sejak semalam beku oleh ketakutan, kini perlahan menyala kembali. Kami adalah Bani Asad. Bangsawan Mekah. Siapa yang berani menyentuh kami?
Klan Makhzum? Persaingan dagang ke Syam? Perebutan pengaruh di Darun Nadwah? Kemungkinan-kemungkinan itu berputar cepat di kepalaku.
"Kak..." aku menatapnya. "Mereka sebenarnya siapa?"
Bahunya perlahan merosot, seolah seluruh tenaga yang tersisa di tubuhnya menguap begitu saja. "Aku tidak tahu," jawabnya lirih.
"Mereka memakai jubah hitam polos. Tanpa lambang klan. Tanpa bendera kafilah. Mereka bukan perampok biasa, Qatilah. Mereka terorganisir."
"Malam itu..." suaranya mulai bergetar. "Aku sedang tidur di kamar. Tiba-tiba Umi mendobrak pintu. Wajahnya pucat.
Aku belum pernah melihat beliau seperti itu." Ia menelan ludah. "Aku bertanya apa yang terjadi, tapi beliau tidak menjawab."
Jemarinya mengepal kuat.
"Beliau hanya menarik lenganku dan menyuruhku pergi ke kamarmu." Matanya mulai memerah menatap nyala api. "Di lorong tengah... aku melihat Abi."
Aku diam menahan napas.
"Aula rumah sudah penuh darah," suara Kak Waraqah nyaris pecah. "Kau tahu Abi, Qatilah. Beliau adalah salah satu pria terkuat di Mekah. Aku pernah melihatnya mematahkan tulang pria dewasa hanya dengan tangan kosong. Aku belum pernah melihatnya kalah seumur hidupku."
Tangan remaja itu bergetar hebat. "Tapi malam itu... Abi dikepung puluhan orang. Beliau mengayunkan pedangnya dan menjatuhkan tiga orang sekaligus. Tapi musuh terus berdatangan dari arah atap dan jendela. Mereka terlalu banyak."
Ia memejamkan mata.
"Aku ingin membantu. Aku ingin mengambil pedang latihan dan ikut bertarung." Satu tetes air mata jatuh ke pasir. "Tapi Umi memegang wajahku. Beliau memaksaku melihatnya, lalu beliau berkata... 'Jangan lihat ke sana. Masuk ke kamar adikmu. Bawa Qatilah pergi sekarang juga.'"
Aku tidak berkata apa-apa, membiarkannya melanjutkan.
"Di sepanjang jalan menuju kamarmu..." suaranya semakin serak, "aku melihat para pelayan dibunuh. Mereka mencoba melawan, tapi mereka dibantai." Tangannya mengepal sampai memutih. "Aku mendobrak kamarmu, menggendongmu..." Lalu suaranya benar-benar pecah. "Dan aku kabur."
Keheningan panjang mengikuti. Aku menatap kakakku. Anak laki-laki berusia belasan tahun itu baru saja melihat keluarganya dihancurkan, menyadari bahwa sosok terkuat dalam hidupnya telah tumbang, dan ia bahkan tidak tahu apakah orang tuanya masih hidup.
Aku beringsut mendekat, lalu menggenggam jari-jarinya.
"Kakak sudah melakukan hal yang benar."
Ia mengangkat kepala, matanya merah.
"Kalau Kakak ikut bertarung malam itu," lanjutku lirih, "kita berdua sudah mati sekarang. Umi menyuruh Kakak menyelamatkanku, dan Kakak berhasil."
Untuk pertama kalinya sejak pelarian ini dimulai, pertahanan Kak Waraqah runtuh sepenuhnya. Ia menunduk lalu menangis. Bukan tangisan keras atau raungan, melainkan hanya isak tertahan seorang anak yang kehilangan seluruh dunianya. Aku memeluk lengannya erat, membiarkan ia menangis sampai kelelahan.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi perjuangan brutal untuk tidak mati.
Siang demi siang berlalu dalam pemandangan yang hampir sama: gundukan bukit pasir yang membakar, batuan karang tandus, dan cakrawala kosong yang seolah tidak pernah mendekat. Selama berhari-hari, dunia kami hanya terdiri dari debu dan matahari yang tanpa ampun menguliti kulit kami.
Air di kantong kulit kami habis total pada siang hari kedua. Lidahku terasa kaku dan tenggorokanku seperti diamplas. Kak Waraqah mengguncang kantong kulit itu sekali lagi, tapi tidak ada setetes pun yang keluar.
Aku menatap bibirnya yang pecah-pecah berdarah.
"Kak."
"Hm?"
"Kalau nanti kita menemukan air... Kakak minum dulu."
Waraqah tertawa kecil, suara seraknya nyaris tidak terdengar. "Tidak."
"Kenapa?"
"Karena kau lebih kecil."
"Tapi Kakak lebih haus."
"Mungkin," ia mengacak rambutku pelan.
"Tapi kau tetap minum duluan."
Aku ingin membantah, tapi tenggorokanku terlalu kering untuk itu.
Sore harinya, saat kami berlindung di sebuah goa karang sempit, teror lain datang. Desisan halus terdengar dari sudut gelap. Aku menoleh, dan jantungku hampir berhenti. Seekor ular gurun berbisa melingkar tidak sampai satu lengan dariku, kepalanya sudah terangkat siap mematuk.
Aku membeku. Namun Kak Waraqah bergerak lebih cepat. Ia menarik tubuhku mundur, lalu menghantam kepala ular itu menggunakan batu besar. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Baru setelah ular itu berhenti bergerak, ia menjatuhkan diri ke tanah sambil terengah-engah.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya panik. Aku mengangguk, meski kakiku masih gemetar.
Hari ketiga jauh lebih buruk. Perutku melilit hebat dan rasa lapar membuat pandanganku berkunang-kunang. Menjelang sore, Kak Waraqah akhirnya berhasil menangkap seekor dhab besar. Dengan susah payah ia memantik api dari gesekan batu, lalu memanggangnya dengan ranting seadanya.
Aku menatap daging itu dengan jijik.
"Kita benar-benar akan memakannya?"
"Kalau kau punya kambing panggang, silakan keluarkan sekarang," balasnya.
Aku cemberut. "Menjijikkan."
"Aku setuju."
"Kelihatannya beracun."
"Aku baru melihatnya hidup sepuluh menit lalu."
Aku mendesah panjang. "Aku merindukan roti buatan Umi."
Untuk pertama kalinya sejak rumah kami terbakar... Kak Waraqah tersenyum. Tipis sekali. Namun itu tetap senyum. Dan entah kenapa, melihatnya tersenyum membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Pada hari kelima, ketika kuda kami akhirnya mati memuntahkan busa di tengah gurun, kami terpaksa berjalan kaki. Kak Waraqah berjongkok, berniat menggendongku lagi.
"Tidak, Kak," ucapku mundur selangkah.
Kak Waraqah menatapku bingung.
"Naiklah. Telapak kakimu sudah melepuh."
"Kaki Kakak juga berdarah," paksaku, menatap matanya tajam. Aku menolak menjadi beban lebih lama lagi.
"Aku bisa berjalan. Simpan sisa tenaga Kakak untuk bertarung kalau mereka datang."
Kak Waraqah terpaku sejenak, namun akhirnya mengangguk pelan. Kami berjalan berdampingan, menembus panasnya pasir dengan tertatih-tatih hingga malam.
Lalu, fajar hari keenam menyingsing.
Cahaya keemasan pagi perlahan mengusir kegelapan di ufuk timur. Aku mengangkat kepala dengan susah payah. Dan untuk sesaat... aku lupa pada rasa lapar. Lupa pada haus. Lupa pada rasa sakit luar biasa di telapak kakiku.
Di depan sana terbentang hamparan air biru yang seolah tidak memiliki ujung. Angin yang menerpa wajahku membawa aroma garam yang sangat segar dan melegakan.
Laut Merah. Kami berhasil sampai.
Kak Waraqah terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh berlutut di atas pasir basah. Lalu, ia tertawa. Sebuah tawa serak yang lepas. Suara tawa yang sudah berhari-hari tidak kudengar.
"Kita berhasil, Qatilah..." gumamnya, air mata menetes di pipinya yang kotor. "Kita mungkin bisa lolos. Kita bisa mencari kapal nelayan dan kabur dari mereka."
Aku ikut tertawa. Perasaan lega yang luar biasa membanjiri dadaku seperti gelombang air dingin. Aku menjatuhkan diri di sebelahnya, merasakan sejuknya pasir pantai. Batas air laut yang menyapu ujung gaunku terasa bagai kebebasan mutlak.
Mimpi buruk ini sudah berakhir.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭